
Happy Reading...
Arya menoleh dengan malas ke arah Luna yang memanggilnya dengan sangat keras. Kenapa mamanya itu selalu saja tak mau tau dan tidak mau mengerti apa yang Arya inginkan. Arya hanya seperti boneka untuknya yang bisa di mainkan sesuka hatinya.
Arya berdiri dengan diam di tempat yang tadi, tak ada pergerakan dari anggota tubuhnya hanya matanya saja yang terus berkeliaran ke sana-kemari untuk mencari Arini yang menghilang dalam keramaian.
"Ikut mama!" tak peduli dalam keramaian Luna menarik paksa pergelangan tangan Arya. Luna terus menariknya dan membawa Arya ke tempat yang sepi akan orang-orang.
Dengan mata yang masih berkeliaran Arya mengikuti langkah Luna. Dia mengikutinya begitu saja dan berhenti saat Luna berhenti dan melepaskan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan, Ar! apa kamu mau mempermalukan dirimu sendiri, hah!" Luna mulai menumpahkan segala kekesalan yang dia tahan di dalam hatinya.
"Kamu harus tau, Ar. Di sini ada orang tua Nadia juga! ada semua kolega mu juga! apa yang akan dia katakan kalau kamu memilih wanita yang buruk seperti gadis tak tau diri itu! gadis yang hanya akan merebut semua hartamu!"
Mata Arya mulai melotot, dia tidak terima saat Luna menjelekkan Arini. Arini adalah segalanya untuk Arya, Arya juga tidak percaya dengan apa yang Luna katakan akan Arini.
"Kamu harus berdansa dengan Nadia, Ar! dialah calon tunangan mu? bukan gadis buruk dan kampungan itu!"
"Tidak, Ma! Arya tidak mau. Arya hanya akan berdansa dengan Arini saja bukan dengan yang lain. Kalau Arini tidak mau maka aku juga tidak akan pernah berdansa dengan siapapun," tandas Arya.
Luna semakin marah karena Arya sama sekali tak mau mendengarkan apa yang dia katakan. Luna tidak mau tau, tapi Arya harus tetap menuruti apa yang dia inginkan.
"Ingat baik-baik, Ar! kalau sampai kamu menolak apa yang mama mau akan mama pastikan kamu akan menyesal, kamu tidak akan bisa bertemu dengan Arini lagi. Karena mama akan membuat dia keluar dari perusahaan dan dia akan sangat membencimu."
Luna bergegas pergi, dia meninggalkan kata yang penuh ancaman untuk Arya.
"Arghh...!" Arya teriak penuh frustasi.
__ADS_1
"Baik, Arya turuti apa yang mama minta sekarang tapi bukan berarti Arya mau bertunangan dengan wanita matre itu."
Arya menyeringai, sepertinya bukan hanya itu saja yang menjadi maksud dari Arya, tapi ada hal lain yang menjadi alasan untuk dia mau melakukan apa yang Luna inginkan.
Arya kembali ke tempat acara dengan wajah datar, dia juga langsung menghampiri Nadia dan juga mengulurkan tangan kepada Nadia.
"Arya," Nadia terpaku saat menatap wajah Arya yang berbinar penuh kepalsuan tapi Nadia percaya begitu saja.
Nadia tersenyum saat Arya juga tersenyum kepadanya. Tangan Nadia menyambut uluran tangan Arya dan mereka berdua benar-benar berdansa di tengah-tengah keramaian.
Dengan tangan memegangi high hells yang sempat Arini pakai sekarang dia tengah berdiri diam dengan mata memandangi Arya juga Nadia yang begitu serasi dan sangat cocok saat berdansa.
Mereka terlihat seirama dalam pergerakannya, tak terlihat kecanggungan juga rasa grogi. Keduanya sangat menikmati kebersamaan merupakan di tengah orang-orang yang terlihat menyukai dansa mereka.
"Sebenarnya pak Tuan akan cocok jika dengan mbak Nadia, bukan dengan Arini yang tidak ada apa-apanya ini. Hem..., mungkin aku memang bermimpi terlalu berlebihan."
Mulut mengatakan betapa serasinya mereka berdua tapi hati Arini terasa menyeruak panas, bahkan perlahan-lahan juga terasa sakit. Arini tidak menyukai kalau Arya dekat dengan wanita lain, Arini tidak menyukainya.
"Apakah aku terlalu egois? apakah aku terlalu memaksa perasaanku?" wajah Arini menjadi berkedut tak semangat.
Kakinya mulai melangkah dengan pelan. Lebih baik pergi daripada melihat Arya dan wanita lain yang berdansa dengan begitu bahagia. Arini tidak mau menjadi orang ketiga di tengah-tengah mereka.
Langkah kaki Arini terseret saat ada tangan yang menariknya dengan paksa, Arini hendak berteriak memanggil Arya karena biasanya dia yang melakukannya tapi ternyata bukan.
"Pak Tu... an..." ucapan Arini melirih setelah melihat ternyata seorang wanita yang menariknya. Dia adalah Luna.
"Lepasin, Nyonya," Arini memutar-mutar pergelangan tangan yang terasa sangat sakit. Luna begitu kuat mencengkram tangan kecil itu sampai membuat Arini meringis sakit.
Luna terus diam, dia belum mau mengatakan apapun mungkin dia masih menunggu mereka sampai di tempat yang pas.
Sampai di sebuah taman yang tak ada orang lain Luna melepaskan Arini tapi dia juga mendorong hingga Arini terjatuh di rumput kecil yang menutupi tanah.
Mata Luna begitu tidak bersahabat memandangi Arini, terlihat begitu besar kebenciannya.
"Puas kamu membuat Arya menjadi anak pembangkang! Puas!!" Luna langsung menyerukan apa yang ingin dia katakan sadari tadi. Luna sangat membenci Arini bahkan sebenarnya dia tak sudi memegangi Arini.
"Ingat batasan mu! kamu hanya seorang OB yang tidak akan pernah pantas bersanding dengan anak saya!"
"Saya tau, gadis miskin seperti kamu itu hanya akan mengincar pria kaya yang akan bisa kamu pelorotin hartanya. Mungkin Arya bisa tertipu dengan tampang polos mu itu, tapi tidak denganku."
Hati yang begitu lembut hati milik Arini, sedikit saja tergores dengan kata-kata kasar dia pasti akan langsung menangis, mengeluarkan semua air matanya. Dan sekarang air mata Arini sudah berderai dengan bebas.
__ADS_1
Arini menggeleng, Arini tidak seperti apa yang Luna katakan.
"Arini tidak seperti itu, Nyonya. Arini tidak mendekati Pak Tuan," ucap Arini menyela.
"Halah..., mana ada perempuan hina yang mau mengakui kelakuan buruknya!"
Arini kembali menggeleng, apapun yang Luna katakan itu adalah salah.
Lagi-lagi hinaan yang Arini dapatkan.
"Dan apa ini! baju ini, sepatu ini dan semua yang kamu pakai sekarang ini adalah hasil dari kamu merayu Arya bukan! sungguh wanita yang rendah! wanita hina, yang hanya mendekati laki-laki hanya karena harta."
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah lagi kamu dekati Arya! dia dan Nadia akan akan bertunangan besok. Kalau sampai Arya menggagalkan pertunangannya dengan Nadia berarti semua itu adalah ulah mu."
"Kamu yang harus bertanggung jawab akan semua itu."
Arini terperangah, dia begitu terkejut kalau ternyata semua acara di sana bukan hanya karena ulang tahun Arya juga ulang tahun perusahaan melainkan pertunangan Arya juga.
Belum apa-apa hati Arini begitu sangat sakit. Kenapa Arya membohonginya, kenapa dia tidak mengatakan kalau ini juga acara pertunangannya. Kenapa Arya seolah mempermainkannya.
"Jangan pernah ganggu Arya lagi. Camkan itu baik-baik!" suara Luna terdengar sangat menekankan juga terselip sebuah ancaman.
Luna pergi meninggalkan Arini yang tengah menangis di tengah kekecewaan. Kebahagiaan juga beberapa harapan kini sudah pupus dan mulai hilang.
"Cungkring..!"
Kedatangan Raisa sama sekali tidak di hiraukan oleh Arini, dia tetap menunduk dan terus menangis.
"Kamu tidak boleh menangis, Cungkring. Kamu harus kuat, dulu kamu bisa menghadapi apapun dan sekarang kamu juga harus bisa. Ada aku yang akan selalu bersamamu, kamu tidak sendiri," ucap Raisa yang tau semuanya. Raisa yang melihat Arini di tarik oleh Luna tadi langsung mengikutinya, dan dia bersembunyi di semak-semak.
"Mbak, Arini tidak seperti itu. Arini tidak berniat mendekati Pak Tuan," Arini terus menangis.
"Aku tau, kamu tidak akan seperti itu. Lebih baik sekarang aku antar kamu ke kamarmu, kamu istirahat."
"Mbak, bolehkah Arini tidur di kamar mbak Raisa?"
"Memangnya kamu di kamar mana sih? dari tadi siang aku mencari mu tidak ketemu?"
"Pak Tuan yang membawaku, Mbak. Tetapi sekarang Arini mau tidur dengan mbak Raisa saja."
"Apa! ka- kamu tidur dengan Tuan Arya?"
"Tidak, Mbak."
"Oh, syukurlah. Yuk, ambil semua barang-barang mu dan pindah di kamarku."
Raisa menuntun Arini, mengantarkan ke kamar dimana tadi dia istirahat dan sekarang dia akan berpindah ke kamar Raisa tanpa di ketahui oleh Arya.
Bersambung...
\_\_\_\_
__ADS_1