Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
242.Hal Yang Tak Biasa


__ADS_3

Happy Reading...


--------------


21:04 WIB....


Waktu memang sudah sangat malam tapi Arini juga Arya belum kembali ke hotel setelah makan malam bersama dengan romantis, kini mereka berdua berpindah duduk di tepi pantai di bawah pohon kelapa menikmati dinginnya malam dengan hembusan angin pantai yang begitu bersemilir.


Arini memang merasa sangat dingin tetapi dia belum mau diajak untuk kembali dia masih terlalu menikmati akan keindahan malam.


Digenggamnya tangan Arini dengan sangat kuat oleh Arya sementara yang satunya merangkul lengan Arya dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Mas, malam ini sangat indah ya?" ucapnya dengan sangat pelan.


Arya menoleh kecil melihat bagaimana istrinya yang sungguh menikmati meski dia tidak bisa melihat bagaimana wajah istrinya sekarang karena tertutup dengan hijabnya.


"Apa kamu bahagia?" tanya Arya. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dilontarkan lagi karena Arya tahu bahwa istrinya itu begitu sangat bahagia.


Arini mengangguk kecil dan semakin mengeratkan tangan di lengan suaminya.


"Ini sudah malam apakah kamu belum ngantuk?" tanya Arya lagi. Arini menggeleng, dia sama sekali tidak merasa ngantuk bahkan kini matanya terus membulat semakin jelas, sungguh aneh sih tapi itulah yang terjadi.


"Apakah kamu masih mau memakan sesuatu?" tanya Arya lagi. sekedar memastikan kalau istrinya benar-benar sudah cukup atau sudah kenyang malam ini karena dia tidak mau sampai istrinya merasa kelaparan.


"Tidak, Arini sudah kenyang, bahkan perutku sudah sangat penuh. Mungkin tidak akan muat jika ditambah lagi meski hanya sedikit," jawabnya dengan jelas sembari mengangkat wajahnya untuk memandang Arya.


Malam semakin larut suara ombak semakin jelas terdengar bahkan desir angin juga semakin kuat menerjang apapun yang ada. Arya merasa tidak tega melihat istrinya yang kedinginan dan kini berinisiatif memeluk istrinya yang sebenarnya dari tadi juga sudah memakai jas milik Arya.


"Sayang ini sudah sangat malam juga sudah dingin kembali yuk, kita bisa datang lagi besok," ajak Arya.


Arini mengangguk dan akhirnya dia mau diajak kembali ke hotel. keduanya beranjak namun sama sekali tidak melepaskan tangan mereka masing-masing masih setia berangkulan.


Sampai di depan pintu Arya langsung membukakan pintu tetapi dia tidak langsung masuk dan hanya menyuruh Arini untuk menunggu di dalam karena dia masih ada urusan sebentar di luar, entah urusan apa yang akan dia lakukan.


"Sayang, Mas pergi sebentar. Tidak ada lima menit aku akan kembali," ucapnya.

__ADS_1


"Beneran kan tidak lama? Arini takut sendiri," jawab Arini dengan wajah yang sangat memelas.


Dibelai pelan wajah Arini, senyum juga keluar untuk membuat Arini lebih tenang, "iya, hanya sebentar. Tidak akan lama kok," Arya berucap.


"Sekarang masuklah, dan jangan pernah membuka pintu jika ada orang yang mengetuk. Aku akan masuk sendiri karena aku bawa kuncinya," ucapan Arya seketika membuat Arini mengangguk, dia akan selalu menurut karena dia sendiri juga sangat takut.


Arya baru pergi setelah Arini masuk, dia kembali tersenyum penuh arti, entah apa yang dia rencanakan lagi.


Sementara Arini hanya berjalan pelan setelah berhasil masuk. Jantung Arini kembali bekerja semakin kuat saat melihat tampilan kamar yang sangat berbeda tidak seperti tadi.


Kelopak mawar berserakan dimana-mana dengan hiasan mawar merah dan putih yang bergelantungan di keempat sisi ranjang yang juga penuh dengan mawar.


Balon-balon merah berbentuk hati juga menjadi pelengkap keindahan itu di tambah dengan lilin-lilin kecil.


"I-ini ada apa? kenapa bisa seperti ini?" Arini begitu bingung tapi hatinya tak berhenti berdesir membuatnya gugup. Padahal Arya juga belum datang sekarang tapi dia sudah merasa gugup.


"A-apakah Mas Arya yang melakukan ini semua? tapi kan tadi dia bersamaku?" Otak Arini bener-bener tidak nyampe, iya kali Arya akan melakukannya sendiri, dia orang berduit hanya tinggal ngomong sama orang semua bisa terjadi.


Langkah Arini terhenti saat tepat berada di sebelah meja, begitu banyak hadiah di sana.


"Untuk istriku tercinta," dibacanya kertas yang ada di atasnya.


Hadiah yang tentunya sangat banyak dengan harga-harga yang sangat fantastik.


Satu Arini buka dan isinya adalah baju berwarna merah marun yang begitu indah.


Di bukannya lagi dan isinya high heels yang dengan warna senada. Di buka lagi dan isinya tas yang warnanya juga sama.


"Subhanallah, semuanya sangat indah. Tapi ini sangat berlebihan, Arini mana mungkin bisa memakai semua ini," ucapnya.


Di bukanya lagi, dan isinya adalah satu set perhiasan.


"Perhiasan lagi? yang kemarin saja belum Arini pakai," ucapnya.


Dan yang terakhir yang membuat Arini harus menelan salivanya dengan susah payah. Astaga, baju kurang bahan yang hampir sama seperti yang eyang Wati berikan kemarin.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu untuk memakainya, tapi kalau kamu memakainya aku akan sangat bahagia," Arini bergidik setelah selesai membaca surat dari Arya itu. Benarkah dia harus memakainya?


Arini tidak atau belum terbiasa dengan baju yang seperti itu, apakah jika Arini menolaknya apakah dia akan berdosa? Arini benar-benar dalam dilema yang sangat besar.


Arya sudah memberikan semua yang terbaik untuknya, apakah dia tidak bisa melakukan itu untuk Arya.


Di angkatnya baju itu, dan Arini kembali menelan dalam-dalam salivanya. Arini menoleh ke arah kaca dan ternyata di sana juga berbagai macam-macam perlengkapan make-up.


Wajah Arini seketika memanas, benarkah dia harus memakainya?


"Benarkah aku harus memakainya?"


Arini terus bertarung dengan pikirannya sendiri, sudah beberapa menit tapi dia masih terus duduk di sana.


"Ya Allah, tuntun aku untuk bisa membahagiakan suamiku yang terus menghujani ku dengan kebahagiaan."


Meskipun ragu Arini mulai beranjak, membawa kotak yang berisi dengan baju yang Arya minta untuk dia memakainya. Cepat dia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan membuatnya semakin wangi, semua itu dia lakukan semata-mata untuk suaminya.


Meski ada rasa malu Arini tetap memakainya, dia keluar dengan memakai bathrobe yang tingginya hanya sebatas lutut saja.


Bathrobe berwarna merah marun yang berbahan satin yang begitu lembut dan jatuh jika di pakai.


Belum apa-apa Arini sudah gugup bukan main, dia duduk di depan meja rias. Belajar untuk bersolek sebisa mungkin untuk suaminya.


Wajah yang biasa saja, terlihat sangat berbeda sekarang setelah Arini berhasil memoles nya. Meski tidak jago tapi Arini tetap bisa melakukannya, entah pengetahuan dari mana tapi dia seperti pernah melakukan itu sebelumnya.


Lipstik merah jambu menjadi akhir dari dia yang bersolek. Tapi dia belum juga beranjak karena tangannya kini berganti meraih sisir dan merapikan rambutnya.


Sempurna sudah penampilannya sekarang, Arini begitu cantik dengan dandanannya sendiri.


Jantung Arini berdetak cukup kuat sekarang, melihat pantulannya sendiri di kaca. Berkali-kali dia merasa merinding karena baju yang tipis membuat sensasi dingin.


Clek....


Arini langsung berlari, dia bersembunyi saat dia mendengar pintu perlahan mulai terbuka.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2