
Happy Reading...
"Eh, kenapa anda mengikuti saya?" Fara menghentikan langkah saat Risman sudah sampai di sebelahnya. Dia gugup, dia juga bingung kenapa Risman selalu saja ingin mendekatinya padahal jelas-jelas dia terus menjauh.
Risma tersenyum menanggapi perkataan Fara yang terlihat jelas kalau dia tidak menyukai dengan kedatangannya. Tetapi Risman tetap tidak peduli karena dia ingin memastikan Fara baik-baik saja dan juga selamat sampai rumah.
"Saya hanya ingin mengantarkan mu sampai rumah. Jujur saya tidak memiliki niat buruk padamu saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," jawab Risman.
Farah tidak lagi bicara dia hanya diam kembali berjalan. Faraa tahu benar kalau dia tidak akan bisa mencegah apa yang menjadi keinginan Risman dia akan tetap kekeh meskipun dia telah melarangnya.
Setelah tidak mendapatkan apapun lagi dari Fara Risman langsung berjalan mengikuti Fara di sebelahnya. Dia tak peduli dengan mereka berdua yang terus diam, itu lebih baik daripada dia tidak bisa mengantarkan sampai rumah, pikirnya.
Arini terus sibuk dengan semua pakaian yang masih ada di dalam koper, mengeluarkan satu persatu dan menaruhnya di lemari supaya mempermudahkan jika dia ataupun Arya menginginkannya.
Sementara Arya sendiri dia masih sibuk dengan ponselnya entah apa yang dilakukan Arini sama sekali tidak mengerti.
Arini terperangah saat tangannya meraih baju yang menurutnya kurang bahan. Baju yang dihadiahkan dari Eyang Wati beberapa hari yang lalu. Arini mengernyit, dia bingung dia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam koper bagaimana mungkin baju itu bisa masuk sendiri, sungguh aneh.
"Kenapa baju ini bisa kebawa? bukankah aku menyimpannya di lemari rumah?" ucapnya.
Begitu kebetulan saat Arini menaikkan tinggi baju itu ke udara dengan tangannya Arya pas melirik ke arahnya. Pelaku yang sebenarnya tersenyum melihat Arini yang begitu terkejut dengan tangan masih memegang baju itu. Arya menaruh ponselnya di atas, meja berdiri lalu melangkah menghampiri Arini.
"Sayang, ada apa?" tanya Arya basa-basi, dia tahu segalanya apa yang sekarang telah dialami oleh istrinya tapi dia pura-pura tidak tahu itu akan lebih asik bukan?
Arini yang terkejut dengan ucapan Arya langsung menyembunyikan baju itu di belakang punggung. Melihat baju itu saja Arini sudah malu bagaimana kalau sampai Arya tahu baju itu ada pada dirinya sekarang dan juga meminta Arini untuk memakainya?
"Ti_tidak ada apa-apa, hhh..." Arini tergagap saat menjawab pertanyaan Arya. Dia masih tetap kekeh menyembunyikan baju itu di belakangnya.
"Terus, apa yang kamu sembunyikan?" tanya Arya. Arya berusaha untuk melihat apa yang ada di belakang Arini membusungkan badannya ke kanan dan ke kiri secara bergantian tapi Arini tidak membiarkan sampai Arya bisa melihatnya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu? coba aku lihat,"tangan Arya menelusup melalui sebelah kiri, mengambil baju itu dan melihatnya sendiri.
Arini menunduk, dia sangat malu saat Arya mulai mengangkatnya dan melebarkan baju itu hingga terlihat dengan begitu jelas bagaimana bentuknya.
"Bu_bukan Arini yang membawanya. Arini tidak tau kenapa baju itu bisa ada di dalam koper," ucap Arini yang takut. Arini begitu takut kalau Arya sampai marah melihat baju itu.
"Aku tau bukan kamu yang telah memasukkan ke dalam koper," dengan sengaja Arya membalikkan Arini hingga berdiri menghadap ke arah kaca rias.
Arini sangat bingung untuk apa Arya melakukan itu padanya. Apalagi, Arya tidak terlihat marah sama sekali dia malah tersenyum seolah dia begitu bahagia melihat baju itu bisa sampai di tangan Arini.
"Lihatlah baik-baik," tangan Arya mengibarkan baju itu ke depan tubuh Arini, bahkan sudah menempel di baju yang dia kenakan sekarang.
"Kamu akan terlihat sangat cantik saat memakainya," puji Arya. Padahal Arini juga belum memakainya bagaimana mungkin Arya sudah langsung memujinya seperti sekarang?
Rambut Arini yang panjang di gerai begitu saja oleh Arya semua di taruh di bagian samping dan bisa terlihat jelas bahwa rambut itu menjuntai panjang di depan dadanya.
"Sangat cantik bukan?" bisiknya di telinga Arini sebelah kanan.
Wajah Arini seketika menjadi merah dia malu meski baru memikirkan saja saat dia memakai baju itu. dia akan sama saja seperti orang yang tidak memakai baju karena akan terekspos dengan jelas bagaimana isi di dalamnya.
"Mas, apa Mas menyuruh aku memakai baju seperti ini?" tanya Arini.
"Jika Arini memakai baju yang seperti ini bukannya Arini akan sama saja dengan wanita yang tidak benar?" tanya Arini lagi.
"Tidak sayang, kamu memakainya untuk suamimu sendiri, dan hanya suamimu yang melihatnya. Bagaimana mungkin kamu bisa di katakan seperti wanita yang seperti itu?"
"Bukankah bersolek, mempercantik diri juga memakai pakaian yang di sukai suami akan sangat di sukai Allah? sepertinya aku dengar itu juga darimu?"
"Ta_tapi?"
"Sudah, aku juga tidak memaksamu. Kalau kamu tidak mau memakainya maka simpan saja, atau perlu buang saja?" ucap Arya memberikan saran.
"Tidak tidak, Arini akan menyimpannya. Ini dari Eyang bagaimana bisa aku membuangnya," Arini cepat merebut baju itu dari tangan Arya dan cepat menyimpannya ke dalam lemari bersama dengan yang lain."
Arya hanya bersedekap dada mengamati pergerakan Arini, terlihat sangat menggemaskan.
"Sayang, kita nanti makan malam di luar ya. Aku ada tempat yang indah untuk kamu bisa lihat."
"Benarkah?" Arini begitu sumringah. Bagaimana mungkin Arini tidak bahagia karena akhirnya dia bisa melihat luar dan bagaimana pemandangannya.
Arya mengangguk dia lebih bahagia dari Arini saat melihat istri kecilnya itu begitu bahagia. Karena apapun memang akan Arya lakukan demi bisa membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Ya, kita akan makan malam di luar. sekarang apa yang akan kamu lakukan sebagai hadiah untukku, hem?" Arya menggendong kedua tangannya di belakang menunggu Arini yang sudah langsung berpikir.
..."Apa yang harus aku lakukan?" batin Arini bingung. ...
Arya masih setia menunggu sampai akhirnya dia terkejut dan membulatkan matanya saat hari ini mendekat melingkarkan kedua tangan di leher Arya dan langsung mengecup bibir Arya dengan lembut.
"Bukankah itu sudah cukup?" tanya Arini setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir Arya.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan Arya langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Arini dan menariknya untuk semakin dekat bahkan mereka berdua sudah saling menempel sekarang.
"Belum sayang, itu belum cukup," jawab Arya.
Arya yang sudah kena pancingan langsung kembali menyatukan bibirnya dengan punya Arini. Arya tidak akan puas jika hanya bermain sebentar saja pastilah Arya harus bermain lebih lama baru dia akan merasa puas.
Keduanya saling berpagutan, bibir merah saling menyatu dan saling menikmati sari sama lain. Arini yang sudah mulai terbiasa kini juga perlahan bisa membalas perlakuan Arya.
"Istriku sudah semakin pintar sekarang," ucap Arya memuji.
"Kan Arini belajar sama Mas," jawab Arini dengan malu-malu. Pipinya juga sudah memerah dengan apa yang barusan dia lakukan.
"Kalau Arini seperti ini, Arini tidak seperti wanita tidak benar kan? Arini tidak mau sampai Mas berpikir kalau Arini sudah berubah menjadi wanita nakal," Arini tertunduk.
"Kamu melakukannya dengan suamimu sayang, bagaimana mungkin itu di katakan wanita nakal. Kamu tidak nakal, bahkan kamu bisa melakukannya yang lebih lagi untuk memanjakan ku," kedua alis Arya naik turun.
"Itu mah maunya Mas," jawab Arini.
"Tidak perlu di paksakan, biarkan semuanya mengalir seperti air. Kamu akan terbiasa nantinya," jawab Arya.
"Terimakasih Mas. Arini akan selalu belajar untuk menjadi yang terbaik, supaya Mas akan berpikir untuk melirik yang lain. Apalagi sampai benar-benar melirik yang lain, Arini akan menghalangi semua itu. Karena Mas hanya milik Arini seorang," ucap Arini.
"Biarkan dunia mengatakan Arini tamak, biar saja. Arini akan selalu tamak jika mengenai Mas. Arini tidak mau berbagi Mas pada siapapun."
"Mas janji tidak akan membaginya dengan siapapun juga, semua adalah milik Arini, muach..." dikecup nya sekali lagi bibir Arini dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Mas."
Arini langsung berhambur memeluk Arya, dan langsung di peluk juga olehnya.
Bersambung...
__ADS_1