
Happy Reading...
Semua memang sangat menikmati acara pesta, tak terkecuali dengan Toni yang juga ikut serta tapi dia hanya duduk menikmati minuman yang di sediakan. Toni hanya terus melihat betapa meriahnya acara yang setiap tahun di adakan itu.
Kring... Kring... Kring...
Kenyamanan Ton seketika hilang saat ponselnya berbunyi, dan itu dari bosnya yang akhir-akhir ini terlihat sangat berbeda.
"Tuan Arya?" Toni langsung mengangkatnya.
"Ton, apakah kamu tau siapa yang menjadi teman Arini?" tanya Arya dari seberang.
Belum juga Toni menyapanya Arya sudah lebih dulu bertanya. Kenapa juga pertanyaannya adalah perihal Arini.
"Akhir-akhir ini Arini dekat dengan Raisa, Tuan. Dia juga seorang OB sama seperti Arini," jawab Toni.
"Di kamar mana dia berada?"
"Di kamar khusus para OB, Tuan."
"Hem, aku mengerti."
"Apa perlu saya bantu, Tuan?.... Astaga, sudah di matikan," keluh Toni. Baru saja dia menawarkan bantuan tapi Arya sudah memutuskan untuk sambungan teleponnya sungguh terlalu emang.
Bukan hanya Arya saja yang bingung mencari Arini, setelah mendapat telfon dari Arya Toni juga bergegas mencarinya.
__ADS_1
Toni yakin dia akan mendapatkan masalah jika dia hanya berdiam diri sementara Arya mencari Arini seorang diri.
"Benarkah Tuan Arya memang sudah jatuh hati dengan OB itu? Syukurlah, setidaknya ada gadis yang bisa melunakkan hatinya yang keras. Alhamdulillah juga yang berhasil adalah gadis polos seperti Arini."
Toni terus berjalan, dia juga siap meluncur ke kamar Raisa yang kemungkinan besar Arini juga ada di sana.
Arini terduduk di kasur kecil tempat istirahat Raisa. Dia terus diam tapi tangannya terus memasukkan roti dua ribuan yang menjadi bekalnya.
Sebenarnya Raisa menawarkan ingin mengambilkan makan untuknya tapi gadis itu menolaknya.
"Cungkring, kamu beneran hanya akan makan roti seperti itu? Apa semua cacing mu akan kenyang?" Raisa melangkah mendekati Arini dia langsung duduk di hadapannya.
Memandangi gadis kecil seketika bisa membuat Raisa menyayanginya, gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Cungkring, aku ambilkan makanan ya? Kalau kamu sampai kelaparan dan kamu pingsan pasti aku akan di gantung oleh Tuan Arya," imbuhnya.
Arini menghentikan aktivitasnya bahkan dia juga berhenti mengunyah lalu menatap Raisa dengan kesal.
"Mbak Raisa, sudah ya! Jangan sebut-sebut nama dia lagi. Arini tidak mau berurusan dengan pembohongan seperti dia," sepertinya Arini memang sangat kesal dengan Arya.
"Hahaha..., jangan mimpi bisa terlepas dari dia, Kring! Kamu memang bisa berkata seperti itu, kamu juga bisa berusaha dengan keras untuk menjauh darinya tapi aku yakin dia tidak akan semudah itu untuk melepaskan mu."
"Hem..., tidak buruk. Bisalah sebagai pengganjal perut," sejenak Raisa mengamati roti yang di dalamnya terdapat rasa cokelat itu. Ya, Arini memang sangat suka dengan sembarang cokelat.
"Mbak Raisa doyan juga? Arini kira mbak Raisa tidak akan sudi makan roti murah," celetuk Arini sinis.
Pletakk....
Sentilan keras berhasil mendarat di kening Arini membuat satu tangannya langsung mengelus nya.
"Perut kita itu tidak jauh berbeda, Kring! Kantong kita sepertinya juga sama," Raisa kembali memasukkan roti itu ke dalam mulutnya, mereka berdua begitu menikmati makanan murah itu dan tak ada niat untuk keluar mencari makanan yang istimewa, padahal di luar sana banyak sekali makanan yang enak dan tentunya makanan mahal.
"Kring, sebenarnya kamu dan Tuan Arya punya hubungan apa sih? Tidak mungkin tidak ada apa-apa tapi emaknya mengigit mu kayak singa kelaparan gitu." Raisa mulai lagi membicarakan tentang Arya dan terlihat Arini kembali kesal.
Mata Arini melotot tak suka.
"Jangan melotot seperti itu, nanti matamu keluar," ucap Raisa, "aku kan hanya bertanya, kalau kamu tidak mau mengatakannya aku pun juga tidak bisa maksa. Itu hak mu," imbuhnya.
"Arini dan pak Tuan tidak punya hubungan apapun, Mbak! Selain hanya OB dan bos saja. Selain itu tidak ada hal yang lebih," Tak mau Arini mengakuinya kalau Arya sebenarnya sudah mengatakan isi hatinya pada Arini.
Kini Arini tak ada lagi niat bahkan mimpi untuk bisa bersanding dengan Arya, dia akan kubur dalam-dalam semua yang sempat menjadi keinginannya akan hidup bersama Arya. Dia cukup sadar diri dengan status mereka berdua yang sangat berbeda jauh. Yang tidak mungkin mudah untuk disatukan.
"Oh..., kamu tidak bohong, kan?" Raisa terus menelisik, dia masih belum percaya sama sekali.
Arini mengambil satu botol air mineral, membuka tutupnya lalu meneguknya menggunakan sedotan. Arini menggeleng, dia meyakinkan Raisa kalau dia tidak berbohong sekarang.
__ADS_1
"Tidak," Jawab Arini, suaranya terdengar tengah menahan rasa sakit.
Raisa yang biasanya percaya dengan semua perkataan Arini kali ini dia sangat tidak percaya kepadanya. Meski mulut Arini mengatakan tidak tapi terlihat dari anggota tubuh yang lain mengatakan iya, Raisa sangat jelas melihat itu.
"Bukan apa-apa ya, Kring. Kita ini hanya orang miskin, orang yang akan selalu di pandang rendah oleh orang-orang kaya. Kamu orang baru di sini, kamu belum tau dengan jelas bagaimana cara orang kota memperlakukan orang-orang seperti kita."
"Bisa saja mereka menerima kita, pura-pura sayang kepada kita. Tapi setelah kita memberikan apa yang kita punya, menuruti apapun yang mereka inginkan mereka akan pergi meninggalkan kita, membuang kita selayaknya sampah yang tidak berguna."
Raisa termenung, apa yang dia katakan seolah mengungkit sebuah luka. Apakah mungkin Raisa juga pernah mengalami hal yang seperti itu?
Arini terdiam, dia berpikir dengan sangat keras. Benarkah apa yang Raisa katakan barusan? Apakah Arya juga akan membuangnya jika dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan atas Arini.
Arini tau seberapa besar Arya menginginkan tubuh Arini, menginginkan kesucian Arini yang selalu dia jaga dengan sekuat tenaga.
Apakah itu artinya Arya mendekati Arini karena berpura-pura baik untuk bisa mendapatkan semua itu? Setelah dia tidak bisa mendapatkan dengan paksa maka dia menggunakannya dengan cara yang halus seperti sekarang, dengan berpura-pura menyukai Arini?
Arini yang terdiam berhasil sadar sepenuhnya setelah Raisa menyentuh bahunya. Sontak Arini langsung memandangi Raisa dalam diam.
"Mungkin orang lain bisa seperti itu. Tapi aku yakin Tuan Arya tidak akan seperti itu. Aku lihat bagaimana perubahannya sekarang, dia menjadi lebih baik setelah kedatangan mu. Aku yakin Tuan Arya tidak memanfaatkan mu. Dia benar-benar tulus menyukaimu." Senyum manis Raisa keluarkan dia sangat yakin dengan apa yang dia katakan.
"Arini tidak tau, Mbak." jawab Arini.
"Jalani alurnya, nikmati semua prosesnya. Jika kalian memang berjodoh sebesar apapun badai akan bisa kalian lalui. Yakinlah, semua akan indah pada waktunya," ucap Raisa dengan petuah kecil yang mampu membuat Arini merasa damai.
"Terimakasih, Mbak." Arini sangat senang, dia bersyukur memiliki Raisa. Bukan hanya seperti seorang teman dan sahabat, tapi Raisa sudah seperti seorang kakak untuk Arini.
Tok... Tok... Tok...
Keduanya menoleh dengan cepat namun Arini kembali melamun sembari menikmati rotinya.
"Biar aku saja." Raisa beranjak dia yang akan melihat dan membukakan pintu untuk tamu yang entah siapa.
Raisa terpaku tatap saat melihat siapa yang datang, dia adalah laki-laki yang barusan di bicarakan, dia adalah Arya.
"Apakah Arini ada di sini?" tanyanya.
Raisa begitu gelagapan, dia ragu untuk menjawab. Dia menoleh sejenak ke arah Arini yang terus menikmati roti dengan diam dan tidak semangat bahkan tatapannya kosong.
"Minggir!" tanpa mendapatkan persetujuan dan belum sempat izin Arya sudah nyelonong masuk, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arini.
"Tuan..." Raisa begitu terkejut.
"Kamu keluar, dan tutup pintunya. Ingat! Jangan jadi tukang nguping kalau kamu tidak mau hidup di sini selamanya," ancam Arya dengan sadis.
Tentu akan membuat Raisa ketakutan kan? Mana mungkin dia mau hidup di sana selamanya.
"Baik, Tuan." Raisa patuh, dia keluar dari sana meninggalkan Arya juga Arini bahkan Raisa juga menutup pintunya.
Bersambung...
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_