Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
182.Aku Hanya Pendosa


__ADS_3

Happy Reading...


~°°°••°°~


Langkah Arini terhenti, dia begitu lelah berkeliling rumah besar yang belum rampung sepenuhnya. Masih ada kekurangan dari segi warna juga semua isi dan perlengkapannya, tetapi sudah terlihat bentuk dan semua ruangan yang akan menjadi semua tempat.


Arini terduduk di anak tangga yang sudah terpasang ubin dengan warna putih, dia begitu lelah juga sangat haus karena sore itu juga begitu panas.


"Kamu lelah?" tanya Arya, entah benar-benar bertanya dan khawatir atau hanya sekedar basa-basi untuk bisa leluasa mendekati Arini dan ikut duduk di sebelahnya.


"Nggak usah di tanya lagi, Pak Tuan. Arini sangat lelah. Arini jadi bingung rumah sebesar ini akan bisa menampung berapa orang ya? apa Pak Tuan berniat untuk membuat kos-kosan?" Arini menoleh, memandang Arya yang kian menyipit heran.


"Bukan kos-kosan Arini, tetapi rumah masa depan kita. Rumah kecil kita dengan anggota keluarga yang banyak. Maksudnya rumah untuk kita juga anak-anak kita, yang tidak hanya satu atau dua, tapi banyak," jawab Arya yang begitu berangan-angan.


"Pak Tuan sehat?" Arini semakin menelisik, melihat jelas bagaimana wajah Arya dengan begitu dekat.


"Kurang dekat, Arini. Kalau kamu mau lihat dengan jelas maka lihatnya harus benar-benar dekat. Seperti ini," Arya yang mengatakan tetapi dia yang berinisiatif lebih mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas mereka berdua saling beradu.


Lagi-lagi netra mereka begitu dekat juga saling bersi tatap tanpa berkedip.


Terbuai dengan jarak yang begitu dekat juga dengan nafas lembut yang bisa di rasakan membuat Arya terpana, perlahan wajahnya semakin mendekat dan terlihat belum ada reaksi apapun dari Arini. Arini masih diam dan Arya pikir dia akan menerima apa yang dia inginkan.


"kamu terlihat lebih cantik kalau dalam jarak yang begitu dekat, Arini. Ternyata benar, mencintai karena Allah akan membawa kepuasan juga kebahagiaan daripada mencintai karena harta juga rupa," Batin Arya.


Wajah Arya semakin dekat bahkan tinggal beberapa senti lagi kedua hidung mereka akan saling bersentuhan. Tetapi bukan itu yang Arya tuju, melainkan bibir merah ceri milik Arini yang tetap menjadi incarannya.


"A-Arini pengen lihat sana," untung Arini cepat menyadarinya, kalau tidak mungkin bibir mereka berdua akan benar-benar bersentuhan.


Arini juga terlihat sangat gugup, dia begitu malu kepada Allah karena akhir-akhir ini dia sering lalai akan batasannya dengan Arya. Dan kali ini juga hampir saja dia lalai dan pasti akan mendatangkan sebuah dosa zina.


Arini cepat beranjak, dia berjalan ke sembarang arah untuk menghindari Arya.

__ADS_1


Arini sangat menyukai Arya, dia juga sangat menginginkan bisa selalu dekat dengannya, tetapi tidak sekarang mereka belum pantas untuk bisa sedekat ini. Mereka masih membutuhkan sebuah ikatan yang akan menjadikan apapun yang mereka lakukan akan menjadi pahala untuk mereka berdua.


Arya juga merasa sangat menyesal, dia tau kalau Arini tidak akan menerima apapun sentuhannya sebelum mereka berdua halal tetapi Arya selalu saja tidak bisa mengendalikan apa yang dia inginkan. Setan dalam diri Arya masih saja mengendalikannya.


Arya beranjak, dia berjalan menyusul Arini yang lebih dulu melangkah.


"Arini, maaf. Aku tidak bermaksud untuk..."


Ucapan Arya terhenti karena Arini juga menghentikan langkah dan kembali menatapnya. Nyali Arya benar-benar menciut kali ini, dia benar-benar seperti bukan Arya tetapi orang lain.


"Bertahanlah sampai Allah benar-benar mengizinkannya, Pak Tuan. Setelah Allah ridho maka apapun bisa saja di lakukan. Tetapi tidak untuk sekarang," ucap Arini.


Arini terlihat begitu dewasa kali ini. Dia selalu saja berubah tak selalu bodoh juga polos saja tetapi ada kalanya dia bisa berubah total menjadi gadis yang dewasa juga terlihat sangat pandai.


Arya paham sekarang, sebenarnya Arini bukan bodoh, tetapi hanya kurang akan pemahaman saja. Dia hanya tidak tau karena dia sekolah juga tidak tinggi, dan juga didikan orang tua angkatnya yang salah yang menjadikan Arini seperti orang bodoh.


Jika saja Arini berada di tangan yang tepat mungkin dia akan menjelma menjadi gadis yang ber-IQ tinggi, tetapi tenyata itu tidak terjadi, karena takdir hidupnya memang harus seperti itu.


"Aku akan berusaha bertahan untuk mu, aku akan menanti hingga hari itu tiba. Dan di rumah ini lah kita akan memulainya," jawab Arya.


Keduanya menjadi canggung, keduanya diam namun kembali melangkah.


Hingga cukup lama mereka berdua diam dan hanya terdengar suara hembusan nafas mereka berdua yang saling beradu juga detak jantung mereka yang bekerja lebih cepat dari biasanya.


"Arini, apakah semua ini akan berubah saat kamu menemukan orang tuamu? apakah kamu akan menjauh dariku jika mereka tidak menyukaiku?"


Satu ketakutan muncul di hati Arya. Bagaimana keburukan di masa lalu kedua orang tua Arini mengetahuinya, dan dia sangat yakin akan menjadi penghalang untuk kedepannya.


"Aku adalah pendosa, aku pezina, pemabuk yang kini baru belajar merangkak dalam kebenaran. Sebaik apapun Aku nanti pastilah akan tetap mendapatkan gelar mantan pendosa dengan segala perilaku buruknya." Arya terdiam pilu.


Arya juga terus menunduk, dia tak berani menatap lagi mata Arini yang begitu terang, seterang sinar yang memberikan penerangan untuknya dalam dunia kegelapan.

__ADS_1


"Aku hanya pendosa yang tidak pantas, Arini. Entah berapa banyak dosa yang aku lakukan, entah berapa wanita yang sudah aku hancurkan, dan juga entah berapa banyak minuman haram yang masuk dalam tubuhku yang sudah menyatu dalam daging juga darahku. Dan itu tidak anda mungkin mudah di maafkan, Kan?"


Semua perbuatan masa lalu Arya ucapkan, dia tidak ingin ada rahasia lagi pada Arini, dia ingin Arini tau semuanya dari mulutnya sendiri bukan dari mulut orang lain yang mungkin akan bertambah dengan bumbu-bumbu pelengkap yang akan menjerumuskan.


"Semua orang mempunyai masa lalu, begitu juga dengan Arini. Bagi Arini, lebih baik menikah dengan mantan pendosa ataupun mantan narapidana daripada menikah dengan mantan seorang yang alim dan mengenal agama namun berakhir di jurang dosa."


"Akhlak dan kebiasaan buruk bisa di perbaiki, asalkan Pak Tuan benar-benar bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Semua dosa yang sudah menyatu dalam darah juga daging perlahan juga akan luruh dengan sendirinya jika terus di siram dengan kebaikan. Jadi Pak Tuan jangan merasa paling hina juga paling berdosa."


"Yakinlah, bahwa pintu ampunan akan selalu terbuka dari Allah untuk semua hamba-Nya."


Senyum tulus keluar dari bibir Arini, seketika membuat Arya tenang.


"Arini, aku ingin mendengar satu kali lagi dari mulutmu. Benarkah kamu menyukaiku? apakah kamu benar-benar mencintaiku?"


"Cintaku pada Pak Tuan hanya karena Allah, jadi mintalah Allah yang menjawabnya. Jika Allah mengizinkan cinta kita akan dipersatukan tetapi jika Allah tidak mengizinkan sekeras dan sebesar apapun aku mencintai Pak Tuan, Allah tidak akan pernah mengizinkan kita untuk bisa bersatu."


"Bagaimana jika orang tuamu tidak mengizinkannya?"


"biarkan Allah yang menjawabnya."


"Apakah kamu juga tidak akan mempermasalahkan umur kita yang terpaut jauh?"'


"Umur bukan landasan untuk kekal dalam rumah tangga. Karena landasan kebahagiaan dalam rumah tangga adalah cinta yang dipagari dengan kesetiaan. Karena umur juga tidak bisa menjadi sebuah alasan untuk kekal ataupun hancurnya dalam ikatan pernikahan. Lalu kenapa aku harus mempermasalahkan umur?"


Lega rasanya mendengar semua yang Arini katakan. Sekarang hanya tinggal Allah lah yang menentukan jalan untuk mereka berdua.


Arya juga harus bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, supaya pertanyaan itu segera mendapatkan jawaban.


"Semoga Allah menyatukan kita dalam ikatan. halal."


"Amin..." ucap Arini mengaminkan.

__ADS_1


/~~


Bersambung...


__ADS_2