Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
199.Anak Bos


__ADS_3

Happy Reading..



Nilam berjalan dengan cepat saat dia keluar dari kamar dan mendengar keramaian di lantai bawah. Dia tidak tau apa yang terjadi, biasanya pagi-pagi seperti sekarang akan selalu adem ayem tapi kali ini, apa yang terjadi?



"Astaga, apa yang terjadi?" gumamnya saat melihat ke bawah dan melihat anak gadisnya yang tengah merengek pada semua assisten rumah tangganya.



"Ada apa sih, Ma! Pagi-pagi berisik amat. Padahal matahari saja belum bangun, dan rumah sudah kayak pasar?" protes Dimas yang ternyata juga terganggu dengan suara yang begitu ramai.



Bagaimana matahari sudah bangun? Ini masih pagi, bahkan shalat subuh juga baru saja selesai.



"Mama juga belum tau, tapi sepertinya adikmu...?" Nilam menghentikan kata.



"Arini? Kenapa dengannya, maksudnya apa yang telah dia lakukan?" Dimas mengernyit bingung.



Dimas langsung melihat bawah juga, bukannya marah atau kesal tapi Dimas malah terkekeh melihat tingkah Arini.



"Sudah jangan ketawain adikmu, sekarang kita lihat apa yang dia lakukan," ajak Nilam seraya melangkah.



Tak menjawab tapi Dimas langsung berjalan, matanya masih enggan untuk berpindah haluan dan masih setia melihat Arini.



"Mbak, Arini mohon dengan sangat. Arini pengen bantuin nyapu atau ngepel. Arini tidak terbiasa hanya duduk anteng kayak orang mati. Please ya, please..." Arini begitu memohon, kedua tangan sudah menyatu di depan dada, dia begitu ingin melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaannya di setiap pagi.



Kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya akan sangat susah jika harus di tinggalkan begitu saja. Arini tidak butuh apapun, dia hanya menginginkan bisa membantu para asisten rumah.



Tangannya berusaha meraih sapu yang dibawa asisten rumah, tapi Arini tidak sampai karena sapu maupun pel mereka sembunyikan di belakang tubuh mereka.



"Ya sudah kalau nggak boleh nyapu, Arini pergi ke dapur saja. Biar Arini yang masak," Arini mulai melenggang dengan membawa kesal. Sudah dari tadi dia terus merayu para asisten rumah tapi tetap saja tak mendapatkan ijin.



"Aduh, bagaimana ini?" Kepala asisten terlihat sangat bingung, dia tidak mau kalau sampai di tegur oleh bosnya tapi mau bagaimana lagi? Anak gadis bos mereka begitu keras kepala.



"Non, jangan seperti ini. Biarkan kami saja yang mengerjakan semuanya," Kepala asisten juga yang lain ikut mengejar Arini,



"Stooppp!!" Arini membalikkan badan, dia langsung berteriak menghentikan semua asisten yang membuntutinya.



Asisten yang berjumlah lima itu langsung berhenti, mereka juga sempat terperanjat karena Arini yang tiba-tiba teriak.



"Aku siapa?" tanya Arini.



"Non Arini, anak dari Tuan Hendra juga nyonya Nilam," Jawab kepala asisten.



"Mereka siapa?"



"Bos kami," jawab lagi dengan menunduk.



Tak dapat di percaya kalau Arini yang terlihat lemah lembut bisa teriak dan membuat mereka takut juga.



"Jadi aku juga bos kalian kan?" tanya Arini lagi.



"I-iya," ragu-ragu tetap mereka jawab. Biar bagaimanapun Arini memang bos mereka juga.



"Kalau begitu jangan banyak protes, kalian di sini dan jangan bergerak kalau aku tidak memintanya," tandas Arini.



"Ta-tapi, Non," Kepala asisten yang sangat ketakutan, dia terus menunduk.


__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian. Selama aku di sini, untuk sarapan aku yang akan menyiapkannya. Kalian hanya membantuku dan tidak boleh protes," Arini semakin tegas dalam menyampaikan kata-katanya.



"Astaghfirullah, kejam sekali ya diriku. Berasa jadi majikan galak, hhhh..." batin Arini.



Ternyata sangat menyenangkan bisa menjadi orang yang berkuasa, bisa mengendalikan semua orang dan harus mau menurut padanya.



Biar begitu tapi maksud Arini juga tidak untuk menindas, dia justru ingin membantu meringankan pekerjaan mereka saja. Mereka bisa lebih santai dan tidak terlalu lelah.



Kegiatan memasak untuk sarapan sudah mulai di lakukan oleh Arini. Dia terperangah saat melihat isi kulkas yang sangat penuh dengan berbagai macam sayur-sayuran, bermacam-macam ikan juga berbagai macam bahan pangan lainnya.



"Waww.., sungguh luar biasa," ucap Arini yang sangat terkejut. Belum pernah dia lihat kulkas yang begitu besar dan penuh dengan isinya.



Kemarin dia lihat kulkas yang sama besarnya di apartemen Arya, tapi isinya tak sebanding karena di tempat Arya sama sekali tak ada isinya. Hanya beberapa telur saja.



"Hemm... Mbak. Mama, Papa sama kak Dimas makanan kesukaannya apa ya?" Arini menoleh, tapi tangan masih memegangi pintu kulkas yang masih terbuka.



"Tidak ada makanan tertentu, Non. Tuan juga Nyonya bisa makan semuanya," jawabnya.



Arini manggut-manggut mengerti. Berarti dia tak perlu memasak satu persatu masakan untuk mereka.



"Mereka juga tidak ada alergi makanan kan, Mbak?" tanyanya lagi.



"Tidak ada, Non," jawabnya.



Semakin senang Arini. Sekarang dia bisa memasak apapun tanpa rasa takut.



Berbagai macam bahan Arini keluarkan, berbagai bumbu juga dia siapkan.




"Terimakasih, Mbak," tangan Arini langsung menerimanya, cepat dia memakainya sebelum dia mulai dengan semua acaranya.



Arini begitu gesit dalam bergerak, dia terus mondar-mandir dengan kesibukan seperti biasa di pagi hari.



Para asisten rumah terus menatap kagum kepada Arini. Tak seperti biasa seorang gadis muda hanya bisa makan saja dan memberikan perintah untuk mendapatkan makan sementara Arini bisa melakukan segalanya. Dan malah melarang para asisten rumah untuk membantunya.



"Nyonya dan Tuan sangat beruntung mempunyai anak seperti Non Arini. Dia sangat pintar," batin kepala asisten.



Di tengah-tengah Arini yang sangat sibuk Nilam juga Dimas datang. Mereka langsung mendekat dan ingin melihat kegiatan Arini. Kiranya apa yang dia masak untuk sarapan.



"Pagi, Sayang," sapa Nilam mengejutkan Arini dan membuatnya menoleh cepat.



"Pa-pagi, M-Ma..." Arini masih saja tergagap, dia belum terbiasa memanggil Nilam dengan sebutan Mama.



Tapi tak masalah untuk Nilam, lambat laun Arini pasti akan sangat terbiasa.



Nilam merengkuh kepala Arini, menghentikan pergerakan tangannya untuk sesaat. Dikecupnya pipi Arini dengan sangat lembut, kecupan yang penuh akan rasa kasih sayang.



Cup..



"Kenapa kamu yang masak, seharusnya kamu duduk saja, Sayang. Biarkan mereka yang melakukannya," ujar Nilam.



Mendengar kata-kata Nilam semua asisten terlihat menunduk, mereka takut kalau sampai mendapatkan teguran oleh Nilam.



"Nanti kamu lelah loh," Imbuh Nilam lagi seraya melepaskan tangan dari kepala Arini.

__ADS_1



"Tidak apa-apa, Ma. Arini sudah terbiasa melakukan ini. Biarkan mereka istirahat sejenak dan berkerja lagi setelah sarapan," Arini tersenyum manis.



Nilam pikir Arini masak hanya untuk dirinya juga keluarganya saja ternyata Arini berniat masak banyak dan untuk sarapan semua asisten juga penjaga rumah.



"Jangan banyak-banyak, Sayang. Biarkan mereka masak sendiri untuk makan mereka," Nilam merasa kasihan, dia tidak mau sampai Arini lelah gara-gara memasak, tapi sepertinya ketakutan Nilam tak berarti sama Arini.



"Tidak apa-apa, Ma. Biar sekalian," Arini kembali menggerakkan tangannya.



Ekhem...!



Arini menoleh dan melihat Dimas yang mendekat.



"Pagi adikku," Dimas hendak merengkuh kepala Arini juga, menirukan apa yang tadi Nilam lakukan. Tapi belum juga sampai Arini sudah melotot sembari menaikan centong sayur di hadapan Dimas.



"Kenapa? Aku hanya mau mencium mu juga. Sama seperti yang mama lakukan. Aku kan kakakmu jadi nggak masalah lah," ucap Dimas.



Mulut Arini menganga, meski Dimas adalah kakaknya tapi dia juga belum terbiasa. Memanggil dengan sebutan kakak saja rasanya masih mengganjal gimana gitu, apalagi di cium?



"Nggak boleh, K-kak Dokter nggak boleh cium Arini," ucapnya menekankan.



"Kok Kak Dokter lagi sih! Panggil Kak Dimas, kak Di-mas," protes Dimas tak terima.



"Besoklah, Arini harus belajar dulu. Kalau udah fasih baru aku panggil Kak Dimas, hhhh," oceh Arini.



"Tuh udah fasih!"



"Belum," elak Arini.



Ternyata begini lah rasanya mempunyai kakak yang benar-benar sayang padanya. Bisa di ajak bercanda dan tak pernah marah saat dirinya protes.



Arini sangat beruntung, dia memiliki keluarga yang benar-benar sayang padanya juga menerima apa adanya. Tidak membedakan apapun tentang dirinya.



Tukk...



Dimas lebih memilih menjitak Arini daripada protes dan itu membuat mulut Arini mengerucut.



"Kak Dimas!!"



"Tuh kan bisa, Hhhhh..." Senang hati Dimas. Akhirnya dia bisa merasakan bagaimana memliki adik. Dia bisa menggodanya dan bisa mengerjainya.



"Nggak bisa!"



"Bisa!"



"Enggak bisa!"



Keduanya terus bersuara hingga membuat Nilam menggeleng tapi merasa sangat senang. Bukan hanya Nilam saja, tetapi semua asisten yang ada di sana, mereka merasa bahagia karena rumah itu kini kembali ceria.



"Assalamu'alaikum..."



Kedatangan seorang langsung membuat Arini kicep, dia diam sembari menyembunyikan wajahnya tak berani melihat.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2