Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
106. Kebohongan Raisa


__ADS_3

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


"Biar saya saja yang di depan. Kamu hanya perlu menunjukkan arah jalan saja," ucap Dimas dengan sangat kaku.


Bagaimana tidak? Baru kali ini Toni dekat dengan seorang wanita. Cantik, baik, juga sepertinya masih polos sebelas dua belas seperti Arini. Tapi Nisa terlihat lebih terpelajar.


"Hem, " Nisa hanya mengangguk kecil berhiaskan senyum simpul. Sungguh manis sekali gadis berkulit putih itu. Meski begitu tetap saja belum bisa membuat hati seorang Toni bergetar mungkin karena memang belum tertarik saja dengan wanita masih terlalu fokus dengan urusan pekerjaan.


Tangan Nisa juga terulur memberikan kontak untuk Toni dia terus saja menundukkan pandangannya. Malu bukan berarti ada rasa juga kan? Nisa juga tidak tertarik dengan Toni meski tadi dia sempat memuji akan ketampanannya.


Toni menaiki motornya, di susul oleh Nisa yang juga naik dengan duduk menyamping. Motor matic berwarna putih itulah yang akan mengantarkan mereka berdua sampai ke hutan dimana mobil Arya berada.


"𝘚𝘢𝘣𝘢𝘳-𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳, 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘯𝘢𝘭𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘴 𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘭𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬. "


"𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪? 𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯? 𝘑𝘶𝘨𝘢..., 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪..., 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢..? 𝘈𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯. "


Segudang tanya muncul di kepala Toni, tanya yang tak bisa dia pecahkan seorang diri. Dia juga tidak tau kan?


Toni terus diam asyik dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan Nisa yang diam tak mengatakan apapun.


//////


"Pa, sebenarnya dimana Arya itu. Perjodohan harus segera dilaksanakan, Pa. Kalau tidak nama baik kita akan buruk di keluar Nadia."


"Biar bagaimanapun perjodohan ini harus tetap berlangsung, karena dengan ini bisnis keluarga kita juga akan semakin meningkat juga."


Begitu cerewet Luna saat ini. Dia hanya duduk berdua saja dengan Wiguna di ruang tengah di rumahnya tak ada yang lain lagi.


Wiguna menjauhkan cangkir berisi kopi dari mulutnya. Baru saja dia menikmati rasa mantapnya kopi itu dan kini kenikmatan itu harus di hentikan dengan ocehan istrinya yang masih saja memaksakan kehendak untuk menjodohkan anaknya.

__ADS_1


Sebenarnya Wiguna juga tidak terlalu suka dengan Nadia, bisa di tebak bagaimana sifat sebenarnya. Tapi Wiguna juga belum memiliki alasan untuk menolak perjodohan itu karena dia belum menemukan yang terbaik untuk anaknya.


"Sudahlah, Ma. Jangan terlalu memaksakan Arya. Jangan mengikuti kehendak mama sendiri. Arya sudah besar dia sudah bisa menentukan mana yang baik untuknya," Meski tidak mengatakan dengan langsung penolakannya tapi ada poinnya kalau Wiguna memang tidak setuju.


"Mau sampai kapan, Pa. Kita sudah tua, kita tidak tau akan sampai kapan kita masih bernafas. Mama hanya ingin bisa merasakan menggendong cucu sama seperti teman-teman mama, Pa." jawaban Luna terdengar begitu ngotot.


"Sudahlah, capek ngomong sama papa. Papa tidak pernah ngerti perasaan mama," Luna beranjak dari kursi dengan membawa kekesalannya. Pergi dari sana lebih baik menurutnya daripada bercerita dengan suaminya tapi tidak mendapat solusi akan keinginannya.


"Ma! Bukan seperti itu, Ma," teriak Wiguna tapi Luna sudah tak peduli dan tetap berjalan pergi dengan begitu angkuh.


"Hehh.., pusing aku. Anak juga Mama tidak pernah sejalan, satu ingin ke kanan yang satu ingin ke kiri," Wiguna hanya bisa geleng-geleng kepala karena kedua tingkah anak dan istrinya yang selalu berbeda arah. Alias tak pernah sejalan.


//////


𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬....


"Ups..., sorry saya tidak sengaja," ucap Raisa setelah tidak sengaja menabrak Melisa yang sedang berjalan juga dengan celingukan, entah apa yang sedang di cari oleh Melisa di sana.


"Apa kamu tidak punya mata, hah!! Main nabrak-nabrak, lihat-lihat dong! " sungut Melisa yang sungguh marah.


"Hanya OB saja belagu banget, berlagak sok jadi atasan," imbuhnya dengan begitu nyinyir yang jelas sangat menyebalkan.


Helaan nafas halus keluar dari hidung Raisa, benar-benar nenek lampir yang sangat cerewet juga menyebalkan. Mulutnya tak pernah di sekolahin pasti tuh.


Raisa masih diam hanya wajah malasnya saja yang nampak dia keluarkan. Memang sungguh malas berurusan dengan orang tak tau diri seperti Melisa.


"Kenapa kamu tidak ngomong, apa sekarang kamu bisu!"


Raisa masih diam meski di katain seperti itu oleh Melisa maklum lah, cewek kurang genap kan seperti itu kerjaannya cuma marah-marah dan ngomelin orang tidak jelas.

__ADS_1


"Benar-benar membuang-buang waktuku saja, dasar rendahan! " Melisa mulai berjalan tak level juga ngomong dengan orang yang tidak sederajat dengan dirinya.


"Mau ngapain kamu kesini? Mau nyariin Arini atau tuan Arya? " kini Raisa baru mengeluarkan kata-katanya. Jelas Raisa akan menanyakan itu karena tak ada yang bisa masuk ke lantai lima puluh dengan sembarangan dan sesuka hatinya.


Raisa saja di sana karena menggantikan Arini untuk sementara karena Arini tidak masuk itupun dia harus melalui beberapa syarat terlebih dahulu.


Melisa menghentikan langkahnya dia kembali menoleh.


"Bukan urusanmu aku nyari siapa di sini," jawabnya begitu angkuh.


"Keliling saja sesukamu. Karena kamu tidak akan menemukan orang yang kamu cari. Arini dan tuan Arya kan sedang kencan sekarang. Mereka lagi liburan, mungkin dua atau tiga hari baru kembali ke kantor," niat banget Raisa membuat hati Melisa menjadi panas. Biar saja seperti itu, biar tau rasa kan.


Dengan kesal Melisa kembali berjalan ke arah Raisa, sementara gadis itu hanya biasa-biasa saja tak ada ekspresi takut sedikitpun.


"Kemana mereka?! " pertanyaan Melisa terdekat sangat nyolot, dia sangat penasaran dengan kebohongan yang dia anggap kebenaran.


"Mana aku tau, cari aja sendiri. Bukannya kamu bilang aku hanya OB rendahan? Jadi jangan tanya-tanyalah, pasti nggak level juga kan?" jawab Raisa.


"Dah..., selamat mencari," Raisa melambaikan tangan dia akan pergi setelah membuat hati Melisa gundah gulana karena Arya dan Arini yang katanya kencan bersama.


"Hey..., kembali! Saya masih mau bertanya! " teriaknya tapi Raisa sudah bodoh amat. Dia sudah berteriak senang dalam hatinya.


"Awas kamu Arini. Berani-beraninya kamu melupakan ucapan ku. Kamu akan merasakan akibatnya karena melawanku."


Mata penuh kemarahan yang muncul pada Melisa.


///////


Bersambung...

__ADS_1


___________


__ADS_2