
Happy Reading...
_________________
"Subhanallah, ternyata saya benar-benar memiliki majikan yang sangat tampan. Tuan seperti artis India, siapa itu namanya ya?"
Arya mengernyit mendengar ocehan dari pembantu barunya yang tadi sempat diceritakan oleh Arini. Benar yang istrinya katakan tadi, pembantunya sangat unik dan sepertinya akan sangat cocok jika dengan Arini.
Niat hati hanya ingin mengambil minum kini Arya menjadi tertahan di dapur karena pembantu barunya itu. Arya juga sangat penasaran bagaimana tingkah dari perempuan yang ada di hadapannya saat ini.
"Wah iya, saya ingat sekarang tuan sama persis dengan artis India yang bernama Imran Abbas. Tuan, boleh minta foto nggak? Saya mau pamerin sama orang-orang kampung kalau saya punya majikan ganteng ala India," ocehnya.
Tangan Susi bergerak cepat merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Terlihat dia sangat bahagia saat berhasil menggenggam ponsel yang sepertinya ponsel murah.
"Wah, emak pasti akan sangat bangga ini kalau tau aku bekerja dengan majikan yang wajahnya sama seperti artis yang begitu di idolakan olehnya," ucapnya.
Tangan Susi sudah sibuk menyentuh layar ponsel mencari kamera yang ada di sana. Melihat itu membuat Arya malah bergidik ngeri Arya cepat-cepat kabur sebelum pembantunya mendekat dan menempel kepadanya meski sekedar meminta foto bersama.
"Lah, Tuan! Kok pergi sih! Susi kan belum minta foto!" Teriaknya heboh.
"Ini lagi, ponsel butut, lelet amat sih untuk loading. Duh Gusti, kapan aku bisa dapat ponsel baru yang tidak lemot seperti ini," kecewa rasanya. Dia tidak hanya kecewa karena ponselnya saja tapi juga kecewa karena tak jadi pamer kepada orang sekampung tentang majikannya yang tampan.
Sementara Arya sudah kembali ke kamar, wajahnya sudah kembali seperti biasanya selalu manis saat berhadapan dengan istrinya.
"Sayang, sudah siap?" Arya melangkah semakin mendekat, melihat istrinya yang tengah membenarkan hijab coklat yang dia pakai sekarang.
"Kita mau kemana sih, Mas?" Arini menoleh setelah menyelesaikan riasannya. Melihat suaminya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tangan Arya terangkat membenarkan sedikit hijab Arini yang sedikit miring.
"Kita akan jalan-jalan sayang."
"Jalan-jalan kemana malam-malam begini. Kita tidak bisa melihat pemandangan juga kan?" Arini sedikit berkedut sebenarnya dia sangat malas untuk pergi-pergi karena cuaca jiga sangat dingin takut akan hujan nantinya.
"Pokoknya deh, kamu pasti akan suka. Kita berangkat sekarang?" Arya merenggangkan lengannya berharap Arini akan mengerti kemauannya dan langsung menggandengnya tapi ternyata Arya kecewa, Arini tidak mengerti akan hal-hal yang romantis.
"Sini sayangku," Terpaksa Arya menarik tangan Arini dan menyelipkan ke lengannya.
Arini hanya tersenyum setelah mengetahui apa maksud dari lengan Arya yang merenggang barusan.
"Arini benar-benar bodoh ya, Mas?" celetuk Arini.
"Tidak, Arini akan selalu pintar di mataku. Karena hanya Arini seorang yang bisa membuat aku seperti orang bodoh karena cintanya," Arya melirik sebentar lalu menariknya untuk memulai langkah.
Mereka berdua keluar dari kamar dengan bergandengan, menuruni anak tangga juga dengan terus berdampingan.
Susi yang ada di ruang tengah terperangah, dia tak berkedip melihat dua majikannya yang sudah rapi dan sangat serasi.
"Ini adalah momen yang tepat," gumamnya. Tangan Susi bergerak cepat mengambil ponsel, dia ingin mengabadikan momen yang sangat indah.
"Susi, apa yang mau kamu lakukan! Jangan berani mengambil foto tanpa seizin ku, apalagi sampai kamu sebar luaskan di media sosial. Aku tidak mau sampai kecantikan istriku di nikmati orang banyak."
Larangan keras dari Arya membuat Susi langsung menelan ludah dengan susah. Dia pikir majikannya ini sangat ramah tamah ternyata dia begitu galak.
Lemas sudah tangan Susi, luruh sudah ponselnya masuk lagi ke dalam kantong.
__ADS_1
"I_iyo, Tuan."
"Mas, jangan galak-galak, kasian mbak Suka-sukanya. Jadi sedih kan," Arini tersenyum manis sekali tangannya juga bergerak untuk mengelus lengan Arya supaya lebih bersabar.
"Weleh, kok nyonya cantik manggil saya suka-suka, toh! Nggak enak banget loh iku. Telingaku rasane kayak di tusuk-tusuk bulu ayam," ucap Susi protes.
"Minta sekalian ayamnya yang nusuk-nusuk, Mbak. Biar enak. Kalau hanya bulunya ya geli to, Mbak." Benar-benar akan cocok nih mereka berdua.
Arini juga bisa menirukan logat bicara Susi jadi akan sangat menarik.
Sementara Arya hanya bisa menggeleng. Kalau dua perempuan di rumahnya ini sudah benar-benar akrab akan sangat pusing untuknya.
"Ealah, Nya! Yo sakit toh kalau ayamnya sekalian. Ayam enak-ke di masak bikin opor di makan sama ketupat."
"Besok kalau lebaran bikin yo, Mbak."
"Siap, Nyonya cantik. Eh! Loh aku jadi rak mudik dong, Nya!"
"Tidak usah mudik." Arini terkekeh melihat raut wajah kecewa dari Susi. Benar-benar sangat lucu untuknya saat ini.
"Sayang, kapan kita berangkat?" Lelah rasanya Arya menunggu Arini yang masih saja bicara dengan Susi. Kalau begini kapan mereka akan jalan-jalan.
"Sekarang, Mas," jawab Arini. Dengan cepat Arini menarik lebih dulu tangan Arya. Dia juga sudah tidak sabar sebenarnya Arya mau mengajaknya kemana.
Sementara Susi hanya bisa melihat dua sejoli itu semakin menjauh darinya.
"Oalah, tak kira Tuan sing ganteng itu ora galak. Ternyata galaknya minta ampun. Mengerikan!" gerutunya.
******
Arini pikir jalan-jalan malam tidak akan bisa dia lihat pemandangan yang indah tapi ternyata suasana malam juga pemandangan taman itu terlihat sangat indah di matanya.
"Bagaimana, kamu suka?" Arya cepat menggandeng tangan Arini, perlahan mereka berjalan masuk ke area taman yang sangat indah.
Tamannya terlihat sepi, membuat Arini sedikit heran. Bagaimana mungkin taman sebesar itu hanya ada mereka berdua saja.
"Mas, kok sepi sih?" Arini menoleh sebentar ke arah Arya.
Arya tersenyum, bagaimana mungkin akan ramai kalau Arya telah membayar semua tempat untuk malam ini. Dia tidak mau sampai ada orang yang akan mengganggu kebersamaan mereka berdua.
"Kok mas senyum-senyum sih! Mas nggak ada niat aneh-aneh kan di sini?" Arini panik, dia harus waspada kan? Arya memintanya untuk berdandan cantik dan mengajaknya ke tempat sepi seperti sekarang, jangan sampai Arya akan memakannya di tempat terbuka seperti ini.
"Jangan berpikir negatif, Sayang. Mas hanya ingin kamu bahagia dan kita bisa berdua dengan nyaman," Arya mencubit hidung Arini dengan gemas membuat Arini menggeleng untuk melepaskan tangan Arya.
"Kita duduk di sana," Ajak Arya.
Makan malam indah dan romantis sudah Arya siapkan di tempat itu. Arini terperangah melihat tempat yang sudah di siapkan oleh Arya saat ini.
"Duduklah, Sayangku," Tangan Arya bergerak menarik kursi meminta Arini untuk duduk di sana.
"Mas, ini ada acara apa?" Tanya Arini bingung.
Arini sudah duduk di kursi yang Arya tarik barusan dan kini Arya juga duduk di kursi di hadapan Arini.
"Tidak ada acara apapun sayang. Ini hanya acara makan malam saja untuk kita. Bagaimana, apa kamu suka?" Di genggam tangan Arini yang ada di atas meja dikecupnya lembut penuh dengan cinta.
__ADS_1
Arini mengangguk bagaimana mungkin dia tidak bahagia mendapatkan semua perhatian dari Arya. Suaminya benar-benar pintar membuat dirinya menjadi perempuan paling beruntung dan istimewa.
"Arini sangat menyukai ini, Mas. Terimakasih," jawab Arini.
"Ini untuk kamu," Kotak biru kecil Arya sodorkan untuk Arini membuatnya mengernyit bingung.
"Ini apa Mas?"
"Buka Sayang, kamu tidak akan tau isinya jika tidak membukanya."
Perlahan Arini membukanya, sebuah cincin yang memiliki permata putih di atasnya.
Arini kembali berkaca-kaca, kenapa Arya begitu mencintainya sampai-sampai dia selalu memberikan kejutan demi kejutan untuk membuatnya bahagia.
"Hey, kok malah nangis. Apa kamu tidak menyukainya?"
"Arini suka, Mas. Ini terlalu indah buat Arini."
"Mas pakaikan ya?" Belum juga mendapatkan jawaban Arya sudah mengambil cincin itu dan memakaikannya kepada jari Arini.
"Terus bagaimana dengan cincin pernikahannya, Mas. Tuh kan nggak kelihatan," ucapnya.
"Tidak apa-apa, keduanya sama-sama bukti cinta dari Mas untuk Arini. Jadi jangan pernah di lepas."
Arini mengangguk, dia tidak akan pernah melepaskan apapun yang menjadi tanda cinta dari suaminya. Dia akan selalu menjaganya dengan baik sebagaimana dia menjaga cintanya.
•••••
Angin begitu dingin tapi tidak membuat hati seorang Toni merasa tenang. Dia begitu gelisah sembari berdiri di depan rumah kediaman pak Karna.
Dia bingung, bagaimana dia akan memulai untuk melamar Nisa kepada orang tuanya.
"Tuan, ini sangat dingin. Lebih baik tuan masuk, takut nanti masuk angin," ucapan Nisa membuyarkan lamunan Toni saat ini. Dia langsung menoleh dengan cepat dan terlihatlah sang pujaan yang tengah berdiri di depan pintu dengan tersenyum.
"Hem," Toni mengangguk, kakinya juga memutar untuk melangkah masuk.
Keduanya benar-benar masuk ke rumah, dan ternyata sudah ada pak Karna juga ibu Sulasmi yang duduk di ruang tengah.
"Minum tehnya, Nak. Mumpung masih hangat." pinta bu Sulasmi.
"Iya, Bu." Toni bergabung duduk dan dengan cepat dia juga mengambil cangkir dan mulai meneguk teh dengan perlahan.
Nisa pun ikut bergabung duduk di sana, gadis itu terlihat sangat cantik dengan baju tidurnya yang berwarna biru muda dengan hijab instan.
"Bagaimana, Nak. Apa kedinginan?" tanya Pak Karna.
"Lumayan, Pak."
Toni kembali meletakkan cangkir di atas meja. Kini dia sangat canggung juga gugup. Apakah mungkin ini saatnya dia mengatakan maksud kedatangannya?
"Pak, Bu, dan Nisa. Sebenarnya maksud kedatangan saya...?"
◦•●◉✿_✿◉●•◦
Bersambung....
__ADS_1