Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
170. Kisah Yang tak Lengkap


__ADS_3

Happy Reading....



Seperti seorang pengembara yang tak tau arah tujuan Arini terus berjalan tanpa arah yang pasti. Dia hanya bisa mengikuti kemana kakinya melangkah dan membawanya pergi.



Tidak dia sadari ternyata kakinya membawa dia sampai di depan rumah sakit Gautama. Arini menoleh, melihat dengan samar-samar karena matanya terasa tak bisa maksimal untuk melihat.



Kakinya terus melangkah masuk ke pekarangan rumah sakit itu tentunya dengan membawa tas ransel yang kini dia titipkan di depan rumah sakit di pos penjagaan.



Tidak terlewatkan taman kecil dan Arini kembali memetik bunga melati seperti biasanya. Ya, kepalanya hanya bisa mengingat Nilam saja.



Sekali lagi Arini mengeringkan matanya dari duka yang bisa terlihat. Dia masuk kedalam ruangan Nilam dengan membawa senyuman dan menyingkirkan sejenak semua duka yang sangat menyakitkan.



"Assalamu'alaikum, Tante."



Arini berdiri di samping Nilam, mengecup punggung tangan berkali-kali juga menaruh bunga melati di sana.



Tidak seperti biasa yang hanya menyalami saja kini Arini juga memeluk Nilam juga mencium kedua pipinya. Mungkin Arini lancang, tetapi dia hanya bergerak mengikuti naluri yang muncul dan menggerakkan semuanya.



"Tante, terimakasih sudah menjadi teman untuk Arini. Sudah menjadi bagian dari hidup Arini dan melengkapi takdir Arini yang tidak lengkap."



Arini menjeda dan menghela nafas untuk sesaat.



"Arini sangat bahagia bisa mengenal Tante, dan Arini harap Tante juga bahagia mengenal Arini. Maafkan Arini ya, Tan. Setelah ini Arini tidak akan bisa datang lagi untuk menjenguk Tante. Tetapi Arini janji, di manapun Arini berada akan selalu mendoakan kesembuhan Tante."



"Arini harus pergi untuk selamanya. Dan mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi."



"Selamat tinggal ya, Tan. Semoga tante cepat bangun dan kembali ke dalam keluarga Tante. Kalau Tante bangun, tolong sampaikan pesan Arini untuk Kak Dokter, suatu saat Arini pasti akan membayar semua hutang-hutang Arini padanya. Dan tolong katakan pada Om Hendra kalau dia tidak boleh bersedih lagi karena semua kesalahannya. Bilang saja orang yang dia sakiti pasti akan selalu memaafkannya."



"Entah apapun masalah di dalam keluarga kalian, kalian harus tetap kembali bahagia. Percayalah jika suatu saat orang yang kalian cari pasti akan kembali."



"Arini pergi ya, Tan. Assalamu'alaikum.."



Arini kembali mengecup punggung tangan Nilam, memeluknya lagi dan juga mengecup kedua pipi Nilam.



Bukan hanya senyum kepalsuan yang Arini tinggalkan, tetapi juga satu tetes air mata yang tanpa sadar menetes tepat di mata Nilam.



Arini segera pergi dari sana, masih ada hal lain yang harus dia selesaikan.



Arini tak sadar, saat kepergiannya tangan Nilam bergerak setetes air mata Arini bergabung dengan air mata Nilam dan menetes dari sudut matanya.



"A-Arini..." setelah sekian lama terdiam Nilam kini berucap memanggil Arini yang kini sudah pergi.



Sementara Arini kembali melangkah, tujuannya adalah perusahaan Gautama. Tetapi bukan berarti Arini ingin bertemu dengan Arya, ia hanya ingin menyerahkan uang juga apa yang sudah Arya berikan kepadanya. Arini naik angkutan untuk sampai sana.



Sejenak Arini berhenti dan duduk di taman depan perusahaan setelah dia turun dari angkot, mengambil buku diary juga bolpoin dan membuat sedikit coretan yang akan dia serahkan untuk Arya.



Termenung sejenak jari-jemarinya setelah berhasil melukiskan kata yang mewakili hatinya. Mewakili apa yang ingin dia katakan kepada Arya dan kini hanya bisa dia sampaikan melalui secarik kertas putih dengan tinta berwarna hitam.



tak ada senyum yang keluar, melainkan hanya tetesan demi tetesan luka yang berhasil menemani juga membasahi kertas putih itu.

__ADS_1



"Maafkan Arini, Pak Tuan. Kita memang tidak di takdirkan untuk bersama. Tapi meskipun begitu, Pak Tuan akan selalu ada di hati Arini. Tempat Pak Tuan tidak akan mungkin bisa tergantikan oleh siapapun meski hingga nafas Arini berakhir."



Arini robek satu kertas yang terdapat tulisan, dia lipat dan dia satukan dengan semua barang-barang yang ingin dia berikan untuk Arya yang dia satukan dalam amplop besar.



Arini kembali beranjak, dia kembali melangkah menuju pos penjagaan.



"Assalamu'alaikum, Pak." sapa nya dengan lembut.



"Wa'alaikumsalam..., kamu Arini, ada apa?" tanyanya.



"Pak, saya minta tolong," Arini mengangkat amplop besar itu dan dia serahkan kepada penjaga dan berhasil membuatnya mengernyit.



"Tolong berikan ini untuk Pak Tuan. Oh, maksud saya Tuan Arya."



"Kenapa tidak kamu sendiri yang memberikannya?" tanyanya sembari tangan menerima amplop dari Arini.



Arini tersenyum kecil, dia menunduk sejenak sembari menghela nafas panjang sebelum dia menjawab.



"Saya sedang ada pekerjaan penting, jadi tidak bisa menemui Tuan Arya."



"Oh, baiklah. Akan saya berikan kepada Tuan Arya."



"Terimakasih, Pak. Kalau begitu saya pamit, saya harus segera pergi," Arini begitu bergegas, sebenarnya dia lebih takut kalau sampai Arya atau siapapun tau kedatangannya sekarang.



"Assalamu'alaikum.." imbuh Arini dan kini benar-benar pergi.




Setelah kepergian Arini penjaga itu juga langsung masuk ke perusahaan Gautama. Namun baru saja dia sampai di dalam dia bertemu dengan Toni.



"Tuan, ini ada sesuatu dari Arini untuk Tuan Arya."



"Apa ini? Lalu dimana Arini?" tanya Toni.



"Katanya ada pekerjaan penting dan dia harus segera pergi." jawabnya.



Toni mengangguk mengerti tanpa ada rasa curiga. Toni juga langsung bergegas pergi ke ruangan Arya.



Toni terus membolak-balikan amplop cokelat itu, sedikit penasaran sih dengan isinya.



Tok.. tok.. tok...



Toni masuk setelah mengetuk pintu, dia melihat Arya yang sedang merebahkan dirinya di sofa. Wajahnya terlihat begitu banyak beban juga sangat menyedihkan.



"Tuan, ini ada titipan dari Arini," ucap Toni.



Mendengar nama Arini Arya langsung bangun, dia langsung menyambar amplop cokelat itu dan membukanya cepat.



"Dan ini, ini adalah hasil tes DNA yang Anda minta, Tuan." imbuhnya lagi.

__ADS_1



Toni menaruh amplop putih dari rumah sakit itu di atas meja karena Arya tidak langsung menerimanya dan masih sibuk membuka amplop yang dari Arini.



Tak di hiraukan lagi Toni cepat keluar sementara Arya membuka amplop itu dan mengeluarkan satu persatu isinya.



Ponsel yang dia berikan kepada Arini dulu, amplop cokelat tebal yang dia buka dan isinya adalah sejumlah uang, juga barang-barang lainnya dan yang terakhir adalah amplop putih yang berisi surat dari Arini.



"Apa-apaan ini, kenapa Arini mengembalikan semua barang-barang yang sudah aku berikan. Dan, apa ini! Saya tidak membutuhkan uang darinya!" Arya terlihat marah karena semua itu.



Arya juga melemparkan semua barang-barang itu ke lantai begitu juga segepok uang yang Arya yakini itu tidak sedikit jumlahnya.



Hanya amplop putih yang dia sisakan, di tangannya dan langsung dia buka untuk membacanya.



\#\#\#\#\#



*Dear: Pak Tuan*



*Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh*...



*Secarik kertas yang bisa mewakili ucapan Arini yang begitu bodoh ini. Tak ada keberanian juga tidak ada kuasa untuk Arini datang menatap mata yang selalu menjadi sinar dalam hidup Arini beberapa saat. Apalagi untuk berdiri tegak di hadapan seseorang yang selama ini menjadi malaikat untuk Arini*.



*Tidak akan ada batas untuk kita saling bersilaturahmi sebagai sesama umat, tetapi terdapat sebuah batasan untuk kita bisa bersama dan merajut buih-buih harap yang tak akan menjadi nyata*.



*Hanya bait-bait kata dengan tinta hitam yang akan mengatakan semua yang sudah seharusnya di ucap oleh bibir yang kini tak punya daya untuk berucap*.



*Pak Tuan*...


*Maafkan Arini yang harus pergi dari sisi juga kehidupan Pak Tuan. Maafkan Arini yang tidak akan bisa menemani Pak Tuan lagi. Kisah kita memang tidak lengkap tetapi kisah kita akan melengkapi takdir dalam jalan hidup kita. Jika Allah mengizinkan, dengan Ridho-Nya kisah kita akan lengkap di suatu saat nanti*.



*Semua Arini kembalikan, begitu juga dengan hutang-hutang Arini*.



*Arini mohon, jadilah Pak Tuan yang Arini kenal, yang akan bertanggungjawab dengan kesalahannya bukan malah lari seperti seorang pengecut. Tetapi jika Pak Tuan memang tidak bersalah, yakinlah bahwa Allah akan menunjukkan jalannya. Dan Arini pun akan selalu yakin kalau Pak Tuan memang tidak melakukannya*.



*Arini mohon, jangan cari Arini. Lupakan Arini. Entah ada dan tidak adanya Arini jangan kembali ke masa lalu yang kelam, yang akan membuat Pak Tuan akan semakin hancur*.



*Terimakasih karena Pak Tuan sudah menjadi bagian dari hidup Arini, menjadi orang yang akan selalu ada di hati Arini di tempat yang tidak akan bisa di gantikan oleh siapapun juga*.



*Kita akhiri kisah kita, dan kita rajut kembali kisah-kisah yang akan menjadi pelengkap hidup kita. Lengkapilah kisah Pak Tuan dengan orang lain, dan raihlah kebahagiaan itu dengannya*.



*Arini pamit pergi, Pak Tuan. Jangan cari Arini. Dan ya, jangan lupakan Allah dalam situasi apapun, karena Pak Tuan akan mendapatkan jawaban yang Pak Tuan cari dengan izinnya*.



*Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh*...



*Gadis bodoh yang tak pantas di rindukan*.


*Arini Khumaira*.



\#\#\#\#\#\#



"Argghhh.... Arini...!!!! "


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2