Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
261.Kebahagian Toni


__ADS_3

Happy Reading...


__________


"Astaga nih orang kenapa ke sini lagi sih! apa dia tidak ada kerjaan?!" ngomel Raisa saat keluar dari kontrakan dan melihat Dimas sudah ada di depan kontrakan itu. Tangannya perlahan menutup pintu tetapi badan dan wajahnya sudah menghadap ke arah Dimas. Dimas yang gini kembali berdiri tegak setelah barusan menyandarkan punggung di mobilnya.


Dimas tersenyum begitu bahagia saat melihat Raisa keluar dari kontrakan dengan keadaan yang sudah rapi dan siap untuk berangkat kerja. Dimas tidak berjalan mendekat tetapi dia terlihat menyambut Raisa yang semakin mendekat.


"Tuan tidak punya kerjaan, kenapa pagi-pagi sudah datang ke sini?" tanya Raisa dengan sedikit judes.


Dimas hanya tersenyum menanggapi, dia sudah tidak terkejut lagi dengan ceplas-ceplosnya dari wanita yang ada di hadapannya ini, bahkan dia sudah sangat terbiasa.


"Kok malah senyum-senyum apa ada yang lucu?" Raisa semakin kesal melihat Dimas yang seperti itu tetapi pria itu malah semakin melebarkan senyumnya karena sangat senang bisa membuat Raisa terlihat sangat kesal.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Dimas membuat Raisa begitu bingung.


Berangkat ke mana coba, Dimas tidak mengatakan mau ke mana dan langsung mengatakan berangkat gitu saja.


"Kemana?" Raisa masih saja tidak ada halus-halusnya seperti wanita pada umumnya, padahal dia sudah seringkali dibuat tersipu oleh Dimas bahkan oleh perbuatannya sendiri saat di dekat Dimas.


"Bukannya mau berangkat kerja?" tanya Dimas.


Astaga, padahal Raisa sudah berpikir macam-macam. Dia pikir Dimas mau mengajak kemana gitu. Apakah mungkin Raisa yang terlalu berharap.


"Oh," jawab Raisa singkat.


"Kenapa, apakah kamu mengharapkan aku mengajakmu ke suatu tempat? contohnya ke KUA mungkin?" Dimas mengedipkan matanya genit ternyata sudah pintar menggoda si Dimas.


"Jangan aneh-aneh deh! siapa juga yang mau ke KUA. Aku mau kerja!" begitu sinis Raisa menjawab tapi itu malah terlihat lucu pada Dimas hingga membuatnya tersenyum.


"Padahal kalau mau aku juga bersedia loh!" Dimas semakin terkekeh.


"Ogah!" tolak Raisa mentah-mentah.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kita berangkat kerja dulu sembari kita pikirkan dan kita bicarakan kapan kita akan pergi ke KUA." Dimas langsung membuka pintu mobil dan meminta Raisa untuk segera masuk.


Meski dengan sedikit kesal tetapi Raisa tetap masuk ke dalam mobil Dimas dia tidak mau ada perdebatan di pagi hari ini seperti biasanya, lebih baik pasrah dan ikut saja lagian dia juga sangat malas untuk berbicara banyak.


Dimas merasa sangat senang karena Raisa yang kini begitu nurut kepadanya. Seandainya Raisa bisa seperti ini terus mungkin dia akan lebih mudah mengajak Raisa kemanapun dia mau.


Sementara di desa, di kediaman pak Karna Toni masih duduk di ruang tengah bersama pak Karna dan Bu sulasmi. Mereka bertiga tengah menunggu Nisa yang belum juga keluar dari kamar.


Toni sangat gelisah, dia duduk dengan tidak tenang bahkan kaki dan tangannya terus bergerak, membuat Pak Karna tersenyum melihat itu karena itu terlihat sangat lucu. Pak Karna juga pernah muda jadi dia bisa memahami apa yang Toni alami sekarang ini.


^^^"Kenapa lama sekali. Apakah Nisa menolak ku? Apakah dia tidak mau keluar karena tidak sampai mengatakan kalau dia tidak mau menerimaku? Astaga, sabar Toni, sabar. Kamu harus bisa lebih tenang." batin Toni. ^^^


Toni terus menunduk entah apa yang di rapalkan dari hatinya. Tetapi dia ingin sekali membuat hatinya lebih tenang dari sebelumnya.


Ketika Toni menunduk Nisa keluar, gadis itu terlihat sangat cantik dengan gamis berwarna peach dan juga hijab pashmina yang berwarna senada.


"Sini, Nduk," pinta Bu Sulasmi.


Toni begitu terpana melihat gadis itu pagi ini yang terlihat sangat berbeda. Dia terlihat sangat cantik. Entah karena Toni benar-benar sudah mencintainya atau mungkin memang Nisa yang sudah cantik.


Sementara Nisa dia terus menunduk. Dia sangat malu untuk memandangi Toni yang terus menatapnya tak berkedip.


"Bagaimana, Nduk. Apa jawaban yang akan kamu berikan untuk Nak Toni. Sebentar lagi dia akan pulang, dan kamu harus memberikan jawabannya." Pak Karna mengelus punggung anak gadisnya itu, menoleh dan berbicara dengan sangat lembut.


Toni semakin was-was. Jantungnya berdegup tak menentu dan semakin cepat.


"Nisa," Nisa terdiam lagi.


Mereka yang ada di sana terus diam menunggu. Menunggu bibir mungil itu akan berbicara dan memberi jawabannya.


"Hem?" bu Sulasmi juga sudah tidak sabar. Dia sudah sangat menyukai Toni, tapi dia juga tak bisa memaksa apa yang akan menjadi keputusan Nisa.


"Nisa..." Nisa mengangguk pelan, dia menerima lamaran Toni.

__ADS_1


"Alhamdulillah," seru pak Karna dan Bu Sulasmi bersamaan.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah," Toni tersenyum begitu bahagia. Tujuannya dan ke desa dan menyambangi kediaman pak Karna kini membuahkan hasil. Nisa menerima lamarannya.


Berkali-kali Toni mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya, senyumnya begitu girang dengan mata yang begitu cerah.


Sekali dia melirik ke arah Nisa dan pas bersamaan Nisa juga melihatnya. Keduanya menjadi canggung, mereka malu dan sama-sama tersenyum tipis.


"Kapan kamu akan membawa orang tuamu untuk datang, Nak?" Tanya Pak Karna.


"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Saya hanya sebatang kara, saya tidak memiliki keluarga. Mungkin nanti saya akan meminta Tuan Arya yang akan mewakilinya. Beliau sudah seperti kakak untuk saya." jawab Toni.


Mereka sedikit terkejut dengan kebenaran Toni tapi itu gak masalah untuk mereka.


"Baiklah. Secepatnya datanglah. Seandainya bapak boleh minta, pernikahannya di percepat saja sebelum Nisa kembali ke kota. Saya suka takut kalau Nisa di kota tidak ada siapapun yang menemaninya."


"Kalau kalian sudah menikah saya akan lebih tenang di sini karena Nisa sudah ada Nak Toni yang akan menjaganya." pinta pak Karna.


"Pak, jangan di paksakan. Kasihan Nak Toni, dia juga membutuhkan persiapan, Pak." tegur Bu Sulasmi.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya malah senang. Jika itu yang bapak inginkan saya akan usahakan. Saya akan datang lagi secepatnya. Dan saya pastikan Nisa akan kembali ke kota setelah menjadi istri saya." jawab Toni yakin.


Nisa semakin malu, pipinya sudah merona merah saat ini.


"Alhamdulillah, bapak bisa tenang kalau begitu."


Kebahagiaan benar-benar Toni rasakan saat ini, dia gak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan sekarang setelah dia merasakannya dia akan langsung memiliki gadis itu.


Sungguh, tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari cinta Toni yang terbalas dan di permudah oleh Sang Pembuat Takdir.


*******


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2