
Happy Reading...
~~}}}}{{{{~
Dimas masih terus menunggu Raisa yang masih menikmati makanan yang dibawa olehnya yang dikirim langsung dari Nilam bahkan itu masakannya Nilam sendiri.
Belum apa-apa Raisa sudah mendapatkan perlakuan khusus dari orang tua Dimas sementara Dimas nya sendiri masih acuh bahkan terlihat tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh mamanya sendiri yang bermaksud untuk mendekatkan Raisa dengan Dimas.
Raisa yang sangat kelaparan begitu lahap saat memakan semua makanan itu dia tidak menoleh apalagi melirik ke arah Dimas yang kini hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aku wanita yang dianggap sangat bar-bar.
"Kamu laper atau doyan, hem?" celetuk Dimas yang terus mengamati cara makan Raisa.
Kini Raisa hanya melirik saja ke arah Dimas, matanya menatap tak suka kepada pria itu yang mungkin ilfil padanya, tapi itu masa bodoh untuk Raisa. Mau Dimas mengatai apapun bagaimana dia tapi tak masalah karena memang seperti itulah dia. Apa adanya dan tak ada yang di tutup-tutupi.
Raisa lebih suka menjadi dirinya sendiri meski di depan pria tampan sekaligus, dia gak mau berpura-pura manis hanya untuk mendapatkan perhatian ataupun bisa di kagumi oleh orang lain.
Bagi Raisa, jika ada orang yang akan menyukainya maka dia harus menerima dirinya apa adanya, menerima semua perilakunya yang tak seperti wanita pada umumnya yang terlibat manis-manis madu.
◦•●◉✿_✿◉●•◦
"Tuan laper?" Tanya Raisa dengan mulut yang masih terus mengunyah makanan yang penuh di dalamnya.
Dimas hanya menatap datar Raisa yang di matanya tidak memiliki rasa malu sama sekali bahkan di dekat dirinya yang sebenarnya adalah pria yang begitu menjaga kebersihan juga kelembutan.
"Tidak aku sudah makan," jawab Dimas dengan berbohong padahal dia sama sekali belum makan apapun, dia pikir bisa makan bersama dengan Raisa karena makanan yang dikirimkan juga sangat banyak jadi cukuplah jika hanya untuk makan berdua saja, tapi kenyataannya Dimas dibuat kecewa karena Raisa memakannya sendiri tanpa menawarkan kepadanya.
"Beneran?" Kedua mata Raisa menyipit, Iya sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dimas saat itu. Bibirnya memang mengatakan sudah makan tapi wajahnya terlihat sekali bahwa Dimas begitu lemas mungkin itu karena dia tengah menahan rasa lapar.
"Kalau lapar saja Tuan jangan sok jual mahal, lagian ini makanan juga masih banyak saya tidak akan habis dengan makanan sebanyak ini. Bisa-bisa perutku akan meletus nanti," ucap Raisa dengan sangat yakin sembari tangannya terangkat dan menghapus sisa kuah yang menempel di bibir luarnya dengan menggunakan punggung tangan.
Dimas masih diam tapi dia tetap mengamati setiap pergerakan Raisa yang menurutnya sangat berbeda dengan gadis pada umumnya sama sekali tidak ada halus-halusnya.
__ADS_1
"Nih! Tuan bisa makan juga," tangan kanan Raisa menyodorkan satu rantang yang berisi nasi putih juga tidak lupa dia kembali menyodorkan rantang yang berisi lauk kepada Dimas.
"Aku sudah bilang kan, aku sudah makan," Dimas begitu jual mahal kepada Raisa bahkan makanan yang Raisa sodorkan dikembalikan oleh Dimas dan didorong kembali hingga tepat berada di depan Raisa.
"Hadeh, jadi cowok jual mahal banget sih. Apa perlu Raisa suapi Tuan?" Tanya Raisa.
Tangan Raisa begitu aktif memainkan sendok juga garpu di atas rantang dan mengangkat sendok ketika sudah penuh dengan nasi juga lauk. Raisa masih terdiam menahan sendok di udara menunggu pada waktu yang tepat.
"Beneran Tuan nggak mau makan?" tanya Raisa lagi.
"Ak..." ucapan Dimas terhenti saat tiba-tiba Raisa memasukkan sendok yang penuh ke dalam mulut Dimas.
Gadis itu meringis melihat Dimas yang tak bisa berbicara lagi karena ulahnya benar-benar trik yang sangat menakjubkan bukan.
"Bagaimana Tuan, enak kan?" Raisa masih saja terkekeh saat Dimas mengubah ekspresi wajahnya dengan sangat kesal tetapi mulutnya juga mengunyah makanan yang tadi setelah sendok berhasil Raisa keluarkan.
"Kata emak saya, makan dari tangan orang itu akan lebih nikmat dari pada dengan tangannya sendiri, apa itu benar, Tuan?" Tanya Raisa dengan mata memandangi Dimas dengan serius.
"Dasar nggak waras!" Sungut Dimas dengan begitu kesal.
"Ya Allah, Tuan. Jangan kesal-kesal gitu napa, nanti jatuh cinta baru tau rasa loh," ledek Raisa lagi dan lagi.
"Da..." ucapan Dimas kembali terputus karena Raisa kembali menyuapi lagi bahkan kali ini satu sendok full membuat mulut Dimas begitu penuh bahkan sampai menggembung.
"Dari pada marah-marah lebih baik makan sampai kenyang, kan enak," Raisa meringis lagi. Puas hatinya bisa membuat Dimas diam dan tidak ngoceh mulu.
"Sini, aku bisa makan sendiri!" Ucap Dimas setelah dia bisa berbicara, menarik kedua rancang yang tadi ditawarkan oleh Raisa.
"Dasar plin-plan," oceh Raisa.
Dimas dan lagi peduli dengan apa yang dikatakan oleh Raisa dia lebih memilih makan makanan yang sebenarnya diberikan untuk Raisa saja. Baginya lebih baik makan dengan tangan sendiri daripada disuapi Raisa dan membuat gadis itu malah menghentikan makan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sangat berbeda?" Batin Dimas setelah berhasil memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya.
Rasanya benar-benar berbeda saat makanan itu masuk dengan tangan Raisa. Ternyata Raisa benar makan lebih nikmat dengan tangan orang lain daripada tangannya sendiri.
Dimas yang berhenti mengunyah dilihat langsung oleh Raisa.
"Kenapa Tuan, apa rasanya berbeda ya? Kan Raisa sudah bilang makan itu lebih nikmat dengan tangan seseorang daripada tangannya sendiri. Apa Tuan mau Raisa suapi saja?" Ucap Raisa menawarkan diri.
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Aku punya tangan yang masih bisa bergerak. Nggak usah sok perhatian," meski dengan mulut yang penuh saja Dimas masih bisa bicara meski tak bisa jelas.
"Ya sudah, Raisa juga mau makan," Raisa kembali memakan makanannya sendiri dan memasukkan ke mulut dirinya karena tawarannya kepada Dimas ditolak mentah-mentah, masa bodoh.
"Sebenarnya Raisa adalah gadis yang baik meski dia terlihat acuh dan bar-bar tapi dia sangat berbeda dari gadis pada umumnya. Dimas Dimas bukankah kamu memang menyukai gadis yang unik seperti dia? dasar munafik kamu Dim Dim. Mulut menolak tapi hati mengaguminya," Batin Dimas.
Kedua ujung bibir Dimas tertarik dia tersenyum melihat wajah Raisa yang sebenarnya sangat manis dan enak untuk dilihat. Dimas hanya malu saja untuk mengakuinya kalau dia sebenarnya memang sudah mengagumi Raisa.
Bahkan Dimas sampai melamun memandangi Raisa tapi dengan bibir yang tersenyum.
"Dorr! Cie cie cie..., ada yang mulai terpesona nih. Sudah mulai kesemsem nih," goda Raisa yang melihat Dimas.
Dasar wanita itu, dia yang di pandangi dengan seperti itu tapi dia masih bisa menyatakan itu. Kalau wanita lain mungkin dia akan tertunduk malu dengan pipi yang merona.
"Apa sih! Siapa juga yang terpesona dengan wanita bar-bar kayak kamu," tolak Dimas gak mengakui.
"Bar-bar tapi manis kan, Tuan?" mata Raisa malah berkedip genit membuat Dimas semakin salah tingkah.
"Ma_manis apaan? Pahit iya!"
"Hahaha...!" Raisa malah terpingkal melihat Dimas yang gugup.
__ADS_1
Bersambung...