
Happy Reading...
Begitu cepat perputaran matahari hingga kini sang surya itu hampir sembunyi ke tempatnya, menyisakan sebuah keindahan siluet yang indah di atas hamparan laut yang membentang luas.
Bahkan siluet yang baru saja dipandang sekejap mata juga mulai menghilang dan malam mulai merangkak naik hingga petang dan semakin gelap.
Seorang wanita yang beberapa hari ini telah mengganti statusnya menjadi seorang istri merasa sedih karena belum puas melihat keindahan yang terpampang jelas di matanya. Berdiri di balkon yang ada di kamar, dia adalah Arini.
Arini sempat kesal karena merasa belum puas melihat indahnya senja, tetapi itu tidak lama setelah dia sadar bahwa itulah yang dinamakan dengan roda kehidupan bukan hanya takdir seseorang yang bisa berputar tetapi bumi, matahari, juga bulan semuanya akan berputar.
"Sayang masuk yuk, sudah sore anginnya dingin banget takut kamu sakit," ajak Arya seraya melangkah keluar dari dalam kamar untuk menjemput istrinya yang masih setia melihat perubahan hari di sana.
Arini yang langsung menoleh sedikit terkejut saat tiba-tiba Arya menempelkan tangannya yang basah tepat di pipinya sebelah kiri.
"Dingin Mas!" protesnya dengan wajah yang seketika langsung cemberut.
"Bukan tanganku yang dingin sayang, tapi pipimu yang dingin karena kena angin," ucapnya begitu lembut disambung dengan tangan yang kembali terangkat dan mengusap wajah Arini yang basah karena perbuatan tangan Arya barusan.
Arini kembali memandangi pelataran malam yang masih sangat terasa indah namun semakin kuat hembusan angin pantai yang semakin dingin.
Desiran ombak saling beradu dengan suara yang sangat nyaring, bahkan seperti terdapat sebuah irama yang di hasilkan.
Pepohonan di sekitar juga terus bergoyang-goyang terbawa angin, membuat Arini tak ingin kehilangan kesempatan melihat semua yang semakin indah di matanya.
"Sayang, ayo masuk. Sebentar lagi maghrib. Kita harus bersiap untuk shalat maghrib lalu kita bersiap untuk makan malam," Arya kembali menyadarkan Arini dari lamunannya yang masih menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.
Arini hanya melirik kecil entah kenapa dia seperti terpaku di sana dan tak bisa bergerak, membuat Arya langsung mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba.
"Istriku mulai nakal ya sekarang. Nggak mau dengerin suami ya, sekarang kamu harus mendapatkan hukuman," ucapnya setelah Arini sudah berhasil ada di gendongannya.
"Akk...!" Arini yang terkejut sontak menjerit, dengan kedua tangan yang langsung melingkar di leher Arya.
"Ihh..." Arini begitu geram dengan perlakuan Arya yang tiba-tiba ini, hingga tangannya yang satu langsung bergerak dan memberikan sentilan ke hidung Arya, yang jelas membuatnya langsung meringis.
"Awww, kok di sentil sih Sayang. Kalau benjol gimana. Nanti tampannya ilang dong," ocehan Arya yang terdengar menggelitik di telinga Arini.
Apalagi di tambah dengan Arya yang langsung mengerucutkan bibirnya begitu panjang membuat Arini malah semakin terkekeh. Ingin sekali terpingkal tapi dia tak mau menerima konsekuensinya, yaitu hukuman dari Arya.
"Sayang, jangan lebar-lebar dong senyumnya, nanti aku jadi bern\*psu loh pengen makan kamu. Apa kamu mau mandi lagi sebelum maghrib?" ancam Arya.
Cepat Arini menggeleng, dia tidak mau mandi untuk yang keempat kalinya dalam sehari ini, takut terlalu bersih, alasanya.
"Nggak mau, kalau Arini mandi keseringan nanti hotel ini rugi dong karena harus bayar air mahal," jawabnya yang melenceng terlalu jauh menurut Arya.
Jangankan empat kali mau sepuluh kali pun hotel tidak akan protes. Lagian mereka juga berada di kamar kelas satu, kamar paling berduit.
__ADS_1
"Nggak akan Arini sayang. Hotel ini tidak akan rugi. Kalau mereka berani mengeluh hanya karena air aku akan membeli hotelnya. Dan akan aku pekerjaan mereka dengan gaji seperempat dari UMR," semakin tak waras si Arya.
"Sadis amat Bang," celetuk Arini. Dia yang mendengar saja sudah bergidik ngeri apalagi kalau benar-benar terjadi, Arya akan menjadi orang terpelit seantero.
"Ya kan semua ini hanya untuk kamu. Apalagi aku harus memberi kamu makan yang sekarang sudah mulai banyak," Arya mendudukkan Arini di sofa dan saat itu Arini terperangah.
Ingin sekali mengambil bantal dan di layangkan pada suaminya yang mengeluhkan tentang makannya. Padahal Arini juga tidak akan makan banyak kalau Arya tidak memaksanya. Arya kan sang Maha Tuan Pemaksa.
Arini tidak menjawab, dia lebih memilih mengerucut sembari memeluk kedua kakinya yang sudah di atas dan dia lipat di depan tubuhnya.
Sementara Arya malah kembali asyik dengan ponselnya, entah apa yang membuat dia lebih tertarik pada ponselnya daripada istrinya. Dari tadi Arya hanya terus bermain dengan ponselnya, membuat Arini bosan karena merasa di duakan.
"Sesakit inikah di duakan? kalau tau begini mending nggak usah ikut kesini. Lagian di sini juga di anggurin, di diemin mulu. Ternyata Arini memang tidak semenarik ponselnya yang mahal dan lebih pintar," ucap Arini mengeluh.
Mendengar Arini yang mengeluh Arya hanya menahan tawa tanpa menoleh, membiarkan Arini berasumsi sesuai apa yang ada di dalam pikirannya.
"*Kamu akan tau apa yang aku lakukan sayang, semua ini hanya untuk mu. Tunggu kejutan dariku, Sayang," batin Arya*.
Mana tau Arini kalau kekasih hatinya itu tengah sibuk karena menyiapkan sesuatu untuknya. Arya ingin kedatangan mereka akan menjadi kesan yang tak akan terlupakan.
Meski suatu saat mereka akan mengulang lagi untuk datang tapi itu tidak seindah saat ini, karena ini adalah yang pertama kali untuk mereka berdua pergi bersama.
Allahu akhbar... Allahu akhbar...
"Mas, mau main ponsel terus atau mau shalat? Jangan-jangan Mas juga merupakan Allah sama seperti melupakan Arini," Arini seketika beranjak, dia berjalan dengan hatinya yang gemuruh.
"*Panasnya hatiku akan dingin setelah di siram dengan air wudhu," batin Arini*.
Meninggalkan Arya dan Arini sudah masuk ke dalam kamar mandi, dia bergegas mengambil wudhu untuk shalat maghrib. Kalau setelah shalat Arya masih diam Arini akan memilih untuk membungkus tubuhnya dengan selimut saja dan tak mau pergi.
Arya terus menahan tawa melihat Arini yang terus ngedumel meski dia tak terlalu jelas dengan apa yang di katakan, tapi Arya melihat Arini yang begitu lucu dan semakin menggemaskan.
Arya beranjak, dia juga masuk begitu saja ke kamar mandi yang sama, kebetulan Arini juga tidak menguncinya karena dia hanya mengambil wudhu dan tidak melakukan apapun.
Keduanya hanya diam saat berpapasan.
"*Sebenarnya Arini salah apa? kenapa Mas Arya diam padaku*,"
Hati Arini teriris, dia ingin sekali menangis, dia tidak tahan di diamkan seperti sekarang.
Dan benar saja, air mata Arini menetes saat dia duduk di ranjang sembari memakai mukenanya. Namun Arya tak dapat melihat itu karena Arini menyembunyikannya di balik mukena, pintar bukan?
"Sayang, katanya mau shalat?" ucapan Arya membuat Arini cepat membenarkan mukenanya.
__ADS_1
Arya memang tidak melihat air mata Arini tapi dia melihat mata Arini yang sembab.
"*Astaghfirullah hal 'azim, aku telah membuat istriku menangis. Maafkan aku sayang*," sesal Arya.
Seharusnya Arya tidak harus seperti ini juga hanya untuk memberikan kejutan untuk Arini, dia tidak perlu membuatnya menangis kan.
Sepasang suami-istri itu langsung menjalankan shalat maghrib berjama'ah, Arya memang merasa belum pantas menjadi imam tapi masak iya dia tidak bisa menjadi imam untuk istrinya sendiri kan aneh.
Do'a Arya lantunkan, tumben saat ini do'anya begitu panjang entah apa yang dia minta dan Arini hanya bisa mengaminkannya dari belakang.
"Alhamdulillah," usapan telapak tangan di wajah adalah sebagai akhir dari ibadah mereka berdua.
Setelah selesai Arya membalikkan badan, mengulurkan tangannya kepada Arini. Sontak Arini juga meraihnya dan mengecup punggung tangan suaminya.
"Mas, apakah Arini punya salah?" akhirnya pertanyaan itu mencelat dari bibirnya yang mungil. Arini sudah tidak tahan Arya terus diam tak seperti tadi yang nempel terus kek prangko dan terus berbicara seperti siaran radio.
"Tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu?" Arya pura-pura bingung.
"Apakah karena Arini tidak mau memakai baju itu lalu Mas marah?" asumsi Arini yang sangat mencengangkan untuk Arya.
Kenapa Arini bisa memiliki asuransi seperti itu, bahkan tadi Arya sudah mengatakan kalau dia tidak mau memaksa Arini memakainya, bahkan kalau Arini merasa tidak nyaman dia bisa membuangnya.
"Tidak sayang. Kamu sudah salah paham. Mas hanya sedang ada pekerjaan tadi, dan mas terus berpikir bagaimana menyelesaikannya?"
"Kalau ada pekerjaan penting kenapa kita tidak pulang saja?"
"Tidak Sayang, kita akan tetap pulang sesuai waktu yang sudah di sepakati. Kamu jangan berpikir aneh-aneh ya, Aku tidak marah padamu, sungguh," dua jari Arya terangkat dan membentuk huruf V di sana.
Hiks hiks hiks...
Sepertinya Arini masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Arya, dia malah langsung menangis sekarang.
"Arini memang bodoh, Arini jelek dan tidak bisa apapun. Kenapa Mas masih memilih Arini. Apa setelah Mas mengambil semua dariku Mas akan meninggalkanku?" Arini semakin terisak.
"*Astaga, kenapa jadi begini. Kamu bodoh Ar! kamu lupa seperti apa istrimu itu. Matilah kau sekarang." batin Arya frustasi*.
Dan akhirnya Arya terjebak dengan permainannya sendiri. Dia ingin memberikan Arini sedikit kejutan namun dia ingin mengerjai sebentar sebelum itu, tapi lihatlah sekarang? yang dia dapat benar-benar di luar ekspektasinya.
"Stts..., jangan menangis, Mas minta maaf. Mas juga tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Karena kamu adalah kesayanganku, sekarang, nanti dan selamanya."
Direngkuh nya tubuh Arini yang kecil, di sembunyikan di dada bidangnya yang terbungkus kain. Arya benar-benar sangat menyesal sekarang.
"*Aku kapok, Ya Allah. Aku tidak akan mengulangi ini lagi. Aku janji*," Arya benar-benar menyesal.
__ADS_1
Bersambung...