
Happy Reading...
__________
Hati yang begitu membahagiakan bagi Arya, dengan bertambah satu tahun usianya kini dia menjadi lebih baik dan tentunya dia juga begitu bahagia karena mendapatkan sebuah kejutan yang sangat sederhana tapi akan selalu menjadi memori terindahnya untuk masa depan.
Tak seperti biasanya Arya yang hanya bangun tidur langsung sibuk dengan pekerjaannya kini dia dengan sengaja bangun pagi-pagi setelah mendengarkan alarm yang dia pasang sebelum tidur.
Jam 04:30, waktu itulah Arya memasang alarm dan dia benar-benar bangun di waktu yang sudah dia tentukan sendiri.
Dengan nyawa yang belum genap dan mata yang masih sangat mengantuk tapi Arya tetap bangun dan bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri, dan kini dia mengambil Air wudhu untuk belajar menjalankan shalat subuh.
Ketulusan Arini berhasil mengubah Arya menjadi pribadi yang lebih baik, dia juga sudah melupakan kegiatan terdahulu yang selalu bersenang-senang dengan wanita bayaran dan juga minuman-minuman haram.
Meski masih belajar dan masih terbata-bata dalam semua bacaannya tapi Arya tak menyerah, dia tetap berjuang untuk bisa.
Senyum Arya begitu cerah setelah berhasil menyelesaikan dua rakaatnya. Berdiri dengan cepat sembari mengambil sajadah yang sudah lama tak terpakai itu lalu melipat dan menaruhnya di atas meja.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum..."
Seruan salam terdengar oleh Arya, suaranya sangat dia kenal. Dengan begitu antusias Arya melangkah mendekati pintu lalu membukanya. Dan ternyata benar telinganya memang tak pernah salah begitu juga dengan perkiraannya.
"Wa-wa'aikumsalam..." Arya terlihat berbeda kali ini tak seperti biasanya yang selalu terlihat gagah berani tapi sekarang nyalinya menciut di hadapan gadis memakai gamis biru muda dengan hijab pasmina berwarna biru bermotif bunga-bunga. Dia adalah Arini, siapa lagi kan.
Tidur yang hanya satu jam saja tapi tak membuat Arini mengantuk sama sekali bahkan matanya juga cerah dan tidak memerah sama sekali.
"Arini, ke-kenapa..., pagi-pagi begini...?"
"Arini mau pamit keluar sebentar, Pak Tuan. Arini mau lihat-lihat daerah sini kayaknya enak pagi-pagi gini menjemput bang surya," ucap Arini.
"Ba-bang Surya!" pekik Arya, matanya langsung melotot ke arah Arini yang mengangguk.
"Kamu selingkuh sama pria lain! Dia orang sini?... Tidak boleh, kamu tidak boleh bertemu sama Surya Surya itu. Kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan pria lain, jangan pernah berpikir untuk selingkuh dariku karena aku tidak akan biarkan itu terjadi," Arya sudah kesal.
Bukan hanya Arya yang melotot matanya tapi Arini juga. Dia lebih terkejut dengan apa yang Arya katakan.
"Apa yang pak Tuan katakan? Arini hanya mau menjemput bang Surya, Pak Tuan. Surya matahari. Dan ya, apa tadi? Arini selingkuh dari Pak Tuan? Emang aku dan pak Tuan suami istri, tidak kan? Jangan ngadi-ngadi deh ya." ucap Arini.
"Oh Surya matahari, kirain bang Surya yang jualan cilok," Arya tertunduk, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
__ADS_1
"Bentar-bentar, hem..., pak Tuan pagi ini sedikit berbeda."
Mata Arini melirik, melihat bagaimana penampilan Arya saat ini. Meskipun tidak dengan koko juga memakai kopyah tapi kali ini Arya masih memakai kemeja putih juga memakai sarung kotak-kotak kecil berwarna dasar hitam.
Arya kembali menggaruk tengkuknya melihat sendiri bagaimana penampilannya sekarang. Memang akan sangat terlihat sih.
"Apanya yang berbeda?" tanya Arya, matanya tak berani memandangi Arini dan malah berkelana kemana-mana melihat setiap sudut ruangan.
"Hehehe..., tidak kok. Tidak ada," Arini tersenyum, tak mau mengatakan jujur kalau kali ini jantung Arini dibuat bergetar melihat penampilan Arya. Sungguh, sudah seperti laki-laki yang taat.
"Ya, sudah. Arini udah pamit sekarang Arini pergi ya pak Tuan. Keburu ilang bang Surya nya." Arini cepat membalikkan badan dia begitu antusias pergi, dia juga berlari.
Arya masih terdiam, dia seperti orang bodoh sekarang dan hanya diam memandangi kepergian Arini. Dilihat bahwa Arini menoleh dia tersenyum seketika ujung bibir Arya juga tertarik membalas.
"Pak Tuan, Pak Tuan terlihat tampan." Begitu lirih suara pujian yang Arini ucapkan tapi tetap saja di dengar oleh Arya.
Seperti seorang gadis kini Arya tersipu, dia terpaku dalam perasaan malu juga gugup. Astaga..., gadis itu benar-benar bisa membuat Tuan Arya kehilangan akal.
Arya tersenyum, dia begitu terbuai dengan pujian yang Arini berikan padanya. Jantungnya terus berdebar bahkan hatinya juga bergetar tidak karuan.
"Aku harus minta obat jantung pada Dimas kalau seperti ini terus. Lama-lama aku bisa jantungan kalau Arini selalu memujiku. Astaga Arini...," ucap Arya.
Begitu terbuai Arya karena Arini hingga dia tak sadar kalau Arini sudah pergi dan seorang diri. Padahal dia sendiri yang bilang kalau Arini tak boleh pergi sendiri keluar dari villa.
"Astaga..."
Arya bergegas masuk lagi, dia harus mengganti penampilannya dengan yang seperti biasa kalau tidak dia pasti akan di tertawakan.
Nadia terlihat uring-uringan karena dia merasa tak bisa mendapatkan perhatian dari Arya. Dia sudah bersikap baik dan berbicara dengan lemah lembut juga memberikan perhatian penuh kepada keluarga Arya juga Arya sendiri tapi tetap saja dia belum berhasil.
Nadia juga selalu berdandan dengan cantik, menyewa perias mahal untuk selalu bisa membuat penampilannya sempurna tapi sama sekali Arya tidak melirik ke arahnya kecuali karena terpaksa.
Sungguh pusing rasanya Nadia karena usahanya selalu saja tak ada hasil.
__ADS_1
Nadia berdiri dari kasurnya, melangkah menuju arah jendela. Matanya langsung melihat Arini yang berjalan seorang diri dan akan keluar dari villa.
"Gadis itu? Dia mau kemana pagi-pagi begini. Dan...? Dia di tinggal di kamar mana dari kemarin?" Nadia bahkan tidak tau kalau ternyata Arini tinggal bersama dengan Arya di satu rumah.
Arini yang benar-benar keluar dari villa seorang diri membuat Nadia menyeringai. Otaknya langsung bekerja untuk melakukan hal yang tak baik kepada Arini.
"Ini adalah kesempatanku. Tak akan ada yang bisa mengambil Arya dariku. Tak ada yang boleh mengambil perhatian Arya kecuali diriku."
Nadia cepat mengganti bajunya.
Tak butuh lama untuk dia mengganti baju tidur dengan celana juga kaus pas untuk dia olahraga, memakai sepatu juga menyambar handuk kecil berwarna putih. Jika ada orang yang bertanya padanya maka dia akan menjawab kalau dia akan lari pagi, bagus bukan.
Nadia benar-benar keluar dari kamar dia berlari untuk segera mengejar Arini.
"Aku harus memberinya pelajaran. Dia tidak boleh berkeliaran bebas seperti saat ini." gumamnya.
Arini tidak tau kalau dirinya diikuti oleh Nadia, begitu juga Nadia! Dia juga tidak tau kalau dia diikuti oleh Melisa yang juga memakai baju yang sama.
/////
Bersambung...
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_