Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
294. Ubi Bakar


__ADS_3

Happy Reading....


◦•●◉✿""✿◉●•◦


Hari-hari terasa begitu cepat berlalu. Kebahagiaan juga semakin melimpah di rasakan Arya juga Arini yang masih menikmati masa-masa kehamilan yang begitu membuatnya berubah bahkan seperti bertukar kepribadian antara Arini juga Arya.


Arya semakin sabar, lemah lembut juga pengertian pada Arini. Sementara Arini? Dia selalu jutek juga mudah kesal. Tetapi semua itu hanya pada Arya saja tidak dengan orang lain. Mungkin hanya Dimas saja yang juga selalu terkena imbas dari perubahannya.


"Adek sayang!" Teriak Dimas saat masuk ke rumah Arya, lebih tepatnya dia bertamu.


Bukan hanya Dimas saja yang datang, tetapi Raisa juga yang ada di disisinya.


"Mas, jangan teriak-teriak dong." Tegur Raisa.


Mendapatkan teguran Dimas hanya meringis saja seraya menoleh ke arah sang istri yang menggeleng karena melihat kelakuan sang suami.


"Dek!" Teriaknya lagi.


"Mas, jangan teriak-teriak. Bukan rumah sendiri loh!" Semakin tak habis pikir Raisa sekarang. Padahal kalau udah ketemu pasti mereka hanya akan berdebat saja tapi itulah mereka berdua.


"Apa sih, Kak. Berisik amat sih! Gangguin orang istirahat." Arini datang dari arah kamarnya langsung menghampiri Dimas juga Raisa yang sudah duduk di sofa.


Bukan hanya Arini saja yang nongol. Tapi Arya juga sama, dia keluar lalu membuntuti Arini.


Arini juga Arya saling terperangah saat melihat apa yang di bawa oleh Dimas. Berbagai macam ubi. Semua itu adalah keinginan dari Arini, adiknya itu mengatakan ingin makan ubi jalar yang berwarna ungu, tetapi Dimas membawakan semua macam ubi jalar.


"Kak, kenapa banyak sekali, Arini kan hanya minta satu macam saja." Arini duduk di hadapan Dimas dengan tak percaya.


"Maunya juga begitu, Dek. Tetapi kakak bingung mau pilih yang mana jadinya ya udah beli semuanya." Ucapnya begitu enteng.

__ADS_1


"Iya deh, nggak apa-apa. Terimakasih ya, Kak," Ucapan terimakasih harus tetap di katakan kan meski Dimas salah kaprah. Sebenarnya bukan salah kaprah tapi dia terlalu semangat saja.


Dimas mengangguk, dia sangat senang karena Arini menerimanya.


Semakin hari permintaan Arini memang selalu aneh-aneh tetapi apa yang dia minta bukan makanan yang mahal ataupun yang enak-enak tetapi dia lebih meminta makanan yang alami ya contohnya sekarang dia yang minta ubi.


Kemarin minta jagung dan harus metik sendiri di kebunnya dan sekarang ubi, entah apa lagi besok.


Sebenarnya Arini mintanya sama Arya, tetapi anehnya Arini juga tidak mau di tinggal pergi oleh Arya jadi sang suami meminta bantuan pada Dimas. Dia juga tidak bisa meminta bantuan kepada Toni karena pekerjaan yang menumpuk Toni juga tengah masa-masa pengantin baru jadi Arya menghormati itu.


Dimas juga masa-masa pengantin baru, tetapi dia adalah kakaknya sendiri jadi tak masalah kan?


"Dek, setelah ini mau minta apa lagi? Kalau ada keinginan tak apalah minta bantuan kakak." Dimas meringis sepertinya dia sangat senang dengan itu.


"Apa ya, belum sih. Besok kalau mau lagi Arini akan minta sama kakak." Jawab Arini dengan sangat yakin.


"Mbak Suka-suka! Tolong dong ini ubinya di bakar!" pinta Arini.


Susi sudah lari tergopoh-gopoh dan sampai di ruangan itu.


"Tolong ya, Mbak Suka-suka." Pintanya lagi.


"Di rebus atau di kukus, Nyonya cantik?" Tanya Susi yang ternyata dia tak mendengarnya tadi.


"Di bakar, Mbak Suka-suka."


"Di_di bakar?" Susi pun melongo. Dia belum pernah makan ataupun mengolah ubi bakar. Bagaimana caranya juga bagaimana rasanya. Enak atau pahit ya?


"Iya di bakar!" Arini semakin jelas mengatakan.

__ADS_1


Susi pun menurut dan melakukan apa yang Arini lakukan. Susi pun pergi ke dapur bergegas untuk mengolah sesuai yang Arini minta.


"Sayang, kamu sudah pernah makan ubi bakar?" Tanya Arya penasaran.


Arini menggeleng, membuat ketiga orang yang ada di sana semakin bingung.


"Belum pernah, maka dari itu Arini sangat penasaran akan rasanya. Kalau Arini tidak mencicipi rasanya akan sangat penasaran kan sampai kapanpun." Jawab Arini enteng.


Mereka berempat terus ngobrol dengan di temani teh juga beberapa camilan yang tadi sempat di bawa oleh Susi dan tak lama setelah itu Susi kembali lagi dengan piring yang ada di tangannya.


Sebuah ubi bakar sudah siap untuk cepat disantap oleh sang peminat nya. Siapa lagi kalau bukan Arini.


Begitu berbunga-bunga hati Arini ketika melihat ubi bakar yang Susi bawa. Arini terlihat tak sabar dan ingin cepat menikmatinya.


"Ini, Nyonya cantik."


"Makasih mbak Suka-suka!" Begitu heboh Arini saat menerimanya. Bahkan matanya tak berkedip melihat apa yang ada di atas piring yang sudah ada di tangannya.


Semua hanya melihat apa yang Arini lakukan dan akhirnya...


"Kalian mau?" Arini menyodorkan kepada a semua, menawarkan kepada mereka. Mungkin ada yang mau mencicipinya.


"Kak Raisa aja deh. Dari berita yang pernah Arini dengar, kalau wanita yang sudah menikah dan makan makanan yang menjadi keinginan wanita hamil dia akan cepat tertular. Jadi kak Raisa icip gih, siapa tau nanti bisa cepet nyusul juga." Wajah Arini begitu berbinar.


"I_iya," Raisa gugup. Bagaimana mungkin dia akan cepat nyusul kalau dirinya sendiri belum pernah berhubungan dengan Dimas.


"Coba aja, Yang. Siapa tau apa yang Arini katakan benar." Dimas mengelus punggung Raisa. Meski ragu dia tetap menerima uluran ubi dari tangan Arini dan membuat sang adik ipar tersenyum bahagia.


#########

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2