Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
75.Getaran Dua Hati


__ADS_3

...______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


"Arini...!! " teriakan begitu menggelegar mengejutkan semua orang di sana.


Sang penguasa bergerak cepat untuk menangkap tubuh kecil Arini supaya tak terjatuh dan terbentur lantai.


Di dekapnya dengan begitu erat tubuh yang semakin hari semakin bertambah kecil, beban yang Arini dapatkan, ujian yang selalu menghampirinya yang seperti sekarang inilah yang membuat Arini terus berfikir begitu dalam hingga tubuhnya terlihat bertambah kecil.


Jika saja baju yang Arini pakai adalah baju yang ketat seperti yang mereka-mereka pakai pasti akan terlihat jelas betapa kecilnya Arini. Bahkan pergelangan tangannya saja sama seperti anak kecil berusia 10 tahunan sungguh kecil.


Bukan itu saja, jari-jemarinya juga sangat langsing di pijat pun tak terasa kalau ada dagingnya, hanya seperti tulang yang tertutup kulit saja.


Arini tertegun dia sudah pasrah jika harus kembali terjatuh, dia sudah ikhlas dengan semuanya dia tetap tak ingin melawan. Karena jika keburukan di balas dengan keburukan semua tidak akan pernah ada habisnya.


"Arini, kamu tidak apa-apa? " Semburat khawatir hadir di wajah seorang Arya, matanya menelisik setiap titik wajah Arini yang terlihat sangat terkejut.


Arini tersadar setelah mendengar suara Arya, dia pikir dia sudah terjatuh di lantai tadi tapi ternyata? Kini dia ada di dekapan Arya dan tentunya tak ada jarak di antara mereka.


Netra hitam dari Arya terus mengamati wajah Arini, dia masih menunggu jawaban darinya. Entah jawaban seperti apa yang dia ingin dengar, mungkin hanya kata baik-baik saja itu akan cukup baginya.


"Pak Tuan," Suara Arini seolah tercekat, netra coklatnya bertubrukan dengan netra hitam milik Arya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" suaranya begitu halus, tak seperti biasanya yang dingin bin ketus bin jutek-jutek bebek kali ini sungguh berbeda.


Kerasukan apa Pak Tuan hari ini?


Mungkin hanya satu kalimat itulah yang ada di dalam kepala Arini dan masih dia pendam dengan rapat.


"A- Arini baik-baik saja," ucapan Arini begitu gagap, kata-katanya juga terputus-putus.

__ADS_1


Ada dua hati yang saling memberikan sebuah getaran perkenalan, ada dua jantung yang terus membunyikan irama dan saling bersahut-sahutan. Tapi keduanya tak menyadari tentang respon dari dua hati di dalam dua tubuh yang berbeda.


Kesadaran Arini kembali sempurna, dia melepaskan diri dari dekapan Arya. Sepertinya dua hati mereka lebih menyalahkan Arini karena mereka belum bisa mengenal lebih jelas namun sudah di paksa untuk menjauh.


Tekat Arini sepertinya tidak di inginkan oleh sang Pencipta, dia ingin menjauh dari Arya tapi kakinya? Kakinya tak mau di ajak berkompromi dengan keinginannya.


Kakinya yang sakit membuat Arini kembali ingin jatuh dan dengan sigap Arya langsung mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongan.


"Pak Tuan, turunin Arini," berontak itu pasti, tapi Arya seolah tak mendengar suara itu dan terus diam.


Matanya bisa terlihat bersahabat dengan Arini, tapi tidak untuk kedua wanita yang telah menyakiti mainnya itu. Tatapan bengis penuh gelora kemarahan terlihat jelas menubruk Nadia juga Melisa. Kali ini dia benar-benar tidak akan bisa bersahabat dan berbaik hati lagi pada mereka.


Matanya beralih ke arah asisten Toni yang sedari tadi mengikutinya. Pria tampan itu langsung tau apa yang Arya inginkan tanpa Arya mengatakan apapun padanya. Toni sudah sangat hafal dengan Tuannya.


"Baik, Tuan," ucapan Toni sudah membuat Arya puas.


Tanpa mengatakan apapun lagi Arya pergi meninggalkan tempat itu dengan menggendong Arini yang masih terus bergerak ingin di turunkan tapi itu tidak akan terjadi karena Arya tidak mau sampai Arini terjatuh lagi.


Langkahnya berhenti tepat di depan lift, penjaga yang ada di sana sudah langsung paham dia memencet tombol dan lift itu terbuka dengan sendirinya. Arya pun melanjutkan perjalanannya untuk ke tempat tertinggi di gedung itu.


Perlakuan Arya pada Arini terjadi di depan mata mereka bagaimana mungkin hati mereka akan baik-baik saja. Mereka sudah sangat membenci Arini dan setelah melihat semuanya mereka akan semakin membencinya.


Toni menoleh ke segala arah dan masih banyak para karyawan yang menjadi penonton, tapi itu tak berlangsung lama setelah tatapan tajam Toni mengintimidasi mereka semua kabur karena tak mau mendapatkan hukuman yang sama.


Kaki Nadia di hentak-hentakkan ke lantai sebelum dia memutuskan untuk pergi, dia kesal karena dia tak berhasil melakukan rencananya. Semua seolah berbalik dan malah menguntungkan Arini, niatnya dia yang ingin mendapatkan perhatian dari Arya tapi ternyata?


"Nona Nadia. Jangan pernah datang lagi ke sini jika anda tidak ingin hancur," ucap Toni dengan penuh ketegasan.


"Hancur? Hahaha... , apa yang bisa kalian lakukan! " langkah Nadia terhenti. Dia memutar badan setelah mendengar apa yang Toni katakan.


"Hem.., yang bisa kami lakukan? Bahkan kami bisa menjatuhkan Nona dari puncak ketenaran hingga ke dasar jurang."

__ADS_1


"Apa maksudmu!! "


"Apa Nona tidak tahu? Bukankah surat yang Anda tanda tangani kemarin adalah surat kontrak dari perusahaan Gautama? " Toni menyeringai, gadis belagu juga sombong seperti Nadia tak akan susah untuk dia kalahkan.


Mata Nadia terbelalak, benarkah apa yang Toni katakan? Surat kontrak yang menghasilkan begitu banyak uang untuknya adalah surat kontrak dari perusahaan Gautama? Bagaimana bisa dia tak tau itu, kenapa dia begitu bodoh dan tidak memeriksa semuanya lebih dulu?


"Sekali lagi Anda membuat kesalahan pada Tuan Arya, maka anda benar-benar akan terjun bebas ke dasar jurang kehancuran. Saya akan pastikan itu terjadi pada anda."


Toni membalikkan badannya, dia beralih mendatangi Melisa yang masih terus menunduk dalam kemarahan juga penyesalan. Kenapa juga dia mau membantu Nadia dalam rencananya. Jika dia tidak ikut campur pasti dia tidak akan mendapatkan masalah. Tapi siapa yang akan bisa menolak uang sepuluh juta dalam sekali kerja saja? Melisa tak akan menyia-nyiakan semua itu.


"Kamu, ikut saya sekarang! "


Suara keras dari Toni begitu mengejutkan Melisa, seketika wajahnya terangkat dan memandangi Toni.


Apakah dia akan di pecat?


Apakah hari ini benar-benar hati terakhirnya berasa di sini?


Melisa sangat was-was dia takut akan kehilangan pekerjaannya. Dia melakukan itu juga karena iming-iming uang yang banyak dari Nadia. Dia kan mata duitan, sekali saja di lihatin banyak uang pasti akan berubah merah kan matanya.


"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. 𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘵, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢𝘮, 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘶. " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘔𝘦𝘭𝘪𝘴𝘢.


Melisa benar-benar tak punya akal, dia yang melakukan kesalahan tapi dia masih saja menyalahkan Arini. Benar-benar tak ada baik-baik Arini di matanya.


"Kenapa masih diam saja, cepat ikut! " bentakan dari Toni kembali menyadarkan Melisa.


Melisa tergagap dia mulai melangkah pelan di belakang Toni setelah menjawab sekedarnya.


"Ba-baik, Tuan."


///////

__ADS_1


Bersambung....


________


__ADS_2