
..._______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Nadia begitu kesal, dia keluar dari perusahaan Arya juga dengan langkah yang cepat. Wajahnya terus mengeluarkan aura kemarahan yang sangat besar. Alih-alih mendapatkan perhatian dari Arya dia malah mendapatkan penghinaan darinya, dan lebih parahnya lagi dia di banding-bandingkan dengan gadis yang sama sekali tak selevel dengannya.
Semua mata tertuju padanya, wajah dari model yang sangat terkenal itu tentu sudah mereka kenal. Tak sedikit juga yang mengidolakannya, mereka senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan sang idola.
Dua staf berlarian mengejar Nadia yang jelas mereka juga menggenggam ponsel mereka untuk minta foto bersama.
"Mbak Nadia! " teriaknya memanggil.
Nadia menghentikan langkah, menoleh ke arah dua staf yang sudah semakin dekat dengannya. Yang jelas itu tak akan membuat dia senang apalagi tersenyum ramah, Nadia malah berdecak semakin kesal bahkan aura wajahnya terlihat semakin buruk.
"Mbak Nadia, minta foto bareng ya?! " ucapnya. Langkahnya sudah terhenti tepat di depan Nadia, belum juga mendapatkan persetujuannya dua staf itu sudah langsung mengambil posisi di dua sisinya, mengangkat ponsel dan mengambil gambar beberapa jepretan.
Meskipun Nadia tidak tersenyum sama sekali tapi sudah membuat mereka senang karena berhasil mendapatkan foto bersama dengan sang idola.
"Minggir minggir! Jangan dekat-dekat ngab aku dekat dengan kalian! " Ucapannya terdengar sangat kasar, bahkan tangan juga bergerak untuk mendorong kedua staf yang masih ada di sebelahnya.
Tak mereka sangka kalau ternyata idola mereka sangatlah kasar juga sangat sombong, bahkan tega mendorong penggemarnya dengan tak ada rasa takut sama sekali.
"Ingat ya, jangan pernah dekat-dekat dengan ku, kita tidak level. Saya juga takut, siapa tau kalian ini mempunyai penyakit menular. Ihh... jijay aku.. " ucap Nadia yang terlihat sangat tak suka dengan mereka berdua.
Menyesal sepertinya kedua staf itu mengidolakannya, perempuan di hadapan mereka itu tidak pantas di idolakan siapapun ternyata. Tak bisa menjadi contoh yang baik juga.
"Minggir minggir! " usir Nadia dengan begitu sadis, tangannya juga berkali-kali mengibaskan mengusir keduanya sebelum dia pergi dari sana. Setelah keduanya menjauh baru Nadia kembali berjalan dengan cepat.
Entah itu memang benar-benar sifatnya atau mungkin karena dia tengah mengalami tekanan karena mendapatkan penghinaan dari Arya.
"Ternyata kita salah mengidolakannya, lebih baik kita hapus saja lagi," sunggingan sinis keluar dari salah satu staf yang tadi, hingga benar menghapus kembali foto yang berhasil dia ambil.
"Iya, hehh..., buang-buang waktu saja kita." jawabnya. Keduanya kembali masuk, lebih baik bekerja dengan benar daripada mengurusi idola yang tak pantas diidolakan.
Luna terus berlari dia mengejar Nadia yang begitu cepat, Luna begitu kewalahan dia sudah tak lagi muda jadi langkahnya juga tak seperti Luna yang masih di masa-masa aktif.
"Astaga Nadia, kamu cepat banget sih jalannya. Tante kewalahan kan?" ucapnya sendiri, Luna kembali berlari dia tak ingin kehilangan Nadia dia harus bisa membuat Nadia tetap setuju untuk di jodohkan dengan Arya, masalah Arya dia yakin pasti akan bisa membujuknya.
__ADS_1
Sementara Nadia yang sudah sampai di pintu perusahaan hampir saja terjatuh karena tabrakan dengan Melisa yang masuk dengan membawa kopi yang dia beli dari kantin.
Mulut Nadia ternganga, dia juga kembali marah, matanya melotot melihat baju indahnya yang terkena kopi dari Melisa. Tatapan mata beralih kepada Melisa yang terdiam dan menyesal, dia sangat tidak sengaja melakukan itu.
"Maaf, Mbak! Saya benar-benar tidak sengaja," Melisa sangat memohon maaf tapi sepertinya tak akan mudah mendapatkan maaf itu dari Nadia yang sudah terlanjur marah.
"Akk, panas panas.." teriak Nadia keras,panas dari kopi juga membuatnya terasa ingin melepuhkan kulitnya. Tangannya terus bergerak mengipasi namun tetap saja masih terasa panas.
Matanya kembali melotot karena melihat gaun yang dia kenakan," bajuku...," pekik Nadia lagi, bajunya telah kotor karena kopi, "bisa jalan nggak sih! tuh lihat, gara-gara kamu aku kepanasan juga nih bajuku! " Nadia begitu marah.
"Maaf, Mbak! saya benar-benar tidak sengaja saya minta maaf," Melisa sangat menyesal dia terus mengucapkan maaf tapi Nadia tetap saja tak mau memaafkannya.
Begitu sial Nadia datang ke tempat itu, dia tak mendapatkan apapun tapi dia mendapatkan kesialan yang sangat bertubi-tubi.
"Astaga, Nadia! Apa yang terjadi,!? " Luna begitu terkejut dia melihat baju yang kotor karena kopi juga Nadia yang terus mengibaskan tangannya dengan mulut yang terus meniup-niupnya meskipun tidak sampai, "kamu tidak apa-apa kan, Nadia?" Luna sangat khawatir.
"Panas, Tante. Ini sangat panas sepertinya juga melepuh bagaimana dong, Tan?"
Tatapan Luna langsung menubruk Melisa dia tak terima itu pasti karena calon mantunya telah terluka seperti ini gara-gara nya.
"Maaf,Tante. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, saya janji," jawab Melisa yang sangat takut dengan ancaman Luna.
"Aku pegang janjimu, awas kalau sampai kamu berbohong,"
Melisa hanya mengangguk pelan dengan wajah menunduk karena benar-benar takut.
Tak mau berlama-lama lagi Nadia kembali berjalan pergi dia sudah tak tahan berada di sana, dia takut akan terkena masalah lagi nantinya.
/////////
Hari memang semakin siang tapi Fara masih saja santai-santai di atas ranjangnya. Hari ini dia mengambil cuti dari kerjanya jadi dia lebih baik bermalas-malasan saja dari pada keluar kamar yang ada hanya akan di suruh oleh Ratna dengan pekerjaan yang tak pernah biasa dia lakukan.
Tangannya terus memainkan ponselnya dia terus tersenyum melihat foto dirinya juga pria yang saling berciuman bibir.
"Sayang, aku mencintaimu," ucapnya di sambung dengan mencium foto yang ada di dalam ponselnya sendiri.
Fara benar-benar seperti orang gila, dia terus tersenyum hanya dengan memandangi foto yang ada di tangannya.
__ADS_1
Fara beralih tengkurap dan terus melihat foto-foto yang lainnya, foto kebersamaan mereka berdua selalu berpacaran.
Saking asyiknya Fara tak menyadari kalau pria yang dia rindukan itu ternyata masuk ke kamarnya dengan diam-diam. Nando terus melangkah menghampiri Fara, mulutmu berkecamuk melihat kaki jenjang Fara yang bermain-main di udara, bukan hanya itu saja melainkan paha Fara yang terekspos jelas karena dia masih memakai baju tidur yang begitu pendek.
Jiwa kejantanan Nando langsung bangun begitu saja melihat itu, bahkan lekukan tubuh Fara semakin menggairahkan juga bok*ng Fara yang lebih menonjol juga kedua kaki yang begitu lebar terbuka bagaimana Nando bisa menahan godaan itu.
Dengan diam tangan Nando mulai iseng menyingkap baju tidur Fara yang berupa daster tipis itu keatas alhasil hampir memperlihatkan gundukan yang begitu menggairahkan.
Tangannya seketika bergerak meraba-raba milik Fara dan membuat sang empu terperanjat kaget. Fara hampir berteriak namun Nando langsung membekap mulutnya dan menggeleng tidak memperbolehkan Fara berteriak sekarang.
Melihat siapa yang datang Fara bernafas lega dia pikir yang datang adalah orang jahat yang ingin melecehkannya.
"Kok kamu bisa ada di sini, Sayang. Apa Bapak dan Ibu tidak mengetahuinya?" tanya Fara lirih.
"Orang tuamu barusan pergi, makanya aku berani masuk ke sini," jawab Nando tangannya tetap bergerak merem*s kedua gundukan belakang milik Fara, bahkan perlahan mulai menjalar dan menelusuri bagian lembah madu yang selalu membuatnya bergairah.
Apa yang Nando lakukan sama sekali tidak mendapatkan penolakan dari Fara membuat tangan itu terus ganas dan benar-benar bermain di lembah madu yang begitu manis.
Nando tersenyum devil saat melihat ekspresi wajah Fara yang terlihat menikmati, mata Fara pun terlihat menyipit tak tahan dengan dorong tangan Nando yang terus menggerilya lembah miliknya. Fara bahkan semakin melebarkan kakinya supaya Nando lebih leluasa untuk memainkannya, padahal bungkus dari lembah itu belum juga terlepas dari tempatnya namun tangan Nando lebih pintar kan.
Erangan yang Fara keluarkan membuat Nando semakin bergairah, dia datang ke rumah Fara juga karena ini salah satunya, dia merindukan tubuh seksi kekasihnya yang akan memuaskannya.
"Sayang, aku menginginkannya," ucapnya, dan Fara hanya mengangguk mempersilahkan karena dia sendiri juga sudah tidak tahan dan menginginkan hal yang lebih dari Nando.
"Semua milikmu, Sayang," jawab Fara dengan sangat jelas.
Nando langsung mengambil aba-aba, dia harus maraton setelah dia juga sudah siap. Maraton untuk menjelajahi lembah yang sangat dalam yang tak akan pernah ada habisnya juga tak ada ujungnya.
Tak mereka sadari, di depan pintu kamar itu ada yang mendengar erangan demi erangan yang keluar dari keduanya.
"Astaghfirullah hal 'azim..., apa yang mereka berdua lakukan di dalam sana, apa mereka berbuat zina?" gumam bi Ani yang beberapa hari ini bekerja di sana.
///////
Bersambung...
_________
__ADS_1