Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
193.Mulai pesta


__ADS_3

Happy Reading..



Satu persatu para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Mulai memadati tempat acara.



Bukan hanya para tamu undangan saja yang sudah ada di sana, tapi keluarga Arya juga sudah datang. Mereka juga sudah duduk di tempat yang sudah di tentukan.



Tapi tidak dengan pembuat acara, Arya sendiri belum keluar dari lubang persembunyiannya.



"Kapan acaranya akan di mulai?" Luna sudah tidak sabar. Sebenarnya bukan tak sabar karena ingin mengikuti acaranya melainkan Luna sudah tidak sabar ingin sekali mengetahui untuk apa acara itu di lakukan.



"Sabar lah Ma, sebentar lagi pasti akan di mulai, bahkan Arya saja juga belum datang kan?" jawab Wiguna.



Sementara eyang Wati hanya diam dalam duduknya hanya sesekali saja melihat anak juga menantunya yang terus berbicara.



Di tengah-tengah perdebatan mereka, keluarga Anggara datang. Dimas, Nilam juga Hendra yang akhirnya bersedia pulang setelah di bujuk oleh kakek Susanto.



Begitu juga dengan kakek Susanto juga nenek Murni yang juga datang bersamaan dengan keluarga Anggara.



Melihat kedatangan keluarga Anggara Wiguna juga Lula langsung berdiri begitu juga dengan eyang Wati yang juga langsung berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.



"Selamat datang tuan Hendra," sapa Wiguna seraya mengulurkan tangan kepada Hendra.



"Terimakasih, tuan Wiguna," Hendra pun juga menyambut uluran tangan dari Wiguna.



Meski pernah terjadi masalah di antara keduanya tapi kini mereka sudah kembali baik lagi seperti sebelumnya. Mereka tetap menjadi teman bahkan sudah seperti saudara.



Bukan hanya berjabat tangan saja tapi mereka berdua juga saling berangkulan dengan sangat hangat. Mereka begitu senang akhirnya mereka sudah bisa bertemu lagi setelah lama.



Bukan hanya mereka saja yang saling bersalaman, tapi Luna juga Nilam juga.



"Saya turut bahagia dengan kesembuhan mu, bu Nilam. Semoga bisa selalu sehat terus," Senyum terpancar dari Luna yang kemudian di balas oleh Nilam.



"Terimakasih, Bu Luna. Terimakasih atas doanya," Begitu senang Nilam.



"Kalian, kalian siapa?" Luna mengernyit saat melihat kakek Susanto juga nek Murni.



"Perkenalkan, mereka... mereka adalah kakek juga neneknya Arini... Anak..."



"Perhatian...!"



Belum juga Hendra mengatakan bahwa Arini adalah anaknya mereka sudah di kejutkan dengan suara yang sangat lantang. Suara dengan pengeras dari pembawa acara.


__ADS_1


"Oh, acara sudah mau di mulai," ucapan Hendra seketika berubah.



"Hem..." Wiguna juga Luna mengangguk bersamaan, mereka juga langsung menoleh sejenak ke arah pembawa acara.



"Untuk para tamu undangan, diharapkan untuk segera menempati tempat yang sudah di persiapkan, sebentar lagi acara akan segera di mulai," ucap pembawa acara lagi.



Sementara di tempat lain Raisa masih terus membujuk Arini, gadis itu begitu susah untuk memakai gaun yang sudah di pesan secara khusus oleh Arya. Bahkan Arini kini malah duduk bersila di tas kasur dengan memangku guling.



Arini yang tak suka keluar malam begitu susah meski di bujuk terus menerus oleh Raisa. Sementara Raisa sudah frustasi karena merasa tak bisa menjalankan perintah dari Arya.



"Ayolah Arini. Kalau kamu seperti ini aku bisa di pecat oleh Tuan Arya. Kamu kan tau sendiri kalau dia marah seperti apa. Dia kalau marah sudah seperti macan kelaparan," Bujuk Raisa.



"Nggak mau, Mbak! Arini tidak mau keluar malam-malam begini, apalagi Arini harus memakai baju kayak artis begitu, itu nggak banget Mbak," jawab Arini.



"Lagian untuk apa juga kita keluar, nggak akan ada apa-apa kan?" imbuhnya.



"Aduh Arini, saya harus bilang berapa kali lagi sih! Sebenarnya..., sebenarnya tuan Arya ingin memperkenalkan calon istrinya pada kita," ucap Raisa berbisik.



Arini terkesiap, dia sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Raisa. Itu artinya Arya ingin menikah dan itu bukan dengan dirinya kah?



Mata Arini seketika memerah, dia ingat akan semua ucapan Arya kalau dia akan menjadikannya halal seutuhnya, tapi sekarang dia malah mau mengenalkan wanita lain kepadanya.




"Lah, kenapa malah nangis sih!" Raisa semakin pusing karena dia merasa bersalah. Dia salah karena mengatakan itu.



"Mbak, pak Tuan bohong. Katanya dia hanya menyukai Arini saja tapi kenapa dia mau menikah dengan wanita lain? Apa itu kak Melisa ya?"



"Apa kamu kesal? Kamu marah? Kalau begitu cepat pakai bajunya, kita datang ke sana dan marahi Tuan Arya. Dia tidak boleh mempermainkan mu. Yuk cepat!" Raisa langsung menarik tangan Arini.



"Tapi, Mbak!"



"Ayolah, apa kamu tidak mau tau siapa wanita yang telah merebut tuan Arya darimu? Apa kamu bisa merelakannya? ayolah cepat! Kalau tidak kita akan terlambat," Begitu semangat Raisa dengan ucapannya juga semangat menarik Arini yang masih terus malas.



"Atau aku yang harus mengganti bajumu, Oke, sini biar aku yang lakukan!" tangan Raisa sudah siap untuk melepaskan hijab Arini.



"Dasar anak kecil, masak ganti baju aja harus di gantiin juga!"



"Oke, Arini akan ganti sendiri! Sini bajunya!" Tak mau Raisa yang melakukannya Arini langsung merebut baju yang dia bawa.



Arini juga langsung turun dan langsung pergi ke kamar ganti.



"Yes, akhirnya. Bonus bonus," Raisa begitu bahagia. Bagaimana tidak, dia akan mendapatkan bonus jika bisa membujuk Arini.

__ADS_1



Di saat mengganti bajunya ada pihak WO yang datang. Secara khusus memang di datangkan untuk mengubah Arini menjadi bidadari di malam ini.



"Maaf, apakah Anda yang harus kami dandani?" tanyanya pada Raisa.



"Hem.., bukan, bukan saya. Tapi adik saya. Dia sedang ganti baju tunggulah sebentar lagi," jawab Raisa.



Orang itu mengangguk mengerti, dia juga tersenyum menanggapi.



"Loh! Mbak Raisa, mereka siapa?" Tibalah Arini yang keluar dari ruang ganti dan sudah mengenakan gaun yang tadi. Gaun berwarna biru muda yang terlihat sangat mewah.



"Wow..." Mata Raisa terbelalak saat melihat penampilan Arini, padahal belum juga di make-up dia sudah terlihat cantik, bagaimana nanti kalau sudah mendapatkan polesan.



"Kenapa, Arini jelek ya?" ucapnya yang sama sekali tak bisa percaya diri dengan penampilannya yang tak biasa. Itu terlalu mewah untuknya, seperti bukan Arini.



"Apa sih, sini duduk! Kamu juga masih harus mendapatkan polesan," cepat Raisa menarik pergelangan tangan Arini dan mendudukkannya di depan meja rias.



"Silahkan, Mbak," pinta Raisa pada pihak WO.



Kembali lagi di tempat acara yang sudah berlangsung, kali ini Arya sudah terlihat sangat tampan dengan penampilannya.



Arya tengah mendapatkan sapaan dari para tamu begitu juga dengan keluarga Anggara, keluarga Arini.



Tidak seperti Arya yang terlihat sangat bahagia tapi lain halnya dengan Dimas yang terlihat sangat tidak menyukai acara itu.



Masih terdengar dengan jelas perkataan Arya waktu itu yang hanya menyukai Arini saja tapi apa ini sekarang, bahkan dia akan meninggalkan Arini, melupakan Arini begitu saja setelah dia pergi.



"Mungkin kamu bisa bahagia, Tuan. Tapi tidak dengan saya, saya tidak akan melupakan semua ini," ucap Dimas yang terdengar sangat marah.



"Tidak, Dim. Bukan hanya aku saja yang harus bahagia tapi kita semua harus bahagia," jawab Arya seraya menepuk-nepuk pundak Dimas.



Dimas begitu tidak menyukainya sampai-sampai dia langsung menyingkirkan tangan Arya dari bahunya.



Bagaimana Dimas bisa menerima semua pesta itu, pesta yang di adakan tepat di hari ulang tahun adiknya, Arini. Ya, hari itu adalah hari dimana usia Arini bertambah satu tahun lagi.



"Apakah kamu tidak membawa hadiah apapun, Dim?" tanya Arya santai.



"Buat apa aku membawa hadiah, kamu tidak ulang tahun bukan? Saya rasa ini juga bukan pesta untukmu mendapatkan hadiah," Dimas semakin kesal saja.



"Memang bukan aku yang harus kamu beri hadiah, tapi dia..."



\----///------

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2