
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦
__________
"Sudah dong jangan cemberut begitu, jelek tau," Arya masih terus berusaha untuk mengejar Arini yang berjalan dengan cepat.
Sebenarnya Arini ingin kembali lagi ke mobil Arya dan ingin pulang saja t api Arya selalu menghalanginya dan menuntunnya masuk ke dalam mall.
Entah apa maksud Arya mengajak Arini datang ke sana intinya Arini akan waspada jangan sampai Arya membelanjakan lagi seperti beberapa hari yang lalu. Karena semuanya masih ada di rumah alias belum habis.
"Hem..., kamu mau apa, tas, baju perhiasan atau mobil sekalian! Semua akan aku belikan yang penting kamu mau bicara dan tidak cemberut lagi," berbagai barang Arya tawarkan tapi Arini sana sekali tidak tertarik dengan apapun.
"Aku mau pulang," hanya itu sedari tadi yang Arini katakan.
"Pulang! Bahkan kita belum ngapa-ngapain di sini bagaimana bisa kita pulang," jawab Arya.
Arini menghentikan langkah saat dia melihat bangku kosong tak berpenghuni. Arini kembali melangkah tapi dia duduk di bangku itu dan Arya pun mengikutinya.
Bingung sekali si Arya, dia mulai stres karena berfikir keras. Dengan apa dia bisa membuat Arini melupakan kejadian tadi dan kembali tersenyum seperti sedia kala.
Senyum Arya melebar saat dia mengingat sesuatu. Dengan cepat Arya pergi dari sana entah apa yang akan dia lakukan atau apa yang akan dia beli untuk menyenangkan hati Arini. Arini bukanlah gadis penggila barang mahal itu akan sangat susah untuk Arya.
Setelah beberapa saat Arya kembali tangannya membawa es krim cokelat, ya! Inilah makanan yang paling Arini sukai.
"Mau es krim? "es krim Arya sodorkan tapi Arini masih saja diam tak mau menerima, melihat pun juga tidak.
"Oh nggak mau ya, ya sudah aku makan sendiri," Arya membuka pelan dia juga terus menggoda Arini dengan kata-katanya.
"Hem..., sepertinya sangat enak. Hem..., mana ada keping cokelatnya lagi , Hem... " ucapnya.
Arini masih bergeming dia tetap melengos acuh.
"Beneran nggak mau kan ya, kalau begitu aku benar makan ya, jangan nyesel ya? Akkk...," Arya menggigit kecil ujungnya. Matanya terus menyipit seolah dia begitu menikmatinya.
"Hem..., enak sekali. Ahh.., sepertinya bisa nambah ini nanti," ucapnya.
Mulutnya kembali terbuka lebar siap untuk melahap dan menikmati enaknya es krim cokelat yang dia beli.
"Dasar laki-laki nggak peka, sini! Bukannya ini untuk Arini kan? " tangan Arini langsung menyambar es krim yang ada di tangan Arya dengan kesal Arini juga langsung memakannya.
Arya tersenyum kecil, meski Arini belum tersenyum tapi dia sudah menerima es krim itu dan memakan yang sudah menjadi sisanya.
"Bagaimana, enak? Jarang-jarang loh aku memberikan makanan yang sudah aku nikmati untuk orang lain. Tapi tak apa-apalah ini khusus untuk mu. Ini sama saja kita makan dalam satu wadah berdua. Nikmat bukan? " Arya menyeringai senang.
"Bagaimana rasanya bibirku, manis tidak? " Arya semakin gencar menggoda Arini yang belum sadar.
𝘜𝘩𝘶𝘬... 𝘜𝘩𝘶𝘬... 𝘜𝘩𝘶𝘬...
__ADS_1
Arini tersedak es krim gara-gara perkataan Arya barusan, dia baru menyadari kalau ternyata dia memang menikmati es krim sisa gigitan dari Arya.
"Tidak usah panik seperti itu, aku tidak punya penyakit menular jadi kamu bisa menghabiskannya," ucapnya.
Arya yang melihat bibir Arini yang belepotan akan es krim langsung mengambil sapu tangan yang ada di kantongnya, mengelap pelan bibir itu dengan sangat telaten.
"Kalau makan hati-hati, nih lihat! Masak belepotan seperti ini? " ucapnya dengan tangan yang terus bergerak.
Arini terdiam, dia menoleh memandangi wajah Arya yang terlihat begitu tampan.
𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨...
Seruan jantung kembali berdendang di dalam dada Arini rasanya sungguh berbeda dan kali ini terdengar semakin jelas.
Netra hitam juga cokelat itu saling bertubrukan, menyalurkan energi positif satu sama lain.
Tidak hanya jantung Arini saja yang bermasalah tapi jantung Arya juga.
"Apakah aku akan terkena serangan jantung?" celetuk Arini tanpa sadar.
"Bukan hanya kamu, tapi sepertinya aku juga akan terkena serangan jantung," saut Arya yang juga tak sadar.
Keduanya saling terkesiap saat ada anak kecil yang menangis di dekat mereka berdua dan menginginkan es krim yang sama seperti yang Arini bawa.
"Astaghfirullah hal 'azim..! " pekik Arini.
Arya diam tapi dia menjadi gugup sekarang. Tangannya juga menjauh dari bibir Arini beserta dengan sapu tangan yang sudah kotor.
"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯? " mata Arini melirik kecil ke arah Arya dan pria di hadapannya itu kembali tersenyum. Apa yang terjadi dengan Arya? Hati ini dia terlihat begitu bahagia.
"Apakah kamu masih ingin pulang? " tanya Arya. Arini benar-benar terpana dengan Arya, suaranya begitu lembut begitu menyentuh hingga sampai ke dalam hatinya yang terdalam.
"I-iya," Arini masih sangat gugup dia menjawab satu kata saja juga mengangguk.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu," Arya beranjak terlebih dahulu dan di susul oleh Arini juga yang ikutan berdiri.
///////
Arini begitu pendiam saat ini, di dalam mobil dia terus diam bahkan dia juga tidak melirik sama sekali ke arah Arya. Tadi saat tidak terjadi apa-apa dia begitu biasa tapi sekarang? Dia begitu gugup dia sangat canggung.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶? " Arya melirik, dia ingin sekali mengulik identitas Arini dan itulah kenapa dia mengajak Arini pergi.
"Hem..., Arini, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu? " tanya Arya dengan sangat pelan dia juga tidak mau sampai Arini merasa gak enak hati nantinya.
"Bertanya apa, Pak Tuan? " Arini butuh mengendalikan hatinya untuk bisa menjawab pertanyaan Arya, dia tidak ingin larut dalam perasaan canggung nya.
"Se-sebenarnya, aku mendapatkan informasi kalau kamu...? Kalau keluarga Marta bukanlah keluargamu yang sesungguhnya, apa itu benar? " tanya Arya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Arini terkesiap, bagaimana Arya bisa tau, darimana?
"Ma-maaf, kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Itu hak mu kamu juga berhak memiliki privasi tanpa semua orang mengetahuinya."
Arya diam setelah melihat ekspresi dari Arini.
Keheningan terjadi di antara keduanya, tak ada kata apapun yang keluar sekarang.
Hingga cukup lama mereka berdua diam hingga akhirnya Arini mengeluarkan kata namun sama sekali tidak melihat ke arah Arya.
"Ya, Arini bukan anak mereka. Arini hanya anak buangan yang di temukan di sungai oleh kakek. Arini tidak tau siapa orang tua Arini entah mereka baik atau mereka buruk. Yang jelas mereka telah membuang Arini dan tidak membutuhkan Arini. "
"Arini hanya anak buangan yang entah anak dari hubungan yang sah atau mungkin anak haram dari hubungan tanpa pernikahan."
Arini begitu tenang mengatakan itu pada Arya meski air matanya mengucur deras membasahi pipinya.
Arya menghentikan mobilnya, dia ingin sekali mendengar sekaligus menghibur Arini.
"Arini..., Arini..., hiks... hiks... hiks..." Hingga akhirnya Arini tidak kuat lagi dan dia hanya menangis. "Arini anak yang tidak jelas, Arini hanya anak yang di buang, Arini hanya sendiri," tangisnya semakin pecah. Kedua telapak tangannya sudah menutupi semua wajahnya, hatinya kembali hancur sekarang.
"Sudah, jangan menangis. Kamu tidak sendiri, ada aku," ingin sekali Arya merengkuh tubuh kecil itu untuk menenangkannya tapi itu tidak akan mungkin Arini mengizinkannya.
"Kalau, kalau Pak Tuan mau menjauhi Arini juga tidak apa-apa kok, Arini memang tidak pernah pantas memiliki siapapun."
"Sttt..., jangan bilang seperti itu, aku tidak akan pernah menjauhi mu," Reflek Arya membungkam bibir Arini dengan jari telunjuknya, dia juga menggeleng.
"Apakah pak Tuan tidak membenci Arini? " tanya Arini dan Arya mengangguk.
"Benarkah? Pak Tuan tidak jijik lagi pada Arini?" tanyanya lagi, emang sejak kapan Arya jijik dengan Arini?
"Benarkah? " Arini masih saja tak percaya.
"Iya, apa kamu tidak percaya? Kalau kamu mau pembuktian maka aku akan memelukmu supaya kamu percaya, sini! " tangan Arya terulur ingin memeluk Arini tapi Arini langsung menjauh.
"Tidak tidak! Pak Tuan tidak boleh memeluk Arini ya," tolak Arini.
"Ya kalau begitu berarti cium saja,"
"Itupun juga tidak boleh! " teriak Arini.
"Iya iya! Tidak akan. Tapi boleh lah ya, sedikit saja."
"Tidak boleh!" Selayaknya anak kecil yang berebut mainan Arya juga Arini terus berdebat di dalam mobil hingga akhirnya keduanya tertawa bersama-sama.
"𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢, " batin Arya.
/////
__ADS_1
Bersambung...
_____