
...________...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Dengan ikhlas hati Arini menjalankan apa yang menjadi perintah dari Arya, kini dia sudah berada di pantry dan mulai membuatkan Arya kopi sesuai yang dia inginkan.
"Bukan karena Arini tak mau menjalankan pekerjaan ini, tapi mbok ya kalau ngasih kerjaan itu yo lihat-lihat dulu kenapa sih ya? heran aku sama pak Tuan," oceh Arini.
Tangannya terus sibuk dengan peralatan yang akan dia pakai, matanya sesekali jelalatan memandangi sembarang arah.
"Dorr...!" kedua tangan tepat berada di pundak Arini untuk mengejutkannya, dan itu berhasil membuatnya terkejut dan menoleh, "kalau kerja itu harus ikhlas, kalau tidak ikhlas pekerjaan ringan pun akan terasa berat." imbuhnya.
"Eh, mbak Raisa," wajah Arini berbinar, dia pikir setelah kejadian kemarin saat berada di kantin Raisa benar-benar tak mau berteman dan berbicara padanya dan ternyata sekarang Raisa sendiri yang datang dan berbicara terlebih dahulu sebelum dia menyapanya.
"Oh iya Arini, denger-denger kamu kemarin pingsan ya, kenapa? kebetulan aku dua hari nggak berangkat jadi ketinggalan berita besar, bahkan sekarang kamu juga Tuan Arya selalu menjadi topik utama di sini," tanya Raisa.
"Topik? topik utama itu apa sih mbak, Arini nggak ngerti," tanya balik Arini.
Raisa menepuk keningnya sendiri di sambung dengan menggaruk keningnya yang tiba-tiba gatal. Sebenarnya ini siapa sih yang salah! Raisa atau Arini yang terlalu oon.
"Mbak Raisa, apa bisa jelasin pada Arini," tanya Arini tak sabar.
"Topik utama itu... "
𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨..
Ponsel Arini kembali berdering dan sepertinya pelakunya juga orang yang tengah kesal menunggu kopi yang tak kunjung jadi dari Arini.
"Sebentar ya mbak Raisa, Arini mau angkat telfon dulu," ucapnya.
"Hem..," jawaban Raisa begitu singkat tapi tidak sesingkat pertanyaan yang ada di dalam otaknya, "𝘣𝘶𝘴𝘦𝘵, 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘶𝘩! 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪? 𝘈𝘩𝘩..., 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢? " Raisa terus berperang dengan batinnya sendiri.
Arini sudah sedikit menjauh dari Raisa, dia juga tak mau sampai Raisa tau nama Arya di ponselnya, bisa-bisa Raisa salah paham nanti.
"Assalamu'alaikum.., pak Tuan, hehehe... " ucap Arini di sambung dengan meringis.
__ADS_1
"𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘰𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘗𝘭𝘶𝘵𝘰, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪? 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵! 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶! " ucap Arya dari ruang yang berbeda.
"Mana mungkin di Pluto, pak Tuan! kan Arini nggak bisa terbang, Arini juga tidak punya roket untuk bisa sampai sana. Hemm.., Kira-kira kopi di Pluto rasanya gimana ya pak Tuan! " tanya Arini dengan begitu polosnya.
Raisa yang mendengar hampir tersedak air liurnya sendiri, matanya juga langsung membulat tak percaya, "astaga..., bengek nih bocah. Kuat juga Tuan Arya ngeladenin bocah oon seperti Arini," gumam Raisa.
"𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵! 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘰𝘱𝘪𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘫𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢! " Sepertinya Arya sudah sangat kesal di sana.
"Eh.., pak Tuan oon ya! mana ada di potong kok tak bersisa! Kalau di potong itu hanya di kurangin pak Tuan jadi masih ada sisanya, kalau tak bersisa itu bukan di potong melainkan memang di ambil semuanya," ucap Arini menjelaskan.
Mulut Raisa menganga, bahkan rahangnya hampir jatuh mendengar percakapan Arini yang di lontarkan untuk bosnya. Meskipun merasa lucu bahkan membuat perutnya sakit karena menahan tawa tapi Arini pasti akan ada dalam masalah setelah ini, "cari masalah nih anak, semoga saja banteng nya tidak kumat, kalau sampai tanduknya mengeras bisa di pastikan di lempar ke Amazon kau Arini."
"𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵! 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶! "
𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵...
"Halo... Halo...! Ih pak Tuan ini baru saja Arini mau protes udah main di matiin aja," Arini terlihat sangat kesal karena Arya yang tiba-tiba menutup ponselnya.
"Astaga, lima menit? di pecat? tidak tidak! aku tak mau kehilangan pekerjaanku," Arini bergegas menuangkan air panas ke dalam cangkir tanpa mengecek ulang di dalamnya.
Sementara Raisa hanya memandangi kepergian Arini, "sebenarnya dia itu benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh sih? kalau dia bodoh tidak mungkin kan dia bisa menjawab pertanyaan Tuan Arya dengan spontan seperti tadi, bahkan dia seperti tidak berfikir saat bicara. Hemm, mencurigakan."
////
"Assalamu'alaikum, pak Tuan..., hehehe, maaf kelamaan soalnya airnya nunggu mendidih dulu," ucap Arini setelah berhasil masuk ke ruangan Arya.
Yang jelas Arya tidak akan percaya kan dengan alasan Arini, sejak kapan air di dalam dispenser nunggu mendidih.
"Jangan banyak alasan, aku tau kamu berbohong. Siniin kopi ku," pinta Arya.
"Darimana pak Tuan tau kalau Arini berbohong?" Arini melangkah maju menaruh kopi di meja depan Arya, "pak Tuan bukan dukun kan?"
"Bukan!" jawab Arya. Tangannya sudah langsung mengambil cangkir yang baru saja Arini letakkan , menyeruputnya perlahan dan langsung kembali di semburkan dari mulutnya.
"Pak Tuan itu gimana sih, itu kopinya memang masih panas, main seruput saja," ucap Arini. Baru saja Arini mengatakan itu Arini langsung berjalan mundur dengan ketakutan, apalagi di tambah dengan mata Arya yang seketika melotot ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan lagi..., jangan lagi..., Arini minta maaf, Arini tidak akan mengulangi lagi, Arini minta maaf," racaunya di tengah-tengah ketakutan.
Arya yang ingin marah karena kopinya sangat pahit tidak jadi, dia urungkan setelah melihat Arini yang ketakutan. Apalagi tangannya kini sudah menutup mulutnya sendiri sembari terus menggeleng.
"Arini, kenapa kamu!?" suara Arya masih terdengar sangat angkuh.
Arya beranjak dia berjalan mendekati Arini yang kini terpojok di dinding hingga akhirnya merosot dan memeluk kakinya. Wajahnya terus dia sembunyikan di dalam antara kakinya, dia sangat ketakutan.
Sepertinya Arini mengingat saat dia mendapatkan perlakuan buruk dari Marta saat dia membuat kesalahan dengan kopi buatannya dulu.
"Arini minta maaf, Arini tidak akan ulangi lagi," ucapnya.
Arya berjongkok di depan Arini menyentuh tangannya dengan pelan, "hey.., ada apa dengan mu."
"Jangan, jangan lagi! Arini minta maaf Arini minta maaf,"
Arya diam sejenak, dia yakin kalau Arini mempunyai masa lalu yang sangat kelam kalau tidak dia tidak akan setakut ini.
"Arini, apa kamu baik-baik saja? aku tidak marah meskipun kopinya sangat pahit. Tapi kamu kenapa jadi seperti ini?" suara Arya terdengar sangat lembut sekarang, entah dapat pencerahan dari mana dia barusan.
"Arini minta maaf, Arini tidak akan ulangi lagi," Arini memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, dia perlahan tenang karena melihat Arya yang tersenyum.
Jika saja sedang tidak dalam keadaan seperti sekarang, mungkin Arini akan kembali berkomentar karena Arya bisa tersenyum juga.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arya.
"Hemm..., maaf. Arini tidak tau, Arini salah," ucapnya lagi.
"𝘒𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪-𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘮𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, " Batin Arya.
//////
Bersambung...
_________
__ADS_1