
Happy Reading...
Niatnya mau pulang sebelum sore, tapi nyatanya Arya masih saja berkutat di depan laptopnya di kantor. Dia sudah bilang kalau akan datang sebentar dan akan cepat pulang, tapi dia nggak tau kalau ternyata pekerjaannya begitu menumpuk.
Bukan hanya Arya saja yang masih ada di kantor, tetapi Toni juga sama. Mereka berdua masih tinggal meski di ruangan yang berbeda.
Toni dengan segudang pekerjaan yang Arya berikan dan Arya juga sama, pekerjaan yang menumpuk dan minta untuk di tengok.
"Sepertinya aku akan pulang terlambat ini," gumamnya begitu lirih. Berkali-kali dia mengusap wajahnya dengan kasar dikala mengingat akan janjinya kepada Arini dan sekarang dia sedikit menyesal karena tak bisa menepatinya.
Berkali-kali Arya juga menggerutu, merutuki Toni yang dia rasa kurang dalam pekerjaannya. Sebenarnya kesalahan bukan karena Toni, melainkan pekerjaannya saja yang memang sangat banyak. Arya saja yang sebenarnya lagi sensi pengaruh menjadi pengantin baru yang lagi anget-angetnya.
"Dasar Toni, begini saja tidak becus! benar-benar harus di perhitungkan untuk pindah tempat itu anak," ocehnya dengan sangat kesal.
Tangan masih terus bergerak, tapi mata terus melotot. Juga mulut yang tak henti-hentinya untuk ngomel.
Arya sangat yakin kalau Arini pasti sudah menunggunya di rumah tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Dia juga tidak ingin sampai ada masalah di perusahaan di kemudian hari.
"Lebih baik aku menghubungi Arini, kalau tidak dia pasti akan salah paham," cepat Arya meraih ponselnya, menyalakannya dan mencari nomor Arini di sana.
Sementara di rumah Arini masih sibuk bantu-bantu di dapur. Dia terus melakukan apapun yang dia mau padahal Nilam juga Hendra terus melarangnya tapi itulah Arini, dia lebih suka mengerjakan sesuatu daripada hanya duduk manis tanpa melakukan apapun.
Kebiasaannya yang sudah mendarah daging tidak akan mudah dia hapus meski sekarang dia sudah hidup enak dan sebenarnya bisa saja dia seperti ratu yang hanya tinggal bilang pada para asisten jika menginginkan sesuatu. Tapi bagi Arini semua akan lebih puas jika dia sendiri yang melakukannya.
Nilam dan Hendra hanya bisa pasrah, mengalah dan membiarkan apapun yang di inginkan oleh putrinya membiarkan dia melakukan hal baru yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Sementara para asisten rumah tangga hanya membantu saja, menyiapkan semua yang akan Arini kerjakan.
"Alhamdulillah, sebentar lagi beres. Saat mas Arya pulang semua sudah matang. Dan tinggal menikmatinya saja untuk makan malam," gumamnya.
Bibirnya terus mengulas senyum yang begitu lebar dengan tangan terus sibuk juga kaki yang terus melangkah mondar-mandir.
''Istirahat dulu, Nak. Dari tadi kamu terus bekerja. Jangan sampai kamu kelelahan nantinya,'' ucap Nilam.
__ADS_1
Nilam begitu khawatir tapi Arini tetap saja terus melakukan apapun yang dia kehendaki. Bukan karena dia mau membangkang apa yang di katakan mamanya tapi dia emang sudah terbiasa melakukannya, justru dia merasa tidak enak saat dia hanya diam.
Arini malah tersenyum menanggapi, dia malah senang karena sekarang dia ada yang memperhatikan. Dulu dia akan berhenti sekedar istirahat tidak di perbolehkan tapi sekarang? dunianya benar-benar telah berputar sangat banyak.
''Tidak apa-apa, Ma. Arini sudah terbiasa melakukan ini. Tenang saja, Ma. Arini akan istirahat kalau merasa lelah,'' jawab Arini.
Kring... kring... kring...
Ponsel Arini yang ada di dalam saku telah berbunyi membuat dia cepat mencuci tangan dan cepat mengambil ponselnya untuk dia angkat.
''Mas Arya?'' Arini cepat mengangkatnya setelah tau siapa yang menghubunginya. Arini juga terlihat senang saat melihat ada foto dirinya juga Arya yang di jadikan foto profil tapi bukan itu saja melainkan Arini sangat senang karena sebentar lagi dia akan mendengar suara Arya.
''Assalamu'alaikum...'' sapa Arini seraya membuka percakapan dengan suaminya lewat telfon.
"*Wa'alaikumsalam, Sayang*."
"Kenapa, Mas! Mas sebentar lagi pulang ya?" tanya Arini begitu antusias. Bahkan Nilam yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia karena melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia.
Arini memang tidak terlihat marah, tapi sedikit kecewa karena dia sudah menyiapkan segalanya dan ternyata Arya akan pulang telat. Dia juga belum tau Arya akan sampai jam berapa di kantor.
Arini yang terdiam memancing sesal pada Arya.
"*Apa aku harus pulang sekarang juga, hem? mas harus selesaikan semua pekerjaan ini karena mas akan cuti beberapa hari besok. Mas hanya akan terus bersamamu hingga beberapa hari ke depan. Kalau sekarang tidak selesai, maka besok Mas harus kembali lagi. Jadi Mas putuskan untuk menyelesaikan sekarang supaya besok tidak perlu kembali ke kantor. Bagaimana, kamu tidak apa-apa kan?" ucap Arya menjelaskan begitu panjang*.
Ternyata itulah alasan Arya pulang terlambat, dia ingin meluangkan waktu untuk bersama Arini mulai besok hingga beberapa hari.
"Tidak apa-apa, Mas. Arini tidak marah kok," jawab Arini. Sebisa mungkin Arini juga harus bisa percaya dan bisa memahami kesibukan suaminya. Bukankah semua yang dia lakukan juga pasti untuk dirinya juga.
"*Beneran kan? kamu tidak marah sama Mas, kan*?"
"Tidak, Mas. Selesaikan pekerjaan Mas dan cepatlah pulang, Arini akan menunggu, Mas,"
"*Alhamdulillah, kalau begitu Mas kerja dulu ya. Tunggu Mas pulang, Mas akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan Mas*."
__ADS_1
"Iya, Mas."
"*Assalamu'alaikum, istriku*."
"Wa'alaikumsalam, Su-suami ku,"
Ponsel langsung tertutup, sepertinya pelakunya juga Arya.
Melihat wajah Arini yang cemberut membuat Nilam langsung mendekatinya. Menyentuh pundaknya dan mengejutkan Arini yang melamun.
"Sayang, kenapa? habis telfonan sama suami kok mukanya cemberut begitu. Emangnya apa yang Arya katakan?" tanya Nilam menyelidiki.
"Tidak apa-apa, Ma," jawab Arini yang sangat enggan.
"Cerita sama Mama. Mama akan selalu menjadi Mama juga sahabat untuk Arini. Arini bisa bercerita apapun," kata Nilam begitu lembut.
"Mas Arya pulang telat. Katanya pekerjaannya banyak," jawab Arini berusaha untuk mengembalikan senyum yang sekejap hilang dari bibirnya.
"Oh, kirain kenapa. Apa kamu marah?"
"Tidak Ma, Mas Arya memang orang penting, orang besar dengan kedudukan tinggi. Pekerjaannya pasti sangat banyak. Arini tidak boleh egois kan, Ma. Arini harus bisa mengerti keadaan Mas Arya. Arini juga harus terus mendukungnya kan? dan tidak boleh menambah beban untuknya kan, Ma?" jawab Arini.
"Anak Mama benar-benar sudah besar sekarang. Mama yakin kamu dan nak Arya akan saling dukung dalam hal apapun."
"Ingat baik-baik ya, Sayang. Dalam situasi apapun seorang suami, istri harus selalu mendukungnya. Menjadi tempat terbaik untuk dirinya menaruh lelah, menjadi teman juga menjadi pendamping yang selalu ada. Entah dalam keadaan di atas ataupun sedang dalam keadaan di bawah sekaligus."
"Bukan hanya itu saja, tapi istri harus bisa percaya sepenuh hati kepada suaminya, tidak boleh curiga-an atau berprasangka buruk. Suami adalah cermin untuk istri begitu juga sebaliknya. Maka jadilah cermin yang terbaik untuk suamimu, dan dia pasti akan menjadi cermin terbaik untukmu, kamu mengerti kan apa yang Mama maksud?"
Begitu banyak Nilam memberikan petuah untuk anak perempuannya, memberikan sedikit pondasi untuk rumah tangganya.
"Arini mengerti, Ma. Terimakasih banyak, Ma," Arini langsung memeluk Nilam dengan bangga, dia sangat bahagia memiliki ibu yang sangat baik.
Bersambung...
__ADS_1