
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Kedua OB yang berbeda usia juga berbeda penampilan tengah berjalan berdampingan. Satu bajunya begitu terbuka juga memperlihatkan lekuk tubuhnya tapi satunya lagi pakaiannya begitu tertutup juga sangat longgar, dan menutupi tubuh yang sebenarnya sangat kecil. Mereka adalah Raisa juga Arini.
Di jam istirahat ini mereka berdua putuskan untuk makan siang bersama di kantin. Raisa juga bukan anak dari orang berada dia juga sangat sederhana, dari segi pengeluaran dia juga bisa mengendalikan dengan baik namun bukan berarti dia juga akan terlalu perhitungan untuk urusan perut.
Tak lagi ada rasa malu pada Raisa. Sebenarnya dia bukan orang yang pilih-pilih dalam berteman, semua bisa menjadi temannya hanya saja dia akan lebih melihat dulu bagaimana sifat calon temannya, jika baik maka dia akan berteman tapi jika akhirnya buruk lebih baik dia menjauh daripada dia ikutan tertular dengan keburukannya.
"Arini, kamu nggak gerah pakai baju seperti itu? Aku saja yang lihat gerah, apalagi kamu," Raisa sudah gerah lebih dulu sebelum dia mencoba memakainya.
Memang jika belum biasa akan terasa gerah, apalagi kalau hanya melihat saja pasti terlihat tak ada enak-enaknya tapi kalau sudah terbiasa rasanya akan lebih nikmat daripada dengan baju yang terbuka dan kepanasan karena matahari.
Arini menggeleng, dia mana mungkin merasa gerah. Dia sudah sangat terbiasa, sejak kecil dia sudah belajar dan terus belajar menahan rasa panas dari pakaian yang dia pakai, dia juga belajar menahan rasa penasaran dari baju-baju indah yang selalu di kenakan dari kedua kakaknya, dia tak ingin tergoda.
"Tidak, gerah atau panas di dunia belum seberapa daripada di akhirat. Jadi bagaimana aku akan mengeluh," jawab Arini.
Rasanya sungguh tertampar mulut Raisa. Sepertinya kali ini dia di mendapatkan pelajaran dari orang yang dia anggapnya bodoh.
Raisa memang tak begitu tau akan ilmu agama tapi dia sedikit dengar tentang surga dan neraka.
Raisa terdiam, dia tak ingin kembali tertampar kedua kalinya karena pertanyaannya sendiri. Mungkin apa yang Arini katakan itu benar tapi dia belum siap untuk hijrah dan menjadi yang baik seperti Arini.
Raisa hanya tersenyum kecut menanggapi jawaban dari Arini lalu kembali fokus dengan jalan yang dia tempuh.
Kantin ada di depan mata, meskipun karyawan-karyawan di sana sangat banyak tapi setiap harinya yang akan datang ke kantor itu tapi tidak akan memenuhinya kantin yang sebenarnya sangat besar.
"Mbak, kita duduk di sini saja ya?" Arini menunjukkan bangku yang tepat di depan matanya.
Raisa hanya mengangguk dan tak menjawab apapun namun dia langsung duduk.
"Arini, sepertinya kedatangan mu ke sini akan memberikan warna baru pada perusahaan ini deh, terutama pada tuan Arya," Raisa tak melihat Arini saat bicara, dia fokus dengan buku menu yang ada di depannya.
"Maksud Mbak Raisa, merubah warna yang kayak gimana? Arini saja tak bisa mengecat bagaimana bisa ngubah warna perusahaan ini. Lagian warna ini sudah bagus kok nggak usah di ubah lagi." jelas Arini bingung warna baru yang seperti apa dia sama sekali tak mengerti. Lagian Arini juga tak melakukan apapun.
__ADS_1
Yang seperti ini nih yang membuat Raisa harus benar-benar sabar menjelaskan pada Arini meskipun harus sedetail mungkin dia akan menjelaskannya.
"Bukan begitu maksudku, Arini. Haduh..., sebenarnya aku tuh ogah ya ngomong panjang kali lebar padamu yang otak setengah entah nyangkut di mana," Raisa harus memiliki stok kesabaran yang banyak kalau mau bicara dengan Arini, entah polos atau memang kelewat bodoh.
"Terus warna yang seperti apa, Mbak! Arini benar-benar nggak ngerti. Kan Arini selalu bilang Arini itu bodoh, oh salah..., Arini itu tidak bodoh hanya belum pandai saja," ucap Arini dengan begitu polosnya.
"Sama saja itu mah," Raisa geleng-geleng di buatnya.
"Benarkah sama? Aku rasa tidak. Kalau bodoh kan karena memang tidak bisa pandai, kalau belum pandai sewaktu-waktu kan bisa pandai," Arini bingung sendiri mengatakannya.
"Terserah kamu lah mau mengatakan apapun! " Raisa tak akan memiliki stok kesabaran itu sepertinya.
"Hehehe... " ini nih kebiasaan Arini, setelah membuat orang pening dia hanya akan meringis tanpa rasa bersalah begitu saja. Tapi kenapa terlihat sangat imut sekali, Raisa di buat gemas tangannya ingin sekali mencubit kedua pipinya.
"Begini ya Arini, kamu tau kan syarat masuk sini itu gimana? Harus ini lah itu lah.. Apa kamu masuk ke dalam Syarat itu, tidak kan? tapi nyatanya? Tuan Arya tetap menerimamu, apa itu tidak aneh?" tak ada yang di tutup-tutupi dari Raisa dia selalu saja ngomong apa adanya, ya karena itulah dia yang sebenarnya. Kalau suka dia akan bilang suka atau sebaliknya, kalau jelek, bagus dia akan mengatakannya.
Arini masih diam termenung, otaknya mana sampai jika harus memikirkan yang seperti itu. Dia datang kan untuk bekerja bukan untuk merubah warna.
"Percaya deh sama aku, kedatangan mu..." ucapan Raisa terhenti karena Arini sudah menyelanya.
"Jangan kebiasaan deh, kalau ada orang yang lagi ngomong jangan suka motong-motong bisa nggak sih! enak banget kayak motong kue," kesal Raisa.
"Ya maaf, Mbak. Abisnya kata Mbak... " kini ucapan Arini yang di potong.
"Udah diem, biar aku jelaskan dulu. Begini Arini, maksudnya kamu percaya dengan apa yang aku katakan kalau kedatangan mu pasti akan mengubah semuanya di kemudian hari. Nyatanya kamu terus saja melakukan kesalahan tapi tuan Arya sama sekali tak memecat mu, kalau yang lain bisa di depak langsung hari itu juga,"
"Atau jangan-jangan...," Mata Raisa langsung melotot ke arah Arini, "atau jangan-jangan tuan Arya naksir ya sama kamu," tebak Raisa.
"Jangan bikin gosip deh, Mbak! Arini rasa pak Tuan hanya kasian saja sama Arini." jawabnya.
"Aku tidak yakin," Raisa kembali melengos dan kembali fokus dengan buku menunya, "kamu mau makan apa?" tanyanya mengalihkan.
"Apa ya, nasi putih sama ikan asin saja lah, Mbak," jawab Arini.
𝘊𝘵𝘢𝘬....
__ADS_1
Raisa langsung memberikan sentilan di kening Arini, "ini kantin perusahaan besar, mana mungkin ada ikan asin, dasar..! lagian kenapa juga harus ikan asin, yang lain kan banyak," ucap Raisa.
"Ikan asin itu enak loh, Mbak. Kata nenek ku dulu ikan asin itu bikin orang pintar, jadi Arini mau makan ikan asin saja biar cepat pintar," lagi-lagi Arini hanya meringis.
"Makan ikan asin kalau nggak belajar juga nggak bakalan pintar, ngarang aja kalau ngomong, biar aku saja yang pesan."
"Mana ada Arini ngarang, Arini jujur kok Mbak," tak rela gitu saja di bilang ngarang, padahal Arini kan benar-benar jujur.
"Iya iya, aku percaya," tak mau semakin pusing Raisa langsung memesan dua porsi makan untuk mereka berdua. Dan Arini hanya diam memperhatikan.
"Sudah, aku sudah pesan awas kalau kembali komen, aku ulek kamu bikin sambel geprek," sungut Raisa.
"Mbak, tapi nggak mahal kan?" bisik Arini.
"Nggak! Paling hanya lima puluh ribu," jawab Raisa judes.
"Hahhhh... Lima puluh ribu! itu bisa buat makan tiga hari Mbak!" Arini menepuk jidatnya sendiri dan bertahan cukup lama tangannya nemplok di sana, "Mbak Raisa kejam, bisa habis uangku dalam beberapa hari saja," imbuhnya.
Raisa diam tak menanggapi apa yang Arini keluhkan, kini dia sudah tegang begitu saja saat sang penguasa datang, Raisa hanya tersenyum terpaksa, dia juga langsung beranjak saat Arya memintanya untuk pergi.
Dengan santainya Arya beralih duduk di sebelah Arini menggantikan Raisa menunggu Arini akan berkomentar apa setelah melihatnya.
"Bukan untung malah buntung aku, Mbak. Besok Arini akan pengiritan saja, beli roti dua ribu juga bisa kenyang perutku daripada makan lima puluh ribu dalam sekali makan," ucapnya.
Tangan Arini terangkat, tangannya gatal saja pengen nyubit Raisa dan benar saja dia lakukan itu pada orang lain yang kini ada di sebelahnya.
"Kenapa cubit-cubit, gemas ya? " celetuk Arya."
"Pak Tuan!! "
////
Bersambung....
_________
__ADS_1