Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
255.Kembali Bekerja


__ADS_3

Happy Reading...


*********


Hari pertama untuk Arini membantu Arya bersiap untuk pergi ke kantor. Dia terlihat sibuk namun dia sangat tenang mengerjakan semua pekerjaan dengan cepat dan juga cekatan.


Setelah selesai memasak untuk sarapan pagi Arini membantu Arya memakai dasi di ruang tengah, kali ini dia tidak banyak protes dan banyak bicara karena dia sudah bisa memakaikan dasi untuk Arya. Ya, setelah semalam dia diam-diam membuka video yang ada di ponselnya tentang cara memakaikan dasi yang benar dan sekarang dia benar-benar bisa bahkan hasilnya sangat sempurna.


Arya terpaku melihat pergerakan tangan Arini yang terus mengikatkan dasi di lehernya, Dia pikir istrinya ini akan kesusahan seperti dulu saat pertama kali dia memintanya tapi alhamdulillah, sekarang istrinya bisa diandalkan.


"Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur karena telah berhasil melakukan tugasnya.


Arini tersenyum melihat hasil yang sangat sempurna, begitu juga dengan Arya. Dia juga sangat senang bisa melihat senyum itu di pagi hari. Arya menjadi semakin semangat seolah dia mendapatkan energi baru untuk menjalani hari pertamanya di kantor setelah dia cuti berapa hari.


"Muach! Hadiah ku karena keberhasilan istriku," Arya memberikan satu kecupan di kening Arini sebagai tanda cintanya yang semakin bertambah karena keberhasilan Arini. Dan juga Arini yang semakin hari semakin terlihat pintar.


"Apasih!" Arini tersipu dengan tangan memberikan cubitan kecil di perut Arya, bukan itu saja tetapi Arini cepat memalingkan wajah dan pergi menuju meja makan sekedar untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.


"Sayang, jangan di tinggal dong!" Arya juga langsung mengejar Arini dia tidak ingin jauh-jauh dari istrinya selama ada di rumah. Entah seperti apa harinya di kantor nanti tanpa kehadiran istrinya, pasti dia akan sangat merindukannya dan tidak akan bisa konsentrasi.


Arini menarik kursi dan meminta Arya untuk duduk sementara dirinya mulai bergerak mengambil piring dan siap untuk melayani suaminya. Mengambilkan sarapan untuknya.


Bukan hanya sarapan saja yang sudah disiapkan oleh Arini tetapi juga kotak bekal untuk makan siang Arya juga sudah siap ada di meja makan. Arini hanya ingin Arya selalu makan makanan rumah dan bukan jajan di sembarang tempat.


"Terimakasih Sayang," ucap Arya setelah Arini berhasil mengambilkan nasi dan memberikan sepiring penuh untuknya.


"Sini duduk," Arya menggeser kursi yang ada di sebelahnya menarik tangan Arini dan membuatnya langsung duduk.


Setelah Arini duduk perlahan Arya menyendok nasi yang ada di hadapannya dan mulai menyuapkan kepada Arini.


"Akk!" Pintanya dengan tangan yang sudah terangkat dan sendok sudah ada di depan mulut Arini.


Mata Arini memicing karena perbuatan Arya saat ini, padahal dia menginginkan Arya yang memakannya tetapi kenapa suaminya itu malah menyuapkan untuknya.


"Ini kan untuk sarapan kamu, Mas? Kenapa malah menyuapi Arini?"


Arya tersenyum menanggapi pertanyaan Arini dia hanya melakukan apa yang ingin dilakukan dan untuk saat ini dia menginginkan untuk menyuapi Arini sebelum dia pergi ke kantor.

__ADS_1


Dia hanya ingin memastikan bahwa istrinya sudah kenyang saat dia pergi, dia takut kalau Arini akan lupa makan jika tidak ada dirinya.


"Takut kamu lupa, Sayang. Biasanya kamu selalu sibuk melakukan ini itu sampai-sampai lupa makan. Mas tidak mau kamu sampai kelaparan," Jawab Arya menjelaskan.


"Oh, tapi Mas juga harus makan ya?" Arini tidak mau kalah dan kini tangannya mengambil sendok dan bergerak juga untuk menyuapi Arya. Pagi yang indah untuk keduanya makan satu piring berdua dengan cara saling menyuapi.


"Alhamdulillah," Tak butuh waktu lama piring yang tadinya penuh sekarang sudah ludes tidak tersisa. Entah mereka benar-benar kenyang atau tidak karena porsi yang hanya untuk satu orang harus dimakan mereka berdua.


"Mas berangkat ya. Kamu hati-hati di rumah, kalau orang yang aku bilang kemarin datang cepat hubungi aku, oke," ucap Arya.


"Iya," Arini mengangguk cepat.


"Assalamu'alaikum.." Arya beranjak membenarkan kursi sejenak lalu mencium kening Arini sebelum dia pergi. Sementara Arini juga langsung meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati mas. Bekalnya jangan lupa di makan," Arini mengingatkan.


"Pasti sayang. Jangan khawatir."


Arya bergegas berangkat karena dia tidak mau sampai terlambat. Meskipun dia sudah menikah dan sudah berkeluarga tetapi disiplin harus tetap diutamakan karena itu akan menjadi contoh untuk semua karyawan yang bekerja dengannya.


*********


Semua karyawan sudah datang dan sudah mulai menempati tempat mereka masing-masing semua mulai sibuk karena jam kerja juga sudah dimulai. Begitu juga dengan atasan mereka Beliau juga sudah datang dan kini juga sudah sibuk di ruang kerjanya.


Di saat Arya tengah sibuk pintu ruangan Arya diketuk dari luar membuatnya harus menghentikan sejenak pekerjaannya.


Tok tok tok..


"Masuk!" Suara Arya terdengar keras mungkin jika tidak akan terdengar dari luar jadi Arya melakukan itu.


Ternyata Toni lah yang datang di pagi hari ini. Arya mengernyit melihat Toni yang terlihat ragu juga sangat gugup untuk berbicara, entah sebenarnya apa yang ingin dia katakan.


"Kenapa, apa ada masalah?" Tanya Arya tidak sabaran. Dia ingin dapat mendengarkan penjelasan Toni karena dia juga harus bekerja dengan cepat, dia tidak mau sampai pekerjaannya menumpuk dan membuatnya harus lembur. Tentu dia tidak mau meninggalkan istrinya di rumah terlalu lama.


"Tuan, bolehkah saya izin cuti dua hari?" Toni menunduk takut, dia gugup apakah mungkin dia akan mendapatkan izin dari Arya?


Arya belum menjawab tetapi matanya terus melihat Toni untuk meminta penjelasan yang sangat jelas kenapa dia meminta cuti dua hari.

__ADS_1


"Saya harus mengantarkan Nisa pulang ke kampung, dan...?"


"Apakah kamu berniat melamarnya?" tanya Arya to the poin.


Toni mengangguk, apa yang ditanyakan Arya adalah benar. Sesuai permintaan Arya dia juga harus menemukan wanitanya kan, dan kini dia sudah menemukan juga Ingin secepatnya meresmikan hubungannya menuju hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan.


"Pergilah, semoga kamu berhasil. Tapi ingat! Hari ini kamu harus selesaikan semua pekerjaanmu dulu kamu tidak boleh pergi jika masih meninggalkan pekerjaan, kamu mengerti," tandas Arya.


"Baik, Tuan," begitu senang rasa hati Toni akhirnya dia mendapat izin dari Arya untuk pergi ke rumah Nisa untuk melamarnya.


Saking bahagianya Toni berjalan cepat menuju tempat Arya meraih tangan bosnya itu dan langsung mengecupi punggung tangannya, Dia sangat berterima kasih juga sangat senang.


"Apa-apaan kamu! Jangan sekali lagi kamu melakukan itu! Aku ini laki-laki normal, ishh... Dasar kau ini,"


Baru beberapa kecupan Arya yang terkejut langsung menarik tangannya kasar dan mengambil tisu dan mengelapnya. Arya begitu kesal bisa-bisanya asistennya itu melakukan hal yang seperti itu.


"Memalukan!" Seloroh nya.


Toni hanya bisa tersenyum kikuk setelah melakukan itu. Itu adalah hal yang muncul dari dalam hatinya, dia juga tidak sadar melakukan itu, dia reflek saja tadi.


"Pergi sana! Dan ya! Saya tidak mau mendengar penolakan. Kalau kamu tidak mendapat restu maka kamu juga tidak boleh kembali," Ancam Arya.


Toni melongo.


"Kenapa malah melongo di sana, cepat pergi! Dan selesaikan semua pekerjaanmu!"


"I_iya, Tuan."


Toni cepat keluar, kalau tidak dia pasti akan kembali di semprot lagi oleh bosnya itu. Atau mungkin dia akan berubah pikiran? Jangan sampai itu terjadi.


"Dasar Toni! Emang aku laki-laki apaan!" ocehnya, padahal Toni juga sudah pergi dan dia masih saja mengoceh juga terus membersihkan punggung tangannya dengan tisu basah.


"Di sini kan bekas bibir Arini? Ish, gaji Toni harus di potong karena berani melakukan ini," Tak ada habisnya hatinya merasa dongkol.


*******


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2