Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
51.Bunga Melati


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•...


Arini terus tersenyum senang, akhirnya dia benar-benar sudah di perbolehkan untuk pulang. Lega, akhirnya bisa bernafas bebas dan bisa terlepas dari rumah sakit ya meskipun dia akan tetap di sana karena menunggu neneknya yang masih sakit tapi kan sudah berbeda jalurnya.


Arini masih berada di ruangannya kali ini dia masih membereskan barang-barang miliknya, tiba-tiba Arini di buat terkejut dengan sebuah kotak yang di sodorkan kepadanya. Arini menoleh dan dia dapatkan wajah Arya yang memandangnya tetap dengan dingin.


"Ini untuk mu! " Ucapan dari Arya berhasil membuat Arini bingung, itu kotak apa Arini tak tau dan apa maksudnya juga Arya memberikan itu padanya, dia tidakk sedang merencanakan sesuatu kan?


"Ini apa, Pak Tuan?" tanya Arini benar-benar bingung.


"Ini ponsel untuk mu, mulai sekarang kamu harus selalu patuh padaku, setiap aku memanggilmu harus datang tanpa komentar ataupun protes. Semakin kamu menurut padaku semakin cepat lunas hutang-hutangmu," ucap Arya menjelaskan.


"Cepat terima!" Arya begitu kekeuh menyodorkan kotak yang ternyata di dalamnya ada ponselnya, entah rencana apa lagi yang ingin dia lakukan sampai-sampai dia memberikan ponsel pada Arini.


"Tapi Arini tidak bisa menggunakannya, Pak Tuan. Arini sangat bodoh," Arini sadar diri kalau dia memang bodoh, dia juga tidak tertarik dengan benda-benda yang seperti itu. Arini takut kalau akan lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.


"Aku tau kamu memang bodoh, tapi kamu tetap tak boleh menolak ini dariku. Ingat, setiap kamu membangkang itu akan menjadi bunga dari hutang-hutangmu,"


Arya yakin dengan cara seperti itu pasti akan berhasil membuat Arini menurut padanya. Dia tak ingin di atur oleh orang lain tapi dia yang harus mengatur semuanya orang.


"Cepat, terima atau hutangmu akan bertambah," ancam Arya.


Dengan berat hari Arini menerima ponsel pemberian Arya,. Meskipun dia yakin tak mungkin bisa menggunakannya tapi dia akan tetap menyimpannya, siapa tau suatu saat Arya akan mengambilnya kembali.


"Besok kamu harus sudah berangkat ke kantor, dan ya! mulai besok kamu hanya akan berada di lantai lima puluh saja, kamu tidak di perbolehkan di lantai yang lainnya juga, kamu ngerti,"


"Terus lantai Empat puluh sembilan bagaimana, Pak Tuan?"

__ADS_1


"Aku sudah bilang Arini, kamu tidak boleh protes ataupun berkomentar! lantai itu bukan lagi urusanmu, ngerti! "ucapan Arya terdengar begitu kesal dan membuat Arini mengangguk dengan cepat, "ingat! Jangan pernah berfikir untuk kabur dari ku, semua hutang-hutangmu masih banyak," imbuhnya.


Heran si Arini sebenarnya bos nya itu hatinya terbuat dari apa coba, setiap hari kata-katanya tak pernah ada halus-halusnya sama sekali, jutek mulu juga.


Arini juga bertambah heran, dia bos besar harta melimpah ruah dan tak akan pernah habis meski sampai tujuh turunan, tapi apa dia tidak malu mengurusi uang yang hanya beberapa juta saja yang dia pinjamkan untuk Arini? Benar-benar tak masuk di nalar.


///////


Langkah Arini terhenti saat matanya melihat bunga melati yang bermekaran indah di pagi hari ini. Padahal dia sedang buru-buru ingin cepat pergi ke ruangan neneknya tapi di sempatkan untuk berhenti dan memetik beberapa bunga melati itu.


Matamu sesekali menengok dia memang tidak berhak atas bunga itu makanya dia mencari orang yang akan di mintai izin untuk dia memetiknya.


Tak ada satupun orang di sana tapi Arini tetap memetiknya, "Siapapun yang menanamnya Arini minta bunganya ya, tidak banyak kok hanya tiga saja," ucapnya.


Arini benar-benar memetiknya, menghirup aroma bunga kesukaannya itu.


Arini mengangguk dia juga terlihat sumringah berjalan menuju tempat di mana dia bertemu dengan pasien yang sama sekali tidak dia kenal. Sesampainya di ruangan Nilam Arini kembali cemberut, dia masih melihat kondisi yang sama pada Nilam.


"Assalamu'alaikum, Tante... Maaf ya Arini datang lagi ke sini," ucapnya.


Arini duduk di kursi sebelah Nilam. Dia sangat bingung pada dirinya sendiri, dia tak mengenal perempuan itu tapi dia merasa nyaman saat ada di hadapannya.


"Selamat pagi, Tante. Bagaimana keadaan tante sekarang, sudah mulai membaik kan? " tanya Arini.


Jelas tak akan ada jawaban kan dari Nilam perempuan itu masih tetap sama belum sadarkan diri bahkan keadaannya juga tak ada perubahan sama sekali.


Arini menggenggam tangan Nilam, membuka telapak tangannya dan menaruh bunga melati yang tadi dia petik di atasnya.


"Tante, Arini tidak punya bunga yang indah untuk tante, tapi Arini hanya punya bunga melati kecil ini untuk tante ini pun juga hasil metik di luar tadi, hehehe... " Arini meringis menceritakan asal-usul dari bunga yang dia berikan itu pada Nilam.

__ADS_1


"Semoga tante suka ya. Arini akan selalu berdoa semoga tante cepat sembuh. Tante boleh kan kalau besok Arini datang lagi bertemu Tante? besok akan Arini bawakan bunga yang lebih banyak lagi untuk tante, boleh ya.. " ucapnya.


Arini berdoa sejenak di sana untuk kesembuhan Nilam, dan setelah itu baru dia akan pergi. Dia tak mau sampai ada orang yang mengetahui akan kedatangannya dan akan terjadi masalah nantinya jika keluarganya tidak terima.


"Assalamu'alaikum, Tante. Arini pamit ya."


Seperti kemarin Arini akan selalu memberikan salam takzim pada Nilam, dia hanya melakukan apa yang membuat hatinya senang juga tenang. Dan juga yang dia lakukan benar jadi tak masalah.


Arini benar-benar pergi dari sana meninggalkan Nilam yang masih setia menutup mata.


Kedatangan Arini akan selalu mendatangkan keajaiban untuk Nilam, kali ini tangannya bergerak dan menggenggam erat bunga melati pemberian Arini. Matanya masih saja tertutup tapi tangannya terus bergerak semakin erat, sepertinya dia sangat menyukai dan menerima pemberian dari Arini.


Kali ini Dimas yang masuk, dia ingin memeriksa keadaan Nilam di pagi hari. Dia juga ingin menyapa Mamanya sebelum dia akan memulai bekerja. "Assalamu'alaikum, Ma," ucapnya.


Tangannya ingin meraih tangan Nilam untuk salam takzim padanya namun dia di buat terkejut karena tangan Nilam yang mengepal dan sepertinya menggenggam sesuatu.


Dimas begitu penasaran, Mamanya sama sekali belum sadar tapi bagaimana bisa tangannya menggenggam begitu erat dan sebenarnya apa yang dia genggam.


Pelan-pelan Dimas membukanya dia kesusahan karena Nilam begitu kuat menggenggamnya, "Ma.., apa ini, Ma. Biarkan Dimas melihatnya," pinta Dimas.


Setelah Dimas mengatakan itu perlahan tangan Nilam mulai kendur dan bisa di buka, "bunga melati?" Dimas mengernyit semakin bingung, darimana Mamanya mendapatkan bunga melati itu. Apa mungkin ada orang yang memberikannya, tapi mana mungkin?


"Bunga dari mana ini, Ma?" tanya Dimas.


/////


Bersambung....


_________

__ADS_1


__ADS_2