
Happy Reading...
Kerinduan kepada seorang Ibu kembali membawa Arini datang ke tempat Nilam berada. Kesedihannya setelah dari puncak terasa ingin dia tumpahkan kepada Nilam semuanya.
Meskipun tak pernah ada jawaban di setiap ceritanya tetapi Arini sangat bahagia juga sangat lega setelah berhasil menceritakan semua permasalahannya.
Cinta, cinta yang begitu suci telah di nodai oleh orang yang baru saja dia percaya akan memberikan semua kebahagiaan kepadanya, tetapi ternyata tidak! Dia di sakiti di hari pertama setelah dia memberikan jawaban akan sebuah cinta.
Mungkin Arini yang salah karena terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan, bayangan akan kebahagiaan yang abadi membuatnya terbuai hingga dia melupakan mana batasan yang seharusnya menjadi pembatas yang sebenarnya antara pria dan wanita.
Arini tersedu seorang diri di dalam ruangan Nilam saat ini, tak ada siapapun kecuali hanya mereka berdua saja karena Dimas, Raisa juga Nisa menunggu di luar setelah Arini yang memintanya dan mereka bertiga menyetujui.
Dikecupnya berulang kali punggung tangan Nilam, dielus tiada henti dengan harapan Nilam akan bangun dan akan memeluknya dan meringankan bebannya.
Usaha juga harapan Arini belum juga membuahkan hasil, sampai sekarang Nilam juga belum mau membuka matanya padahal Arini ingin sekali bisa mendengar nasehat yang mungkin akan dia berikan kepadanya.
"Tante, sampai kapan Tante akan seperti ini. Apakah Tante tidak mau bertemu dengan Arini? Kalau Tante tidak bangun secepatnya Arini tidak bisa janji kita akan selalu bertemu lagi. Arini tidak bisa janji akan selalu datang lagi. Karena mungkin...?"
Arini menghentikan perkataannya, entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Semoga dia tetap kuat seperti sebelum-sebelumnya.
"Tante, semua orang selalu datang kepada Arini. Setelah Arini bisa menerima mereka selalu saja pergi dari Arini, mereka selalu saja menyakiti Arini. Apakah suatu saat nanti Tante akan sama seperti mereka? Pergi meninggalkan Arini sendiri?"
Air mata begitu membanjiri pipi Arini.
Sejenak nafas Arini seakan terhenti saat mengingat semuanya tentang Arya. Mengingat bagaimana senyumnya, bagaimana kejailannya, bagaimana perhatiannya dan sekarang?
__ADS_1
Harapan Indah, semua kebahagiaan telah tergenggam di tangan setelah semuanya larut dalam kebersamaan, setelah Arini yakin kedua hati sudah saling memiliki. Tetapi semua itu terasa sirna begitu saja karena sebuah noda yang akan selalu membekas di hari pertama.
Tangan lemah yang tak dapat bergerak kini perlahan menggenggam erat tangan Arini yang rapuh. Arini yang sempat menunduk dan menutup matanya kini dia buka kembali. Dia tatap tangan yang sangat erat menggenggamnya.
"Tante, apakah tante mendengar Arini? Apakah tante akan datang di kehidupan Arini menggantikan semua orang yang pergi dan menghilang di kehidupan Arini?"
Arini tatap wajah Nilam dengan wajah yang penuh harapan yang di temani dengan air mata dan guratan luka yang begitu dalam.
Arini tak berkedip meskipun air matanya terus mengalir Arini tetap menatap wajah Nilam dan berharap Nilam akan membuka matanya.
Begitu lama Arini dalam posisi itu tetapi semua harapan itu masih saja sirna karena Nilam yang tak kunjung membuka matanya.
Di usapnya perlahan air mata Nilam dengan tangan Arini dan kini air mata Arini yang berganti semakin deras.
"Tante jangan menangis, Arini tidak membutuhkan air mata Tante tetapi Arini butuh Tante, Arini mau Tante cepat bangun dan menemani Arini menjadi teman untuk Arini," ucapnya.
Begitu banyak orang yang ada di sekitar Arini tetapi hanya Nilam saja yang mampu membuat Arini tenang dan merasa nyaman saat berada di sisinya.
"Tante cepat bangun, masih banyak yang ingin Arini ceritakan kepada Tante begitu juga tentang Arini yang tak di harapkan oleh orang tua Arini sendiri. Apakah Tante tidak mau mendengar cerita Arini?"
Di sandarkan kepalanya di sisi Nilam tangannya terus menggenggam tangan Nilam dan dia letakkan di pipi atasnya.
"Tante cepat bangun," gumamnya. Arini menutup mata setelah itu Arini tertidur dengan pulas di sebelah Nilam setelah menumpahkan semua yang menjadi duka di hatinya.
__ADS_1
"Mana sih Arini? Sudah satu jam lebih dia di dalam apa dia tidak lelah?" Raisa terus menggerutu, dia berjalan mondar-mandir dia sangat tak sabar karena Arini yang tak kunjung keluar.
"Sebenarnya apa sih yang dia lakukan?" imbuhnya lagi. Sesekali Raisa ingin mengintip dari kaca pintu tetapi kaca yang buram tidak akan bisa di tembus oleh matanya.
Raisa begitu kesal, tetapi dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Arini. Meski gadis kecil itu belum juga mengatakan apa yang menjadi masalahnya tetapi Raisa sangat mengkhawatirkannya.
Berbeda dengan Raisa yang tak bisa diam seperti cacing kepanasan Dimas juga Nisa begitu adem ayem duduk di kursi tunggu di kursi yang berbeda.
Melihat Raisa yang tidak bisa diam membuat Dimas merasa sangat terganggu, dia menoleh dan menegur gadis yang sedikit bar-bar itu.
"Bisakah kamu duduk diam? Bukan hanya kamu saja yang khawatir tetapi saya juga sangat khawatir dengan Arini," ucap Dimas.
"Bagaimana mungkin bisa diam, Tuan. Adik saya ada di dalam dan tidak tau apa yang dia lakukan sekarang? Hatinya tengah terguncang! Bagaimana kalau dia nekat melakukan sesuatu!?" Raisa tak terima begitu saja.
Dimas malah tersenyum mendengar Raisa yang mengakui Arini sebagai adiknya, "hem..., sejak kapan Arini punya kakak bar-bar sepertimu?" Dimas terkekeh.
"Ya, ya..., sejak kami bertemu dia sudah menjadi adikku. Yang pasti...?" Raisa terdiam sesaat laku melanjutkan perkataannya lagi.
"Sejak aku tau semua orang tak menginginkannya bahkan orang tuanya sendiri yang telah membuangnya," Raisa berbicara sembari termenung seolah berbicara dalam setengah sadar.
"Maksudnya?" Dimas terperanjat.
"Ah..., bukan apa-apa. Jangan di pikirkan mulutku lagi sedikit ngawur ngomongnya." Raisa tersenyum canggung juga mengibaskan tangannya supaya Dimas tidak memperpanjang apalagi curiga dengan perkataannya.
Dimas memang langsung diam tetapi pikirannya langsung bekerja.
"Tuan, saya minta ijin untuk melihat Arini ya. Hanya sebentar saja hanya memastikan keadaannya saja."
Dimas terkesiap karena Raisa yang berucap lagi, dia mengangguk pelan sebagai tanda dia memberikan ijin.
Raisa berbinar dia tersenyum bahagia setelah mendapat ijin.
"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘙𝘢𝘪𝘴𝘢? 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? " 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴.
Setelah mendapat ijin Raisa masuk ke ruangan Nilam tentunya tidak masuk begitu saja dia harus mengenakan pakaian khusus.
Raisa berjalan mendekat. Raisa tak berkedip setelah melihat wajah Nilam, "apakah wanita ini yang di curigai Tuan Arya?" gumamnya.
Raisa semakin mendekat, kedatangannya sama sekali tak di sadari oleh Arini yang masih tertidur pulas dengan memeluk tangan Nilam.
"Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara anak juga ibu? Mereka adalah orang asing, tidak saling kenal tetapi ikatan mereka begitu kuat," imbuhnya lagi.
"Ikatan Ibu dan anak, maksudnya?" Raisa terjengkit karena Dimas yang tiba-tiba datang di belakangnya.
Bersambung...
__ADS_1