Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
233. Cinta pandangan Pertama


__ADS_3

Happy Reading...


Fara begitu ragu untuk masuk ke toko bunga yang di tunjukkan oleh Risman kemarin. Dia sudah sampai, tapi dia sangat ragu untuk mendekat.



Toko memang belum ada pengunjungnya, tapi sudah di buka. Fara merasa tidak percaya diri, dia takut tidak bisa melakukannya karena dia juga belum pernah bekerja seperti itu. Itu tidak sesuai dengan keahliannya.



"Kenapa aku sangat takut, apakah aku benar-benar harus masuk dan menerima pekerjaan ini?" gumamnya.



Toko yang cukup besar, dan sudah rapi dengan bunga-bunga yang berjajar di depan. Fara juga bukan perempuan yang begitu suka dengan bunga, dia takut kalau tidak bisa merawat dengan baik.



"Ya Allah, benarkah ini rezeki dari-Mu?" pertanyaan itu muncul dari Fara. Meski dia sendiri belum begitu baik, dia juga belum bisa melakukan semua perintah Allah dengan benar tapi dia sudah mulai melaksanakan sedikit demi sedikit.



Pelajaran terburuknya menjadikan sebuah pengalaman yang harus dia pelajari dengan benar. Dia harus bisa mengambil hikmah dari semua yang telah terjadi padanya sekarang dan belajar menjauh dari kesalahan yang sama dan berusaha untuk bisa memperbaiki semuanya.



Selangkah Fara kembali mendekat dengan penuh keraguan, dia sudah bisa melihat bagaimana keadaan di dalam tapi dia belum melihat siapa yang ada di dalam, apakah ada Risman saja di sana atau dengan yang lain Fara tidak tau.



Kedua tangannya terus mencengkram tali tasnya yang ada di depan, berkali-kali giginya juga menggigit bibirnya hingga terlihat semakin merah.



Bukan itu saja, tapi Fara juga gemetar ini adalah pengalaman pertama untuknya.



"Tidak ah, aku akan mencari pekerjaan lain saja," ucapnya. Sebenarnya bukan karena Fara tidak menguasai pekerjaan itu saja, melainkan Fara yang tidak ingin terlalu dekat dengan Risman.



Ada yang berbeda dari Risman kepadanya, setiap mata Risman menatapnya ada tatapan penuh tertarik, mungkinkah Risman memiliki rasa kepadanya? mungkin seperti itu.


__ADS_1


Fara membalikkan badannya, dia ingin melangkah pergi tapi secara kebetulan pria yang ingin Fara jauhi itu keluar dari toko, dia adalah Risman.



"Kamu sudah datang, kenapa tidak langsung masuk? aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Risman.



Fara menghentikan langkah, mau tidak mau dia harus menoleh dan kembali.



Fara hanya bisa nyengir begitu saja saat melihat Risman yang terlihat senang akan kedatangannya.



"Ayo masuk," ajak Risman.



"I\_iya," Fara begitu gugup namun kakinya juga perlahan mulai melangkah mengikuti Risman yang berjalan lebih dulu.



Begitu baik Risman sebenarnya, tapi kenapa Fara semakin takut saat bersama dengannya. Fara terus berusaha menjaga jarak karena dia tidak mau kembali sakit.




"Sa\_saya Fara," Fara tertunduk.



Risman tersenyum juga mengangguk, melihat Fara.



"*Kenapa aku begitu tertarik padanya, apakah aku benar-benar telah jatuh hati pada Fara? tapi ini baru ketiga kalinya aku bertemu dengannya, mana mungkin bisa secepat ini?" batin Risman*.



Risman begitu bingung dengan hatinya sendiri, hati yang tidak bisa mudah menerima seorang wanita kini bisa langsung menerima Fara dengan tiga kali pertemuan saja, bahkan Risman sudah mulai tertarik sejak pertemuan pertama, apakah itu yang di namakan cinta pada pandangan pertama?


__ADS_1


Fara semakin canggung saat tau kalau Risman terus menatapnya tanpa berkedip. Apa yang dia takutkan apakah akan terjadi? semoga saja itu tidaklah benar, pikir Fara.



"Hem, apa yang harus saya lakukan," ucap Fara memberanikan diri. Tatapan mata Risman kepadanya harus segera di alihkan kalau tidak ini bisa bahaya kan.



"Oh, maaf maaf. Mari ikut saya," Risman terperanjat, dia cepat-cepat mengalihkan matanya. Dia juga ikut gugup karena ketahuan terus memandangi Fara. Sungguh terlalu menurutnya.



"Hem," Fara hanya membalas dengan sedikit senyum, dia tidak mau terlalu manis di hadapan Risman, bahkan jika bisa Fara ingin Risman tau bagaimana dia yang sebenarnya. Kalau dia tidak sebaik dan sepolos seperti yang Risman pikir.



Satu persatu Risman mulai mengajarkan kepada Fara apa yang harus dia lakukan. Sebagai seorang wanita Fara lebih salut kepada Risman daripada dirinya sendiri yang tidak bisa apa-apa, sementara Risman? dia begitu pintar mengurus bunga.



Tak susah untuk Fara cepat bisa, dia juga bukan wanita bodoh yang sulit menerima arahan. Dia langsung bisa meskipun masih belum sempurna. Ini adalah pelajaran secara langsung daripada di sekolah yang hanya pelajaran teori.



"Apakah kamu mengerti?" tanya Risman setelah dia mengajar beberapa teknik kepada Fara.



"Sepertinya saya mulai mengerti," jawab Fara yang sekarang sudah lebih tenang tidak seperti tadi. Rasa gugupnya juga sudah hilang meski belum sepenuhnya.



"Alhamdulillah," Risman begitu senang, ternyata Fara bisa sangat cepat memahami apa yang dia ajarkan, tak susah ternyata dan pemikirannya ternyata benar, tak akan susah untuk mengajarkan kepada Fara tentang merawat juga merangkai bunga.



"Kamu bisa mencobanya lagi," pinta Risman.



Fara hanya menoleh sebentar, dia akan mencoba lagi sekarang, dia akan belajar untuk menjadi semakin baik dari sebelumnya. Merangkai bunga tidak terlalu buruk juga tidak begitu sulit, hanya butuh ketelatenan saja juga kesabaran. Dan itu juga bisa mengajarkan kepada Fara untuk menjadi jiwa yang lebih penyabar lagi.



Kata orang, perempuan yang begitu sayang dengan bunga dan bisa merawatnya dengan baik dia akan memiliki hati yang baik juga begitu lembut. Dia juga mau menjadi orang penyabar dan itu yang Fara inginkan demi bisa menjadi dia yang lebih baik.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2