
Happy Reading...
Arya begitu telaten mengeringkan rambut Arini dengan *hairdryer*, bukan hanya mengeringkan saja tapi dia juga menyisirnya sampai tuntas. Tak dapat di percaya kalau Arya yang begitu dingin juga sangat angkuh ternyata bisa lembut, perhatian juga sangat romantis menurut Arini.
"Pak tuan, Pak tuan sangat cocok mengenakan sarung seperti sekarang ini. Sama persis kayak mas Ustadz yang dulu pernah ngajarin Arini ngaji ketika masih di kampung," ucap Arini.
Ya, Arya masih saja mengenakan sarung karena mereka berdua juga baru selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah untuk yang pertama kalinya tadi.
"Mas Ustadz! siapa dia? kamu tidak menyukainya kan?" Arya langsung menghentikan pergerakan tangannya dan melihat Arini melalui pantulan yang ada di cermin.
Kumat lagi Arya, cemburunya begitu besar bahkan Arini hanya bercerita saja ubun-ubunnya mulai menguap.
Cemburu tanda cinta, kalau tak ada cinta mana mungkin Arya akan seperti itu saat Arini bercerita tentang laki-laki lain. Dan itu memancing Arini untuk tersenyum.
Diraihnya tangan Arya yang berada di atas bahunya, di tarik lalu di cium oleh Arini dengan sangat pelan.
"Beliau hanya guru TPA, Pak tuan. Arini juga tidak menyukainya. Tetapi Arini sangat mengagumi kepandaiannya. Juga ilmu agamanya yang sangat banyak. Ya, sedikit banyak apa yang Arini tau sekarang juga dari beliau," jawab Arini.
"Oh, baguslah kalau kamu tidak menyukainya. Pokoknya kamu tidak boleh menyukai siapapun kecuali aku saja. Dan kamu juga tidak boleh bercerita tentang laki-laki padaku. Kamu hanya boleh menceritakan aku saja padaku," ucapnya.
Arini mengernyit.
"Bagaimana mungkin Arini menceritakan Pak tuan pada Pak tuan sendiri," Arini menoleh.
"Ya, ya pokoknya hanya boleh seperti itu," ucap Arya tergagap.
"Ya ya! Pak tuan ku tengah cemburu ya sekarang, posesifnya mulai kumat dan semakin tampan saja," Arini terkekeh mengatakan itu. Entah ilmu darimana Arini bisa menyatakan itu.
Arya menunduk mengecup puncak kepalanya dan menghirup aroma sampo yang begitu wangi yang keluar dari rambutnya.
"Aku hanya tidak mau kehilangan kamu, Arini," ucap Arya yang tersirat sebuah ketakutan yang sangat besar.
"Aku adalah milik Pak tuan, semenjak ijab qobul terucap Arini tidak akan pernah pergi meski Pak tuan yang memintanya. Arini sayang sama Pak tuan, dan Arini juga tidak mau kehilangan Pak tuan," Arini kembali mengecup punggung tangan Arya dan membuat suaminya itu yakin akan apa yang dia katakan barusan.
Alhamdulillah, begitu lega hati Arya. Sedikit kata yang Arini katakan membuatnya tenang.
Arya beralih berdiri di hadapan Arini, namun itu tak lama karena dia langsung duduk dan berlutut di hadapan istrinya. Memandangi lekat wajah istrinya yang sekarang sudah terlihat segar.
"Tetaplah menjadi cahaya untuk ku, Arini. Untuk selamanya, sampai maut menjemput kamu harus tetap ada di sisiku," ucapnya.
__ADS_1
Arini mengangguk. Membiarkan Arya memegangi kedua tangannya dan berkali-kali mengecupnya.
"I love you, Arini. I love you my wife," ucap Arya begitu tulus.
"I love you to, Pak tuan," jawab Arini.
"Jangan Pak tuan lagi ya," Arya sangat memohon, menempelkan dagunya di pangkuan Arini.
"Terus? Arini harus panggil siapa?" Arini terlihat bingung. Dia sudah sangat nyaman dengan panggilan itu, tapi dia sendiri juga merasa tidak pantas sih kalau masih memanggil Pak tuan pada suaminya sendiri.
"Hemm, Sayang," saran Arya.
Arini menggeleng.
"Kenapa?"
"Terdengar aneh, pasti akan lucu kalau Arini panggil sayang," jawabnya.
"Itu tidak aneh. Sayang ya, ya! please..." Arya begitu memohon, dia sangat menyukai panggilan itu karena terdengar sangat mesra.
"Hemm...," Arini masih berpikir "Mas aja deh," keputusan yang menurut Arini sudah tepat. Panggilan Mas untuk Arya sangat cocok sepertinya. Lagian banyak juga yang memanggil suaminya dengan panggilan Mas.
"Hemm.., bagaimana ya? tapi Arini malu. Kalau di depan orang lain pasti akan diketawain," jawabnya seraya menggembungkan pipinya.
"Ih, gemes deh," Arya mencubit pipi Arini dengan sangat gemas membuatnya sedikit meringis karena sedikit sakit.
"Oke! begini saja. Kalau di depan orang-orang kamu bisa memanggil Mas, tapi kalau kita hanya berdua kamu harus memanggil Sayang. Setuju!?"
"Hem... baik deh kalau Pak tuan memaksa."
"Kok Pak tuan lagi?"
"Iya, Mas," jawab Arini.
"Kan hanya berdua," Arya masih terus mendesak, dia ingin sekali mendengar Arini memanggilnya sayang. Pasti akan sangat berbeda kan?
"I-iya, Sa-yang," Arini merasa geli sendiri karena ucapannya hingga dia menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk.
__ADS_1
Tetap saja akan sia-sia meski Arini menunduk, karena Arya tepat di depannya. Arya menegakkan tubuhnya, menyentuh dagu Arini dan membuat wajahnya terangkat.
Tanpa aba-aba Arya mencium bibir Arini yang sekarang sudah menjadi candu untuknya. Dia terus menginginkan lagi saat melihat bibir Arini yang terlihat sangat manis, apalagi ketika Arini tersenyum.
"Terimakasih," ucapnya setelah berhasil mendapatkan bibir Arini lagi.
"Hem.." Arini mengangguk. Tak sepantasnya Arya terus mengatakan terimakasih karena apa yang ada pada dirinya semua adalah milik Arya.
"Apa kamu sudah lapar?" tanya Arya.
"Sedi-----"
*Krukkk*...
Belum juga Arini menjawab tapi perutnya sudah lebih dulu menjawab hingga akhirnya menumbuhkan tawa dari Arya yang sangat jelas mendengarnya.
"Hemm, ternyata istri kecilku sangat lapar ya. Ini sudah minta di isi ini," ucap Arya sembari mengelus perut Arini yang tadi berbunyi.
"Ihh, Pak tuan!" Arini sangat malu, dia juga geli ketika Arya mengelus perutnya, itu belum terbiasa untuknya.
"Nah kan lupa, panggil apa tadi?"
"Pak tuan."
"Seharusnya panggil?"
"Maaf, Sa-sayang. Lupa," Arini meringis.
"Aku pesankan makan laku kita olahraga lagi, mau?"
"Olahraga? kita mau lari pagi?" dan tidak nyambung lagi.
"Kenapa harus olahraga lari kalau bisa olahraga di mari, kita olahraga seperti semalam," bisik Arya tepat di telinga sebelah kanan.
"Ha!" mulut Arini ternganga matanya juga terbelalak. Entah kenapa dia kembali malu, apalagi kalau dia mengingat apa yang terjadi semalam. Arini yang belum pernah merasakan hal itu bisa begitu menikmatinya dan pasrah begitu saja saat Arya menjamah semua bagian yang paling dia sembunyikan.
"Tutup, Sayang. Atau ini yang akan menutupnya," Arya menunjuk bibirnya sendiri.
Cepat Arini menutup dan menggeleng.
__ADS_1
Bersambung....