Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
119. Kemungkinan Besar


__ADS_3

Happy Reading....


////////


Tok... Tok... Tok...


“Assalamu’alaikum...!” Suara begitu menggema liar masuk ke kediaman Susanto yang begitu sederhana. Suaranya terdengar begitu gagah juga sangat jelas. Dia adalah Dimas.


Kedatangannya bukan karena keinginannya sendiri, melainkan untuk pekerjaannya sebagai seorang dokter. Ya, dia datang karena untuk memeriksa keadaan Murni.


Sebenarnya bisa saja Murni datang sendiri ke rumah sakit tapi Dimas sendiri yang terlalu baik dan dia yang memilih lebih baik dia yang datang, Dimas merasa kasihan saja sih.


Bunyi yang menggema masuk terdengar dengan jelas oleh Susanto dari dalam, laki-laki tua itu langsung keluar dan datang untuk menyambut kedatangan Dimas yang masih enggan untuk masuk.


“Wa’alaikumsalam,” begitu baik sambutan dari Susanto hingga dia langsung tersebut saat melihat Dimas lah yang datang ke kediamannya.


“Kok masih di situ, Nak! Ayo masuk masuk!” langkah Susanto datang untuk menghampiri Dimas, tangannya juga melambai-lambai ke udara memanggil Dimas.


Dimas tersenyum, dia juga mulai melangkah untuk masuk ke rumah menyambut baik juga sambutan dari Susanto. Tangan Dimas seketika terulur saat dia sudah dekat dengan Susanto, menyalaminya dengan takzim, dan juga dengan begitu sopan.


“Apa kabar, Kek?” tanya Dimas sering tangannya menyatu dengan tangan keriput yang juga tercetak jelas tulang-tulangnya yang lemah.


Dikecupnya sesaat punggung tangan Susanto, membuat sang empu begitu terpana dengan kesalehan pria muda di hadapannya ini. Susanto juga sangat mengagumi, bahkan dia sangat berharap jika suatu saat nanti cucunya akan bisa mendapatkan pendamping yang begitu lembut dan perhatian seperti dirinya.


“Alhamdulilah, berkat doamu aku selalu baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana, sehat?” tanya balik Susanto. Tangannya juga pelan mengelus punggung Dimas saat dia masih membungkuk di hadapannya.


“Alhamdulillah, Kek. Berkat doa dari kakek juga yang membuat Dimas selalu sehat,” tangan mulai terurai, Dimas juga berdiri tegak di depan Susanto.


Kekehan renyah keluar dari keduanya, Susanto begitu senang dan menyukai pria muda itu, jika saja tidak ada kemungkinan dia adalah kakaknya Arini mungkin dia akan menjodohkannya. Tapi Susanto harus memastikan itu terlebih dahulu jika dia masih kekeh untuk menjodohkan mereka berdua.


“Duduklah di sini sebentar, biar aku panggilkan bidadari-ku,” Susanto semakin terkekeh saat mengatakan itu, ya merasa geli sendiri meski dia sendiri yang mengatakan.


“Hem,” Dimas tersenyum simpul dengan guyonan yang Susanto lontarkan, mungkin inilah salah satu yang membuat rumah tangganya dengan nek Murni bisa langgeng sampai sekarang karena Susanto begitu pintar memberikan guyonan-guyonan kecil yang akan mencairkan suasana yang mungkin tegang.


Dimas duduk di kursi kayu secara langsung saat Susanto masuk. Matanya terus menggerilya semua penjuru dinding-dinding yang kosong dan tak ada satupun foto yang tertempel di sana. Tembok berwarna hijau yang sudah pudar itu tampak polos tanpa adanya hiasan apapun.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk sepasang suami-istri itu kembali ke sana. Dengan di tuntun Susanto, Murni berjalan dengan pelan. Dimas yang melihat langsung saja berdiri dan membantu Murni untuk duduk di kursi yang lain yang lebih dekat.


Murni tersenyum begitu manis. Ya manis-manis gimana begitu, soalnya sudah ada satu gigi depan yang sudah ompong. Mungkin lucu dan imut jika seorang anak kecil tapi ini?


“Mari, Nek.” Dengan pelan juga Dimas menuntun, membantu mereka untuk bisa sampai ke kursi, “Alhamdulillah,” imbuhnya saat berhasil mendudukkan Murni.


“Terimakasih, Nak ,” ucapan penuh terimakasih Murni ucapkan, suaranya memang terdengar sangat parau mungkin karena memang kurang enak badan jadi seperti itulah suaranya yang timbul.


Senyum tulus Dimas keluarkan juga, dia juga langsung duduk di tempat yang tadi kursi yang tepat di samping Murni berada.


“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Murni.


Dimas langsung menoleh kembali, padahal dia baru saja hendak membuka tasnya dan mengambil stetoskop di sana namun kembali urung.


“Alhamdulillah baik, Nek,” Dimas hanya tersenyum sekejap setelah itu dia kembali lagi untuk mengambil apa yang sudah tadi niatkan.


Tangannya meraih stetoskop yang selalu menjadi temannya saat bekerja. Stetoskop hitam.


“Maaf, Nek,” Dimas mulai memeriksa Murni. Memeriksa bagaimana irama detak jantungnya juga denyut nadinya di pergelangan tangan.


‘’Nenek baik-baik saja, hanya kurang istirahat saja. Saya sudah bawakan obat seperti biasa. Untuk penyembuhan lebih optimal obatnya harus habis,’’ ucap Dimas dengan sangat sopan, bahkan ada senyum sebagai hiasannya.


‘’Terimakasih, Nak,’’ ucap Murni.


Stetoskop Dimas kembali masukan lagi ke dalam tas, beberapa obat yang sudah dia bawa juga dia keluarkan dan cepat dia berikan kepada Murni.


‘’Ini obat seperti biasa. Nenek harus minum teratur dan juga harus habis.’’


‘’Terimakasiah, Nak.’’


Tas yang terbuka membuat Susanto melihat sebuah kertas. Ada gambar di dalamnya yang sangat tidak asing. Gambar desain kalung yang sama persis dengan yang di miliki oleh Arini.


Begitu penasaran Susanto, sebenarnya ada apa ini? Apakah memang benar yang ada di dalam pikirannya kalau ada sebuah ikatan yang belum terugkap?


‘’Nak, apa itu? Apakah aku boleh melihatnya?’’ Susanto begitu berharap akan mendapatkan izin untuk bisa melihat desain yang ada di dalam tas Dimas dan sangat mengganggu pikirannnya.

__ADS_1


Dimas terpaku sesaat saat mendengar permintaan Susanto, Dimas lalu menoleh melihat tasnya yang telah terbuka. Yang jelas Dimas langsung melihat gambar itu yang tak sengaja kebawa olehnya.


‘’Ini? Ini adalah desain yang di gambar khusus oleh papa.’’ Jawab Dimas. Gambar sudah berhasil ada di tangannya dan mata juga sontak melihatnya.


Diraihnya gambar tersebut oleh Susanto, dilihat dengan sangat teliti dan benar saja desain itu memang sama seperti kalung cucunya, Arini.


Sama seperti reaksi Dimas saat dia mengetahuinya Susanto pun juga sama. Susanto sangat penasaran dan ingin mengetahui semua kebenarannya.


‘’Lalu? Di mana kalungnya sekarang? Apakah pak Hendra benar-benar membuatnya atau tidak?’’ tanya Susanto seraya menoleh ke arah Dimas.


Dimas ragu untuk bercerita ini sama saja dia membuka nasib sial yang menimpa keluarganya yang dulu sangat bahagia. Tapi Dimas juga tak bisa menyembunyikannya meski Susanto bukan keluarganya.


‘’Papa benar-benar membuatnya. Dan kalungnya sekarang sudah pergi bersama adek,’’ Dimas tertunduk, hatinya kembali berduka setiap kali dia mengungkit masalah itu.


‘’Maaf, mungkin saya sangat lancang dan tak seharusnya bertanya hal yang bersifat pribadi. Tapi jika boleh tau, sebenarnya adik nak Dimas meninggal karena apa? Hem... tapi kalau nak Dimas tidak berkenan untuk bercerita tidak apa-apa saya tau ini memang tidak pantas.’’


Begitu sangat penasaran Susanto hingga dia menanyakan hal yang sangat pribadi. Tapi dia tidak akan mendapatkan jawaban kalau dia tak berani bertanya secara langsung.


‘’Adek pergi hanya karena sebuah kesalah pahaman. Karena salah paham itu hingga akhirnya membuat adek harus menjadi korban.’’


Satu persatu semua Dimas ceritakan, tak ada yang dia tutupi sama sekali dia bahkan mengatakan begitu detail tak ada yang tersisa.


Susanto terperangah mendengar semua penjelasan dari Dimas, dan kini dia yakin kalau kemungkinan besar Arini memang bagian dari keluarga mereka. Susanto terdiam antara senang tapi juga sangat sedih. Senang karena akhirnya Arini bisa menemukan keluarga yang sebenarnya. Tapi dia sedih karena Arini pasti akan pergi setelah mengetahuinya.


Meski sudah sangat yakin tapi Susanto masih butuh hal yang lebih pasti lagi. Susanto akan memastikan sendiri dengan tes DNA. Tapi untuk sekarang Susanto masih ingin menyembunyikan semuanya lebih dulu sampai dia benar-benar mendapatkan hal yang pasti. Susanto tidak mau gegabah.


''Kakek kenapa?’’ tanya Dimas. Heran saja melihat ekspresi yang keluar dari Susanto.


‘’Tidak apa-apa, saya hanya merasa iba dengan nasib keluarga nak Dimas. Kasihan adik nak Dimas, dia harus menjadi korban.’’


‘’Seandainya adik nak Dimas masih hidup apa yang akan naka Dimas lakukan? Apakah akan merebutnya dari keluarga yang telah membesarkannya? Atau apa?’’ Susanto sudah sangat takut akan kehilangan Arini. Bagaimana mungkin dia akan rela begitu saja.


‘’Sandainya adik saya masih hidup?’’ Dimas kembali terdiam dia tidak mau terlalu banyak berharap, karena itu akan membuat hatinya kembali dalam duka.


/////////

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2