
Happy Reading....
``````````````````
Meskipun selalu merasa gugup saat berhadapan dengan Raisa tetapi Dimas tetap saja menjemputnya saat pulang bekerja. Seperti saat ini dia sudah berada di depan gedung Gautama grup untuk menjemput Raisa.
Sebenarnya niatnya menjemput juga bukan murni keinginannya sendiri tetapi juga dari Nilam juga Arini yang memintanya untuk menjemput Raisa dan mengajaknya ke rumah.
Ya, hari ini adalah kepulangan Arya juga Arini bulan madu di Bali.
Dimas masih terus menunggu di dalam mobil sembari mata sesekali menoleh ke arah pintu gedung yang terbuka lebar, sebentar lagi waktu pulang telah tiba dan Raisa pasti akan segera keluar dari sana.
Benar saja tak butuh waktu lama Dimas sudah melihat gadis itu berjalan keluar dengan membawa tas hitamnya yang sudah menggantung dari bahunya.
Dimas cepat keluar dari mobil untuk menghadang Raisa supaya dia tahu kalau Dimas telah menjemputnya.
Raisa yang sudah semakin dekat secara otomatis juga sudah mengetahui keberadaan Dimas tetapi dia belum tahu kalau kedatangannya untuk menjemput dirinya.
"Raisa!" panggil Dimas dengan sedikit berteriak karena jaraknya juga belum terlalu dekat.
Raisa mengernyit namun tetap saja dia berjalan menghampiri Dimas, "ada apa Tuan, apa tuan ada perlu dengan saya?" tanya Raisa.
"Sebentar lagi Arini akan pulang, dan dia memintaku mengajakmu ke rumah. Ya katanya dia sangat merindukanmu," ucap Dimas. entah benar-benar merindukan Raisa atau mungkin itu hanya basa-basi Dimas saja supaya Raisa mau ikut dengannya tanpa ada perdebatan.
"Tapi saya harus pulang dulu tuan. Saya harus bersih-bersih dulu. Atau mungkin, Tuan pulang saja dulu nanti saya menyusul," ucap Raisa dengan sedikit alasan karena sebenarnya dia masih merasa gugup saat berada di hadapan Dimas dan itu semua karena kejadian waktu itu.
"Tidak usah, aku akan mengantarkan mu ke rumah, dan kita akan ke rumahku bersama," jawab Dimas. Sepertinya Dimas mulai terbiasa dengan kehadiran Raisa juga dengan kekonyolan gadis ini.
Mungkin memang hatinya sudah benar-benar menerima gadis itu dan hanya tinggal mengatakan saja kalau dia memang memiliki rasa kepada Raisa.
"Tidak usah tuan, takut merepotkan tuan," sebenarnya Raisa masih sangat enggan untuk kembali bersama dengan Dimas dia masih begitu malu.
"Kenapa? sepertinya kamu tidak diperbolehkan aku untuk datang ke rumahmu, apa jangan-jangan kamu sudah mempunyai suami atau mungkin anak?" hatinya merasa tak rela mengatakan itu tapi tetap saja kata-kata itu keluar dari bibir Dimas.
Mulut Raisa menganga, mana mungkin dia sudah menikah dan memiliki anak bahkan kali ini dia masih jomblo sama sekali tidak memiliki pasangan.
__ADS_1
Lagian Raisa juga masih mempunyai sedikit trauma dari masa lalu jadi dia harus hati-hati dalam memiliki pasangan karena tidak mau hal itu terjadi yang kedua kali.
"Kenapa mulutmu seperti itu dan kenapa juga matamu melotot. Kalau memang tidak ada yang kamu sembunyikan seharusnya tidak menjadi masalah kan kalau aku ikut ke rumahmu," desak Dimas.
"Tuan mau bukti! kalau begitu mari ikut saya ke rumah dan akan saya buktikan kalau di rumah tidak ada orang yang disebutkan oleh tuan itu. Karena saya belum menikah apalagi memiliki seorang anak," dengan wajah kesal Raisa langsung masuk begitu saja ke dalam mobil Dimas dan menutupnya cukup keras.
Dimas yang mengetahui itu sama sekali tidak merasa marah bahkan dia tersenyum, dia tahu kalau Raisa tidak berbohong dia masih single tetapi hanya dengan cara itu Dimas bisa ikut ke rumah Raisa kalau tidak Raisa akan terus menolaknya dengan berbagai macam cara.
Dimas juga langsung menyusul masuk ke kursi pengemudi, matanya melirik sekali dibarengi dengan senyum yang manis melihat wajah gadis itu terlihat berkedut menahan amarah.
"Di mana rumahmu?" tanya Dimas.
"Jalan Mawar Nomor 15," jawab Raisa begitu acuh.
Perlahan mobil mulai berjalan melesat menuju alamat yang dikatakan oleh Raisa barusan, keduanya hanya diam hanya lirik-lirik pandang saja secara bergantian.
Tak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai di rumah Raisa, lebih tepatnya Itu adalah sebuah kontrakan yang sudah satu tahun Raisa kontrak dan dia tempati.
Rumahnya sangat sederhana tetapi sangat nyaman.
"Tuh lihat! nggak ada siapapun kan di rumah? Aku ini masih lajang! masih single dan belum laku!" seloroh Raisa kesal.
Dimas pura-pura mengangguk tetapi juga menahan tawa di dalam hati. Tapi sepertinya tidak sampai di situ saja, karena Dimas masih ingin hal lain.
"Ini kan masih di luar rumah siapa tahu mereka bersembunyi di dalam rumah?" ucap Dimas.
Dimas tiba-tiba berjalan lebih cepat dan mencoba untuk masuk lebih dulu sebelum Raisa.
"Hey! di sini aku yang punya rumah. Kamu tidak boleh main nyelonong begitu saja tanpa izin dariku, hey!" teriak Raisa tetapi Dimas tetap tidak peduli dan terus melangkah masuk.
"Ih dasar bujang lapuk!" amarah Raisa semakin tinggi saja karena Dimas yang berlaku sesuka hati.
Raisa masuk ke dalam rumah mengikuti Dimas yang sudah lebih dulu. Dilihatnya laki-laki yang sangat menyebalkan menurutnya itu tengah berjalan memutar melihat dari sutu sudut ke sudut lainnya entah apa yang dia cari saat ini padahal di sana tidak ada apapun yang mencurigakan.
"Seharusnya kamu pasang satu foto jutekmu di depan pintu sini jadi orang akan tahu kalau penghuninya orangnya jutek," ledek Dimas sekenanya.
__ADS_1
Raisa semakin kesal laki-laki satu ini benar-benar membuat ubun-ubunnya mendidih.
"Jangan marah aku kan hanya memberi saran saja, kalau tidak mau dipakai ya sudah," ucap Dimas begitu enteng.
Dimas beralih duduk di kursi kayu yang warnanya juga sudah pudar meskipun bentuk kursinya tidak nyaman untuk ditempati tetapi Dimas terlihat sangat nyaman.
"Tamu adalah raja loh. Apa kamu tidak mau memberiku minum? biar aku kasih tahu kamu, seteguk air saja yang kamu berikan kepada tamu maka kamu akan mendapatkan pahala yang banyak apalagi dengan hidangan yang lainnya pasti pahalamu akan berlipat ganda," ucap Dimas.
"Ya! tamu yang tidak diundang!" jawab Raisa Ketus.
"Jangan seperti itu Raisa. cepatlah jamu tamu mu dengan baik supaya malaikat juga tidak akan malas untuk datang ke sini," ucapnya lagi.
Raisa tak lagi menjawab tetapi dia langsung masuk ke dalam mungkin dia akan memberikan sedikit suguhan untuk Dimas.
Sementara Dimas hanya terkekeh merasa geli dengan Raisa yang terlihat sangat menggemaskan kali ini.
Tidak lama Dimas menunggu Raisa Kembali keluar dengan membawa satu cangkir saja dan segera memberikannya kepada Dimas.
"Maaf saya belum sempat belanja dan hanya teh saja yang bisa saya suguhkan," ucap Raisa.
"Terima kasih, semoga Allah melipatgandakan rezeki mu," jawab Dimas dan menerima secangkir dari tangan Raisa.
Raisa kembali masuk tetapi dia masuk ke tempat yang berbeda. Sepertinya itu adalah kamar Raisa.
Dimas menunggu dengan anteng sembari menikmati teh panas buatan Raisa barusan. Selama menunggu Raisa Dimas mengambil ponselnya yang ada di saku dan memainkannya, bermain game sejenak juga bisa menghilangkan rasa bosan juga rasa lelah akibat pekerjaan.
Pintu terbuka, menampilkan Raisa dengan baju yang sudah berbeda dan terlihat lebih segar sepertinya dia sudah selesai bersih-bersih.
Rambut yang sedikit basah dia biarkan tergerai, juga dengan sedikit riasan yang menghiasi wajahnya membuat Raisa terlihat cantik secara natural.
Dimas terpaku melihat penampilan Raisa sekarang, celana hitam juga tunik berwarna maroon itulah yang menjadi style Raisa sekarang.
Jantung Dimas seketika berdetak cepat, benarkah dia terpesona dengan penampilan Raisa sekarang, benarkah dia jatuh hati kepada gadis barbar itu? mungkin.
```````````````
__ADS_1
Bersambung....