Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
45.Aku Bos mu


__ADS_3

...______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Berangkat bekerja Melisa masih saja kesal. Alih-alih mendapatkan apa yang dia mau kemarin dia malah mendapatkan sial, kedua matanya harus melihat Arya yang menggendong Arini tanpa rasa ragu, ya meskipun Arya menggendong Arini karena ingin menyelamatkannya tapi Melisa tetap saja kesal.


"Semuanya gara-gara Arini, nggak di rumah nggak di tempat lain selalu saja membuat ku marah. Dia selalu saja membuat ulah," gumamnya.


"Awas saja kamu Arini, kalau kamu masih hidup aku akan bikin perhitungan padamu," ucapnya lagi.


Tangannya terus memegangi setir meskipun terus menggerutu namun matanya terus fokus ke arah jalan yang begitu padat di pagi hari.


"Aku harap hari ini Tuan Arya berangkat ke kantor, karena aku akan kembali menggodanya, aku tidak mau kalah dengan Arini, kalau dia pura-pura mau bunuh diri untuk mendapatkan perhatian Tuan Arya bagaimana mungkin saya tidak bisa, hemm...,"


Senyum devil Melisa keluarkan, dengan segudang rencana yang terus saja keluar di kepalanya namun satupun belum ada yang berhasil membuatnya puas sampai sekarang.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Melisa sampai di depan gedung Gautama grup, dia masih saja menggerutu kesal, "besok aku akan cari kontrakan saja di sini. Kalau tiap hari pulang pergi dari rumah tetap boros juga, dan yang pasti aku akan kelelahan."


Melisa turun, dia juga tak lupa mengunci mobil sebelum dia pergi. Harapannya begitu besar untuk bisa kembali menggoda Tuan Arya hari ini, dia masih sangat terobsesi untuk bisa mendapatkan Tuan Arya.


Langkahnya semakin cepat saat dia sampai di pelataran kantor, matahari memang sudah tinggi dan panasnya juga sudah sangat terasa takut saja kalau sinar matahari akan mengubah kulitnya menjadi gelap. Dia sudah menghabiskan banyak uang untuk perawatan mana mungkin dia akan korbankan begitu saja.


"Eh..., sebenarnya ada hubungan apa ya Tuan Arya dengan OB baru itu? sepertinya ada hubungan spesial."


"Iya bener, kalau tidak ada hubungan apapun mana mungkin Tuan Arya mau menggendong dia seperti kemarin, kalau untuk menggendong kan banyak orang, tapi Tuan melakukannya sendiri. "


"Aneh, sepertinya memang benar deh."


"Halah..., paling hanya hubungan di atas ranjang."


"Tapi mana mungkin? iya kali Tuan Arya tertarik dengan gadis seperti dia! nggak ada menarik-menariknya sama sekali."


"Paling Tuan Arya sudah terkena pelet jika benar-benar mereka ada hubungan."


Baru saja masuk Melisa kembali di buat kesal, kenapa harus Arini yang menjadi topik pembicaraan pagi ini. Mendengar namanya saja ubun-ubunnya sudah ngebul dan kepalanya pingin meledak, dia tak sanggup jika harus menahan amarah.


"Kalian nggak ada kerjaan ya, pagi-pagi sudah gosip nggak jelas! " teriak Melisa kesal.

__ADS_1


Mata-mata tajam langsung menubruk ke arah Melisa, kesal itulah mereka sekarang. Mulut-mulut mereka sendiri kenapa di atur-atur? nggak banget kan.


"Kenapa sih! sewot aja pagi-pagi. Mau kita ngapain juga terserah," jawabnya dengan begitu berani.


"Ihh.., dasar! " Melisa begitu geram, kenapa semuanya selalu saja seenaknya sendiri. Apalagi mereka semua juga tak pernah mengindahkan semua kata-katanya.


"Tunggu saja sebentar lagi, setelah aku menjadi Nyonya Arya kalian akan menyesal telah melakukan ini padaku," gumam Melisa begitu percaya diri.


Melisa melaju ke tempat kerjanya, dia benar-benar kesal jika harus berhadapan dengan para wanita tukang gosip.


Tidak di awal masuk, tapi di semua tempat Melisa tetap kesal. Semua karyawan tengah membicarakan tentang Arya juga Arini.


"Ihh....," tangan Melisa mengepal dia duduk di ruang kerjanya dengan kesal juga dengan mata yang tajam, "semua ini gara-gara kamu Arini. Kau benar-benar telah memancing amarahku. Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan padamu," gumamnya.


///////


Arya tengah uring-uringan sekarang, dia harus mengecek beberapa E-mail penting yang masuk ke dalam ponselnya, dia juga harus fokus demi pekerjaannya, tapi kini dia tak bisa fokus karena dia harus mendengarkan bunyi sirene dari Arini yang tertidur pulas.


Arya menghembuskan nafasnya berat, tuh anak satu bener-bener selalu menguras emosinya. Ingin marah, iya kali marahin orang tidur, nggak marah tapi hatinya udah dongkol.


"Lebih baik aku keluar saja, kalau di sini kerjaan ku tidak akan pernah beres," Arya mulai beranjak dia bergegas keluar namun belum juga sampai pintu suster yang kemarin masuk dengan membawa dia porsi makan untuk Arya juga Arini, yang jelas itu adalah makanan yang Arya pesan.


"Tuan mau kemana?" tanya suster.


"Mau keluar," jawab Arya dengan begitu dingin.


"Tidak bisa, Tuan. Tuan tidak bisa keluar atau kemana-mana, ini perintah dari Eyang. Anda harus tetap ada di sini untuk menjaga Mbak Arini takutnya dia menginginkan sesuatu,"


"𝘌𝘠𝘈𝘕𝘎... " Arya begitu geram dalam batinnya. Bagaimana mungkin Arya harus tetap berdiam diri di ruangan itu dan menonton orang tidur saja. "Kenapa harus aku yang di sini? bukannya kamu saya yang bayar! jadi kamu yang di sini," jawab Arya.


"Maaf Tuan. Saya tidak bisa, semua ini adalah perintah dari Eyang." Suster itu tertunduk sepertinya dia begitu memohon pada Arya untuk tetap tinggal entah ancaman seperti apa yang Eyangnya berikan padanya sampai dia begitu takut.


"Dan ya, ini adalah sarapan Anda juga mbak Arini. Semuanya sesuai yang Anda minta. Mbak Arini juga harus segera sarapan setelah itu harus minum obat," ucapnya.


Tangannya menyodorkan nampan kepada Arya, "ini Tuan, maaf saya juga harus pergi masih ada kerjaan lain."


Arya menganga itu jelas, kenapa harus dia yang memberikan sarapan itu pada Arini? berarti dia harus membangunkan Arini, hadeuh.

__ADS_1


"Aku CEO loh, kenapa harus melayani orang sakit?" Dongkol tambah dongkol deh hati Arya.


Arya tetap saja mendekat dia ingin membangunkan Arini, menghentikan suara dengkuran halus dari Arini yang terdengar sangat so seksi, wkwkwk...


"Heh..., bangun, bangun.. " Arya hanya mencolek-colek pundak Arini dengan jari telunjuknya itupun dia lakukan tidak dengan sepenuh hati tapi sangat terpaksa.


"Bangun Arini, bangun," ucapnya lagi.


"Apa sih, Nek. Arini baru saja tidur, tubuh Arini juga rasanya remuk semua. Sebentar lagi ya Nek. Arini sangat lelah," ucap Arini masih setia menutup mata dan kini mengganti posisi tidurnya jadi miring dan membelakangi Arya.


"Nenek? nggak bener nih anak. Heyy.., bangun bangun..," Arya semakin kesal sepertinya. Iya kali Arya jadi nenek-nenek sekarang.


Mata Arini menyipit, dia berpikir dengan sangat keras, "kenapa suara nenek berubah ya? apa nenek sakit?" gumamnya.


"Bangun Arini, ini waktunya sarapan setelah itu harus minum obat, cepat bangun! "


"Nah kan bener, suara nenek berubah," Arini menoleh wow amazing.. Arini masih saja menyipit matanya memastikan apakah matanya mulai tidak bener sekarang, "apa nenek operasi plastik?" celetuknya.


"Hihihi..., nenek berubah tampan sekarang," Arini meringis, sepertinya kesadarannya belum pulih seutuhnya meskipun dia sudah membuka matanya.


Ubun-ubun Arya semakin semakin ngebul sekarang.


𝘊𝘵𝘢𝘬𝘬...


"Lihat yang bener, saya bos mu bukan nenekmu!" Arya menjentikkan jarinya di hadapan wajah Arini, dia harus cepat menyadarkan Arini yang ngigau pagi-pagi gini.


Mata Arini melotot, dia juga mulai bangun mendekatkan wajahnya pada wajah Arya.


"Heyyy..., apa yang kamu lakukan, mundur-mundur!" usir Arya sembari menoyor kepala Arini untuk menjauh.


"Astaghfirullah hal 'azim.." Arini tersentak dan cepat mundur sendiri dari Arya, "ehh..., kenapa pak Tuan di sini!? " Arini terkejut saat dia sadar sepenuhnya.


////////


Bersambung....


_______

__ADS_1


__ADS_2