Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
121. Karena aku mencintaimu


__ADS_3

Happy Reading...


~~``~


Bulan yang mungkin mulai bersinar kini kembali redup, benih yang mulai tumbuh dan mulai menampakkan putik untuk mekar bunganya kini harus layu hanya karena sedikit panas yang ternyata dapat menghanguskan tumbuhnya.


Luka karena segala penghinaan mungkin sudah biasa di dapatkan tapi rasa sakit karena tuduhan sebagai wanita perebut calon suami orang juga perempuan yang mendekati seorang laki-laki karena hartanya itu sangatlah menyakitkan.


Di bangku putih yang berada di rooftop Arini duduk sendiri di sana. Berdiam diri tanpa kata juga tanpa suara, hanya air mata saja yang menemani deritanya yang tiada henti.


Jangankan merebut calon suami orang? apa itu jatuh cinta saja Arini tidak tau. Apakah Arini mencintai Arya atau tidak saja dia sama sekali tidak mengerti, bagaimana mungkin Arini akan melakukan itu?


Arini juga seorang perempuan, dia juga sangat tau akan sebuah batasan. Arini juga tidak akan mungkin berpikir untuk merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaannya sendiri.


Arini tidak tau kalau dia yang hanya menginginkan seorang teman kini bukan hanya mendapatkan teman saja tapi dia juga mendapatkan sebuah hati yang akan selalu berjuang untuk menjadi teman hidup untuk selamanya.


Ada yang bilang, jika air mata jatuh karena kedatangannya untuk membersihkan sebuah hati yang penuh noda seperti luka juga duka. Dan karena itu Arini membiarkan air matanya jatuh karena dengan itu dukanya perlahan akan hilang dengan sendirinya.


‘’Menangislah jika dengan itu kamu akan tenang,’’ kedatangan dari Arya sangat mengejutkan Arini, cepat dia menghapus air matanya lalu menoleh dan melihat Arya yang sudah berjalan menghampirinya.


Arini terpaku tatap memandangi Arya. Senyum pria itu begitu mengena masuk ke dalam hati. Biasanya yang terlihat dingin, angkuh juga sombong kali ini sungguh terlihat begitu hangat bahkan seperti seseorang pahlawan yang datang untuk melindungi juga untuk mengayomi.


‘’Apakah aku begitu menyakitimu?’’ suaranya begitu lembut terasa sungguh adem di hati.


Arya berjalan terus untuk mendekati Arini, dan berakhir duduk di sebelahnya.


Mata Arini tak pernah berpaling dari wajah Arya dan bisa melihat setiap perubahan yang terjadi di wajahnya, tapi sejak datang tak ada perubahan sama sekali dan terus tersenyum, memancarkan sebuah ketulusan yang tiada batas.


‘’Maafkan aku karena tak bisa mengendalikan semua orang untuk bisa menerimamu di hati mereka, maaf,’’ mata Arya menerawang jauh ke pelataran langit yang terbentang sangat luas.

__ADS_1


Langit yang begitu cerah dan terlihat ada sedikit coretan awan putih terlihat indah, itulah sebuah lukisan dari Sang Maha Pencipta yang tak pernah bisa di lakukan oleh tangan manusia.


‘’Meskipun aku sangat berkuasa juga sangat kuat tapi aku tak bisa mengendalikan dunia supaya bertekuk lutut padaku, aku tidak bisa,’’ imbuhnya lagi.


Setetes demi setetes air bening masih saja keluar dari mata Arini yang sudah sangat merah bahkan apa yang ada di sekelilingnya sudah bengkak. Di sapunya terus menerus dengan tangannya tapi tetap saja tak pernah mau berhenti, deritanya sangatlah besar saat ini.


Arya kembali menoleh, memandangi gadis itu yang juga masih terus memandanginya. Tangannya terangkat di temani sapu tangan di sana, menghapus luka dari Arini yang sangat terlihat.


Begitu perhatiannya Arya padanya, tapi kenapa perhatian yang dia berikan seakan menjadi racun yang akan siap membunuhnya. Tapi juga bagaikan sebuah candu yang membuatnya terus mengharapkan untuk kembali terulang lagi dan lagi.


‘’Bagaimana caranya untukku bisa menebus semua yang terjadi padamu ini? Apakah ada caranya untuk aku bisa menebusnya dan bisa membuatmu kembali tersenyum bahagia?’’ tanya Arya dengan serius.


Arini mengangguk dengan sangat pelan, sepertinya memang ada hal yang bisa Arya lakukan untuk bisa membuatnya kembali tersenyum indah seperti semula. Meskipun Arya sering menginginkan Arini terlihat kesal tapi kali ini dia sungguh menginginkan Arini untuk bisa tersenyum.


‘’Apa yang harus aku lakukan, hem?’’ mata Arya membulat terang menunggu jawaban dari bibir Arini yang selalu dia impikan untuk bisa dia menyentuhnya.


Helaan nafas panjang keluar dari paru-paru Arini yang melalui kedua lubang hidungnya. Sepertinya apa yang dia minta adalah hal yang susah untuk di terima oleh hatinya kalau tidak dia tidak akan sampai segitunya.


‘’Jauhi Arini, tinggalkan Arini dan jangan pernah mendekati Arini meski aku yang mintanya. Datanglah kepada orang tua pak Tuan, terimalah dengan semua yang mereka inginkan. Dan itu akan membuat Arini kembali tersenyum.’’


Ucapan dari Arini jelaslah tidak akan di terima oleh Arya bahkan kali ini dia tersentak tak percaya. Dia tidak akan melakukan itu meski Arini yang memintanya sekaligus.


Itu akan sangat susah permintaan yang sangat mustahil untuk di wujudkan.


‘’Jauhi Arini pak Tuan, dan itu akan membuatku kembali bahagia.’’


Benarkah itu yang Arini inginkan? Benarkah itu datang dari hatinya sendiri atau hanya karena sebuah desakan yang datang karena kata-kata dari Luna tadi?


‘’Tidak Arini, aku tidak akan pernah bisa pergi darimu apa lagi untuk jauh darimu, aku tidak akan pernah bisa. Dan ya! Jangan pernah memintaku untuk menuruti apa yang mama minta, aku tidak akan menikah dengan wanita manapun yang orang tuaku pilihkan, tidak akan!’’

__ADS_1


Arya begitu menentang keras apa yang di minta oleh Arini, bahkan sekarang dia terperanjat, berdiri dan menjauh beberapa langkah dari Arini.


Mata Arini juga mengikuti ke mana Arya melangkah. Hanya itu saja yang Arini inginkan tak ada hal lain lagi. Arini ingin hidupnya tenang dan damai tanpa adanya tuduhan miring untuknya.


Tuduhan-tuduhan yang akan sangat menyakiti hatinya. Dan akan selalu menumbuhkan luka-luka baru lagi.


‘’Arini mohon pak Tuan, tolong jauhi Arini. Aku mohon,’’ begitu besar harapan Arini untuk Arya bisa menjauhi dirinya.


‘’Tidak Arini! Aku tidak akan pernah menjauhimu. Dan jangan pernah menginginkan aku untuk pergi lagi. Ini hidupku! Aku yang berhak memutuskan kepada siapa aku akan berteman dan dengan siapa aku akan hidup! Bukan mama, Nadia atau kamu! Kalian tidak ada hak untuk mengaturku, tidak ada hak!’’


Arya begitu sangat marah saat Arini memintanya untuk pergi, gadis satu ini yang selalu bisa membuat dia tersenyum bahkan dia bisa tertawa. Bisa mengubahnya menjadi lebih baik, menjauhkan dia dari barang-barang juga perlakuan yang penuh dengan dosa, tidak mungkin dia akan mau begitu saja.


‘’Kenapa, Pak Tuan! Kenapa!’’


‘’Arini bukan siapa-siapa pak Tuan, juga kita tak ada ikatan apapun yang akan menjadi alasan untuk pak Tuan menolak permintaanku. Aku mohon jauhi Arini mulai dari sekarang.’’


‘’Tidak! Tidak akan pernah aku menjauh darimu, tidak akan pernah!’’ Arya masih terus memalingkan wajahnya dari Arini dia masih tak sanggup untuk menatap wajahnya.


‘’Tidak, Pak Tuan. Kali ini Pak Tuan harus mendengarkan Arini, dan menjauhi Arini.’’


‘’Tidak akan pernah!’’ Arya hanya menoleh sebentar ke arah Arini tapi di kembali seperti semula dengan penuh kekesalan.


‘’Tapi kenapa Pak Tuan! Kenapa?!’’


‘’Karena aku menyukaimu! Aku mencintaimu! Ya, aku telah mencintaimu, PUAS!!’’



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2