
Happy Reading...
******
Hingga cukup malam Raisa masih belajar dia sama sekali belum merasakan kantuk itu datang. Raisa masih sibuk dengan semua buku-buku yang ada di hadapannya, coretan-coretan juga terdapat di buku lain yang Raisa gunakan untuk mempelajari pelajaran matematika yang harus menggunakan penghitungan.
Lama-kelamaan rasa kantuk itu datang juga menghampiri mata Raisa, tanpa sadar dia hanya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang ada di belakangnya. Mata Raisa terpejam sepertinya dia benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk membuka mata dan menyapa semua buku-buku yang masih terbuka di hadapannya.
Brakk...
"Raisa! Kamu masih belum tidur juga!" Kursi Raisa yang bergerak karena Raisa mau jatuh membuat pakde-nya langsung berteriak memanggil. Sudah dibilangin kalau Raisa harus tidur dan tidak begadang tetapi gadis itu masih saja dengan pekerjaannya meskipun akhirnya dia ketiduran.
Raisa langsung tersadar namun dia diam karena tak mau sampai pakde-nya mendatangi dan marah kepadanya karena dia tidak mendengarkan permintaan.
Raisa berjalan pelan-pelan menuju lemari dan mengambil baju tidur yang lebih nyaman untuk dia pakai, setelah itu dia benar-benar naik ke atas ranjang untuk tidur meninggalkan pekerjaannya yang sebenarnya masih ingin dia lakukan.
Karena merasa terganggu dan mengira Raisa belum tidur Pakde mendatangi kamarnya seperti biasa Raisa tidak pernah mengunci pintunya.
Meski sudah melihat Raisa sudah tidur tetapi Pakde tetap masuk sekedar untuk melihat apakah Raisa benar-benar sudah tidur atau belum.
Mata lelah mengantuk hilang seketika, membuatnya juga langsung mengeluarkan hasrat saat melihat kulit putih mulus di leher keponakannya. Pikiran kotor dan keinginan untuk mendapatkan dan menikmati apa yang ada di hadapannya langsung muncul seketika di dalam benaknya.
Langkah yang ingin keluar menjadi urung karena dia sangat penasaran dengan rasa yang pasti sangat manis dari buah segar yang begitu menggoda. Akal sehat seketika hilang karena didorong oleh hasrat yang sudah besar dalam dirinya.
Pakde duduk berjongkok di depan Raisa yang tidur miring dan melihat betapa indah dan cantiknya Raisa saat tertidur lelap.
Tangannya terangkat menyingkirkan rambut yang menutupi area kening dan akhirnya terlihatlah jelas bahwa keponakannya memang benar-benar sangat cantik.
Bibir merah ceri yang indah tanpa polesan benar-benar semakin menggugah selera yang kini telah membesar di kepala Pakde. Rasa ingin menikmati begitu menguasai hingga akhirnya dengan perlahan Pakde mulai mengecupnya dengan pelan.
"Benar-benar sangat manis," Gumamnya setelah berhasil sedikit menyapu bibir Raisa dengan lidahnya.
Benar-benar setan telah menguasai otak Pakde hingga dia berniat untuk menyentuh ponakannya sendiri yang sudah lama tinggal bersamanya bahkan sudah seperti anaknya sendiri. Otak yang kotor dengan semua bayangan indah yang ada di dalam tubuh Raisa membuat keperkasaannya bangun.
Matanya sudah memerah menahan hasrat yang besar dan Ingin secepatnya menyalurkan ke dalam tubuh gadis yang tidur terletak di hadapannya.
Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Raisa hingga akhirnya terpampang nyata betapa mulusnya kaki jenjang Raisa yang terlihat karena Raisa hanya menggunakan gaun tidur selutut itu pun sudah tersingkap sedikit naik ke atas jadi lebih jelas apa yang ada di sana.
Benar-benar akal sehat semakin hilang.
Tangan perlahan menyentuh kaki jenjang milik Raisa meraba semakin ke atas dan semakin membuka gaun Raisa hingga akhirnya dia bisa melihat tempat yang akan memberikan kenikmatan untuknya yang masih bersembunyi di antara kedua kakinya. Itupun jika dia berhasil melakukan.
Raisa bergerak dan itu membuat Pakde semakin diuntungkan karena Raisa membalikkan tubuhnya menjadi terlentang benar-benar keindahan terpampang jelas di matanya setelah melihat area paling sensitif yang paling digemari oleh seorang laki-laki karena di sana kenikmatan yang sebenarnya akan didapat.
Sentuhan lembut dia dilakukan di area taman segitiga yang masih terbungkus oleh kain berwarna ungu.
Mungkin begitu lelahnya Raisa hingga dia sama sekali tidak bangun meskipun dia kini tengah mendapatkan pelecehan oleh Pakde sendiri.
Pakde semakin gila hingga tangannya mulai menelusup masuk meraba sekitar taman dan meraba lubang yang begitu sempit yang dia yakini belum pernah terjamah oleh tangan siapapun. Pakde membungkuk perlahan mulai menikmati area itu dengan menciumnya bahkan mulai menyapu dengan lidahnya yang hangat
Tangan terus bermain-main di sana, meski dia tak berani memasukkan jarinya di lembah yang ada di taman meski dia sangat menginginkan. Dia tak mau sampai Raisa bangun dan dia akan berhenti dalam kesenangannya.
Pelan-pelan pakde mulai melepaskan penghalang dari taman segitiga Raisa, menurunkan hingga sampai ke lututnya. Matanya benar-benar sudah penuh dengan gairah besar dan kini semakin besar melihat taman Indah itu terlihat jelas.
Bukan hanya menurunkan saja, tapi dia juga pelan-pelan melepaskan, mengangkang kan kaki Raisa pelan dan benar terlihatlah bagaimana sumur yang indah itu mulai basah. Meski tanpa sadar sekaligus tubuh akan memberikan reaksi sedemikian dan mengeluarkan madu-madu yang manis.
Semakin gila pakde sekarang, dia benar-benar sudah tidak waras dan ingin sekali menjamah semua yang Raisa miliki.
Tangannya kembali bermain-main di sana, sementara tubuhnya perlahan naik. Melihat wajah yang masih damai dalam tidur.
"Kamu pasti sangat kelelahan ya. Padahal pakde sangat ingin mendengar suara lenguhan kamu saat pakde mainin." Gumamnya.
Tangan beralih membuka kancing depan yang berjumlah lima, ingin sekali melihat si kembar yang terlihat sangat menonjol tinggi dan menantang.
"Waww..." Matanya berbinar, bagaimana tidak? Sekali buka kancing dia langsung melihat si kembar begitu saja tak ada penghalang karena Raisa memang sudah terbiasa gak memakai bra saat tidur.
Saliva tertelan dengan sangat manis, matanya terus menatap takjub si kembar yang masih sangat kencang, juga puncak yang sedikit kemerahan.
Tak sabar dia langsung menyambarnya, kini dia tak peduli kalau Raisa akan bangun dan akan berontak. Dia hanya ingin menikmati semua yang ada.
Raisa langsung tersentak saat mendapatkan gerakan cepat dari pakde-nya yang mulai mencecap dan terus menyedot puncak si kembar, tentu Raisa langsung berteriak.
__ADS_1
"Akk..., pakde apa yang pakde lakukan!" Mata Raisa terbelalak, tangan langsung mendorong pakde dan ingin cepat menjauh darinya.
Tapi tak semudah itu, pakde langsung menyeringai dan menangkap kedua tangan Raisa. Dengan gerakan cepat tangannya mengoyak baju Raisa hingga sobek dan menggunakannya untuk mengikat kedua tangan Raisa menjadi satu.
"Pakde, jangan! Apa yang mau pakde lakukan!" Teriak Raisa. Tapi pakde-nya tetap tak mau dengar.
"Tolong, tolong!" Raisa berteriak sekuat tenaga, tapi jarak dari tetangga yang jauh tak mungkin suaranya akan di dengar.
Tak mau sampai orang lain mendengar pakde dengan jahatnya menyumpal mulut Raisa dengan celananya sendiri yang menjadi penghalang dari taman segitiga-nya.
Raisa menggeleng dia tak mau tapi akhirnya dia kalah dan dia gak bisa bicara lagi.
"Maaf, Raisa sayang. Kamu begitu menggoda untuk pakde. Sayang kalau pakde tidak menikmatinya lebih dulu." Ucapnya.
Raisa menggeleng, ingin dia menjerit tapi dia tak bisa dia ingin berontak tapi kekuatannya tak bisa di bandingkan. Raisa menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan.
Tangan yang masih terus berontak dengan cepat pakde mengikatnya lagi dengan besi dipan yang ada di atas kepalanya.
Begitu jelas sekarang, tubuh Raisa terpampang tak ada lagi penghalang satu pun setelah bajunya tadi dia koyak habis.
"Mari kita nikmati hidangan malam ini, Sayang." Ucapnya dan langsung kembali menjelajahi setiap titik tubuh Raisa. Wajah, leher, si kembar, perutnya dan yang terakhir adalah taman segitiga juga sumur yang menjadi pusatnya.
Raisa terus bergerak, dia tentu tak mau di perlakukan seperti ini. Terlebih dia adalah pakde-nya sendiri yang selama ini memberikan kasih sayang kepadanya.
Tubuh Raisa menggelinjang saat pakde terus menikmati si kembar sementara satu jari masuk di sumur madu yang selalu dia rawat dan jaga.
Kaki Raisa berkali-kali mengapit tak memperbolehkan tapi tangan pakde terus mengangkang kan lagi dan lagi.
"Jangan berontak, Raisa! Dan jadilah penurut maka aku tidak akan menyakitimu."
Raisa tentu tak akan menurut saja karena di lecehkan seperti ini. Raisa tetap mencoba untuk mempertahankannya.
Plak.. Plak.. Plak....
Tak di indahkan peringatannya membuat Raisa mendapatkan tamparan berkali-kali. Raisa hanya bisa menangis tanpa suara.
Hatinya menjerit, meminta pertolongan kepada siapapun yang mungkin akan menghentikan kegilaan dari pakde-nya.
Berdoa meminta kepada Tuhan tapi tetap saja tak ada tanda-tanda akan pertolongan dari-Nya.
Raisa begitu lemas, dia tak lagi bisa berontak lagi dan hanya bisa menangisi semua yang telah terjadi kepadanya.
Berkali-kali Raisa menegang saat tubuhnya memberikan reaksi lain karena sentuhan pakde-nya. Hati dan pikirannya terus mengatakan tidak, tapi tubuhnya menerimanya. Sungguh Raisa ingin rasanya mengutuk tubuhnya sendiri yang malah memperlihatkan penerimaannya.
Raisa hanya pasrah, dia tak lagi kuasa saat mulut pakde-nya terus bermain-main di area sumur madu miliknya. Kedua kakinya di buka lebar dan wajahnya di tenggelamkan di area itu untuk menikmatinya tanpa rasa jijik. Bahkan madu-madu yang keluar dari sumur di sapu bersih oleh lidahnya.
#Ya Allah, tolong Raisa. Jangan sampai pakde mengambil mahkota Raisa. To..."#
Raisa tak mampu meneruskan kata hatinya karena dia tak lagi ada tenaga dan akhirnya dia tak sadarkan diri.
Melihat tak ada pergerakan Raisa pakde melihat wajahnya. Dia tersenyum tanpa rasa kemanusiaan meski melihat keponakannya gak sadarkan diri.
"Ahh, aku sudah tidak tahan. Meski aku gak bisa mendengar rintihannya yang terpenting aku mendapatkannya." Senyum pakde. Dia langsung melepaskan semua yang ada padanya, dia sudah tidak kuat lagi untuk menuntaskan hasratnya kepada ponakannya.
********
Raisa terisak saat dia bangun di pagi hari, meski tak lagi dia lihat pakde-nya ada di sana tapi bayang-bayang akan pakde-nya masih terputar jelas di kepalanya.
Raisa menggigil, dia ketakutan saat melihat tubuhnya masih polos dan melihat semua tanda yang di buat oleh pakde-nya sendiri.
Hatinya hancur, begitu juga dengan masa depannya. Meski dia tak melihat pakde pas mengambil mahkotanya tapi dia percaya kalau dia sudah tak lagi suci lagi.
Sisa-sisa tenaga Raisa gunakan untuk bangun, dia menoleh sebelum masuk ke kamar mandi, tapi tak dia lihat ada noda merah di seprai yang berwarna biru muda.
Apa mungkin Raisa tidak mengeluarkan darah keperawanannya yang selaput nya di robek paksa oleh pakde-nya? Atau, apa mungkin pakde-nya tak melakukannya semalam? Tapi area sumur Raisa masih terasa nyut-nyutan.
Raisa masuk ke kamar mandi, mengguyur semua tubuhnya dengan air dan menangis sejadi-jadinya lagi di sana.
Tok tok tok...
"Raisa! Keluar kamu! Keluar!" Belum juga mandinya selesai pakde nya sudah kembali lagi. Raisa kembali ketakutan.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak keluar, akan aku dobrak pintunya, keluar!" Ancaman begitu jelas Raisa dengar. Raisa semakin gemetar dia tetap tak mau keluar.
Brak Brak Brak...
Berlahan pakde berusaha untuk menjebol pintu dan hingga akhirnya pintu kamar mandi berhasil di jebol olehnya.
Raisa ketakutan, dia duduk mojok dengan tubuh yang gemetar.
"Sini kamu!" Pakde menarik paksa Raisa, membawanya keluar dan mendorong tubuh polos itu ke ranjang yang tadi.
Raisa semakin ketakutan saat pakde kembali mengeluarkan senjatanya yang sudah berdiri kokoh. Raisa menjauh tapi pakde menarik kaki Raisa dengan kasar.
"Sini kamu! Jangan harap kamu bisa terlepas dariku, sini!"
"Jangan pakde, jangan. Jangan lakukan itu pada Raisa pakde, jangan. Pakde jangan!" Teriak Raisa berkali-kali.
Teriakan Raisa tak ada gunanya untuk pakde dia malah melebarkan kaki Raisa dan langsung mengarahkan senjatanya kepada Raisa.
"Pakde jangan, pakde lepasin Raisa, pakde!"
Raisa terus berteriak tapi dia juga meringis karena senjata pakde terus berusaha untuk masuk ke sumurnya.
"Arghhh..." Pakde langsung mendorong Raisa saat dia tak berhasil. Dengan tubuh gemetar Raisa melihat senjata yang tadinya kokoh sekarang sudah lembek. Entah harus bersyukur atau tidak. Yang pasti pakde sudah mengambilnya semalam. Pakde pun menutup senjatanya lagi.
Pakde membuka lemari Raisa, mengeluarkan semua baju-bajunya dan memasukkan ke dalam tas ransel. Sementara Raisa masih sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar tak berdaya.
"Nih, pergi dari rumah ini, sekarang juga. Pergi!" Pakde mengusir Raisa.
"Nih, pakai bajumu, dan cepat pergi dari sini." Tangan pakde bergerak memakaikan baju untuk Raisa yang masih ketakutan. Setelah berhasil dia menyeret Raisa, membawa Raisa keluar dan mendorongnya setelah sampai ke depan pintu.
"Pergilah, dan jangan pernah menginjakan kakimu di sini lagi. Pergi!" Usir-nya.
"Ada apa ini?" Tanya salah satu tetangga yang melintas.
"Wak, jangan dekat-dekat depan wanita ular ini. Apa wak tau yang dia lakukan padaku? Dia menggodaku dan naik ranjang ku di saat budhenya tidak ada!" Tuduh pakde sadis.
Mata Raisa terbelalak, siapa yang menggoda siapa di sini.
"Oh, dasar pelac*r! Berani sekali kamu melakukan itu pada orang yang sudah membiayai kehidupanmu. Pergi sana dari sini!"
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah mahkotanya direnggut paksa dan sekarang dia mendapatkan fitnah yang begitu kejam.
Sungguh nasib yang tidak baik, takdirnya sangat mengerikan bagi Raisa.
Raisa benar pergi, membawa semua luka yang di torehkan oleh pakde-nya. Di sepanjang jalan dia hanya bisa menangis memeluk tas ranselnya yang hanya berisi beberapa baju saja.
Setiap laki-laki yang menyapa dan berniat baik Raisa tolak mentah-mentah, Raisa sangat takut apa yang pakde-nya lakukan akan di lakukan lagi oleh orang lain.
NORMAL......
Air mata Dimas mengalir sangat deras setelah mendengar cerita dari Raisa yang membuatnya ketakutan. Bukan hanya Dimas, tapi Raisa juga menangis dan lebih hancur hatinya.
Luka yang ingin dia kubur dalam-dalam harus kembali dia korek karena permintaan Dimas. Raisa hanya ingin Dimas mengetahui kebenarannya, setelah itu baru dia bisa mengambil keputusan untuk kedepannya.
Di kamar tamu di rumahnya sendiri inilah Dimas meminta penjelasan kepada Raisa, sementara kedua orang tuanya entah pergi kemana sejak pagi sekali.
"Aku sudah kotor, aku kotor," Raisa terus tersedu, tak berani memandangi Dimas yang juga ikut merasa hancur.
Bukan hancur karena menyesal karena Raisa sudah tak lagi suci, tapi Dimas hancur karena orang yang dia cintai hancur hatinya karena kejadian yang menimpanya di masa lalu.
Dimas mendekat, tiba-tiba saja tangannya merengkuh kepala Raisa dan menenggelamkan di dadanya yang bidang.
"Kamu tidak kotor, kamu tidak kotor," Ucap Dimas. Terus membesarkan hati Raisa yang sudah mengecil penuh luka.
"Aku tak pantas untuk anda, Tuan. Tidak pantas."
"Tidak, kamu pantas. Kamu sangat pantas untuk ku. Kamu mau aku membuktikannya kan? Nanti sore akan ada penghulu datang. Kita akan menikah hari ini juga. Aku tidak mau kamu merasa hidup sendiri, ada aku yang akan ada untukmu."
"Aku tak pantas," Hanya itu yang terus keluar dari bibir Raisa.
"Kamu pantas, kamu pantas." Dimas menegaskan.
__ADS_1
*********
Bersambung.....