Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
275.Di Penginapan


__ADS_3

Happy Reading....


_________


Di sinilah Arya dan Arini sekarang. Di sebuah penginapan yang bisa di katakan sangat jauh dari kota. Tapi dekat dengan desa Nisa.


Sebenarnya pak Karna sama Bu Sulasmi ingin keduanya tetap tinggal untuk malam ini tapi tidak karena Arya takut Arini akan meminta hal yang aneh-aneh lagi. Takut merepotkan.


Tapi tetap saja Arya tidak mengatakan kalau mereka pulang karena alasan itu, melainkan Arya ingin mengajak Arini ke suatu tempat.


"Mas, kenapa kita cepat sekali sih pulangnya. Padahal Aku masih ingin ngobrol sama mbak Nisa." Bibir Arini berkedut. Dia masih tak semangat saat masuk ke salah satu kamar.


"Sayang mereka pengantin baru, jangan di ganggu. Nanti mereka ngambek bagaimana?" Arya terus menggandeng, merangkul pundak Arini dan menuntunnya masuk.


Meski sudah di jawab seperti itu wajah Arini masih saja di tekuk kusut.


"Ah, Mas nggak asik. Masak mau ngobrol saja nggak boleh."


"Besok, Sayang. Besok kan Toni sama Nisa akan ke Jakarta juga. Jadi kamu bisa ngobrol sepuasnya." Arya mengulas senyum.


Arya mendudukkan Arini di kasur, menaruh bawaannya di kursi depan meja rias. Arya langsung duduk di sebelah Arini, menggenggam tangan dan mengecupnya mesra.


"Jangan ngambek begitu dong, Sayang. Nanti cantiknya hilang loh." Ucap Arya.


"Bagaimana akan hilang, Arini kan memang tidak cantik. Jadi meski ngambek akan tetap seperti ini. Mas jangan banyak protes deh." Ucapnya.


'Ya Allah, nih biniku kenapa coba. Sensitif banget sih. Benar-benar harus bawa ke dokter ini kalau udah sampai rumah." Batin Arya.


"Kenapa Mas melamun, menyesal ya karena menikah dengan Arini yang jelek?" Ucapnya dingin.


"Tidak sayang. Kamu adalah istri paling cantik, wanita paling cantik di mataku. Tak ada yang lebih cantik daripada kamu."


"Gombal. Mas nggak pandai dalam urusan menggombal kayak begitu." Bibir Arini mengerucut, entah kenapa hari-hari ini moodnya naik turun tak menentu dengan begitu cepat. Tentu membuat Arini sendiri merasa heran sebenarnya.


"Mas, hem...?" Arini diam berpikir.


"Ada apa, Sayang." Arya masih terus menunggu dengan sangat tenang, menunggu apa yang akan di katakan oleh Arini kepadanya.


"Tidak apa-apa, lupakan saja," Arini beranjak, tentu membuat Arya terbengong, sebenarnya apa yang ingin Arini katakan.


"Arini mau bilang apa sih, jadi penasaran deh aku," Gumam Arya setelah Arini menjauh darinya dan menunju kamar mandi.


Malam semakin larut, setelah selesai bersih-bersih dan berganti pakaian Arya juga Arini bersiap untuk istimewa. Lelah juga rasanya, seharian mereka terus mengikuti susunan acara, bahkan Arya dan Arini ikut di pajang di panggung mewakili orang tua Toni.


"Mas, Arini kok capek banget ya," Keluh nya begitu manja. Pelan-pelan Arini memijat tangannya sendiri.


Wajahnya terlihat sangat masam, dia sana sekali tak semangat.

__ADS_1


"Kamu capek?" Tanya Arya, padahal dia sendiri sudah mendengar apa yang Arini katakan barusan. Arini terlihat sangat lelah.


"Iya, tubuh Arini rasanya pengen remuk semua. Tapi pengen di pijit dua jam."


"Du_dua jam!" Pekik Arya. Matanya sudah membulat, dia yang hampir merebahkan diri jadi urung karena begitu syok mendengar permintaan Arini barusan.


Memijat dalam dua jam bukan waktu yang singkat, pasti Arya aja kelelahan juga mengantuk karena sudah sangat malam.


Arya terdiam, dia mengingat hukumnya dulu yang dia berikan kepada Arini. Apakah saat ini Arini ingin membalas dendam kepadanya?


"Iya, dua jam!" Arini berbinar meski dia melihat wajah masam dari suaminya.


"Nanti hadiahnya apa kalau Mas berhasil memijat mu dua jam?" Tentu gak akan ada yang gratis kan. Semua harus ada imbal baliknya. Kalau sekedar terimakasih itu bukanlah Arya namanya.


"Apa ya?" Arini berpikir keras, "terserah kamu deh Mas mau minta apa, lagian Arini juga tidak punya apapun. Nanti kalau Mas minta yang aneh-aneh kan Arini mintanya juga sama Mas."


"Benar juga ya. Ya sudah, pokoknya nanti apa yang Mas minta kamu harus memberikannya, tidak boleh menolak."


"Iya deh, tapi kalau nggak keburu ngantuk ya. Tapi juga, Arini tidak mau loh mijit Mas dua jam juga." Bisa-bisa keriting jari-jari Arini kalau dia juga memijat selama dua jam.


"Nggak, Sayang." Senyum simpul penuh maksud keluar dari Arya, entah apa yang dia inginkan, semoga saja tidak membuat Arini kelelahan.


*******


Tangan Arya terus bergerak memijat, baru juga setengah jam tapi tangannya sudah merasa sangat lelah. Apalagi yang dia pijat sudah memejamkan mata, katanya mau memberikan apa yang dia inginkan sebagai imbalan tapi ternyata sudah berada di dalam mimpi.


Tapi begitu pekanya Arini. Ketika tangan Arya berhenti karena dia yang mengantuk Arini merasakannya. Dia juga langsung bersuara.


"Hah!" Arya kembali tersentak, dia kembali membuka matanya meski kembali terpejam lagi. Arya terus manggut-manggut karena mengantuk.


"Astaga, ini benar-benar penindasan kepada suami." Celetuknya di mata yang juga terpejam.


Arya benar-benar tak kuat lagi, dia langsung merebahkan diri di sebelah Arini. Memijat tangannya hingga akhirnya dia ikut memejamkan matanya.


Sementara di perjalanan hampir sampai kota Raisa tertidur mobil sementara Dimas dua terjaga dan terus menyetir mobil.


Sebenarnya Dimas menginginkan untuk menginap juga tadi di penginapan yang sama dengan Arini tapi Raisa menolaknya. Alasannya dia ingin cepat kembali ke kota.


Tapi kini Dimas benar-benar tak kuat lagi, dia sangat lelah, dia juga sangat mengantuk.


Dimas terus celingukan dia berniat mencari penginapan yang terdekat. Dia tidak mau sampai lelahnya yang di paksakan akan membuatnya dan Raisa celaka.


"Alhamdulillah, itu ada penginapan. Semoga bisa." Dimas menepikan mobilnya. Berhenti di tempat parkir penginapan yang sangat luas.


Dimas menoleh sebentar, melihat Raisa yang terlihat sangat pulas.


"Di bangunkan tidak ya? Tapi kasihan, dia pules banget. Nanti saja deh, kalau sudah benar-benar ada kamar baru bangunkan dia."

__ADS_1


Dimas bergegas keluar, dia masuk ke penginapan yang sepi, tapi tetap terdapat penjaga juga resepsionis yang bertugas malam.


"Maaf, mau pesan kamar ada nggak ya? Untuk semalam ini saja," Tanya Dimas.


"Ada, Tuan. Satu kan?"


"Dua kamar," Dimas tidak mungkin kan hanya memesan satu kamar karena dia dan Raisa bukanlah suami istri. Meski dia suka ceplas-ceplos dan ngebetnya bukan main sama Raisa tapi itu hanya sebatas omongan saja. Dimas tetap tau batasan.


"Kalau dua tidak ada, Tuan. Hanya ada satu saja. Baru saja ada yang ambil kamar satunya. Bagaimana, jadi pesan atau tidak?"


Dimas tampak berpikir sangat keras. Dia bingung, jika mereka berada dalam satu kamar bagaimana kalau Raisa tidak mau? Padahal itu juga jelas.


"Saya ambil, Mbak." Ucapnya.


"Biar Raisa yang tidur di kamar sementara aku akan tidur di mobil. Kasihan juga, Raisa tidak tidur dengan benar." Gumamnya.


"Ini tuan kuncinya. Kamar nomor dua puluh satu." Kunci di serahkan kepada Dimas. Sementara Dimas langsung membayarnya menggunakan kartu.


Dimas kembali keluar setelah selesai dengan semua urusannya. Dia berniat untuk membangunkan Raisa.


"Raisa, Raisa. Bangun." Dicoleknya pundak Raisa. Tapi gadis itu tak bergerak sama sekali. Dimas beralih mencolek pipinya dan terus memanggil namanya tapi tetap saja Raisa tidak bangun.


"Nih cewek kalau tidur kayak orang mati gini sih. Pules banget sampai-sampai di bangunin berkali-kali tidak bangun. Bagaimana kalau orang yang bersamanya jahat bisa di apa-apain nih cewek." Gerutunya.


"Raisa, bangun. Raisa," Sekali lagi Dimas membangunkan tapi tetap saja tak berpengaruh apa-apa.


Jalan satu-satunya adalah menggendong Raisa. Dan itu benar-benar Dimas lakukan.


"Maaf ya, Raisa. Aku tidak bermaksud," Ucapnya.


"Udah lelah, ngantuk harus gendong juga. Untung cinta kalau tidak udah aku lempar di trotoar." Gerutunya lagi.


Dimas langsung melangkah membawa raisa masuk ke dalam kamar yang sudah di tunjukkan.


Kamar yang sangat luas karena itu adalah kamar nomor satu dan hanya tinggal satu-satunya. Terdapat ranjang besar, sofa, kamar mandi di dalam kamar, dan perlengkapan lainnya.


Perlahan Dimas menurunkan Raisa di kasur yang super besar menarik selimut untuk menyelimuti Raisa. Setelah itu Dimas duduk di sebelahnya sekedar untuk menghilangkan lelah karena menggendong Raisa.


Di lihatnya wajah cantik yang begitu damai dalam tidur. Di singkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Dimas tersenyum.


"Kenapa kamu begitu mempengaruhi hatiku, Raisa. Sampai kapan kamu akan menutup hatimu dan akan menerimaku. Aku tak sabar ingin memilikimu, Raisa. Semoga besok di hari baru akan ada hati yang terbuka untuk ku. Semoga kamu bisa membukanya untukku." Gumamnya.


Dimas menyandarkan punggungnya dia sangat lelah. Tangannya masih berada atas kepala Raisa.


Kantuk malah menyerang begitu kuat pada Dimas hingga akhirnya dia memejamkan matanya saat itu juga. Niatnya untuk kembali keluar dan tidur di mobil tidak terjadi.


Lama-lama tubuh Dimas ambruk di atas puncak kepala Raisa, bibirnya pas tepat di kening gadisnya sementara tangannya memelukmu leher Raisa. Keduanya tidur dengan damai di kamar yang sama di ranjang yang sama meski kaki Dimas menyentuh lantai.

__ADS_1


*********


Bersambung....


__ADS_2