Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
209.Aku Suamimu


__ADS_3

Happy Reading...



🌾🌾🌾🌾BOCIL MELIPIR LAGI YA πŸ™ˆπŸ™ˆπŸŒΎπŸŒΎπŸŒΎπŸŒΎ



Hati Arya benar-benar tersentuh, dia sangat menyesal karena telah membuat istrinya kesakitan. Tapi dia juga tak bisa apa-apa karena itu memang sudah jalannya harus seperti itu.



Arya menghentikan pergerakannya sesaat setelah dia benar-benar bisa menjebol bendungan milik Arini dengan tombak pusakanya. Rasa bersalahnya semakin besar karena dia melihat Arini yang telah menitikkan air mata.



"Maaf, karena kamu harus merasakan hal yang begitu menyakitkan ini, maaf," Arya begitu menyesal.



"Tidak apa-apa, kan Pak Tuan juga sakit kan?" jawab Arini dengan sesekali meringis.



Arya semakin merasa bersalah. Dia memang tidak merasakan bagian tubuh yang mana yang merasa sakit, tapi melihat Arini yang kesakitan itu sudah membuatnya lebih begitu menyakitkan dari sakit karena luka.



Jika bisa, Arya ingin menanggung semua rasa sakit yang Arini dapatkan, membiarkan Arini hanya merasakan kenikmatan saja. Tapi bagaimana mau di kata? Arya tak kuasa untuk itu.



Setelah Arini sudah sedikit tenang Arya mulai bergerak lagi, kembali menyatukan bibir mereka untuk merangsang Arini supaya terbuai dan bisa melupakan rasa sakitnya.



Pusaka yang tetap menancap Arya biarkan, dengan tangan juga bibirnya yang terus bergerak ke area yang lain dan benar-benar bisa membuat Arini merasakan kenikmatan hingga suara lenguhan kembali Arya dengar.



Perlahan-lahan tombak Arya mulai kembali bekerja, menggali lebih dalam untuk mencapai tempat yang semestinya. Mempercepat ritmenya dan membuat Arini benar-benar tak mampu untuk berkata-kata lagi, cukuplah dia merasakan kenikmatan untuk sekarang setelah sempat merasakan sakit yang sangat luar biasa.



"Pakkk... Tuaannnn..." suara Arini bergetar, mungkin dia akan kembali sampai puncaknya dan akan menyemburkan lagi gelombang dari lubang yang telah Arya gali dengan tombaknya yang benar-benar kuat.



"Keluarkan, Sayang. Biarkan keluar," ucapnya dengan terus mempercepat pergerakannya.



Arini kembali mencengkram Arya saat dia merasakan gelombang besar akan keluar. Tubuh Arini menegang saat itu, entah perasaan apa saat itu tapi ada rasa nikmat, panas juga sensasi lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.



Arya kembali tersenyum, dia sangat senang lagi-lagi bisa membuat istrinya dalam puncaknya. Kini giliran dirinya yang harus bekerja keras untuk dia juga bisa mencapai puncaknya.



Dalam dan semakin dalam, cepat dan semakin cepat hingga nafas begitu memburu dari Arya.


__ADS_1


Melihat wajah Arini membuat Arya semakin semangat untuk secepatnya sampai puncak. Menikmati segarnya kenikmatan setelah berhasil.



Tak lama Arya bekerja keras dalam penggaliannya hingga akhirnya sumber mata air miliknya akan segera mengairi lembah yang dia buat. Tubuh Arya juga ikut menegang, nafas tidak teratur di iringi dengan sensasi yang sangat luar biasa.



Akhirnya mata air milik Arya berhasil keluar, memenuhi lembah yang sudah dalam karena galiannya sendiri. Arya terdiam, membiarkan semua air itu habis. Nafas lega pun keluar dari Arya, puas rasa hatinya karena telah berhasil.



"Alhamdulillah," rasa syukur Arya ucapkan saat dia juga sampai di puncaknya. Melepaskan semua mata air yang terdapat sebuah kehidupan yang mungkin akan tumbuh ke dalam lembah subur yang sudah dia gali sebelumnya. Menaruh bibitnya di tempat yang benar di tempat yang halal untuknya.



"Jika Engkau izinkan salah satu dari mereka tumbuh, jadikanlah dia mutiara yang akan menjadi penerang hidup kami, menjadi kebanggaan untuk kami dan berguna untuk keluarga, bangsa, juga umat-Mu."



Harapan yang sangat besar setelah dia berhasil menaruh benihnya di tempat Arini. Berharap akan segera tumbuh mutiara yang akan menjadi pelengkap rumah tangga mereka berdua.



Arya ambruk di sebelah Arini, menghujani kecupan di kening Arini.



"Terimakasih. Terimakasih, Sayang," ucapnya.



"Apakah pak Tuan masih sakit?" tanyanya. Arini masih saja mengkhawatirkan Arya padahal dia sendiri juga merasakan sakit yang luar biasa.




"Benarkah?"



"Iya, tidak akan lagi. Apa kamu mau membuktikannya?" Arya ternyata masih belum puas padahal baru saja dia selesai.



"Bu-----"



Arini hanya bisa pasrah saat Arya menginginkan lagi dan langsung membungkamnya dengan bibirnya lagi.



Pergulatan yang kedua akhirnya terjadi lagi di antara keduanya, dan kini hanya tinggal kenikmatan yang akan meraka berdua rasakan.



Benar-benar seolah mendapat jackpot si Arya sekarang, dia mendapatkan sesuatu yang masih baru, bagus, tentunya masih tersegel dengan sangat rapat.


Arya terus mengukir senyum ketika pagi sudah menjelang, dia yang sebenarnya baru tidur beberapa saat saja kini dia sudah kembali terbangun karena suara azan.


Melihat wajah lelah istrinya yang ada di sampingnya membuat Arya sangat puas, dia juga senang karena bisa membuat dirinya atau Arini sendiri merasa puas di malam yang indah di malam pertama mereka berdua.

__ADS_1


Arya memiringkan tubuhnya, memandangi wajah Arini yang sangat imut ketika tidur. Mengelus nya dengan perlahan karena takut mengganggu karena Arini pasti sangat kelelahan akibat keganasan yang telah dia lakukan semalam. Apalagi Arya yang seolah tak pernah puas dan selalu menginginkan lagi dan lagi, itu sangat membuat Arini kewalahan.


"Hemm..." Arini menggeliat, meskipun Arya tidak membangunkannya tapi Arini akan tetap bangun saat mendengar suara azan yang masuk dengan teratur di telinganya.


Terasa sangat lelah hingga akhirnya Arini merenggangkan tangan keatas untuk membuat otot-ototnya kembali bekerja, tapi apa yang dia lakukan malah memancing Arya menginginkan hal yang sama lagi seperti semalam setelah dia melihat gundukan kenyal yang terbuka dengan jelas.


"Akhh..., ternyata sudah pagi," ucapnya dan berusaha keras untuk membuka matanya lebar-lebar.


"Akk!!" Teriak Arini saat dia merasakan ada yang memainkan puncak gundukan nya. Arini cepat memeriksa dan pelakunya pastilah suaminya sendiri yang terus memainkan dengan tangan.


"Ihh, pak Tuan," rasa geli dan malu membuat Arini cepat menyingkirkan tangan Arya dan cepat menutupinya lagi dengan selimut.


"Mau *****," suara Arya terdengar seperti anak kecil saat itu, matanya terus mengedip memohon dengan sangat. Sepertinya Arini tetap tidak memberikannya kali ini.


"Mau," rengek Arya lagi, tapi Arini tetap tak memberikannya. Arini menggeleng cepat juga menutupnya begitu rapat.


Allahu Akbar Allahu Akbar....


Suara iqamah mengejutkan Arini, matanya langsung berputar-putar memandangi setiap penjuru.


"Ada apa?" tanya Arya yang terlihat bingung dengan Arini.


"Sudah subuh," Arini hendak duduk tapi punggungnya rasanya sangat sakit, bahkan bukan di situ saja yang sakit tapi sekujur tubuhnya rasanya remuk. Apalagi di bagian bawahnya, rasanya sangat luar biasa sakitnya. Arya benar-benar kelewatan emang, tidak kira-kira saat melakukannya semalam.


"Aww!" Baru saja menggerakkan sedikit kakinya Arini sudah kesakitan. Benarkah semuanya baik-baik saja? Arini sangat bingung jika bisa beranjak dia sama sekali tak memakai apapun dan Arya sepertinya juga sama, lalu?


"Apa sangat sakit?" tanya Arya dan langsung diangguki oleh Arini, "maaf, aku tak bermaksud membuatmu sakit seperti ini."


"Apa Pak Tuan juga sakit?" Arini melirik dan balik tanya


Arya terkesiap, apanya yang sakit pada Arya bahkan dia sangat menikmatinya Arya juga sangat ketagihan dengan kegiatan semalam, jika tidak kasihan dengan keadaan Arini sekarang pastilah dia akan menubruk Arini lagi dan melakukannya lagi.


Tangan Arini terangkat, menyentuh pundak Arya yang terluka akan gigitannya. Lukanya hanya kecil tapi terlihat sangat merah dan terdapat sedikit darah yang sudah kering.


"Arini minta maaf, Pak Tuan pasti sakit kan?" Mata Arini berkaca-kaca, siap meluncurkan air mata karena merasa bersalah. Seharusnya dia tak melukai Arya kan semalam, tapi apa yang dia lakukan pun dia seolah tidak menyadarinya. Saat dia merasakan sakit yang luar biasa dia langsung bergerak untuk menggigit Arya.


"Ini tidak apa-apa, ini juga akan cepat sembuh. Sudah jangan nangis kamu tidak bersalah, tapi aku yang bersalah karena membuatmu kesakitan."


"Pak Tuan tidak salah, kan kemarin juga sudah bilang kalau akan sedikit sakit, tapi Arini tidak kuat menahannya, jadi...?"


"Sudah sudah, sekarang kita mandi lalu shalat subuh," ucap Arya.


"Apa kamu bisa jalan?" tanya Arya.


Arini sedang berusaha, melihat Arya yang sudah mengambil handuknya lagi Arini berinisiatif untuk membawa selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


Baru saja bisa berdiri kaki Arini terasa keram, dia juga sangat susah untuk berjalan.


Arya yang mengetahuinya langsung mengejar turun lalu mengangkat tubuh Arini.


"Aku suamimu sekarang, kalau kamu membutuhkan apapun katakan padaku. Kamu juga boleh meminta tolong padaku, mengerti?"


Arini mengangguk setelah berada di gendongan Arya. Sebenarnya dia ingin berjalan sendiri tapi dia tidak kuat.



Bersambung...



Panas panas....


πŸ™ˆπŸ™ˆπŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ

__ADS_1


__ADS_2