
Happy Reading...
Pernikahan Arya juga Arini sampai juga di telinga Melisa yang kini masih mendekam di penjara. Mendengar semua itu membuat Melisa begitu marah, rasanya ingin sekali melakukan hal yang buruk untuk Arini saat itu juga tapi keadaan yang tidak memungkinkan membuat dia hanya bisa uring-uringan di dalam penjara.
Amarahnya begitu besar sampai-sampai dia terus melotot tajam dan mencengkram besi yang menjadi benteng untuknya dan semua tahanan yang lain supaya tidak pergi.
"Kurang ajar! bisa-bisanya kamu berbahagia di atas penderitaan ku, Arini! tunggu saja sampai aku keluar, maka kamu akan merasakan apa yang telah aku rasakan. Mungkin sekarang kamu bisa bersenang-senang, kamu bisa sedikit bernafas lega karena apa yang kamu dapatkan sekarang. Tapi, itu semua tidak akan lama," ucapnya dengan senyum sinis sebagai bumbunya.
Tangannya semakin kuat, seolah dia tengah berasa di depan Arini dan tengah mencengkram nya dengan sangat kuat. Melisa benar-benar belum kapok, dia masih saja memiliki niat buruk padahal hukuman akibat ulahnya juga belum selesai di jalankan.
"Sebentar lagi, Arini. Sebentar lagi, hehh..." Melisa semakin sinis.
Bukan hanya sampai di telinga Melisa saja tapi pernikahan Arya juga Arini sampai di telinga Marta juga Ratna.
Sama persis seperti Melisa Ratna juga uring-uringan, dia sangat kesal karena Arini melupakannya bahkan dia sama sekali tidak mengundang ke acara pernikahannya.
"Dasar anak tak tau di untung! udah di rawat dengan baik sampai dia besar seperti sekarang, dan setelah dia senang melupakan kita. Bagaimanapun juga dia hutang budi sama kita. Apa dia pikir selama dia hidup di sini itu gratis!" oceh Ratna begitu dongkol.
Sesekali dia menoleh ke arah Marta yang terduduk di kursi lalu kembali lagi memandangi pelataran dari pintu utama yang masih terbuka lebar.
"Seharusnya dia bisa berpikir! kalau tidak ada kita pasti dia sudah mati, tapi apa? bahkan dia sama sekali tak bisa berpikir sampai segitu. Benar-benar anak yang sangat bodoh!" umpatnya tak habis-habis.
Ratna begitu kesal karena tak mendapatkan undangan apalagi dia dengar beritanya juga dari sebuah acara televisi yang menampilkan sedikit cuplikan dari acara pernikahan Arya juga Arini.
Jelas saja berita itu akan masuk televisi, karena Arya bukanlah orang sembarangan, dia orang besar dan sangat terkenal.
"Seandainya tau dari awal, aku akan datangi tempat itu dan akan aku buat masalah supaya mereka di permalukan, tapi apa ini? arghhh... benar-benar keterlaluan!"
Marta masih setia dengan diamnya, dia tetap tak mau bicara karena keadaannya yang masih tak sehat. Marta hanya sesekali melirik istrinya yang terus mengomel dengan di temani air putih panas yang sedikit meringankan batuknya.
Mungkin karena tau Ratna akan berbuat buruk lah Arini sekeluarga tidak mengundangnya atau mungkin karena kakek Susanto yang tidak mengizinkannya, entahlah.
~••~~
🌾🌾🌾PERHATIAN,, BOCIL DI HARAP MELIPIR 🌾🌾🌾
Seperti anak kecil Arini benar-benar di suapi oleh Arya, baru saja sah menjadi istri Arini begitu di manjakan, bahkan Arini sama sekali tidak boleh memegangi sendok sama sekali. Arini hanya tinggal duduk anteng di hadapan Arya dan menerima suapannya saja.
"Pak Tuan tidak makan, apa Pak Tuan tidak lapar?" tanya Arini setelah berhasil menelan makanannya.
"Aku sangat lapar, tapi aku tidak mau makan makanan ini. Ini terlalu biasa," jawabnya.
"Terus, Pak Tuan mau makan apa? emang di sini adalah dapur? kalau ada biar Arini masakin sesuatu buat Pak Tuan," ucapnya lagi lalu kembali diam karena menerima suapan dari Arya.
Arya tersenyum jaim.
"Aku tidak mau makan apapun, tapi aku hanya ingin makan kamu saja," ucap Arya.
*Uhuk.. uhuk*...
Arini tersedak, dengan cepat Arya mengambilkan minum dan menyodorkannya kepada Arini.
"Pelan-pelan makannya, jadi batuk kan," begitu lembut Arya berbicara membuat Arini ketar-ketir karena itu sangat tak biasa.
"Habisnya Pak Tuan sungguh aneh, makanan enak saja banyak bagaimana mau makan Arini, Arini kan bukan makanan dan yang jelas tidak enak juga sangat keras," sepertinya akan tidak nyambung lagi pembicaraan antara mereka berdua.
Arya menghela nafas, dia harus bisa ekstra sabar untuk menjelaskan kepada istrinya yang sangat polos itu.
"Emang Pak Tuan tega makan Arini?" ucapnya pelan sembari memajukan wajahnya lebih dekat. Arini juga menoleh kedua sisi karena takut ada yang mendengar.
"Tega nggak tega harus tega lah, kalau nggak tega bagaimana kita bisa memberikan cucu pada orang tua kita," jawab Arya yang juga ikut memajukan wajahnya.
Mata Arini membulat begitu juga dengan mata Arya.
"Bagaimana bisa?" Arini terlihat sangat bingung dan itu memancing tawa Arya.
"Hahaha..." Arya terpingkal melihat wajah polos Arini yang benar-benar terlihat tidak tau. Wajah Arini juga terlihat sangat imut menurut Arya.
__ADS_1
"Kok ketawa sih!" Arini kembali memundurkan wajahnya.
"Sekarang makannya di habiskan dulu, setelah itu baru aku jelaskan. Kita juga bisa langsung mempraktekkannya," Arya begitu semangat menyuapi Arini.
Apalagi di kepala Arya begitu jelas membayangkan bagaimana isi di dalam baju tertutup yang selalu Arini pakai. Apakah mungkin akan sama seperti yang lain ataukah ada perbedaannya. Ahh..., otak Arya ternyata masih saja kotor meski dia sudah bertaubat.
Tapi baginya tak masalah kan, yang dia pikirkan adalah istrinya sendiri dan bukan wanita lain. Beda lagi kalau wanita lain yang dia pikirkan.
*Doorrr*...
"Pak Tuan kok melamun. Hayo ngelamunin apa?" jari telunjuk Arini terus menari-nari di depan wajah Arya, dan seketika berhasil membuyarkan lamunannya.
"Bukan apa-apa. Ak lagi, biar kamu tidak pingsan nanti," elak Arya.
"Pingsan kenapa? Arini kan perempuan kuat yang tak pernah pingsan, seberat apapun beban Arini pasti tidak akan pingsan."
"Oh, benarkah kamu perempuan kuat?" Sepertinya apa yang Arya juga Arini maksud sangat berbeda. Arini sepertinya tidak nyambung dengan apa yang sekarang sedang di bicarakan oleh Arya.
Arini hanya mengangguk, kan biasanya dia selalu kuat. Menghadapi kerasnya hidup juga beratnya pekerjaan dia juga selalu kuat. Tapi masalahnya yang Arya maksud kan bukan pekerjaan.
Biasanya seorang pengantin wanita yang berada di hadapan suaminya untuk pertama kali dia akan gugup dan was-was tapi sepertinya itu belum berlaku untuk Arini, tapi entah setelahnya.
Arya beranjak, meletakkan piring kotor di meja. Sementara Arini masih duduk anteng di sana.
Tak mengatakan apapun Arya langsung masuk ke kamar mandi, dan saat itu Arini menoleh melihat punggung Arya yang seketika hilang di balik pintu.
"Benarkah aku akan tidur satu kamar dengan Pak Tuan?"
"Tapi bukankah orang yang sudah menikah memang berada di satu kamar ya? terus, apakah aku akan tidur satu ranjang dengan Pak Tuan? tapi Mama dan Papa juga tidur satu ranjang?"
Arini terlihat sangat bingung. Tak terlintas apa yang akan terjadi saat malam pertama tapi yang terlintas hanya dia yang akan tidur satu ranjang dengan Arya.
Arini beralih duduk di depan meja rias, perlahan dia melepaskan aksesoris yang melekat di atas kepalanya. Semua itu membuatnya sangat tidak nyaman.
Belum juga selesai melepaskan semua jarum-jarum yang ada Arya sudah kembali keluar.
"Akkk... Kenapa Pak Tuan tidak pakai baju!" serunya. Cepat kilat Arini juga memalingkan wajahnya.
Arya tersenyum, dia malah berjalan semakin dekat. Berjalan dengan begitu gagahnya memperlihatkan dadanya yang berbuku-buku dan sedikit ada bulu halus di dadanya. Lagian bagaimana Arini tidak teriak, Arya keluar dengan tel\*njang dada dan hanya melilitkan handuk di perutnya saja. Apalagi terlihat jelas tubuhnya yang masih basah.
Arya berdiri di belakang Arini, membantu melepaskan apa yang belum selesai Arini lakukan.
Arya terus tersenyum karena Arini sama sekali tak membuka matanya dan itu terlihat sangat jelas melalui pantulan cermin.
"Pak Tuan, apa yang Pak Tuan lakukan?"
"Apakah aku tidak boleh melihat kecantikan istriku?" jawabnya seraya menunduk, "bukalah matamu, Arini. Aku suamimu loh sekarang."
"Malu, Pak Tuan kayak anak kecil yang sedang tel\*njang dan mau main hujan-hujanan," ucapnya yang menggelikan telinga Arya.
"Hem..., bagaimana kalau kamu juga ikutan sama sepertiku, kita main sama-sama," bisik Arya.
Arini menggeleng itu pasti. Bagaimana mungkin dia mau menerima ajakan Arya yang tak biasa.
Arya melepaskan hijab Arini yang terakhir dan terlihatlah rambut Arini untuk yang pertama kali untuknya. Rambut hitam, lebat, lurus, dan sangat panjang, bahkan panjangnya tepat di pinggul Arini.
Diturunkan juga tangan Arini yang menutupi wajahnya dan kini dapat Arya lihat kecantikan Arini yang sebenarnya. Kecantikan yang selalu dia jaga dan hanya untuk suaminya saja, yaitu dirinya sendiri.
Tak ada larangan untuknya sekarang menyentuh apapun yang Arini punya, hingga akhirnya Arya mengangkat Arini dengan gerakan cepat.
"Akk!" Arini teriak dan kini dia membuka matanya dan lagi-lagi sudah ada di gendongan Arya.
"P-Pak Tuan mau nga-ngapain?" kini Arini sangat gugup saat Arya terus berjalan dan tersenyum kearahnya.
Diturunkan Arini perlahan di atas kasur dan Arya juga ikut naik di sana.
"Mau makan kamu," ucapnya begitu enteng.
__ADS_1
"Hah! ma..." ucapan Arini terputus karena Arya sudah langsung membungkamnya dengan mulutnya.
Sepertinya Arya sudah tak sabar ingin menikmati Arini yang sudah halal baginya.
Permainan yang sangat mudah untuk Arya lakukan karena dia memang sudah ahlinya, tapi tidak untuk Arini, itu adalah pertama kali untuknya.
Arini yang terlihat kehabisan nafas membuat Arya langsung melepaskannya, membiarkan istrinya menghirup sebanyak-banyaknya oksigen sebelum dia memulainya lagi.
"ngab ngab..." ucapnya dan membuat Arya tersenyum.
Arya kembali menyambar bibir Arini sebelum dia ngoceh lagi kalau tidak pasti akan lama dan tak akan dia dapatkan apa yang dia ingin.
Awalnya Arini ingin menolak, dia sangat malu. Bibirnya ingin mengatakan jangan tapi anggota yang lain terlihat menuntut dan ingin hal yang lebih.
"Apakah boleh sekarang?" tanya Arya.
"Arini takut," jawabnya.
"Percaya padaku, tidak akan apa-apa. Hanya akan sakit sebentar tapi setelah itu tidak akan lagi."
"Apa Pak Tuan akan sakit juga?"
Arya bingung mau jawab apa, karena Arya tidak akan merasa sakit tapi malah sebaliknya. Tapi Arini? dia akan sangat kesakitan karena ini adalah yang pertama kali untuknya.
"He'em," jawab Arya berbohong.
"Boleh?" tanyanya lagi.
"Tapi sampai masuk rumah sakit tidak?"
"Tidak."
Benarkan, sekali Arya membiarkan Arini berbicara pasti akan panjang buntutnya.
"Bener?"
"Percaya padaku," Arya kembali melancarkan aksinya sebelum Arini berbicara lagi.
Satu persatu apa yang Arini kenakan mulai di lepas oleh tangan Arya, Arini yang semakin lama terbuai dengan sentuhan Arya hanya bisa menerima apapun yang suaminya itu lakukan.
Malunya telah hilang, terganti dengan gairah yang semakin besar. Arya benar-benar membuat Arini meradang dalam kenikmatan, lenguhan berkali-kali Arini keluarkan hingga akhirnya gelombang besar keluar dari lembah madu.
Puas rasa hati Arya bisa membuat Arini berada di puncaknya untuk yang pertama kali. Hanya senyum dan senyum yang bisa keluar sembari menikmati si kembar identik yang memang tidak terlalu besar.
Meyakinkan diri dengan melihat lubang sempit yang telah mengeluarkan gelombangnya, benar-benar sangat sempit dan Arya yakin akan butuh perjuangan untuk menjebol bendungannya.
"Bismillahirrahmanirrahim...," tekat sudah sangat bulat meski butuh perjuangan akan Arya lakukan.
Meringis itulah Arini sekarang, di saat Arya sedang bekerja keras untuk menjebol bendungan miliknya.
Butiran bening keluar dari kedua sudut mata Arini merangkul kuat leher Arya dan berhasil mengigit bahunya. Arya membiarkannya, mungkin memang sangat sakit, dan apa yang Arini lakukan padanya tidak seberapa sakitnya.
Sangat nikmat apa yang Arya lakukan sekarang, menikmati semua dengan cara yang sah dengan wanita yang sudah halal. Membedakan perasaan dulu dan sekarang yang sangat jauh berbeda.
"\**Ternyata melakukan dengan wanita yang halal dan dengan cara yang benar sangat luar biasa. Melakukan dengan seribu wanita bayaran tak pernah merasa puas sementara dengan satu wanita yang halal di tengah-tengah ikatan pernikahan bisa memuaskan segalanya*."
"*Puas bukan hanya di bagian bawah perut saja, tapi juga puas mencakup semua anggota tubuh yang lainnya. Eyang benar, Pernikahan akan membawa kebahagiaan juga kepuasan dalam semuanya*."
"*Terimakasih ya Allah, telah Engkau berikan aku kesempatan untuk bisa merasakan indahnya pernikahan*."
"*Terimakasih Arini, telah menjaga semua ini untuk ku*. *Maafkan aku karena aku tak bisa menjaga apa yang seharusnya menjadi milikmu saja."
"Aku benar-benar merasa hina dan rendah di hadapanmu, kamu menjaga semuanya dengan baik, kau hadiahkan itu semua untukku, tapi aku?"
"Maafkan aku, Arini. Maafkan aku yang sudah tidak suci sama sepertimu*." Batin Arya dengan segudang penyesalan.
Bersambung....
__ADS_1