Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
42. Dia siapa


__ADS_3

...___...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Seperti biasanya Arini akan bangun pagi saat dia mendengar suara adzan subuh. Suara adzan sudah seperti alarm untuknya dan saat Adzan berkumandang dia akan selalu bangun.


"Alhamdulillah, Allah masih memberikan ku umur yang panjang," ucapnya.


Arini sudah lebih baik sekarang, dia lebih kuat daripada kemarin. Sepertinya sekarang dia juga bisa pulang, "aku akan shalat dulu setelah itu aku akan menemui Nenek, semoga saja Nenek baik-baik saja," ucapnya.


Arini sudah sangat yakin bahwa dia baik-baik saja, dia memberanikan diri untuk melepaskan infusnya seorang diri dia juga sudah tidak tahan dengan bau rumah sakit, dia seperti ingin muntah, apalagi dia juga tidak biasa berada di ruangan yang ber-AC itu membuatnya kedinginan bahkan dia menggigil karena itu.


"Aku harus cepat pergi dari sini kalau tidak aku akan mati membeku karena benda yang mengeluarkan angin juga es itu," ucapnya dengan mata melirik ke arah AC yang masih menyala.


Arini turun dari ranjang di bergegas untuk pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu namun dia berhenti saat dia melihat Arya yang tertidur pulas di atas sofa.


Arini tak percaya, dia hampir terjatuh karena melihat Arya ternyata juga tidur di ruangan yang sama dengannya. Untung saja Arini cepat berpegangan ranjang lagi kalau tidak dia akan benar-benar terjatuh.


Arini menggeleng dia juga menghela nafas panjang karena kesal, "dasar Pak Tuan! keras kepala banget sih, sudah di bilang jangan tidur di sini juga? masih saja tetap masuk! " kesal Arini.


Arini mendekati Arya, melihat dengan teliti bagaimana posisi tidur Arya, "apa tidak sakit ya punggungnya kalau tidur meringkuk seperti itu, " gumam Arini begitu lirih.


"Sepertinya Pak Tuan juga kedinginan, ihh.. apa sih Arini! apa kamu melupakan perlakuannya padamu? jangan sampai kamu berurusan lagi dengannya Arini," Arini menggeleng, kenapa juga dia harus memperhatikan laki-laki yang ingin melecehkannya.


Arini bergegas pergi namun kembali urun karena dia melihat wajah tampan dari Arya, "Pak Tuan memang tampan, pak Tuan juga sangat sempurna, siapapun wanita pasti akan sangat beruntung jika bisa menjadi pendamping Pak Tuan, tapi kenapa semua ini di salah gunakan? seharusnya Pak Tuan bisa menjaganya dengan baik dan bisa memanfaatkan dengan baik juga, bukan malah mempergunakan untuk bisa melakukan perbuatan buruk," gumam Arini lagi.


Siapa yang tidak akan jatuh hati melihat wajah tampan itu siapapun pasti akan terkesima apalagi jika bisa melihat senyum yang sangat langkah darinya pasti akan langsung terhipnotis. Awal-awal Arini juga iya, tapi sekarang? Arini merasa jijik melihatnya, apalagi Arini melihat sendiri bagaimana Arya yang ingin bercinta dengan Melisa kemarin sungguh membuatnya ilfil sekarang.


"Semoga aku bisa cepat lepas dari Pak Tuan, Arini tidak mau berurusan dengan Pak Tuan lagi lebih lama. Arini akan berjuang keras untuk bisa mendapatkan uang dan akan membayar semua hutang Arini setelah itu Arini akan pergi,"

__ADS_1


Arini memalingkan wajahnya dia cepat pergi dari hadapan Arya yang masih tertidur.


Selesai shalat Arini cepat keluar, dia juga membawa barang-barangnya yang ada di tas. Arini berjalan pelan dia juga menutup pintu sangat pelan dia tak ingin membangunkan Arya, bisa-bisa dia akan di tahan kalau sampai ketahuan.


Arini berjalan menuju ruangan dimana Neneknya di rawat, namun dia tak menemukan dan tak melihat siapapun di sana, ruangan itu kosong dan juga sangat rapi.


"Nenek dimana, tidak mungkin nenek sudah pulang kan?" gumamnya dengan bingung.


Arini kembali keluar dia ingin bertanya pada perawat siapa tau dia biasa mendapatkan informasi darinya.


"Maaf, Sus. Nenek saya yang di rawat di ruangan itu sekarang di mana ya? Nenek belum pulang kan?" tanya Arini.


"Nenek Murni ya?" tanyanya, dan Arini mengangguk "nek Murni di pindahkan di ruang VIP kemarin, Mbak" jawabnya.


"Oh gitu ya, Mbak. Terima kasih ya," Arini kembali pergi, kali ini dia menuju ke ruang VIP.


"Ruang nomor sebelas?" Arini berhenti di sana, dia tidak yakin neneknya ada di ruangan itu tapi kenapa dia sangat ingin masuk ke dalam kamar itu. Sebenarnya siapa yang ada di dalam?


"Apakah aku harus masuk? tapi..., bagaimana kalau salah," ucapnya.


Tapi Arini begitu penasaran, jantungnya juga berdetak tak menentu saat berada di depan ruangan itu, hatinya terus berdesir, dia seakan mendapatkan panggilan untuk masuk.


Seakan tak sadar tangan Arini sudah menyentuh handle pintu dia membukanya tanpa ragu, "kenapa dengan perasaan ku? " Arini tetap masuk.


Arini terdiam melihat siapa yang terbaring tak berdaya di atas ranjang, "dia siapa?"


//////


Sinar matahari mulai masuk dari celah-celah korden rumah sakit, mengenai wajah Arya yang masih tertidur pulas di atas sofa. Tidurnya sangat pulas meskipun dalam keadaan meringkuk dan terlihat sangat tak nyaman, tapi Arya masih bisa tidur dengan nyenyak mungkin karena dia benar-benar begitu lelah dan ngantuk karena semalam dia harus menunggu Arini tidur terlebih dahulu untuk dia bisa masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


Yang jelas Arini tak akan membiarkan Arya ada di satu ruangan yang sama karena mereka bukan pasangan halal, dan di tengah malam Arini memaksa Arya keluar dari ruangan itu kalau tidak Arini yang akan keluar. Jadi mau tidak mau Arya harus keluar dan menunggu Arini tidur untuk bisa masuk lagi.


Mata Arya mulai terbuka perlahan, matanya langsung dia tutup karena sinar matahari begitu menusuk di matanya.


"Sudah siang?" tanyanya sendiri, perlahan Arya duduk dan memalingkan wajahnya dari sinar matahari itu.


Matanya langsung tertuju pada ranjang rumah sakit, dia ingin memastikan Arini masih di sana dan betapa terkejutnya saat dia tak melihat gadis keras kepala itu di sana, "Arini di mana? " cepat Arya beranjak dia mendekati ranjang dan tetap saja tak menemukan Arini di sana. Bahkan Infus juga sudah terlepas.


"Astaga, dimana anak itu," Arya mengacak rambutnya kasar, dia bingung kemana Arini pergi.


"Aku harus cari dia di mana? dia belum sembuh. Dasar gadis keras kepala bisanya nyusahin orang lain saja, awas ya kalau aku bisa menemukan mu, akan aku beri hukuman kamu," ucapnya dengan kesal.


Arya menoleh ke sebelah lengannya dan dia masih saja memakai baju yang sama, Arya mengendus tubuhnya sendiri dan kembali kesal, "gara-gara gadis itu aku sampai melupakan segalanya, bahkan aku tidak mandi kemarin, ihh.. menjijikkan," umpatnya.


Bukan hanya mandi saja yang Arya lupakan, bahkan dia juga tidak makan dari kemarin, dia melupakan semuanya. Tubuh yang biasanya wangi dan segar kini terasa lengket juga bau. Arya yang biasanya memperhatikan penampilannya kali ini terlihat kacau balau tak karuan.


"Ihh..., menjijikkan sekali," ucapnya lagi.


Arya pergi ke salah satu kamar yang ada di sana, ya itu adalah kamar khusus untuk keluarga Gautama. Arya yakin dia akan mendapatkan baju ganti di sana, dia juga bisa membersihkan diri dulu sebelum mencari keberadaan Arini.


"Aku akan bersihkan diri dulu di sini, kalau tidak seorang Arya pasti akan menjadi bahan tertawaan orang," ucapnya.


Cepat Arya masuk ke sana membuka lemari dan wajahnya langsung berbinar karena dia mendapatkan baju ganti di sana, "akhirnya, aku bisa ganti juga."


///////


Bersambung...


_______

__ADS_1


__ADS_2