
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Dengan piring juga sendok di tangannya Arini terus berbicara, membujuk nek Murni yang belum juga mau makan. Alhamdulillah keadaannya semakin membaik bahkan beberapa selang yang kemarin sempat tertempel sekarang sudah terlepas dan hanya menyisakan selang infus saja.
Meskipun sudah membaik namun Nek Murni sangat susah untuk makan, katanya rasanya pahit saat sampai di lidahnya Arini pun tau kalau orang sakit pasti akan seperti itu rasanya tapi dalam keadaan apapun harus tetap makan kan dan mengisi perutnya supaya cepat pulih seperti sedia kalau.
"Ayo lah, Nek! Nenek harus makan meskipun hanya sedikit. Kalau tidak, kapan Nenek akan sembuh," ucap Arini terus merayu Nek Murni.
Nek Murni masih terus menggeleng dia sama sekali tak selera untuk makan. Jangankan untuk makan melihat makanan saja dia sudah tak selera. Sepertinya penyakitnya telah mengubah semua rasa di lidahnya.
"Tidak Arini, Nenek tidak lapar. Nanti kalau sudah lapar Nenek pasti akan makan," ucapan Nek Murni begitu lemah lembut, hatinya sungguh lembut sekali membuat Arini selalu betah jika berada di hadapannya. Bahkan Nek Murni juga terlihat selalu memberikan pengayoman untuk Arini.
"Ayo lah, Nek. Kalau Nenek nggak mau makan Arini tidak akan datang lagi besok," Arini memasang wajah sangat cemberut.
"Kalau Nenek mau makan besok Arini masakin makanan yang paling enak. Ya ya!" Arini terus merayu dan sepertinya dia berhasil membuat nek Murni mau makan.
Arini tersenyum dia sangat bahagia karena nek Murni mau makan, hatinya sangat lega setelah itu nek Murni pasti akan cepat sembuh. Arini cepat-cepat memberikan satu sendok penuh pada Nek Murni, namun baru saja sendok ada di depan mulutnya ponsel baru milik Arini berdering dengan sangat keras.
𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...
Arini terperanjat dia sangat terkejut karena ponsel itu juga kebetulan ada di saku baju Arini. Namun sepertinya Arini belum menyadari itu suara dari apa.
"Itu suara apa ya, Nek. Berisik sekali? " tanya Arini pada Nek Murni tangannya tetap menyodorkan sendok ke dalam mulut Nek Murni.
"Seperti suara ponsel, apa kamu memiliki ponsel?" tanya nek Murni.
"Ponsel? " Arini terdiam, dia berfikir dengan sangat serius, "astaghfirullah hal 'azim! " tangan langsung merogoh sakunya dan benar saja ponsel itu masih mengeluarkan suara bahkan menyala.
"Bos tampan, ini siapa yang telfon?" Arini tampak bingung dengan siapa yang menghubungi, di layar hanya tertera nama Bos tampan, Arini sama sekali tak mengenalnya, "Nek, ini bagaimana angkatnya ya?" Arini memperlihatkan ponselnya pada Nek Murni meskipun dia juga tak memiliki ponsel namun dia pernah memilikinya meskipun tak sebesar milik Arini. Ponsel pengeluaran terbaru yang pasti mahal dan juga bukan kw-kw.
__ADS_1
Baru saja ponselnya sampai di tangan Nek Murni ponsel itu kembali mati sepertinya orang yang menghubunginya sudah mematikannya.
"Loh, kok mati, Nek. Nggak rusak kan ponselnya?" Arini mulai ketakutan. Jika benar-benar rusak maka habislah Arini kena semprot sama bosnya.
"Tidak Arini, ini tidak rusak. Oh iya, Ngomong-ngomong ponselnya dari mana?" nek Murni begitu penasaran darimana asal ponsel Arini. Tidak mungkin Arini sendiri yang membelinya di samping itu ponsel yang sangat mahal Arini juga tidak pernah tertarik dengan benda-benda seperti itu.
"Ini dari... "
𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...
Belum juga Arini menyelesaikan kata-katanya ponsel itu kembali berdering dan orang yang menghubungi juga orang yang sama.
"Bos tampan? siapa sih!" mata Arini benar-benar mengernyit, dia sama sekali tak tau itu nomor siapa,"ini gimana angkatnya, Nek."
Arini berdiri meminta di ajari oleh Nek Murni yang siap sedia untuk mengajarkannya.
"Caranya begini Arini, kamu hanya geser saja ke atas yang warnanya hijau ini. Nah, begini caranya, sekarang kamu bicaralah," ucap Nek Murni menjelaskan.
"Beneran bisa mengeluarkan suara?" tanya Arini yang langsung di angguki oleh Nek Murni.
"𝘏𝘦𝘩 𝘬𝘳𝘦𝘮𝘱𝘦𝘯𝘨! 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢," terdengar suara yang sangat marah bahkan sangat keras membuat Arini menjauhkan ponsel dari telinganya, lama-lama gendang telinganya bisa pecah kalau di biarkan begitu saja.
"Maaf, ini siapa ya? Arini tidak kenal," tanyanya.
"𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵! "
Sepertinya Arini mulai mengenal siapa yang ada di seberang sana, siapa lagi kalau bukan Arya bos kurang genap nya itu.
"Ini pak Tuan ya! kok pak Tuan bisa telfon Arini, suara pak Tuan juga bisa keluar dari ponsel, pak Tuan tidak mungkin ada di dalam ponsel ini kan ya?"
Benar-benar bikin pening kalau kebodohannya sudah mulai kumat. Iya kali Tuan Arya ada di dalam ponsel darimana dia masuknya? tak ada jalan pintas juga kan untuk bisa masuk.
__ADS_1
Arini menjauhkan ponselnya mengamatinya dengan teliti membolak-balikannya dan tak ada satupun titik yang terlewatkan dari pandangan matanya, "nggak ada jalannya? juga mana mungkin Pak Tuan bisa ada di dalam," gumamnya.
Nek Murni yang melihat hanya menahan tawa, kebodohan Arini bisa menjadi penghibur juga ternyata. Bahkan Nek Murni yang dari kemarin tidak pernah tersenyum sekarang bisa tersenyum juga dan menahannya supaya tidak tertawa lepas.
"𝘏𝘦𝘺𝘺..., 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢! 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵! "
Suara Arya terdengar tidak sabaran sepertinya ubun-ubunnya sudah mulai ngebul di jauh sana.
"Sepuluh menit! bagaimana mung... "
𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵...
Belum juga Arini menyelesaikan jawabannya ponsel sudah mati yang jelas suara Arya juga sudah tidak lagi terdengar.
"Kok mati lagi, ini nggak rusak kan, Nek?" tanya Arini lagi.
"Tidak Arini. Itu tandanya orang yang menelfon mu sudah menutupnya. Tadi siapa? dan..., apa yang dia katakan?" tanya nek Murni penasaran.
"Tadi bos Arini, Nek. Arini harus ke kantor sekarang. Nenek tidak apa-apa kan Arini tinggal. Sebentar lagi kakek juga akan datang," ucap Arini seketika wajahnya terlihat murung mungkin sebenarnya dia tidak rela pergi sekarang.
"Tidak apa-apa pergilah. Dan bekerjalah dengan baik, dan juga jangan pernah membuat masalah di sana."
"Iya, Nek. Assalamu'alaikum... " Arini cepat-cepat pamit dari sana dia tak mau sampai terlambat.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Nek Murni.
Setelah memberikan salam takzim pada Nek Murni Arini cepat pergi, langkahnya semakin cepat keluar dari rumah sakit.
"Astaghfirullah hal 'azim.., waktunya hanya sepuluh menit Arini tidak akan mungkin bisa sampai tepat waktu. Ya Allah tolong Arini, jangan sampai hutang Arini menggunung Arini tidak akan bisa membayarnya nanti," Arini hanya bisa berharap kalau apa yang dia takutkan tidak akan pernah terjadi.
/////
__ADS_1
Bersambung...
_______