
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Begitu semangat Arini masuk ke perusahaan Gautama tentunya dengan membawa rantang berbahan plastik berwarna hijau. Bukan karena dia senang karena ingin memberikan sarapan itu pada Arya tapi dia senang karena janjinya lunas sekarang.
Langkahnya semakin cepat jaraknya juga semakin panjang, "setelah aku memberikannya pada Pak Tuan maka janjiku lunas, aku tak punya hutang lagi setelah ini. Dan itu aku tak perlu lagi kan selalu menemui pak tuan lagi," gumam Arini.
Kebahagiaan Arini hilang seketika, langkahnya terhenti saat di terjatuh di lantai karena ada kaki yang sengaja menjadi penghalang langkahnya.
𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬...
Arini tersungkur di lantai, rantang yang ada di tangan terlempar jauh namun tidak tumpah apa yang ada di dalamnya. Sakit, lutut Arini sangat sakit, kakinya tergelincir, telapak tangannya juga sangat sakit bahkan ada beberapa jarinya yang terkilir.
"Astaghfirullah hal 'azim! " seru Arini yang begitu terkejut karena dia tiba-tiba jatuh.
Tak dia lihat tadi ada orang saat dia melintas di depan resepsionis tapi kenapa di bisa jatuh ternyata ada kaki di depan yang menghalanginya.
"Posisi itu yang pantas kamu dapatkan, si buruk! " suaranya begitu keras dan ternyata orang yang bicara ada di depannya yang tersungkur di lantai.
Wanita cantik dengan gaun berwana merah ketat dan hanya sebatas lutut saja, Arini hanya baru bisa melihat kaki jenjangnya yang begitu pas dengan 𝘩𝘪𝘨𝘩 𝘩𝘦𝘦𝘭𝘴 yang berwarna merah juga.
Arini belum mengangkat wajahnya tapi dia hanya mendengar betapa angkuhnya suara perempuan yang ada di hadapannya sekarang.
"Hahaha..., wanita seperti mu memang sangat pantas seperti itu. Dan seharusnya kamu memang selalu berlutut dan tunduk kepadanya," satu perempuan lagi ada di belakang Arini keduanya memang tengah melancarkan aksi untuk mem-bully Arini.
Suara yang sama angkuhnya seperti suara yang pertama, dan kedua suara itu Arini sangat faham. Arini hanya tak habis pikir saja bahkan kakaknya Melisa tega mem-bully secara terang-terangan dan juga bersekongkol dengan perempuan yang juga ingin menyingkirkannya, dia adalah Nadia.
Arini masih diam, dia hanya merangkak untuk mengambil rantang yang terlempar dari tangannya. Dia sudah terbiasa mendapatkan hal yang seperti itu, semuanya sudah seperti makanan sehari-hari yang sempat terhenti dalam beberapa hari ini, dan sekarang? dia harus kembali mengalami itu lagi karena Melisa juga Nadia.
__ADS_1
Pergerakan Arini terus di ikuti oleh Melisa juga Nadia, mereka terus membuntutinya dan sepertinya tak ingin membiarkan Arini bisa mengambil rantang itu.
Disaat tangan Arini ingin mengambil rantang itu tiba-tiba ada kaki yang menginjak tangannya. 𝘏𝘪𝘨𝘩 𝘩𝘦𝘦𝘭𝘴 yang begitu runcing telah menginjaknya yang jelas akan membuat Arini begitu kesakitan.
"𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. " batin Arini
Hatinya begitu bimbang, dia ingin menghentikan semua ini tapi dia yakin dia akan kalah. Bukan hanya mereka berdua yang membenci keberadaan Arini di sana tapi semuanya apalagi Arini yang langsung menjadi OB pribadi di ruangan Arya, semua iri akan hal itu.
Arini berusaha melepaskan tangannya dari sepatu Nadia tapi itu tak akan mudah karena Nadia begitu kuat menekannya.
Arini masih tetap kuat meskipun dia meringis kesakitan tapi air matanya tidak akan dia tumpahkan di hadapan mereka berdua apalagi hanya karena mereka juga.
Biarkan Arini terlihat sangat lemah dan tak berdaya, tapi tidak di dalam hatinya dia akan terus menatanya dan menguatkan hatinya dari ujian hidup yang begitu berat untuknya. Semua benar sesuai apa yang dia katakan, kekuatan bukan terletak dari seberapa kuat kita membalas kejahatan orang lain, tapi kekuatan yang sebenarnya terletak dalam hati kita bagaimana kita kuat menghadapinya dan selalu memaafkan orang itu.
Arini hanya bisa terus beristighfar di dalam hatinya, ingin sekali dia berteriak dan menangis tapi mereka akan senang jika Arini melakukan itu, karena memang itulah yang menjadi tujuan mereka sebenarnya, kesedihan juga air mata Arini.
"Ups...., sorry.. " dengan begitu tak punya hati Nadia mengatakan itu, menutup mulutnya seolah dia tak sengaja melakukan itu pada Arini.
Arini menarik tangannya setelah sepatu Nadia di angkat, dia mengangkatnya dan terdapat luka yang mengeluarkan darah di punggung tangan. Arini hanya mengusapnya dalam diam tanpa mengatakan apapun.
Apa yang Nadia juga Melisa lakukan benar-benar menjadi tontonan di pagi ini, mereka tak berani membantu Arini lagian mereka juga tak menyukainya. Tapi tak seharusnya juga mereka melakukan itu pada Arini, jika Tuan mereka mengetahuinya pasti akan terjadi masalah besar.
Hembusan nafas yang penuh dengan kesabaran berkali-kali keluar dari hidung Arini. Dia benar-benar harus bersabar untuk ujiannya, seenggaknya itu akan menggugurkan dosa yang ada di dalam dirinya.
"𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘔𝘶 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪.
Tak akan pernah ada dendam di hati Arini, meski dia berkali-kali di sakiti hanya akan ada doa yang baik untuk mereka.
Arini beranjak untuk berdiri, kakinya sangat sakit lututnya pun juga sama tapi dia tetap berusaha untuk berjalan menuju rantang yang masih ingin dia pertahanan.
__ADS_1
Jalannya terlihat tertatih, dia harus melatih kakinya juga untuk menjadi lebih kuat seperti hatinya. Bukannya dia diam karena dia kalah, dia belum melakukan apapun yang mungkin tidak akan orang percaya jika dia melakukannya.
Semut kecil tak berdaya saja akan menggigit saat di injak, cacing yang diam saja akan meronta jika mendapatkan gangguan mana mungkin manusia yang punya akal pikiran akan diam saja jika di hina dan di rendahkan.
Kesabaran memang tak ada batas, ketabahan juga akan menjadi pegangan teguh di hati Arini tapi bukan berarti dia akan kalah karena diam. Mungkin suatu saat nanti akan ada kalanya dia bisa menggigit orang-orang yang terus berusaha menerkamnya.
Arini yang sudah mulai membungkuk untuk mengambil rantang ternyata kedahuluan tangan Nadia yang mengambilnya.
"Apa ini yang kamu inginkan?" Nadia memainkan rantang itu, memutar-mutarnya dan membuat Arini takut. Bagaimana jika kembali terjatuh dan kali ini akan tumpah, pasti semua akan sia-sia. Usahanya akan hilang.
Arini ingin merebutnya dari tangan Nadia, tapi dia terlalu pendek dia tak sampai menjangkaunya saat Nadia meninggikannya dengan tangan.
Arini juga Nadia saling berebut rantang, Arini yang tak sampai malah menjadi bahan lelucon untuk semua orang yang melihatnya.
"Berikan padaku, Kak,! " tangan Arini terus naik, dia ingin merebutnya dari tangan Nadia.
Tak akan mudah untuk membuat Nadia menyerah, meski dia tak tau itu isinya untuk siapa tapi Nadia begitu senang melakukannya.
"Ambil saja kalau bisa," bibir Nadia tersenyum sinis untuk mengejek Arini. Apapun yang ada di Arini tak akan pernah bisa sebanding tak akan bisa sama seperti dirinya.
Bukannya memberikannya Nadia malah sengaja melemparkannya hingga rantang itu benar-benar terjatuh dan isinya berserakan di lantai.
Tak Nadia sadari ternyata rantang itu jatuh tepat di hadapan sang penguasa. Kini Nadia masih saja belum puas hingga dia tega mendorong Arini supaya kembali terjatuh.
"Arini...!! " teriakan begitu menggelegar mengejutkan semua orang di sana.
Sang penguasa bergerak cepat untuk menangkap tubuh kecil Arini supaya tak terjatuh dan terbentur lantai.
/////
__ADS_1
Bersambung....
________