
Happy Reading...
Semua tengah berkumpul di ruang tengah saat Arya juga Arini akan berangkat ke Bali. Hendra maupun Nilam terus mewanti-wanti agar Arya terus bersama Arini dan tidak pernah meninggalkannya.
Tentu Arya mengangguk, tanpa diminta pun dia akan selalu menjaga dan akan selalu ada di sisi Arini dan tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan sekedar bermimpi pun dia rasa tidak.
"Tolong jaga Arini baik-baik, dia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya bepergian jauh, jadi kamu harus terus berada di sampingnya," ucap Hendra.
"Iya Nak. Jangan sampai Arini terlepas darimu dia belum tahu daerah sana dan ya jaga diri kalian baik-baik yang pasti jaga selalu kesehatan kalian," Nilam mengimbuhi.
"Pasti Ma, Pa. Saya akan selalu melindunginya. Dia adalah istriku, dia tanggung jawabku di manapun kami berada. Kalian jangan khawatir, dia akan baik-baik saja," jawab Arya dengan tangan merangkul pundak Arini.
"Tuan harus membawa dia kembali dengan selamat, tak ada lecet sedikitpun. Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu padanya, apalagi sampai saya tau dia menangis di sana maka aku akan langsung datang dan akan membawanya pulang," seloroh sang kakak ipar, siapa lagi kalau bukan Dimas.
Arya hanya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Sok berani sekali Dimas sekarang, palingan di ancam sedikit saja juga sudah langsung mengkerut.
Tapi itu tak masalah untuk Arya sekarang, karena Dimas pasti sangat mengkhawatirkan Arini dan Arya menghargai itu.
"Hem, aku janji tidak akan membuatnya menangis, aku akan selalu pastikan dia akan selalu tersenyum," Arya sudah tersenyum sendiri saat mengatakan itu.
"Tuan, sudah seharusnya berangkat. Kalau tidak berangkat sekarang tuan bisa terlambat," ucap seorang sopir dari Hendra yang akan mengantarkan mereka berdua.
"Hem," Arya mengangguk, seketika juga menoleh ke arah Arini, "kita berangkat sekarang," ucapnya.
"Ya," jawab Arini.
"Ma, Pa, Kak, Arini berangkat," Arini langsung beranjak, mendekati ketiganya dan menyalami mereka termasuk Dimas.
Arya pun juga melakukan hal yang sama, tapi tidak dengan Dimas dia hanya berpelukan hangat untuk sejenak.
__ADS_1
"Jaga adik gue baik-baik, jangan buat dia kecewa," ucap Dimas. Dan kali ini benar-benar seperti seorang kakak ipar bukan seperti teman ataupun bawahannya.
"Tidak usah khawatir, aku akan selalu menjaganya. Dia adalah hidupku, bagaimana mungkin aku akan menyakiti hidupku sendiri," jawab Arya. Tangannya juga memberikan beberapa tepukan di punggung Dimas.
"Berangkatlah, dan beri kami kabar yang baik setelah kalian pulang," ucap Dimas lagi seraya melepaskan pelukannya dari Arya.
"Insya Allah, biarkan semua terjadi sesuai kehendak-Nya," jawab Arya.
"Sok alim lu," Dimas menonjok pelan bahu Arya saat mendengar kata itu dari Arya, sungguh luar biasa Arya sekarang. Dan itu semua adalah berkat adiknya.
"Masih tahap belajar," jawab Arya.
"Hahaha, tidak masalah, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Cepat sana berangkat!"
" Iya iya, Assalamu'alaikum."
Nilam, Hendra juga Dimas juga ikut keluar, mengantarkan keduanya hanya sampai mobil saja.
Perlahan mobil mulai berjalan meninggalkan tempat, saat itu Arini masih terus menyembulkan kepalanya memandangi orang tuanya.
"Dah sayang! Hati-hati," Nilam melambaikan tangannya mengantarkan kepergian anak juga menantunya.
"Dah, Ma!" Arini juga turut melambaikan tangannya setelah mobil berjalan dan semakin jauh.
Terlihat jelas kalau Arini begitu bahagia, tidak seperti semalam yang terlihat takut.
Dimas masih saja tak berkedip memandangi mobil yang semakin jauh, entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang ini.
__ADS_1
"Dimas, ada apa?" Hendra menyentuh pundaknya, membuat Dimas seketika menoleh.
"Dimas hanya khawatir Pa. Arini belum pernah pergi jauh. Apalagi dia sangat tidak berpengalaman hidup di daerah asing. Dimas hanya takut..."
"Sudahlah, jangan berlebihan. Ada Arya yang akan selalu bersamanya. Dia akan selalu menjaga adikmu dengan baik. Dia sangat mencintai adikmu, tidak mungkin dia akan membuatnya kecewa," ucap Hendra.
Seperti apapun yang Hendra katakan tapi hati Dimas tetap saja gelisah. Dia begitu mengkhawatirkan adik satu-satunya itu, ya meskipun saat di dekat mereka akan berdebat tapi saat mereka jauh pasti akan ada rasa cemas.
"Yuk, bukankah kamu juga harus ke rumah sakit?" tanya Hendra.
Dimas mengangguk, kakinya mulai bergerak untuk melangkah dan dia masuk lagi ke rumah untuk bersiap ke rumah sakit.
Senyum terus terpancar dengan jelas di wajah Arini juga Arya sekarang. Di dalam mobil mereka terus tersenyum. Arini juga terus menempel dengan Arya, menyandarkan dirinya di tubuh Arya.
Kedua tangannya juga melingkar di perut Arya pipinya terus menempel di dada hingga bisa mendengarkan alunan jantung yang begitu indah.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Arya di sambung dengan mengecup puncak kepala Arini.
Arini mengangkat wajahnya, melihat sejenak Arya yang juga tersenyum.
"Arini sangat bahagia, terimakasih Mas," Arini semakin erat memeluk suaminya.
Mobil terus melaju untuk membawa Arya juga Arini ke bandara. Tidak banyak percakapan di antara mereka berdua, hanya senyuman saja yang terus keluar dengan keadaan mereka berdua yang terus berpelukan.
"Terimakasih Ya Allah, terimakasih atas semua kebahagiaan ini. Terimakasih telah memberikanku kesempatan untuk bisa merasakan indahnya cinta yang tulus dan sangat suci. Cinta yang tidak memandang akan status dan juga bisa menerima semua perbedaan. Menyatukan perbedaan menjadikan sebuah kesempurnaan. Terimakasih Ya Allah, terimakasih," batin Arya.
Dikecupnya terus menerus puncak kepala Arini ketika masih di dalam mobil. Hingga keduanya sampai di bandara Arya juga terus merangkul pinggang istrinya itu dengan sangat mesra.
Tak peduli dengan pandangan mata yang terlihat aneh, Arya sama sekali tidak peduli. Arya merasa sangat bangga bisa mendapatkan Arini, Arya sangat bahagia dan akan selalu seperti itu.
Bukan hanya gelar seorang suami saja bagi Arya yang menjadi identitasnya, bukan hanya seorang CEO muda dengan segudang keberhasilannya juga, melainkan Arini kini juga menjadi identitasnya. Arya sebagai suami dari Arini, gadis biasa dengan warna kulit yang berbeda dengannya.
Biarkan seluruh dunia mengenalnya seperti itu.
Ternyata benar, cinta itu tidak hanya datang karena semua kesamaan yang ada pada pasangan. Tapi perbedaan juga tetap bisa menumbuhkan cinta.
Mungkin mulut bisa saja pernah menolak juga pernah menghina, tapi jika hati sudah memilih dan takdir ikut menjadi peran utama maka manusia itu sendiri tak bisa berbuat apapun selain kalah dan menerimanya.
Hati dan takdir akan selalu menjadi pemenangnya, mengalahkan keangkuhan dari mulut juga semua keegoisannya.
Dan kini ketulusan Arini yang menjadi pemenangnya, mengalahkan keangkuhan dan keegoisan Arya yang begitu besar. Bahkan sekarang bisa membuat Arya berubah menjadi lebih baik dari sifat yang sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1