
Happy Reading..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arya juga Arini masih berada di kamar yang berada di ruangan kerja Arya di dalam perusahaan Gautama. Arya masih terus memanjakan istrinya dengan membantu mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Sesekali Arya menghentikan pergerakan tangan membungkuk dan mengecup puncak kepala istrinya dengan begitu mesra bahkan sangat lembut membuat Arini semakin merasa bahagia juga sangat tersanjung dengan semua perlakuan manis yang ditunjukkan Arya kepadanya.
Masih merasa apa yang terjadi sekarang adalah sebuah mimpi belakang bagi Arini, tak pernah dia pikir sebelumnya kalau seorang yang begitu dingin juga angkuh akan berubah total menjadi pria yang sangat manis seperti saat ini.
"Terimakasih Mas," ucap Arini seraya melihat wajah suaminya dengan menoleh kecil juga sedikit mendongak.
"Sudahlah, jangan terus mengatakan terima kasih dengan apa yang memang seharusnya aku lakukan kepada istriku. Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar, dan aku akan selalu melakukannya selama ada waktu. Karena aku tahu tak akan mungkin selamanya aku bisa seperti ini mungkin besok aku akan disibukkan dengan pekerjaan. Tapi aku akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu."
Arini menanggapi dengan tersenyum,
"meskipun besok Mas akan selalu disibukkan dengan pekerjaan Apakah Mas akan melupakanku?" pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Arini.
"Bagaimana mungkin aku akan melupakan istriku. Pekerjaan memang sangat penting tapi istriku juga kebahagiaannya akan lebih penting dari semuanya. Bahkan akan lebih penting daripada hidupku sendiri," jawab Arya.
"Karena apa? karena istriku adalah yang nomor satu dari apapun juga. Bahkan aku akan rela mengorbankan semua yang aku punya demi kebahagiaan istriku," imbuh Arya.
Arini semakin yakin kalau Arya memang sangat mencintaimu dan tidak akan pernah rela membuatnya sedih apalagi akan mengecewakannya.
"Terima kasih Mas. Tapi tidak harus berlebihan seperti itu aku juga tidak mau Mas terlalu memanjakan ku. Aku tidak membutuhkan semua yang bersifat materi dari Mas, aku hanya membutuhkan cinta mu, Mas. Asalkan selalu bersama juga Mas tidak akan pernah berubah dan selalu seperti ini aku pasti akan selalu bahagia," jawab Arini.
"Itulah yang membuat aku semakin mencintaimu, Sayang," dikecupnya lagi puncak kepala Arini dengan sangat lembut. Arya sangat senang memiliki istri yang tidak matre.
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu dan langsung membuat Arya menjauhkan wajahnya dari puncak kepala Arini namun malah berpindah di sebelah wajahnya.
"Itu pasti Toni, tunggu sebentar biar aku lihat," Arya meninggalkan kecupan di pipi sebelum dia benar-benar keluar meninggal Arini untuk memastikan siapa yang datang.
"Iya," jawab Arini dengan pelan sembari mengangguk kecil.
Arya benar-benar keluar dari kamar itu dan cepat melihat siapa yang datang. Belum juga melihat itu siapa wajah Arya sudah berubah menjadi serius sepertinya dia tengah kesal.
__ADS_1
Dibukanya pintu olehnya, dan benar saja yang datang adalah Toni dengan membawa pesanan darinya yaitu makanan untuk makan siang Arya juga istrinya.
"Kenapa lama sekali, apakah kamu memang berniat untuk membuat istriku kelaparan. Dasar lambat!" lagi-lagi Arya memarahi Toni yang terlambat datang.
"Ma-maaf Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu," Toni menunduk, dia takut itu pasti bahkan suaranya terdengar sangat gemetar. Entah siapa yang salah Toni yang terlambat sebentar atau Arya yang memberi perintah kepadanya dengan sesuka hati.
Padahal Toni sudah melakukan yang terbaik tapi tetap saja dia akan salah dimata bosnya, bosnya memang akan selalu sensi kepadanya apalagi jika mengenai tentang Arini yang baru beberapa hari menjadi istrinya.
"Pergi sana, selesaikan pekerjaanmu. Dan ya, jangan lupa cari wanita aku tidak mau kamu jadi perjaka tua," oceh Arya sekenanya.
Toni hanya bisa menelan ludah dengan susah. apa tadi katanya? mencari wanita? mentang-mentang Arya sudah menikah lalu dia mengatakan itu kepada Toni, sungguh terlalu emang.
Lagian, bagaimana mungkin Toni bisa serius mencari wanita jika saat dia hendak melakukannya Arya akan memanggilnya dan saat itu juga dia harus datang. Lalu kapan waktunya?
"I-iya," mengiyakan kata-kata Arya akan lebih baik Kalau tidak mungkin dia akan kembali terkena marah lagi atau mungkin akan lebih buruk akibatnya.
Arya langsung menutup pintu saat itu juga padahal Toni masih berada di sana. Toni hanya bisa menggeleng kasar melihat tingkah bosnya yang yang sudah sangat bucin dengan istrinya.
"Bos bos, kau sungguh luar biasa," ucapnya.
Toni cepat pergi dari sana. Mungkin dia akan memikirkan untuk mencari wanita seperti yang Arya katakan barusan, tapi entahlah kapan dan darimana dia akan memulainya.
"Assalamu'alaikum..." bahkan ucapannya juga sangat lembut tisu sama saat di hadapan Toni tadi.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Arini.
Arini melihat tangan Arya yang membawa kotak makan. Arini langsung beranjak dan menghampiri suaminya.
"Itu apa Mas?" tanya Arini dengan wajah yang sangat berbinar.
"Ini makan siang untuk kita sayang," jawab Arya dan langsung menarik tangan Arini dan dituntunnya untuk duduk ke sofa
Arini langsung mengikutinya, dia juga duduk di sebelah Arya melihat tangan Arya yang seketika sibuk membuka satu persatu kotak yang tadi ada di tangannya.
Seketika perut Arini langsung keroncongan setelah melihat menu makanan yang ada di dalamnya. Selera makan juga langsung meningkat karena memang juga sudah waktunya untuk makan siang bahkan sebenarnya waktu makan siang sudah terlambat.
"Terus itu apa?" tanya Arini yang melihat cup berwarna putih dan tertutup rapat.
__ADS_1
"Ini?" tangan Arya langsung mengambil cup itu, menyodorkannya langsung ke depan Arini.
Tangannya juga langsung membukanya dan terlihat jelas apa isinya, "ini es krim cokelat, kesukaanmu," jawab Arya.
Arini begitu bahagia bisa mendapatkan es krim kesukaannya. Tak perlu makanan mewah atau mahal hanya dengan makanan sederhana di tambah es krim cokelat saja sudah membuat Arini sangat senang.
"Terima Mas," Tangan Arini langsung mengambil alih es krim dari tangan Arya. Lidahnya langsung menyapu bersih bibirnya, dia sudah tak sabar untuk menikmatinya.
"Hanya terima kasih saja nih, nggak ada yang lain?" tanya Arya dengan penuh harap mendapatkan hal lebih tidak hanya sekedar kata terima kasih saja.
"Memang Mas maunya apa?" tanya Arini dengan wajah polosnya.
"Apa ya? Hem... ini saja boleh," jari telunjuk Arya menepuk pelan pipinya sebelah kanan, dan itu artinya meminta Arini untuk menciumnya.
"Pipi? Mas menginginkan pipi Arini?" dan lagi, tak nyambung lagi si Arini.
"Pipi Arini saja masih kempes, bagaimana juga mau di minta? bukannya pipi Mas lebih berisi daripada milik Arini ya, kok masih kurang" imbuhnya lagi.
"Bukan itu maksudnya Arini sayang. Tapi muach," bibir Arya monyong untuk mempraktekkan nya.
Arini juga ikut monyong-monyong dia belum mengerti apa yang di inginkan oleh suaminya.
"Ini apa?" tanyanya.
"Muach... begini maksudnya sayang ku," Arya mencium pipi Arini lebih dulu untuk mempraktekkannya.
"Oh cium, kenapa nggak bilang. Mas jangan kayak kak Dimas dong. Kalau ngomong jangan belok-belok Arini kan nggak tau. Arini kan tidak pintar seperti kalian," ucapnya begitu polos.
"I-iya, maaf sayang." Arya hanya tersenyum kecut. Dia melupakan kalau istrinya itu selalu kumat-kumatan dan tak selalu pandai.
Arya terdiam, dia pasrah.
Muach
"Maaf ya, jika aku terlalu bodoh."
"Kamu tidak bodoh sayang. Kamu hanya belum tau. Aku juga yang salah karena tidak jelas, maaf," jawab Arya.
__ADS_1
Bersambung....