
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦
______
Kebencian Melisa tak akan ada habisnya, apalagi dia sering sekali melihat Arini bersama dengan Arya ya meski Arini hanya berjalan di belakangnya saja selayaknya pembantu tapi itu cukup membuat hati Melisa meradang.
Apa yang dia gunakan untuk ancaman ternyata tak membuat Arini menjauh dari Arya bahkan sampai sekarang mereka terlihat lebih dekat. Melisa semakin iri, kenapa bukan dia saja yang menjadi OB menggantikan Arini. Dia akan siap dan akan merelakan karirnya asalkan dia bisa selalu bersama Arya, tapi...? ternyata itu sangat mustahil untuknya.
Melisa hanya diam mengamati Arya juga Arini yang makan siang di kantin saja. Tak biasanya Melisa akan menginjakkan kaki di sana tapi saat dia tau Arya dan Arini datang dia ikutan datang juga. Padahal makanan di kantin itu tidak selevel dengan lidahnya tapi tak apa semua itu demi bisa memata-matai mereka berdua.
"Sialan, Arini sungguh melupakan ancaman ku. Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan padamu, Arini." gumam Melisa.
Matanya sudah begitu tajam menatap gadis berhijab yang duduk di depan Arya dengan satu lingkar meja itu. Gadis itu terus menunduk tak menanggapi Arya bahkan mereka juga masih diam belum mengobrol apapun tapi semua itu tetap saja mengocok hati Melisa yang tenang.
"Ihh..., awas kamu Arini, kamu pasti akan menyesal nantinya," gumamnya lagi.
"Jika aku tak bisa mendapatkan tuan Arya maka kamu pun juga tidak akan bisa mendapatkannya, ini adalah janjiku," sungguh geram rasanya si Melisa dia ingin sekali bisa menyingkirkan Arini tapi kenapa rasanya sangat susah.
Melisa hanya terus mengaduk-aduk makanannya sendiri dia tak ada fokus sama sekali dan tak ada niat untuk memakannya, hatinya tengah di selimuti akan kebencian yang begitu dalam dengan Arini yang dia tau ternyata hanya anak yang di pungut dan di besarkan oleh keluarganya.
Seharusnya tidak usah di rawat atau di tolong jika akhirnya akan menjadi seperti sekarang, Melisa sangat menyesalkan semua kejadian itu.
"Seharusnya kamu mati saat itu juga Arini, daripada sekarang kamu membuat masalah dalam hidupku. Merebut semua yang menjadi impianku. Aku membencimu Arini, aku membencimu."
Melisa menggenggam sendok dengan sangat erat, seakan dia ingin menghancurkan Arini saat itu juga.
Sementara di meja yang berbeda dengan jarak yang tak begitu jauh Arya juga Arini tengah makan siang bersama. Karena tak ingin Arini kembali makan siang lagi dengan Dimas. Bahkan sekarang Arya menyampingkan gengsinya dan makan sederhana di kantin.
Sungguh tak seperti Arya, ini bukan kebiasaan Arya yang biasa makan di tempat mewah dengan makanan yang enak juga banyak, tapi kali ini dia hanya makan sekedarnya saja dan tidak terlalu banyak yang dia pesan. Bukan hanya itu saja tapi Arya rela makan di tempat yang sekalipun belum pernah dia datangi untuk makan.
Arya terus menatap Arini yang makannya hanya sedikit saja, pantas dia tak gemuk-gemuk karena makannya juga sangat sedikit.
"Apa kamu tidak bisa makan lebih banyak lagi dari porsi biasanya? seenggaknya kamu tambah satu atau dua sendok nasi untuk makan mu. Masak gadis usia delapan belas tahun hanya tiga puluh enam kilo beratnya," ucap Arya memecah keheningan.
__ADS_1
"Kamu juga harus makan yang bergizi supaya kamu sehat juga cepat pandai," imbuhnya.
Arini yang sudah terbiasa makan sedikit mana bisa menambah lagi. Perutnya tak akan mampu untuk menampung tambahannya.
Gemuk atau kurus tidak masalah untuk Arini yang terpenting kan kesehatannya. Tubuhnya yang kurus juga bukan berarti dia tak bisa melakukan apapun kan?
"Sepertinya kamu juga kekurangan gizi," ucap Arya lagi.
Mungkin memang benar Arini kekurangan gizi, dia juga tak pernah makan-makan enak sama seperti Arya. Bisa makan saja sudah alhamdulilah saat itu bagaimana bisa memikirkan tentang memenuhi gizi untuk tubuhnya.
"Emangnya kamu makan apa saja sih selama ini, atau kamu tidak makan? " tanya Arya.
Jika menceritakan masa lalunya tidak akan ada habisnya, bahkan Arya pasti akan sangat kasihan maka dari itu lebih baik Arini menutup mulutnya dan tidak menceritakan semuanya.
"Hemm..., apakah kamu tidak bisa bicara? dari tadi hanya aku yang bicara dan kamu hanya diam tak mengatakan sepatah katapun untuk menjawab. Aku bukan orang gila! ngerti nggak sih!! " kesal rasa hati Arya.
Dari tadi dia ngoceh tiada henti tapi gadis di hadapannya itu sana sekali tidak menanggapinya dan malah terus asyik dengan makanannya.
Arini juga makan seperti orang kelaparan meski porsinya sedikit, dia begitu cepat bahkan nasinya sampai belepotan kemana-mana.
"Sudah besar tapi masih saja seperti bocah. Benar-benar jorok! " Arya mengambil tisu lalu mengusapkan ke ujung bibirnya.
Arini terkesiap, dia begitu terkejut dengan apa yang Arya lakukan dengan tiba-tiba.
"Pak tuan ngapain," Arini memundurkan wajahnya sedikit menjauh tapi membuat Arya semakin kesal saja.
Karena apa yang ingin Arya hilangkan belum juga hilang Arya menaruh tisu itu di depan Arini. Dia tak mau lagi melakukan itu.
"Tuh, bersihin sendiri! Aku bukan ibumu," kesal Arya.
Dengan cepat Arya kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya, wajahnya terlihat sangat kesal dan tak bersahabat.
Mendengar kata Ibu membuat Arini termenung, seandainya Arini benar-benar hidup dengan ibunya mungkin dia bisa mendapatkan kasih sayang yang melimpah, merasakan di perhatikan, selalu di manja, dan juga selalu bisa tidur di pangkuannya. Tapi semua itu tidak bisa Arini rasakan.
__ADS_1
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪? " batin Arini.
Tak ada pergerakan membuat Arya kembali melirik dan gadis di hadapannya itu ternyata sedang melamun entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Kenapa kamu? " tanya Arya dengan ketus.
Arini diam tak menjawab, sepertinya suara Arya tidak bisa sampai di telinganya, atau mungkin dia sama sekali tak mau menerima pertanyaan apapun dari siapapun termasuk Arya.
𝘛𝘦𝘯𝘨...
Sengaja Arya memukul piring Arini dengan sendok. Membuat Arini tersadar dengan cepat.
"Pak tuan butuh sesuatu? " tanya Arini dengan polos.
Seperti tak ada sesuatu yang terjadi dan Arini hanya biasa-biasa saja. Bertanya dengan datar juga dengan wajah imutnya.
Melihat Arini yang seperti itu membuat Arya ingin sekali mengecup dan menikmati bibirnya yang kecil dan tak begitu memerah itu. Meski tidak begitu merona tapi akhirnya bisa membuat Arya di buat penasaran akan rasanya.
Tatapan Arya begitu sangat ingin jika dia tidak takut Arini akan membencinya dan juga menjauhinya maka dia akan menarik paksa si Arini dan akan dia buat naik ke atas ranjangnya.
Padahal memang itu sebenarnya, dia berbuat lembut seperti sekarang karena dia ingin Arini tidak takut padanya dan akan terbiasa dan akhirnya akan membuat Arini jatuh cinta hingga dia bisa mendapatkan apa yang dia ingin dari Arini dengan mudah.
"Pak tuan, jangan menatapku seperti itu. Mata pak tuan sangat menakutkan," Arini memalingkan wajahnya dia malu karena di tatap oleh Arya.
Tidak Arini tau kalau ada maksud terselubuk di tatapan Arya. Dia menginginkan Arini sekarang.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘮𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? " 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢.
Karena setelah kejadian penolakan Arini dulu, junior Arya bahkan tidak mau terbangun meski di hadapkan dengan wanita yang tel*njang sekaligus.
///
Bersambung....
__ADS_1
______