
Happy Reading...
Nadia begitu ketakutan sekaligus kesal, di dalam kamarnya dia terus mondar-mandir dengan kebingungan. Jika semua orang tau apa yang dia lakukan tadi pasti dia tidak akan bisa mendapatkan Arya. Keinginannya juga mimpinya akan musnah.
Kecerobohannya dalam mengambil keputusan begitu membuatnya dalam masalah besar, bukan hanya keluarga Arya saja yang akan marah juga sangat kecewa pasti juga kedua orang tuanya sendiri.
Nadia sangat bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah mungkin dia harus berlutut untuk meminta maaf pada Arini juga Arya? Tidak mungkin kan. Itu sangat mustahil untuk dia lakukan.
"Tidak tidak! Aku tidak mau melakukan itu. Semua orang pasti akan menertawakan ku jika aku meminta maaf dengan gadis buruk rupa itu. Lagian semua ini bukan sepenuhnya salahku, jika saja dia tidak menggoda Arya aku juga tidak akan melakukan semua ini."
Nadia masih saja tidak mau mengakui kesalahannya, dia begitu menutup mata kalau apa yang dia lakukan adalah salah, itu juga termasuk tindak pidana karena berniat menghilangkan nyawa orang lain.
Nadia takut di benci semua orang dia juga takut kalau sampai di masukan kedalam penjara, semua kariernya pasti akan hancur berantakan, semua yang dia bangun dan kerja kerasnya akan sia-sia.
"Apa yang harus aku lakukan?" Nadia begitu kebingungan.
Tok... Tok... Tok...
"Nadia sayang, sarapan dulu yuk!" Suara pintu terketuk lalu suara Dinda yang menyusul.
Nadia terkejut dia begitu panik juga takut, jika Mamanya sampai masuk dan melihat keadaannya sekarang dia pasti akan bertanya padanya.
"Se-sebentar, Ma!" jawab Nadia.
__ADS_1
Perlahan-lahan pintu terbuka dan Dinda tetap masuk meski belum minta izin kepada Nadia. Dia tetap melakukan itu karena biasanya juga seperti itu.
"Nad, sarapan dulu yuk, Sayang. Semuanya sudah menunggu, Papa juga sudah ada di sana begitu juga dengan keluarga Arya." ucap Dinda.
Mendengar kata keluarga Arya Nadia semakin takut lagi, dia begitu bingung apa yang akan dia lakukan. Kalau dia datang ke sana dan Arya mengatakan semuanya pasti akan kacau semua.
"Nad-Nadia..?"
"Sudah, ayo sarapan dulu. Kamu grogi ya karena akan sarapan bersama keluarga Arya. Bukannya kamu harus belajar dan harus terbiasa melakukan ini? Cepat atau lambat ku akan masuk ke dalam keluarga mereka itu berarti kamu harus setiap hari sarapan bersama mereka."
Dinda menggandeng begitu saja lengan Nadia, sedikit menariknya sembari mengajaknya melangkah. Dinda juga terus tersenyum saat dia menoleh Nadia yang kali ini terlihat begitu kaku.
"I-iya, Ma." hanya pasrah yang Nadia bisa lakukan, dia berharap dia bisa terlepas dari semua masalah yang sudah dia takutkan.
Arini begitu bingung, dia sepertinya tidak terlalu kenal dengan ruangan itu atau mungkin dia memang tidak kenal. Arini perlahan-lahan duduk untuk memastikan keberadaannya yang ternyata ada di kamar Arya.
"Ini kan?" Arini masih berusaha untuk memastikan.
Arya yang menutup matanya karena sangat takut juga membungkuk kini dia mulai duduk tegak setelah mendengar Arini yang bersuara.
"Arini, kamu sudah bangun! Kamu baik-baik saja kan? Kamu tidak apa-apa kan?" Arya kembali panik, dia sangat khawatir dengan keadaan Arini.
"Pak Tuan, Arini ada di mana?" Arini masih bingung dia lihat sekeliling tempat namun tidak dia dapatkan jawabannya itu semua karena di sana sama sekali tidak ada foto sang pemilik tempat.
Arya tidak menjawab, dia yang melihat Arini sudah terbangun seolah menemukan semangatnya lagi, dia langsung memeluk Arini tanpa mengatakan apapun lagi.
"Pak Tuan, lepasin. Ini tidak pantas! Pak Tuan lepasin!" Arini berusaha berontak tapi Arya masih bergeming,
Tangan Arya terus mendekapnya dengan sangat erat, memeluknya seolah tidak akan melepaskan Arini sama sekali.
Sementara Arini dia terus berontak tangannya yang lemas terus berusaha untuk melepaskan tangan Arya tapi tetap tidak mampu untuk membuatnya terlepas.
__ADS_1
"Pak Tuan, lepasin Arini." ucapnya lagi.
"Aku mohon, biarkan seperti ini sebentar," Suara Arya terdengar sangat memohon, mungkin dia benar-benar sangat berharap kalau Arini akan mengizinkannya.
Sebenarnya bukan hal Arya mencari kesempatan saat Arini sangat lemah, tapi dia melakukan itu karena dia sangat ketakutan tapi dia sangat lega karena Arini sudah bangun, kalau sampai terjadi apapun kepada Arini entah bagaimana Arya sekarang.
"Pak Tuan, lepasin. Ini sangat tidak pantas. Ini dosa, Pak Tuan." Arini tetap saja berontak mengabaikan permohonan Arya yang sangat sangat ingin memeluk Arini lama.
"Maaf, aku hanya terlalu bahagia karena kamu sudah bangun." ucapnya mencari alasan.
Arya melepaskan Arini setelah dia mengatakan itu adalah dosa. Ya, karena memang benar apa yang Arini katakan hanya saja Arya sama sekali belum mengetahuinya.
Arya masih harus banyak belajar supaya dia bisa tau segalanya.
"Pak Tuan, Arini ada di mana?" Ternyata Arini masih sangat penasaran.
"Ini ada di kamar ku. Oh, salah! Maksudnya calon kamar kita berdua. Sekarang memang kamar ku saja tapi kelak juga akan menjadi milikmu juga setelah aku menikahi mu."
Ternyata sudah mulai pintar dalam membuat Arini tersipu nih pak Tuan. Bukan hanya itu saja sih sebenarnya, tapi tingkat kepedean Arya saja yang sangat berlebihan.
"Apa sih yang Pak Tuan katakan! Arini tidak ngerti!" ucapannya tidak mengerti tapi wajah Arini sudah tersipu merah karena menahan malu.
"Arini, bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arya dan Arini langsung mengangguk kecil.
"Baik, Arini tidak apa-apa kok, Pak Tuan" Jawab Arini.
Rasanya sangat bahagia Arya bisa melihat Arini tersadar lagi. Dia seolah ingin terus memeluknya dengan erat tak mau melepaskan.
"Arini..." Panggil Arya lagi.
"Ya," jawab Arini.
Baru saja satu kata Arini menjawab tapi Arya kembali memeluk Arini dengan sangat erat.
"Pak Tuan, lepasin." Arini kembali berontak.
Belum juga Arya melepaskan tangannya kali ini dia meringis sembari perlahan-lahan tangannya terurai dari Arini.
"Hem..., cari-cari kesempatan kamu ya?" Suara yang sangat tidak asing bagi Arya. Dia adalah eyang Wati yang kini datang dan langsung menarik telinga Arya.
"Eyang eyang! Lepasin eyang, nanti telinga Arya copot!" Protes Arya. Tangannya satu memegangi tangannya Eyang Wati satunya memegangi telinganya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1
\_\_