
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
..._________...
"Heh! Siapa yang menyuruhmu pulang. Kamu harus menemaniku ke suatu tempat," Jari telunjuk Arya menyentuh bahu Arini yang baru saja ingin masuk ke lift dengan tas selempang juga tas jinjing kecil yang berisi mukena.
Seketika Arini menoleh, tapi hanya ada kemalasan yang keluar dari wajahnya. Matanya pun memandangi Arya dengan tak ada minat sama sekali.
"Ada apa sih, Pak Tuan. Jam kerja kan sudah habis, semua juga sudah pulang, terus apalagi yang harus Arini kerjakan," suaranya juga terdengar tak semangat mungkin Arini memang sangat kelelahan saat ini.
Tak ada henti-hentinya Arya memberikan pekerjaan untuk Arini tapi dia juga tak ada hentinya memberikan Arini hidangan-hidangan yang mampu membuat perutnya keroncongan.
"Nih! Bawa," tas kerja Arya langsung saja di lempar ke arah Arini untung saja tangannya cepat tanggap dan menangkapnya dengan tepat kalau tidak mungkin tas itu yang berisi laptop juga beberapa berkas akan terjun bebas ke lantai.
Arya masuk lebih dulu saat lift terbuka meninggalkan Arini yang masih gagu gara-gara lemparan tas dari Arya.
"Untung saja ketangkep, kalau tidak? Hem.. , pasti aku lagi yang akan di omelin, " gerutu Arini.
"Cepat masuk! Atau kamu mau turun lewat tangga!? "
Ucapan Arya berhasil membuyarkan kata yang sudah tersusun rapi di benak Arini. Mana mau Arini turun melalui tangga bisa-bisa kakinya akan terasa patah untuk yang kedua kalinya.
"Cepat masuk! "
Arini cepat berlari saat melihat lift itu perlahan bergerak untuk tertutup. Jangan sampai dia ketinggalan dan berujung turun dengan tangga.
"Anak pintar," Bibir Arya terangkat sebelah, dia senang karena Arini menurut kepadanya.
"Kita mau kemana, Pak Tuan?" tanya Arini. Meski dalam satu ruangan sempit berdua saja Arini tetap menjaga jarak aman dari Arya, dia tak mau sampai Arya mudah menggapainya.
"Jangan banyak bicara, ikut saja," jawab Arya terdengar sangat angkuh.
///
"Terimakasih, Sayang. Semua ini sangat-sangat aku sukai, terimakasih. Muach... " Fara begitu kegirangan saat Nando membelikan barang-barang mahal dan barang branded. Rasa bahagianya sungguh tak bisa di bandingkan dengan apapun lagi.
Fara juga tak malu sama sekali mengecup pipi Nando di depan umum . Sungguh urat malunya sudah putus atau memang tak pernah ada.
Tangan Fara merangkul pinggang Nando begitu pula Nando juga membalasnya dengan hal yang sama. Keduanya keluar dari lapak di salah satu mall yang begitu ramai akan pengunjung.
Semakin sore pengunjung semakin padat mungkin mereka memang datang setelah kesibukan mereka bekerja telah selesai karena Fara juga Nando pun juga sedemikian.
"Jangan genit-genit di sini, Yang. Jika yang di bawah bangun aku akan tersiksa karena tak bisa menerkam mu," ucap Nando dengan sedikit gurauan.
Hal itu sudah menjadi hal yang biasa untuk mereka berdua, selayaknya pasangan halal mereka terus menerus melakukan itu jika keduanya menginginkan, tapi aktor utamanya adalah Nando.
"Hehehe, bukannya kita bisa melakukan di manapun juga? Kamu kan lebih mengetahui itu, Yang," jawab Fara.
Kaki keduanya terus berjalan menyusuri mall sepertinya tak ada lagi tempat yang ingin mereka kunjungi kecuali tempat untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sedari tadi.
__ADS_1
"Kita makan saja dulu, setelah itu kita bermain yang liar. Aku akan ajarkan gaya baru yang akan membuat kita sama-sama terpuaskan," dengan semangat Nando menarik Fara, mengajaknya masuk ke lapak yang akan mengenyangkan perutnya.
Fara tersenyum begitu girang, dia juga sangat semangat mengikuti langkah kaki Nando. Fara sudah sangat kecanduan dengan setiap sentuhan dari kekasihnya itu bagaimana mungkin dia tidak akan penasaran saat dia mengatakan hal itu.
Selayaknya makan romantis Fara juga Nando begitu menikmati hidangan yang dia pesan. Rasanya memang sangat enak, buktinya mereka berdua sama sekali tak mengatakan komentar apapun dengan makanan mereka.
Senyum yang penuh dengan asmara berkobar dalam diri mereka, keduanya saling tak sabar dengan gaya baru yang Nando katakan. Tangan satu mereka di pergunakan untuk makan sementara satunya lagi saling genggam dan tak ingin melepaskan.
"Sudah, aku sudah selesai," ucap Nando yang lebih awal selesai.
"Aku juga sudah," saut Fara yang ternyata juga sudah menghabiskan seluruh makanan yang ada di piringnya.
Nando merogoh sakunya mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet dan menaruhnya di meja yang langsung dia tindih dengan gelas supaya tidak kabur.
"Mbak! " teriak Nando memanggil pelayan, tangannya menunjukkan bahwa dia sudah menaruh uangnya di sana.
Setelah pelayan mengerti dan mengangguk baru Nando mengajak Fara keluar, sekarang adalah waktunya bersenang-senang setelah mereka membuat perutnya kenyang.
Keduanya terus melangkah dengan senyum yang terus terpancar, menuju parkiran yang ada di lantai dasar tentunya mereka menggunakan lift untuk mengantarkannya.
Tak seperti biasa Nando yang mengendarai motor kali ini dia mengendarai mobil kesayangannya. Mobil berwarna merah pekat yang kacanya berwarna hitam.
"Masuk," pinta Nando. Tangannya sudah berhasil membukakan pintu mobil untuk Fara.
Dengan senyuman yang khas Fara menerima keinginan Nando, masuk di dalam mobil itu dengan sumringah.
Pintu tertutup setelah Fara masuk dan Nando kini juga masuk melewati pintu yang lain tepat di kursi pengemudi.
Nando menoleh tangannya meraih tangan Fara yang mulia nakal.
"Di sini," jawab Nando tanpa pikir panjang.
"Di sini!? " Fara celingukan melihat keadaan luar, memang sangat sepi dan juga gelap tapi Fara merasa takut kalau ada yang melihat.
"Iya, di sini. Ini akan menjadi sebuah tantangan untuk kita, sensasinya juga akan sangat luar biasa," Dikecupnya tangan Fara yang terlihat gemulai merambat semakin naik hingga akhirnya Nando dapatkan leher polosnya Fara.
Pergulatan semakin panas, keduanya juga sudah mulai terbuai dengan gairah yang mereka berdua mainkan.
Sandaran yang tadinya berdiri tegak kini sudah selayaknya tempat tidur untuk Fara membuat Nando lebih leluasa dan bergerak bebas untuk menjamah lekuk indah milik Fara.
Suara demi suara Fara keluarkan saat dirinya mencapai kenikmatan yang luar biasa. Sungguh sebuah tantangan yang nyata.
Tak mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka, mata yang seketika berpaling juga mengeluarkan air mata. Dia adalah Arini.
"Apa yang kamu lihat? " tanya Arya penuh selidik. Aneh juga kan kenapa Arini sampai sebegitu terkejut bahkan dia sampai menangis saat melihat yang ada di dalam.
Arya juga ikut mengintip karena begitu penasaran dan di lihatlah sepasang sejoli yang tengah melakukan penyatuan di dalamnya.
"Hem..., gaya yang norak, gaya kuno" komentar yang sangat menggelikan.
__ADS_1
Benar Arya akan mengatakan komentar yang seperti itu kan Arya memang ahlinya dalam bidang itu dan yang pasti dia juga sudah mengetahui semua jenis gaya yang kuno juga gaya yang baru.
"Apakah aku perlu menghentikan mereka? Atau mungkin menghajarnya? " tanya Arya dengan langkah yang menjauh dari mobil itu.
Arini ingin sekali menghentikan semua itu karena itu adalah zina dan sangat berdosa bagi mereka berdua, tapi Arini punya hak apa?
Arini semakin sesenggukan, tak dia sangka kakak yang dulu pernah mengajarkan dia berbicara dan berjalan kini melakukan dosa dan naasnya Arini melihatnya.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬....
Tanpa meminta persetujuan Arya sudah mengetuk jendela mobil dan sepertinya langsung menghentikan aktivitas mereka berdua yang belum selesai.
"Sial," umpat Nando begitu kesal, permainannya harus berhenti di tengah jalan sebelum dia sampai pada puncaknya.
"Kita ketahuan," wajah Fara sudah memerah, suhu ruangan berubah menjadi panas seolah ingin membakar dirinya.
Cepat keduanya merapikan lagi baju mereka yang berantakan, sementara Nando langsung keluar setelah dia berhasil merapikannya. Terlihat sangat marah Nando saat ini, matanya begitu tajam melihat Arya yang tetap tenang bahkan bermuka datar.
"Permainanmu sangat kuno, Bro. Ternyata kamu belum bisa menguasainya dengan baik," celetuk Arya.
"Apa maksudmu, emang kamu siapa berani mengaturku. Mau bagaimana aku melakukannya juga terserah," jawab Nando nyolot.
"Aku kasih saran ya, kalau hanya bermain di dalam sana kurang menantang, kamu bisa melakukannya dengan berdiri di luar. Bagaimana? Penuh adrenalin bukan?" saran yang menjerumuskan.
"Dengan posisi itu kamu juga pasanganmu akan semakin tertantang. Palingan kalau ada yang mengetahuinya akan mengunggah video kalian di sosial media, kalian akan viral dan akan di kenal dimana-mana, cobalah saran ku," imbuhnya lagi.
"Bedebah, dasar kurang ajar! " Nando semakin tersulut dalam emosi.
"Jangan buang-buang tenaga untuk marah-marah, karena itu akan menurunkan gairah mu selanjutnya. Saya hanya mau memberikan saran itu saja, silakan dicoba," Arya berbalik menghampiri Arini yang memunggungi mereka.
"Kita pergi. Maaf gara-gara aku matamu jadi ternoda. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta sebagai permohonan maaf."
Tangan memang lancang, Arya merangkul pundak Arini begitu saja dan menuntunnya untuk pergi.
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku jadi penasaran, sebenarnya kamu menangis karena kamu menyesal melihatnya atau kamu menyesal karena kamu tidak bisa melakukannya seperti kakakmu itu? " pertanyaan yang langsung membuat Arini melotot.
"Bercanda," Arya meringis, Arya juga tau kalau Arini tidak seperti itu, itu hanya akal-akalannya saja supaya Arini sedikit teralihkan.
Arini melaju dengan cepat meninggalkan Arya yang masih saja meringis.
"Arini! Tunggu dong, kalau di tinggal entar ilang loh! " teriak Arya tapi sudah tidak di hiraukan lagi oleh Arini.
Sementara tatapan tajam penuh kebencian terlihat jelas di mata Nando juga Fara yang sudah keluar dari mobil.
"Dasar anak pungut tidak tau diri," sungut Fara.
//////
Bersambung....
__ADS_1
_____