
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Demi menebus kesalahannya Arya harus menunggu Arini, dia harus menjaganya di rumah sakit dan tentunya ada suster yang di perintahkan khusus oleh Eyang Wati untuk mengawasi gerak-gerik Arya.
Setelah Arini tertidur barulah Eyang Wati pulang dan meninggalkan Arya di sana. Jelas Arini akan menolak jika Eyang Wati mengatakan kalau Arya akan menjaganya di sana saat dia sakit.
Masih dengan baju yang sobek Arya tetap tenang duduk di sofa ruangan Arini. Ruangan itu sangat luas karena Eyang Wati memindahkan Arini di ruang VIP semua itu demi kenyamanannya.
Lelah duduk Arya merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu, tangannya tetap sibuk dengan ponselnya. Diam tanpa melakukan apapun pastilah membuat Arya jenuh juga bosan tapi mau bagaimana lagi, dia sangat takut jika Eyangnya marah.
"Eh..," Arini geleng-geleng kepala keringatnya mengucur deras sepertinya dia tengah bermimpi buruk.
Arya langsung beranjak dia mendekati Arini, "dia kenapa, apa dia mimpi buruk? " tanyanya pada dirinya sendiri.
Arya terus berdiri diam dia bingung harus melakukan apa, "Sus! dia kenapa?" tanyanya sembari menoleh ke arah suster yang tengah masuk dengan membawa makan untuk Arini.
Cepat suster itu mendekat menaruh makan itu laludia memeriksa Arini, "sepertinya pasien bermimpi buruk, Tuan," jawabnya.
"Apakah harus di bangunkan? " tanya Arya.
"Hemm...?" suster itu berfikir.
"Akk...," belum juga di bangunkan Arini sudah bangun sendiri, dia langsung teriak histeris.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? " batin Arya bingung.
Arini menoleh dia mencari eyang Wati namun dia tidak menemukannya, hanya Arya saja yang berhasil dia lihat yang tengah berdiri dengan santai di sampingnya.
"Ke-kenapa Pak Tuan di sini! pergi! Arini tidak mau melihat pak Tuan!" usir Arini, jelas saja dia tak mau melihat Arya kesalahannya sangat fatal tak akan mudah di maafkan meskipun Arini bukan orang pendendam.
"Kenapa aku tidak boleh di sini, ini rumah sakit ku. Mau aku berada di ruangan manapun terserah," jawab Arya.
Arya ya tetap Arya, dia hanya akan baik dan terlihat menyesal saat ada Eyang Wati saja. Selebihnya tak ada rasa takut lah apalagi hanya dengan gadis kecil yang keras kepala seperti Arini.
"Pak Tuan pergi! Arini tidak mau bertemu lagi dengan pak Tuan! " ucap Arini, dia benar-benar tak ingin berurusan lagi dengan Arya dia tak peduli lagi dengan kontrak yang sudah dia tanda tangani.
__ADS_1
"Lebih baik kamu tidur dan jangan berisik ini sudah malam. Apa kamu mau mengganggu pasien yang lain di sini, cepat tidur!" perintah Arya tiada lembut-lembutnya sama sekali.
Arini menggeleng, lagian dia baru saja bangun masak iya harus tidur lagi. Meskipun dalam keadaan sakit juga tidak harus tidur terus kan.
"Tidak mau, Arini tidak mau tidur," jawab Arini.
"Tidur Arini, jangan membantah. Bukankah kamu mau cepat sembuh kan? sekarang cepatlah tidur," kekeuh Arya.
Arini kembali menggeleng, dia harus kembali waspada kan saat berada di depan pria kurang genap ini, bagaimana jika dia tidur dan tiba-tiba Arya melakukan hal buruk lagi padanya.
"Dan ya, kamu harus cepat sembuh, apa kamu tau? biaya di rumah sakit ini sangat mahal apa kamu bisa membayarnya. Saya sudah berbaik hati membayar biaya pengobatan mu juga nenekmu, jadi kamu harus membayarnya padaku," ucap Arya.
Arya tau setelah Arini sembuh dia pasti akan pergi dari Arya, dan Arya tidak akan mendapatkan maaf dari eyang Wati maka dari itu Arya harus menggunakan cara itu untuk bisa tetap menahan Arini supaya tidak pergi.
"Jangan lupa, bahwa hutangmu sangat banyak padaku. Jadi kamu tak bisa kabur sebelum kamu melunasi semuanya, kamu mengerti itu kan? Aku tau kamu mengerti tentang agama, orang yang punya hutang harus membayar kan? kalau tidak bukankah kamu tidak akan pernah masuk surga,"
Suster yang ada di sana di buat melongo dengan perkataan Arya, sejak kapan Tuannya itu bisa bicara seperti ini, apalagi dia bicara tentang agama juga tentang surga, tak bisa di percaya. Apakah mungkin karena di tampar oleh Eyangnya tadi membuatnya seperti ini.
"Jadi sekarang kamu tidur dan jangan membantah, cepat!"
"Ehhh.., apa yang kamu lakukan! bukankah aku memintamu untuk tidur, cepat tidur," ucap Arya tapi tetap tak di hiraukan oleh Arini.
Arini berjalan dengan pelan dia mengambil infus yang menggantung di tiang besi. Suster yang melihat pun langsung menghampirinya, "Mbak mau apa? mbak harus istirahat supaya cepat pulih," ucapnya dengan menghadang Arini.
Arya mengangguk membenarkan, "tuh dengar, kamu harus istirahat jangan keras kepala deh!"
Arini tetap berjalan dia masih sangat malas untuk berbicara. Dia ingin menghindari Arya karena dia tau bahwa dia tak bisa mengusir Arya dari sana.
"Berhenti Arini!" Arya menarik hijab Arini untuk menghentikannya yang pasti itu berhasil membuatnya berhenti.
Arini menoleh dia menutup mata sejenak dia ingin menenangkan hatinya dia tak ingin lama-lama dalam ketakutan, lagian ini di rumah sakit tak mungkin Arya berani melakukan hal buruk padanya.
"Lepas pak Tuan," pinta Arini.
"Tidak, kamu harus nurut padaku," Arya masih tetap menahan Arini dia tak akan membiarkan Arini pergi.
"Pak Tuan, apakah Anda ingin berdosa karena melarang orang yang mau shalat. Arini belum shalat isya, lepasin!"
__ADS_1
"Kamu masih sakit Arini, shalatnya bisa besok-besok lagi setelah kamu sembuh," jawab Arya.
"Tidak bisa, Pak Tuan. Arini harus tetap shalat, Arini juga tidak tau besok Arini masih bernafas atau tidak, Arini tidak mau meninggal dalam keadaan berhutang sama Allah, bukankah itu akan lebih buruk akibatnya," jawab Arini dengan sedikit geram.
"Kamu harus tetap istirahat, Arini. Menurut lah dan jangan membantah ku, cepat!"
"Maaf, Pak Tuan. Arini harus shalat dulu," Arini melepaskan hijabnya dari tangan Arya dia cepat masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Dasar keras kepala! " sungut Arya begitu kesal. Kenapa satu anak ini tidak bisa dia kendalikan seperti gadis-gadis yang lainnya membuat Arya semakin frustasi jika memikirkan semua itu.
Arya hanya mondar-mandir menunggu Arini keluar dari kamar mandi, dia benar-benar tak habis pikir dengan gadis itu.
Setelah beberapa saat Arini keluar membuat Arya langsung menoleh, Arini tetap acuh tak menghiraukan Arya.
Memang Arini sangat lemah tapi dia masih bisa jalan sampai kamar mandi, dia juga masih sanggup untuk menjalankan shalat dengan berdiri.
Untung saja Arya juga membawa tas Arini saat ke rumah sakit jadi dia bisa memakai mukena yang selalu ada di dalam tas nya. Tanpa menghiraukan Arya, Arini langsung memakai mukena nya mengelar sajadah tipis dan segera melaksanakan shalat.
Arya duduk kembali di sofa matanya tak pernah lepas dari Arini yang tengah shalat. "Emang apa sih untungnya shalat, kenapa dia sampai bela-belain melakukannya meskipun dalam keadaan sakit, apa dengan itu akan membuatnya sembuh? tidak mungkin kan?" Arya mengernyit dia tak mengenal tentang semua itu.
Semua pergerakan Arini selalu di lihat oleh Arya dia sama sekali tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, " batin Arya.
Selesai shalat Arini kembali melepaskan mukenanya, melipatnya sebelum dia berdiri. Di saat Arini hendak berdiri tiba-tiba dia merasa pusing dia sempoyongan dan hampir jatuh.
"Arini," teriak Arya, Arya berlari langsung menangkap Arini supaya tidak terjatuh, "sudah aku bilang kan! kamu masih sakit kamu harus istirahat! jangan keras kepala bisa nggak sih!" omel Arya.
Arini cepat-cepat melepaskan diri dari Arya, dia tak mau Arya menyentuhnya, "jangan sentuh saya, dan jauh-jauh lah dari saya," ucap Arini dengan begitu dingin.
"Kenapa dia begitu angkuh, di mana Arini yang polos kemarin?" Arya bingung sendiri saat melihat perubahan Arini yang begitu cepat.
////
Bersambung...
___________
__ADS_1