Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
67.Kesalahan


__ADS_3

...________...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Apa yang di lakukan oleh Arya tidak akan membuat Arini diam saja. Di dalam mobil Arini terus saja berusaha untuk membuka pintu mobil meski mobil itu terus berjalan dengan cepat.


Arini begitu panik juga bingung, sebenarnya ada maksud apa Arya membawanya pergi dengan cara paksa dan dengan cara yang seperti itu juga, bukankah Arya bisa mengatakannya dengan baik-baik?


"Pak Tuan, Arini mau turun! Arini mau ke rumah sakit menemui nenek," ucapnya. Sesekali Arini menoleh ke arah Arya, tapi dia juga kadang kembali lagi fokus dengan tangan yang ingin membuka pintu mobil.


Arya masih diam saja, dia sama sekali tak menanggapi apapun yang Arini katakan padanya. Arya tetap fokus nyetir dan semakin cepat melajukan mobilnya.


"Pak Tuan, apa Pak Tuan sakit gigi? atau pak Tuan sariawan!? sampai-sampai tak bisa menjawab pertanyaan Arini?! Pak Tuan! turunin Arini," rengek Arini yang sama sekali tak mendapatkan tanggapan apapun dari Arya.


Bukannya memperlambat mobilnya Arya malah semakin mempercepat membuat Arini ketakutan. Tubuh Arini sudah gemetaran, dia tak biasa naik mobil dengan kecepatan tinggi seperti saat ini, bahkan Arini juga baru kali q ini naik mobil mewah yang rasanya sama sekali tak enak menurutnya.


"Pak Tuan! Arini takut," air mata sudah lolos begitu saja dari mata Arini, sepertinya Arini benar-benar sangat ketakutan.


Arini meringsek di pojok menyembunyikan wajahnya di sana dengan tangis yang sudah tak bisa dia tahan lagi. Arya sungguh keterlaluan melakukan itu padanya, sebenarnya kenapa dia begitu marah padanya. Sepertinya Arini juga tak melakukan kesalahan apapun saat pulang.


Sesekali Arini mengintip dari celah-celah jari-jemarinya, jalanan juga sangat ramai. Dengan kecepatan tinggi tubuh Arini rasanya di ombang-ambingkan dengan keras membuat duduknya juga tidak tenang.


"Pak Tuan berhenti, Arini takut," ucapan Arini sudah melirih, suaranya terasa habis atau mungkin hanya tertahan di tenggorakan saja.


Arini seperti orang gila dari tadi, dia seperti orang yang terus bicara sendiri tanpa mendapatkan jawaban apapun dari Arya. Itu membuat Arini begitu frustasi.


"Pak Tuan, Awasss...!! " teriak Arini saat melihat truk yang berjalan di depan mobil Arya yang tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


𝘊𝘬𝘪𝘵𝘵𝘵𝘵.....


Untung saja rem mobil Arya benar-benar berguna kalau tidak entah bagaimana nasib mereka berdua sekarang. Ban mobil Arya yang di paksa berhenti saat dalam laju cepat sampai harus mengeluarkan percikan api juga terlihat ada asap yang keluar juga.


Jarak mobil Arya juga truk itu juga hanya tinggal sehelai rambut saja, jika di lihat dari jauh mobil juga truk itu sudah bersentuhan.


"Arini belum mau mati, Arini belum mau mati," racaunya. Tatapannya kosong ke depan, punggungnya bahkan sangat tegak, juga air matanya terjun bebas dengan begitu deras.


Arya sendiri tak tau kenapa dia bisa melakukan itu, dia seperti tidak sadar seolah ada yang mengendalikan hatinya.


Nafas Arya juga tersengal-sengal, jantungnya terus memburu begitu cepat juga matanya masih melotot ke arah truk yang tepat berasa di depannya.


"Astaga.., apa yang aku lakukan," gumamnya bingung sendiri.


Arya menoleh ke arah Arini di terkejut melihat keadaan Arini. Tatapannya kosong, tubuhnya terus gemetar, air matanya terus mengalir deras, dan juga terus mengatakan dia belum mau mati. Arya merasa bersalah karena kejadian ini.


"Arini, kamu tidak apa-apa? Arini?! " panggil Arya, tapi Arini masih tak bergeming.


Arya benar-benar merasa bersalah, dia melepaskan 𝘴𝘪𝘵𝘣𝘦𝘭𝘴 yang melekat pada dirinya dia merengkuh tubuh kecil Arini. Arya tak peduli Arini akan marah padanya, menceramahi nya lagi, atau bahkan Arini akan memukulnya, Arya sudah siap menerima semua hukuman dari Arini atas apa yang dia lakukan.


"Pak Tuan jahat. Pak Tuan mau bunuh Arini," Arini masih saja berbicara bahkan dia sama sekali tak sadar kalau sekarang Arya sudah memeluknya.


"Maaf, Arini. Saya benar-benar minta maaf. Marahi aku, pukul aku atau katakan apapun yang kamu inginkan, tapi jangan seperti ini, aku benar-benar minta maaf," ucap Arya. Dia benar-benar menyesal sekarang. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga dia melakukan itu.


"Pak Tuan jahat," hanya kata itu yang terus Arini katakan hingga berulang-ulang.


Arya tak pernah berada dalam situasi seperti ini, dia begitu bingung mau melakukan apa untuk bisa membuat Arini tenang.

__ADS_1


"Maaf Arini, saya minta maaf," dan hanya kata itu juga yang selalu keluar dari mulut Arya. Dia tak pandai dalam menenangkan seorang gadis yang seperti Arini sekarang.


Di dalam dekapan Arya Arini masih terus menangis. Hingga cukup lama dalam posisi itu dan sesekali tangan Arini juga memukul-mukul Arya. Sebenarnya Arini ingin memukuli dirinya sendiri, tapi Arya tak mengizinkan itu hingga akhirnya tangan Arini memukuli Arya.


"Pak Tuan jahat," ucapan Arini semakin lirih, tangisnya perlahan-lahan juga mulai hilang. Tangannya mulai melemas hingga akhirnya Arini benar-benar tak bergerak karena dia lelah menangis dan tidur begitu saja.


Arya mengintip wajah Arini dan benar saja, gadis yang ada di dalam dekapannya itu sudah tertidur karena lelah menangis.


"Apa yang sudah aku lakukan," keluh Arya frustasi sendiri, "maafkan aku, Arini."


"Sekarang aku harus bagaimana? mau aku bawa dia kemana?" Arya diam berfikir dan dia temukan tempat di mana akan membuat Arini bisa tidur nyenyak, yaitu di apartemennya.


//////


Dimas mengejar mobil Arya yang meninggalkannya, tapi ternyata dia tak bisa mengejarnya. Dimas kehilangan jejak.


Karena biasanya Arini akan ke rumah sakit setelah pulang kerja maka Dimas memutuskan untuk ke rumah sakit, mungkin Arya sendiri yang akan mengantarkannya ke sana.


"Sebenarnya Tuan Arya kenapa sih! tak biasanya melakukan itu. Atau jangan-jangan Arini membuat masalah lagi sampai Tuan Arya marah seperti itu. Semoga saja tak ada hal buruk yang terjadi pada Arini."


Dimas hanya bisa berharap kalau Arini akan baik-baik saja, dan dia berharap Arya benar-benar mengantar Arini ke rumah sakit.


Tapi ternyata Dimas di buat kecewa karena Arini ternyata tidak ada di rumah sakit. Dimas juga terus menghubungi Arya tapi sama sekali tidak di tanggapi.


"Arini, kamu dimana? kenapa aku begitu sangat mencemaskan mu. Awas saja kalau sampai Tuan Arya melakukan hal buruk padamu. Aku akan beri dia pelajaran, aku tak akan memandang dia sebagai Tuan Muda dari Gautama," gumamnya yang begitu frustasi.


/////

__ADS_1


Bersambung...


_______


__ADS_2