
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦
___________
"Arya, bagaimana keadaan perusahaan sekarang. Apakah semua baik-baik saja?" kedatangan dari Wiguna yang tidak pernah Arya inginkan berhasil membuyarkan semua fokus dan keseriusan Arya dalam pekerjaannya.
Sungguh kedatangan Wiguna membuat Arya sangat kesal. Baru saja dia ingin serius dan menyelesaikan semua pekerjaannya tapi Wiguna datang dan mengecohkan segalanya.
Tatapan sadis selalu saja Arya keluarkan saat di hadapan Papanya itu. Anak dan bapak sama saja, bukan hanya Arya saja yang matanya melotot tapi juga Wiguna.
"Untuk apa papa datang? " pertanyaannya terdengar sangat menyakitkan hati seorang ayah. Tapi semua itu sudah biasa Wiguna dapatkan.
Hanya karena satu sebuah kesalahan saja darinya mampu membuat Arya membencinya hingga sekarang. Dan sangat susah untuk mendapatkan kata maaf darinya.
Wiguna terus berjalan namun bukan ke tempat Arya berada melainkan berjalan menuju arah jendela. Wiguna berhenti tepat di belakang jendela menatap riuh pikuk kota dari ketinggian.
Semuanya begitu lancar tanpa hambatan, semua berjalan sebagaimana semestinya. Tapi kenapa hubungan Wiguna juga Arya tidak bisa selancar dan sebagimana semestinya.
"Ar, papa sangat menyesalkan hubungan yang seperti ini. Apakah kita benar-benar tidak bisa seperti yang lain? apakah kamu tidak akan bisa memaafkan papa? " Wiguna terus memandangi luar dari balik jendela, dia sama sekali tidak menoleh ke arah Arya yang masih terdiam.
"Papa tau kesalahan papa sangat besar. Tapi apakah tidak ada sedikit saja papa di hati mu, Ar?" ucapnya lagi.
"Jika papa bisa memutar ulang waktu maka papa tidak akan pernah melakukan kesalahan itu, tapi papa tidak bisa melakukan itu semua, maafkan papa," ucap Wiguna.
Arya menghentikan aktivitasnya, hembusan nafas beratnya terus keluar berkali-kali. Setiap semua itu di ungkit lagi maka Arya ingin sekali marah.
"Kesalahan papa tidak akan mudah untuk di maafkan. Gara-gara papa, lihatlah apa yang terjadi pada tante Nilam dia sangat menderita bahkan sampai sekarang tante Nilam belum juga sadar dan semua ini gara-gara mulut papa yang tidak papa kendalikan," ucapan Arya mulai meninggi.
"Jika saja papa tidak mengatakan kebohongan pada om Hendra, penderitaan tante Nilam tidak akan pernah datang, dan Dimas tidak akan kehilangan adiknya, Pa! semua penderitaan mereka itu gara-gara papa! " Kata-kata Arya semakin tinggi dari sebelumnya.
Arya benar-benar sangat marah, kesalahan itu tak akan bisa dia maafkan begitu saja. Arya belum bisa menerima semua itu.
"Lebih baik sekarang papa pergi, pekerjaan ku sangat banyak," usir Arya dengan mengatasnamakan pekerjaan.
"Ini sudah bertahun-tahun, Arya! apakah kamu sama sekali belum bisa memaafkan papa?! " Wiguna menoleh memandangi Arya yang tetap acuh tak peduli dan lagi sibuk dengan pekerjaannya.
"Kesalahan papa juga tidak akan bisa terlupakan oleh Arya. Dengan tidak langsung papa yang membunuh bayi tidak berdosa itu juga yang mengakibatkan apa yang tante Nilam alami hingga sekarang."
"Arya tidak mau di ganggu lagi, sebaiknya papa pergi." pinta Arya lagi.
Kesalahan Wiguna memang sangat besar, sama seperti Hendra yang menyesal dia juga sudah sangat menyesal. Tapi dia bisa apa? dia tak akan bisa melakukan apapun lagi, semuanya sudah terlanjur.
__ADS_1
Mungkin benar dia bisa di sebut seorang pembunuh, dia juga yang mengakibatkan penderitaan dan kehancuran keluarga Nilam tapi semuanya sudah sangat terlanjur.
Wiguna juga tidak bisa menebus semua kesalahannya dan mengembalikan semuanya. Dia sangat menyesal.
"Baiklah, kesalahan papa memang tidak akan pernah bisa di maafkan sampai kapanpun. Tapi tetap, papa akan selalu minta maaf. Maaf Arya, papa sudah sangat mengecewakanmu."
Satu butir dari mata Wiguna lolos tanpa sepengetahuan Arya, penyesalannya memang sudah mendarah daging juga. Sebelum Arya mengetahuinya ibu jari Wiguna sudah menghapusnya dengan cepat.
Wiguna hendak pergi keluar dia membalikkan tubuhnya dan dia melihat gadis berhijab yang sudah masuk dan tak sepertinya juga mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Wiguna tak memperdulikannya, dia tetap pergi melewati Arini dan pergi dari sana.
Arini hanya sedikit menggeser berdirinya, dia tak mau menghalangi Wiguna. Arini belum mengenal Wiguna sama sekali tapi dia tetap menunduk hormat.
Arya yang melihat kedatangan Arini terus menatap gadis itu, yang ternyata membawakan jus untuk Arya juga buah segar yang sudah berhasil dia kupas dan potong.
"Bawa ke sini," ucap Arya.
Arini mengangguk lalu, langsung berjalan menuju tempat Arya berada. Arini memberikan apa yang dia bawa pada Arya.
"Pak Tuan, Arini minta maaf ya, telinga Arini tadi mendengar sedikit pembicaraan pak Tuan dengan orang itu," ucap Arini menyesal.
Arini sama sekali tak ada niat untuk menguping tapi dia sudah mendengar karena dia memang sudah masuk.
"Arini hanya mendengar kesalahan orang itu yang tidak mudah untuk di maafkan. Memangnya kesalahan apa, Pak Tuan?" tanya Arini penasaran.
"Bukan urusanmu," jawab Arya acuh.
"Begini ya, Pak Tuan. Pak Tuan tidak akan pernah bahagia jika tidak bisa memaafkan orang lain. Sesungguhnya Allah itu maha Pemaaf loh, Pak Tuan. Allah saja bisa memaafkan sebesar apapun dosa dari hamba-Nya tapi kenapa pak Tuan tidak bisa? Sebaik-baik seorang manusia adalah yang bisa memaafkan orang lain," ucap Arini.
"Sebesar apapun kesalahan orang lain pada kita atau pada orang terdekat kita bukan urusan atau tanggung jawab kita untuk menghakiminya. Kita harus berusaha memaafkan meskipun sangat susah untuk di lakukan dan di terima, tapi itulah yang harus kita lakukan," ucap Arini.
Memang tak mudah untuk bisa memaafkan begitu juga dengan Arini, sebenarnya dia juga sangat susah untuk memaafkan tapi Arini masih belajar untuk selalu bisa ikhlas.
"Apakah kamu akan memaafkan orang yang selalu menyakitimu? " tanya Arya.
"Arini akan selalu memaafkannya, ya meskipun sangat susah." jawab Arini.
"Walaupun orang yang sangat tidak menginginkan mu? " tanya Arya lagi.
Arini langsung terdiam, siapa yang lebih tau rasanya akan tidak pernah di inginkan sejak lahir, dia adalah Arini. Bahkan dia harus di buang dan dihanyutkan, bukankah itu tandanya tidak ada yang menginginkan dirinya hidup?
__ADS_1
Arini kembali menata hati, dia kembali sedih. Dia berdiam dia melangkah tiga langkah dan menjauh dari Arya namun begitu pelan.
Arini kembali berhenti dengan tangan memeluk nampan yang dia bawa. Tatapannya kosong ke depan, air matanya seolah ingin kembali keluar tapi dia menahannya.
Arya yang terdiam melihat pergerakan Arini yang begitu pelan, dia merasa ada yang ingin Arini katakan tapi tidak sampai.
"Apakah kamu bisa memaafkan mereka semua?" imbuh Arya lagi. Dia kembali diam menunggu Arini menjawab.
"Iya, Arini akan memaafkan orang itu. Orang yang bahkan tidak menginginkan Arini untuk hidup sekaligus. Orang yang membuang Arini, tak menganggap Arini juga orang yang menyia-nyiakan Arini. Tapi Arini masih tetap berharap untuk bisa bertemu dengan mereka dan menanyakan apa alasannya mereka tidak menginginkan Arini," ucapan Arini terdengar sangat dingin juga bergetar.
Sepertinya Arya juga tak tau siapa orang yang Arini bicarakan. Arya kira orang itu adalah orang tua Arini yang sekarang yang membuangnya dan dengan tega memfitnahnya.
Sungguh besar hati Arini, bahkan dia akan tetap memaafkan semua orang yang telah berbuat buruk padanya.
Arya berdiri, dia menghampiri Arini menatap seberapa kuat dia dari raut wajahnya.
Ada semburat kesedihan yang begitu dalam terlihat dari wajah Arini, dan itu terlihat jelas dari mata Arya.
Arini juga meneteskan air matanya di depan Arya namun Arini tidak menyadari kedatanganya.
"Tidak mudah kan? aku tau kamu pun tidak akan semudah itu untuk bisa memaafkan orang yang bersalah padamu, begitu juga dengan ku," ucap Arya.
Arini menoleh cepat, tangannya cepat menghapus air matanya tak ingin terlihat rapuh di depan siapapun.
"Memang akan susah, Pak Tuan. Tapi jika kita berhasil menghilangkan rasa kekesalan itu kita akan mendapatkan kebahagiaannya. Dan Arini akan berjuang untuk kebahagiaan itu." Arini menatap Arya dengan wajah tegaknya.
Kedewasaannya kembali lagi. Kebodohannya terasa hilang entah lari kemana.
"Semoga pak Tuan juga bisa memaafkan orang itu, dari yang Arini dengar tadi dia adalah papa pak Tuan kan? Maafkan dia pak Tuan. Arini lihat dia sudah sangat menyesal."
"Orang tua adalah segalanya, pak Tuan. Entah seberapapun besar kesalahannya mereka tetap orang tua yang harus di hormati. Pak Tuan masih beruntung masih memiliki orang tua yang lengkap, maka bersyukurlah untuk itu. Karena tidak semua anak bisa beruntung memiliki dan hidup bersama orang tuanya," ucap Arini menasehati.
"Permisi, Arini masih banyak pekerjaan, Assalamu'alaikum.. " Arini berlalu keluar dari ruangan.
"Wa'alaikumsalam," Arya tak menghentikan kepergian Arini, dia hanya memandangi punggung Arini yang semakin jauh hingga akhirnya hilang di balik pintu.
Arya masih terdiam memahami apa yang Arini katakan tapi dia belum bisa mendapatkan jawabannya.
//////
Bersambung..
__ADS_1
______