
Happy Reading...
Malam semakin larut, dan acara belum juga selesai. Semua tampak asyik dengan pesta begitu pula dengan Melisa. Dengan memakai gaun berwarna biru juga high hells berwarna hampir sama tentunya dengan aksesoris yang melingkar Indah di lehernya juga tatanan rambut yang sangat indah, Melisa terlihat sangat cantik.
Tangannya memegangi gelas berisi minuman yang sudah di siapkan. Melisa juga mulai melangkah, dia mencari-cari Arya sang pujaan yang selalu menetap dalam hatinya.
Wajahnya berkedut saat berhasil melihat Arya tapi pria itu masih asyik dengan saingannya, Nadia. Melisa semakin di buat kesal, hatinya menyeruak panas ingin sekali dia menyingkirkan Nadia tapi dia mana mungkin bisa? Tapi tak masalah untuk di coba.
Wajahnya berbinar dengan senyuman yang sangat lebar saat melihat pelayan membawa minuman dan akan melintas di belakang Nadia.
"Ini kesempatan untuk menyingkirkannya," ucapnya dengan gembira.
Melisa melangkah dengan cepat karena tidak mau sampai terlambat dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa menyingkirkan Nadia dari hadapan Arya.
Dengan sengaja Nadia pura-pura terjatuh dan pas mengenai pelayan itu sehingga berhasil menumpahkan beberapa gelas minuman dan tepat mengenai punggung Nadia.
"Kalau jalan hati-hati dong, nih lihat apa yang kamu sebabkan!?" pelayan itu ya tampaknya sangat marah, tapi dia juga mulai takut karena semua minuman itu berhasil mengenai Nadia.
"Ahh, bajuku!" pekik Nadia.
Bukan hanya pelayan saja yang begitu marah tapi wanita yang terkena dengan semua minuman itu juga terlihat sangat marah. Tubuhnya membalik sempurna di hiasi tatapan mata yang sangat menakutkan. Ya, Nadia sangat marah sekarang.
Kecantikan yang sangat paripurna sekarang hancur hanya karena sebuah minuman saja, jelas Nadia akan sangat benci dengan Melisa.
Wajah Nadia terlihat sangat marah tapi tidak dengan Melisa, gadis itu pura-pura menunduk dengan penuh sesal padahal apa yang ada di dalam hatinya dia tengah berseru dengan kegirangan.
"Kamu!" mata Nadia semakin melotot saat melihat siapa yang telah menghancurkan penampilannya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Tapi ada yang mendorongku. Aku tidak sengaja," ucapan Melisa terdengar sangat lemah tak berdaya.
"Mana mungkin tidak sengaja! Kamu memang sengaja kan membuatku malu! Kamu juga sengaja kan membuat semua orang menertawakan ku!" Nadia sangat marah, dia tak terima dengan alasan yang di berikan oleh Melisa padanya.
__ADS_1
"Beneran! Saya tidak sengaja tadi..."
"Halah! Jangan banyak alasan deh loh! Tinggal ngaku saja apa susahnya sih."
Meskipun Nadia mengatakan itu tapi Melisa tetap kekeh tak mau mengakuinya, dia terus menggelengkan wajahnya.
"Dasar, murahan!" seru Nadia begitu sengit.
Nadia begitu marah, bahkan dia juga mendorong-dorong bahu Melisa dengan sangat kasar.
Apa yang di lakukan oleh Nadia tentunya tidak lepas dari semua mata yang ada di sana. Semua yang sudah mengetahui sifatnya hanya biasa-biasa saja tapi yang belum? Mereka merasa tak percaya, contohnya eyang Wati yang kini hanya diam gak mengatakan apapun tapi tatapannya semakin tidak menyukainya.
"Nadia, sudah. Jangan mempermalukan dirimu sendiri hanya karena wanita yang tidak sederajat denganmu," Dinda datang menghampiri, dia terus mengelus lengan Nadia untuk menenangkannya.
Malu juga Dinda sebagai orang tua kalau anaknya terus marah-marah seperti sekarang. Apa yang akan di katakan oleh semua orang juga calon mertuanya nanti?
"Sudah sudah. Lebih baik kita masuk dan ganti pakaianmu. Ingat dengan apa yang menjadi tujuanmu, Nak. Jangan sampai semua hancur hanya karena kamu tidak bisa mengendalikan amarahmu sendiri."
Luna terus menasehati hingga perlahan-lahan Nadia mulai tenang namun matanya masih tetap saja tak bersahabat saat melihat Melisa.
Di tariknya lengan Nadia oleh Dinda, sepertinya dia ingin di ajak masuk untuk mengganti pakaian.
Semua orang yang sempat berkerumun mulai bubar saat adegan sengit yang di mulai oleh Melisa kini telah selesai. Mereka kembali lagi dengan pesta yang sama sekali belum selesai.
Seperti sebuah keberuntungan untuk Arya, akhirnya dia bisa terlepas dari Nadia sekarang. Arya bergegas pergi sebelum semua orang menyadarinya termasuk Luna sang mama yang sedari tadi seperti seorang mata-mata.
Melisa menoleh dari pandangan yang membawanya ke arah Nadia, dia begitu antusias untuk mendekati Arya tapi saat dia berhasil menoleh dia hanya bisa kecewa karena Arya sudah tidak ada di sana.
"Di mana Tuan Arya?" matanya juga ikut menerawang ke segala penjuru tapi sudah tidak lagi dia melihat keberadaan Arya, "sial, aku kehilangan jejak Tuan Arya."
__ADS_1
Satu persatu langkah Arya mengelilingi tempat acara, matanya terus menerawang mencari keberadaan gadis yang tadi sangat membuatnya terpana.
"Arini dimana?" gumamnya.
Arya menghentikan langkah saat dia sudah mengelilingi semua sudut tapi tak menemukan Arini. Dia sangat penasaran dimana keberadaan gadis itu, apa mungkin dia kembali ke kamar untuk istirahat.
Arya kembali melangkah dan kini semakin cepat, dia sudah tidak sabar ingin melihat Arini sekarang juga. Tujuan utama adalah tempat dimana dia menempatkan Arini di sebuah kamar dan dia sangat yakin kalau Arini ada di sana.
Langkahnya begitu mulus bahkan sama sekali tidak ada yang menghalangi apalagi menghentikan langkahnya.
Sampai di bangunan yang tadi siang Arya semakin tak sabar, tapi kali ini langkahnya di hentikan oleh penjaga rumah.
"Tuan butuh sesuatu?" tanyanya dengan pelan, berdiri di samping Arya.
"Apakah Arini ada di kamarnya?" bukannya menjawab tapi Arya malah melontarkan pertanyaan juga.
Penjaga itu sedikit terkesiap dia sedikit takut tapi tak berlangsung lama.
"Nyonya, nyonya keluar...," Arya begitu fokus memandanginya, "nyonya keluar dengan membawa semua barang-barangnya, Tuan. Katanya dia tidak mau tidur di sini."
"Apakah ada orang lain yang bersamanya?" Arya mengernyit.
"Iya, Tuan. Gadis cantik yang terlihat agak tomboy," jawabnya.
Arya tetap berjalan menuju kamar Arini dia masih belum percaya kalau Arini benar-benar pergi.
Semua barang-barang pemberian dari Arya sudah kembali tertata rapi di atas kasur, semuanya Arini tinggalkan di sana.
"Apakah Arini marah padaku, Tidak mungkin kan?" gumam Arya setelah dia masuk kamar dan melihat semua yang dia berikan pada Arini, bahkan baju juga high hells yang tadi dia pakai juga sudah kembali ke tempatnya.
"Aku harus tau apa penyebabnya. Jika memang karena aku dia marah aku akan terus meminta maaf padanya sampai dia memaafkan ku. Aku tidak mau kehilangan dia."
Arya bergegas untuk mencari Arini, entah dimana dia sekarang, Arya juga tidak mungkin kan mendatangi dan masuk ke semua kamar para pegawainya?
"Bagaimana aku mencarinya?"
Arya tampak bingung. Arya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, dia pasti akan tau siapa yang bersama dengan Arini.
"Ton, apakah kamu tau siapa yang menjadi teman Arini?" tanya Arya.
"....... "
"Di kamar mana dia berada?"
"...."
"Hem, aku mengerti."
Telfon langsung di matikan oleh Arya setelah mendapatkan jawaban dari Toni. Dia sangat bergegas dan tak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Kamu harus kembali, Arini."
Tekat kuat tumbuh di hati Arya, dengan apapun dia harus membawa Arini kembali ke kamar yang sudah dia siapkan untuknya.
Biarkan Arini menganggap dia sangat egois, tapi Arya memang benar-benar tak bisa jauh darinya.
//
Bersambung....
__ADS_1
______