Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
224.Memenuhi Janji


__ADS_3

Happy Reading...



Arini membalikkan badannya ketika melihat suaminya melepaskan tangannya dan berjalan menjauh darinya. Matanya terus mengamati Arya yang masih terus melangkah hingga akhirnya dia berhenti tepat di depan dinding yang masih terdapat noda darah dari Arya yang sekarang sudah berubah menjadi kecoklatan.



Arya diam sejenak mengamati noda itu, ada sebuah sesal jika mengingat apa yang dia lakukan dulu kepada Arini. Dia mencoba melecehkan wanita yang benar-benar baik bahkan sangat suci dari hal yang namanya perzinahan.



"Itu apa?" Mata Arini juga melihat noda itu, dia sangat bingung karena dia tak tau itu noda dari apa. Mungkin kalau di lihat untuk sekarang seperti noda dari cokelat.



Arya hanya tersenyum getir jika mengingat semuanya, tapi kini dia bisa tersenyum bangga karena akhirnya wanita yang dia anggap sangat suci itu telah dia miliki seutuhnya.



"Mas," Panggil Arini tak sabar. Dia ingin mengetahui itu apa. Tapi sepertinya Arya belum mau memberitahunya.



Arya membalik dia kembali melangkah menghampiri Arini yang terdiam sekarang dengan rasa bingung juga mata terus menatap noda yang tertempel di dinding itu. Tapi itu tak lama karena Arini kini berpindah memandangi suaminya yang semakin dekat.



Arya berhenti tepat di depan Arini, memandangi netranya yang sedikit kecoklatan. Ditatapnya dengan sangat lekat hingga cukup lama.



Arini pun memandangi mata Arya juga meski Arini sedikit mendongak karena Arya terlalu tinggi untuknya.



"Ada apa, Mas. Apa ada masalah?" tanya Arini semakin penasaran.



Diraihnya kedua tangan Arini, di angkatnya dengan penuh kehalusan.



"Sayang, maafkan aku ya. Aku pernah melakukan kesalahan kepadamu. Aku salah menilai mu saat itu. Aku telah dibutakan dengan semua kenikmatan semu. Aku juga dibutakan dengan keangkuhan."



"Aku hampir memaksa mu untuk memberikan apa yang tidak menjadi hak ku saat itu, aku telah menyakitimu, maafkan aku."



Ucapan Arya benar tersirat penyesalan yang sangat dalam. Jika dulu Arya bisa mengambil apa yang tidak semestinya dari Arini mungkin sekarang dia tidak akan menjadi Arya yang seperti sekarang. Arya juga tidak akan mendapatkan kebahagiaan dari cinta yang tulus. Dan yang jelas Arya juga tidak akan mengenal Allah.



Arini melepaskan tangan Arya, dia melangkah dan mendekati noda darah itu dan menyentuhnya.



"Apakah ini noda darah, Mas?" tanya Arini. Dia yakin kalau itu bukan noda dari coklat tapi dari darah Arya saat itu. Arini ingat betul saat itu jari-jari Arya terluka mungkinkan dia telah menonjok tembok itu hingga terluka?



"Ya," Arya juga kembali melangkah, mendekati Arini.



"Karena itulah hari ini kita datang kesini. Aku ingin menebus semua kesalahan itu, aku...?"


__ADS_1


"Hem...?" Arini membalik, melihat Arya yang menatap fokus ke arahnya.



Arya kembali diam, dia ingin mengatakan kalau terdapat sebuah janji dari noda darah itu. Meski Arya mengucapkan karena kemarahan saat itu tapi dia tetap harus membayar janji itu kan?



Bukankah janji adalah hutang?



Arya ingin membayar hutang itu, Arya tidak mau dia akan menyesal di kemudian hari karena mengabaikan janji kecil meski dalam kemarahan.



"Sayang, aku memiliki sebuah janji di sini. Dan aku tidak bisa mengabaikan janji itu saja. Aku harus membayarnya kan?"



Arya mulai berbicara, mulai menjelaskan kenapa dia mengajak Arini datang ke sana.



"Janji, Kalau Mas punya janji harus secepatnya di tunaikan, janji adalah hutang dan hutang harus di bayar dan di pertanggung jawabkan meskipun sampai akhirat kelak. Jadi jangan main-main kalau mengenai janji dan hutang."



"Benarkah? Apakah aku harus membayarnya?" Arini mengangguk, pastilah harus di bayar.



Meski Arini tak tau janji apa yang Arya maksud tapi dia tetap saja mengangguk.



"Janjiku menyangkut kamu juga. Apakah kamu mau membantuku menepati janjiku?" Arya memandangi Arini, berharap Arini akan mengatakan 'ya' dan membantunya membayar janji yang sudah dia katakan.




"Iya, kamu harus membantuku memenuhi janji itu. Karena janji itu tidak akan terbayar jika tanpa bantuan darimu," ucap Arya dan membuat Arini semakin bingung, dia semakin tak mengerti apa yang harus dia lakukan.



Arya yang kembali terdiam membuat Arini semakin tak sabar untuk mengerti apa alasannya, kenapa harus dia juga yang ikut membantu untuk memenuhi janji yang Arya ucapkan.



Tapi Arini tak mau berlama-lama dalam perasaan bingung, dia tersenyum dengan sangat manis di hadapan Arya.



"Aku adalah istri Mas. Aku pasti akan membantu Mas mewujudkan janji itu. Janji Mas mungkin akan menjadi janji ku juga kan? Aku akan membantu, Mas," Ucap Arini begitu ikhlas.



"Memangnya, janji apa yang Mas buat. Kenapa harus melibatkan Arini juga?"



"Janjiku, apakah kamu mau mengetahuinya? Apakah kamu siap membantuku untuk menepati janji itu? Apakah kamu benar-benar bersedia?" tanya Arya.



"Aku siap. Jika aku bisa lakukan kenapa tidak. Aku akan selalu mendukung mu, Mas. Jangankan untuk memenuhi janji saja, semua akan aku lakukan untuk mu," ucap Arini.



"Hem.." Arya mengangguk senang.

__ADS_1



Arya begitu sumringah, dia senang karena Arini bersedia membantunya untuk mewujudkan janji yang telah dia buat sendiri kala itu dengan kemarahan. Dan ternyata janji itu akan terpenuhi tanpa Arya memaksa Arini, bahkan dia juga tidak akan berdosa dengan melakukannya.



"Janjiku," Arya meraih pinggang Arini menariknya dengan pelan hingga mereka berdua saling bersentuhan.



"Mas, ada apa ini?" Arini masih sangat bingung dia belum mengerti janji yang seperti apa.



Ctak...



Arya menjentikkan jarinya dan seperti biasa ruangan itu akan terkunci secara otomatis. Ada untungnya Arya memasang kunci otomatis, kalau tidak dia harus berjalan mengunci pintu dengan manual.



"Mas." Arini terus memandangi wajah Arya, melihat mata yang sudah bergelora dengan melihat wajah Arini. Apalagi bibir mungilnya. Seketika membuat Arya terbuai dan ingin secepatnya menikmatinya.



"Janjiku untuk menyentuhmu, di ruangan ini. Dan ini akan menjadi akhir pencarian ku. Setelah ini hanya ada kamu saja yang akan menjadi wanita ku menjadi wanita terakhir dan satu-satunya yang akan selalu aku sentuh. Tidak akan ada yang lain setelah ini."



"Ma..." ucapan Arini terhenti.



Terputus karena Arya yang sudah langsung membungkamnya dengan bibirnya dengan penuh gelora.



Menikmati dan terus menikmati bibir Arini, membuat gelora dalam dirinya semakin besar.



Arini yang belum pandai dengan permainan itu hanya bisa menerima setiap sentuhan Arya.



"Buka mulutmu Sayang," Suara Arya sudah terdengar serak. Tangannya langsung melepaskan tas selempang yang masih menggantung di pundak Arini. Bukan itu saja tapi hijab Arini juga mulai di lepaskan.



"Hem.." Arini bingung tapi dia tetap membuka mulutnya sesuai perintah suaminya. Entah apa yang akan dia lakukan.



Arya kembali menyatukan bibirnya dengan milik Arini mengecapnya bahkan lidahnya sudah menari-nari di dalam mulut Arini.



Arini kembali di buat bingung, kenapa lidah Arya harus masuk dan bermain-main di sana, apakah itu adalah salah satu janji yang harus dia bayar?



Arini semakin merinding, tubuhnya mulai panas dingin karena sentuhan Arya.



Cukup lama Arya mencium bibir Arini dan kini dia berpindah dan semakin turun di lehernya, memberikan tanda kepemilikan di sana, menjelajahi setiap inci dari leher Arini. Bagian yang membuat Arini semakin merinding saat Arya mencecap lama di belakang telinganya sebelah kanan, Arini benar-benar ingin menjerit tapi yang keluar malam erangan yang sangat menakjubkan.



\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2