Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
266.Rasa Haru Toni


__ADS_3

Happy Reading...


...----------------...


Toni langsung mengkerut saat kedatangan Arya. Dia yang sadar telah melakukan kesalahan hanya bisa menelan saliva dengan susah payah. Bahkan rasanya sangat susah meskipun hanya sedikit saja saliva yang akan melalui lehernya.


"Apa kamu tidak punya waktu untuk datang selain malam-malam begini!" ucapan Arya terdengar sangat kesal bin marah, matanya juga melotot sengit dan sangat tidak bersahabat.


Toni tertunduk lemas tak dia sangka kalau kedatangannya karena kebahagiaannya akan mendapatkan teguran keras dari Arya seperti ini.


"Ma_maaf, Tuan. Sa_saya benar-benar minta maaf," ucapan Toni tergagap, dia sangat merinding mendengar ucapan Arya barusan di tambah dengan kabut gelap yang menyelimuti wajah bosnya itu.


"Cepat katakan apa yang menjadi tujuanmu datang, awas saja kalau alasannya tidak masuk akal. Kamu benar-benar akan masuk ke pulau terpencil besok," ancam Arya begitu sadis.


Kini Arya sudah duduk dengan tenang, menyandarkan punggung di sandaran kursi juga kaki yang saling tompang. Sementara tangannya satu berada di lututnya sementara yang satu berada di puncak sandaran kursi.


Jangan tanyakan bagaimana Toni sekarang. Dia sudah keder melihat bosnya apalagi matanya yang begitu tajam itu, membuat Toni terasa kehilangan nyali untuk berbicara.


"Cepatlah katakan, kalau tidak mau bicara lebih baik kamu pulang dan kemasi barang-barang mu untuk pergi besok."


Semakin sadis Arya mengancam membuat Toni kalang kabut ingin cepat bicara tapi kenapa rasanya sangat susah.


"Ton, kamu tidak tidur kan! cepat katakan," Arya semakin tak sabar untuk menunggu Toni bicara. Bisa-bisa rontok itu brewoknya karena menunggu Toni yang kelamaan.


"Be_begini, Tuan. Lamaran saya di terima."


"Terus?" Arya mengganti posisi duduknya dengan tegak sekarang. Mendengarkan penjelasan Toni dengan benar.


"Pak Karna meminta saya untuk secepatnya menikahi Nisa sebelum dia kembali ke kota. Dan Nisa akan kembali satu minggu lagi."


"Satu minggu, apakah kamu yakin?"


"I_iya, Tuan. Saya sudah sangat yakin. Dan maksud kedatangan saya kesini untuk meminta bantuan dari Tuan datang ke sana mewakili orang tua saya. Saya tidak mungkin datang tanpa siapapun kan?"

__ADS_1


Terlihat ada semburat kesedihan dari Toni saat ini. Bagaimana tidak! hari pernikahan adalah hari yang sangat membahagiakan juga sangat bersejarah bagi siapapun, semua mengharapkan kehadiran keluarga dan semua saudara sementara Toni tidak memiliki mereka semua. Dari usia remaja hanya Arya yang dia kenal dan sudah seperti kakak baginya.


"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Arya.


Memang menurut Arya ini terlalu cepat, bagaimana tidak! hanya satu minggu. Tapi semua tak menjadi masalah jika sudah menyangkut soal cinta. Cepat atau lambat akan tidak ada bedanya tapi memang lebih baik kalau lebih cepat kan?


"Saya akan siapkan semuanya Tuan."


"Tidak usah. Kamu bekerjalah seperti biasa selama lima hari ini. Dan kamu bersiap-siap saja untuk kesiapan mu dalam dua hari menjelang hari pernikahanmu. Untuk semua keperluannya biar saya yang akan mengurusnya."


"Ta_tapi, Tuan. Apa tidak akan merepotkan Tuan nantinya?"


"Bukankah kamu menganggap ku juga seperti Kakakmu? maka biarkan kakakmu melakukan kewajibannya. Kamu persiapkan saja mentalmu. Aku tidak mau sampai kamu malu-maluin pas hari pernikahan apalagi sampai salah mengucapkan ikrar."


Begitu tersentuh hati Toni. Dia sangat bahagia, ternyata di balik sifat keras juga semua sifat buruk Arya masih terselip kebaikan untuknya.


Begitu ingin Toni memeluk pria yang sudah menjladi teman, sahabat, kakak sekaligus bosnya itu tapi Toni tidak mau kalau sampai dia terkena marah lagi seperti kemarin saat dia mencium punggung tangannya.


Rasanya sangat haru dengan perlakuan manis yang Toni dapatkan dari Arya, sampai-sampai matanya mulai berkaca-kaca saat ini.


"I_iya, Tuan. Saya tidak akan menangis."


Meski mengatakan tidak tapi tetap saja beberapa tetes air matanya keluar begitu saja. Toni begitu bahagia saat ini. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain dari kelancaran untuk hari pernikahannya.


"Ini sudah malam, kamu juga pasti lelah. Jangan pulang dan tidurlah di sini. Pagi-pagi sekali kamu baru pulang dan tetap harus bekerja seperti biasa."


Arya langsung beranjak, dia memandangi Toni sebentar untuk kembali berbicara.


"Minta Susi menunjukkan kamar untukmu." ucapnya yang terakhir sebelum berlalu.


"Ba_baik, Tuan. Terima kasih banyak," Toni ikut beranjak, dia membungkuk hormat untuk Arya. Alhamdulillah, Arya benar-benar sangat baik kepadanya.


Toni terus memandangi punggung Arya yang semakin jauh, pria itu sudah jalan naik ke tangga untuk pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Tak pernah terlintas di dalam pikiranku bahwa Tuan Arya akan sebaik ini padaku. Aku yakin semua ini juga tidak akan pernah terjadi jika tidak ada Ibu Arini. Terima kasih, Bu Arini." Toni terlihat mengulas senyum melihat Arya yang sudah masuk ke kamar pribadinya.


"Mas ganteng, ayo tak liatin kamarnya."


Kedatangan Susi benar-benar mengejutkan Toni yang tengah tersenyum penuh kebahagiaan.


"I_iya, Bu," jawab Toni.


"Kok Bu, sih! Saya masih muda loh, Mas. Masih single loh! masih ting-ting meski usia lanjut." ucapnya membingungkan, muda tapi usia lanjut?


"Hah! single? berarti dia perawan tua begitu?" batin Toni seraya mengernyitkan matanya.


"Sudah, ayo, Mas. Tak anter wes di kamar tamu. Wes tak beresin juga. Kalau Mase takut aku temenin yo rak popo," Susi berkedip genit berdiri tegak di hadapan Toni dengan tangan yang memasukkan rambutnya ke atas telinganya.


"Sa_saya berani kok, Bu. Eh! Mbak maksud saya." Sungguh ngeri bagi Toni berhadapan dengan Susi.


"Oalah, yo wes kalau ndak mau." ucap Susi kecewa.


Toni hanya tersenyum kecut karena Susi. Dia hanya bisa mengikuti Susi yang akan menunjukkan kamarnya.


Sementara Arya yang sudah masuk ke kamar langsung ambruk dengan kecewa karena melihat istrinya yang sudah tertidur pulas.


Gagal sudah dia meminta jatah dan meminta hukuman enak dari Arini. Arya juga sangat tak tega untuk membangunkan Arini yang juga terlihat sangat lelah.


Arya menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Arini dia juga ikut bersembunyi juga di dalamnya. Memeluk Arini dan menarik kepalanya dan menggantikan bantal dengan lengannya.


"Selamat malam, Sayang. Tidurlah yang nyenyak ya."


"Muach...


Kecupan penuh cinta mendarat di bibir ranum Arini yang tertidur, ingin sekali Arya menikmatinya tapi dia tidak mau egois dan mengganggu istirahat Arini.


Semakin erat Arya memeluk Arini hingga tak butuh waktu lama Arya juga menjemput istrinya ke dalam mimpi, Arya tertidur pulas dengan posisi memeluk Arini.

__ADS_1


...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Bersambung...


__ADS_2