
Happy Reading...
________
Pukul 02.04.....
Arini sedang dalam kebingungan, dia ingin sekali mengejutkan Arya dengan apa yang sudah dia hasilkan. Kue cokelat dengan beberapa ceri di atasnya, juga ada tiga lilin yang sudah dia nyalakan.
Dengan kue di tangannya Arini mondar-mandir di depan pintu kamar Arya, dia ingin sekali mengetuknya tapi dia takut. Jika dia mengetuk sekarang jelas dia akan mengganggunya dan mungkin dia akan dapatkan masalah dari Arya.
Bukan hanya Arini saja yang ada di sana, tapi ada Mila juga yang menemani. Mila terus mengatakan kepada Arini untuk mengetuk pintu dan membangunkan Arya tapi sarannya tidak di lakukan oleh Arini yang sekarang malah masih sangat bingung.
"Aku harus bagaimana ya sekarang?" ucapnya.
"Ketuk saja pintunya, Nya. Saya yakin Tuan Arya tidak akan marah, tapi malah sebaliknya," ujar Mila.
Mana mungkin kan Arya tidak akan marah, kalau Arini mengetuk pintunya pasti dia akan ngoceh karena Arini telah mengganggu istirahatnya. Tetapi Arini tidak mungkin kan akan berada di sana sampai pagi.
Arini beralih menghampiri Mila, juga beralih berdiri di belakang Mila. Tentu akan membuat penjaga rumah itu bingung dengan apa yang Arini lakukan.
"Mbak Mila aja ya yang ketuk pintu, please." Arini begitu memohon, wajahnya juga terlihat memelas saat Mila menoleh kebelakang.
"Tapi, Nya?"
"Ya... Ya..., iya dong." Arini cepat mendorong Mila dan berhasil membuatnya melangkah. "Cepat di ketuk," imbuh Arini dengan berbisik.
Sesuai dengan perintah Arini Mila langsung mengetuk pintu kamar Arya. Tapi gadis yang memintanya melakukan itu malah kini berlari dan bersembunyi. Arini berjongkok di sebelah sofa yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
Mila menggeleng pelan, tapi dia juga tersenyum melihat tingkah Arini yang seperti anak kecil, "ada-ada saja."
Mila kembali mengetuk pintu, dia terus berusaha untuk membangunkan Arya dia juga berteriak memanggil tuannya.
"Tuan, Tuan Arya!" panggil Mila.
Mila menghentikan pergerakan tangannya tapi dia kembali menyerukan panggilan kepada Arya. Dan terus berulang-ulang.
"Tuan!" panggilnya lagi.
Mila kembali menoleh kearah Arini dan saat itu bersamaan dengan pintu kamar Arya terbuka. Arya bangun dia juga keluar.
"Berani sekali kamu mengganggu tidurku, apa kamu sudah tidak betah bekerja di sini lagi?" nah kan! Yang terkena amukan adalah Mila dan bukan Arini.
__ADS_1
Mila kembali menoleh kearah Arya dan Tuannya itu juga sudah melotot tajam meski matanya masih merah karena bangun tidur.
"Ma-maaf, Tuan. Saya..."
"Dasar pengganggu, apa tidak pernah di ajarin sopan santun apa. Berani sekali mengganggu tidur orang lain," Arya begitu kesal.
Arya bergegas untuk kembali masuk, dia masih sangat ngantuk karena baru beberapa jam saja dia tidur dan sekarang? Malah di bangunkan tanpa adanya alasan, "menyebalkan."
Satu langkah Arya mundur, tangannya juga sudah bergerak untuk menutup pintu. Tapi kembali urung karena Mila.
"Tuan, itu.." Mila gugup, dia gemetar, dia juga takut. Mila menunduk tapi tangannya terangkat dan jarinya menunjuk di mana keberadaan Arini yang tengah bersembunyi.
Arya kembali keluar, memandangi arah jari milik Mila. Tak dia lihat apapun di sana melainkan hanya sofa saja. Arya mengernyit. Lalu berdecak dengan kesal.
Tapi tunggu dulu, terlihat ada sinar yang keluar dari balik sofa. Penerangan yang hanya remang-remang membuat sinar lilin yang Arini bawa berhasil memanggilnya.
"Hem..?" Arya semakin mengernyit, dia bingung.
Arya melirik Mila.
"Nyonya." hanya satu kata saja yang keluar dari bibir Mila. Alhasil membuat Arya penasaran hingga akhirnya dia mulai melangkah untuk melihat apa yang di lakukan oleh Arini di sana, tidak mungkin kan dia hanya main lilin.
Sementara Arini di balik sofa dia begitu anteng, matanya memandangi lilin yang mulai meleleh dengan satu tangannya melindungi supaya apinya tidak mati karena tertiup angin.
"Pak Tuan marah nggak ya, semoga saja dia tidak marah," gumamnya.
Kedatangan Arya sama sekali tidak di sadari oleh Arini, dia begitu fokus dengan kue juga lilinnya. Mulutnya juga terus berkecamuk tak tahan ingin sekali menikmati kue buatannya sendiri, tapi kali ini dia harus bisa menahannya.
"Tahan Arini, kue ini untuk Pak Tuan bukan untukmu." ucapnya.
"Tapi kelihatannya sangat enak, bagaimana mungkin aku bisa menahannya kalau begini. Atau aku makan saja ya, Pak Tuan kan tidak tau aku bisa beri dia yang lain." imbuhnya.
Arya ikut duduk berjongkok di belakang Arini mendengarkan apa yang gadis itu katakan. Arya tersenyum geli, bagaimana mungkin Arini yang berniat memberikan kejutan untuknya tapi malah ingin memakannya sendiri.
"Arini, bagi aku separuhnya ya. Jangan makan sendiri aku juga sangat penasaran dengan rasanya," bisik Arya.
Kedua telapak tangan menjadi tumpuan untuk dagunya matanya terus melihat punggung Arini tanpa berkedip sekaligus menikmati aroma yang keluar dari tubuh Arini.
"Mbak Mila mau juga?" karena begitu fokusnya sampai-sampai Arini tidak bisa membedakan suara yang keluar dari Arya, bukankah suara Arya juga Mila sangat berbeda? Tapi kenapa Arini tidak bisa membedakannya.
Arini berputar namun masih dengan berjongkok, matanya membulat saat melihat yang dia pikir adalah Mila ternyata adalah Arya.
__ADS_1
Arya meringis melihat Arini yang terlalu diam dalam keterkejutan.
Dengan iseng Arya meniup mata Arini hingga berhasil membuatnya berkedip.
"Kamu sangat menggemaskan kalau sedang terkejut seperti ini." ucapnya.
Arini berdiri dia hendak pergi karena kini dia kehilangan percaya dirinya, dia takut kalau Arya tidak akan menyukai apa yang dia buat.
"Mau kemana, bukannya itu untukku?" Arya juga ikut beranjak.
Arini tetap berjalan tak menghiraukan Arya, tapi laki-laki itu terus mengejarnya. Tidak ke kamar juga ke salah satu ruangan di sana tapi Arini berjalan keluar.
"Arini, mau kemana sih? Ini masih malam," Arya terus mengejar Arini yang tak berhenti juga menoleh sedikitpun.
Arini berhenti di sebuah taman kecil, dia duduk di sana. Arya pun juga ikut bergabung duduk di bangku yang sama.
Arini masih diam tatapannya lurus ke depan memangku kue yang sedari tadi dia pegang. Meskipun api terus bergoyang-goyang karena angin tapi tidak mematikannya.
Arya hanya bingung, sebenarnya apa yang Arini inginkan saat ini kenapa menuntunnya untuk sampai ke tempat yang menambah keromantisan karena di taman yang begitu banyak bunga-bunga yang mekar juga di bawah bintang-bintang malam.
"Selamat hari jadi, Pak Tuan." Arini mulai mengatakan apa yang menjadi tujuannya.
Arini duduk menghadap Arya menaikan kue yang terdapat lilin di atasnya. Menyodorkan hingga tepat di depan wajah Arya. Arya pun menyambutnya, sedikit memutar duduk hingga keduanya saling berhadapan.
"Barokallah fii umrik, Pak Tuan. Semoga pak Tuan selalu sehat, sukses, dan menjadi lebih baik. Lebih bertanggung jawab dengan semua yang pak Tuan miliki sekarang. Dan tentunya semakin dekat dengan Sang Tuhan."
Arya terdiam mendengar semua doa yang Arini berikan padanya. Ada senang, sedih juga haru. Seumur-umur baru kali ini ada orang yang dengan spesial mendoakan dan merayakan ulang tahunnya di tengah malam.
"Semoga pak Tuan semakin sejahtera juga semakin bahagia, apapun yang pak Tuan inginkan semoga terkabul."
"Aminn.." Arini yang mengatakan doa tapi dia sendiri mengaminkannya karena Arya masih diam terpaku dalam haru.
"Kenapa pak Tuan malah nangis? Pak Tuan tidak suka ya dengan kejutan Arini. Kalau tidak suka ya sudah nggak apa-apa. Arini maklum kok. Tapi jangan menangis dong! Jelek kalilah."
Ya, Arya berhasil menitihkan air mata karena kejutan dari Arini. Arya menggeleng dia tersenyum simpul, dia sangat bahagia mendapatkan kejutan sederhana ini.
"Aku senang. Terimakasih, Arini."
Bersambung.....
__ADS_1