Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
116. Berhalusinasi


__ADS_3

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


_________


Rasanya sungguh lelah seharian sibuk dengan pekerjaan. Eh salah, maksudnya lelah karena seharian mengganggu Arini, merecoki pekerjaannya dan terus menambah dan menambah tanpa membantunya. Sungguh menjadi kepuasan tersendiri bisa membuat gadis itu kesal dan itu akan selalu Arya lakukan selanjutnya.


Tubuhnya sudah ambruk di kasur besarnya di apartemen, matanya menatap langit-langit, kedua ujung bibirnya tertarik mengingat kejadian hari ini.


Jantung yang tenang dan adem ayem kembali berdetak tak karuan saat mengingat kebersamaan dengan Arini, lebih tepatnya mengingat setiap senyum manis di wajahnya.


"Astaga, apakah aku benar-benar sudah gila sekarang? Tidak mungkin kan aku memiliki perasaan pada gadis itu. Hem..., sungguh tidak bisa di percaya."


Wajahnya menggeleng tapi ada aura binar di sana. Mungkin memang dia memiliki perasaan hanya saja dia masih tak mau mengakuinya atau mungkin dia masih belum yakin.


"Arini, kenapa kamu membuatku gila seperti ini.?


" Hem.., jadi tidak sabar sebenarnya hadiah apa yang sudah di siapkan oleh Arini untukku. Kenapa aku jadi tidak sabar begini, hem.. "


Arya kembali bangun dia menoleh lagi ke arah belakang dan kembali tersenyum, dilihatnya bantal yang pernah Arini gunakan untuk tidur kala itu. Tangannya meraihnya, senyumnya semakin lebar mengamati bantal berwarna putih itu.


Diangkatnya tinggi, menghirup lagi aroma yang masih tertinggal di sana. Aura melati, aroma khas dari seorang Arini.


Arya begitu terbuai, dia memejamkan mata berkhayal dia tengah bersama dengan Arini.


"Pak tuan... "


Mata Arya terbuka saat samar-samar telinganya mendengar Arini memanggilnya. Arya menerawang setiap penjuru tapi sama sekali tidak dia lihat Arini di sana.


"Astaga, aku berhalusinasi. Sepertinya aku benar-benar sudah mulai tidak waras." ucapnya.


Dipeluk lah bantal putih itu hingga Arya kembali memejamkan matanya saking berharapnya dia bisa memeluk Arini sekarang juga.


"Pak tuan, lepasin! "


Arya kembali membuka matanya, dia benar-benar berhalusinasi karena khayalannya sendiri.


"Hahaha..., aku memang sudah gila," tawanya keras, satu tangannya memukul bantal yang dia bawa lalu mengembalikannya ke tempat semula. Kalau lama-lama dalam posisi itu dia pastikan besok dia akan di kenal menjadi tuan muda yang gila.


/////

__ADS_1


Acara ulang tahun Arya semakin dekat tapi Arini belum tau dia akan memberikan hadiah apa. Dia tidak punya cukup uang untuk membeli hadiah yang berharga untuk bosnya itu. Lagian dia adalah orang paling kaya bagaimana mungkin dia akan menerima hadiah sederhana, tidak mungkin kan?


Arini masih diam duduk di kamar, malam semakin larut tapi dia belum mendapatkan ide apapun untuk hadiah Arya esok.


"Aku beri hadiah apa ya pak tuan? Kalau aku hanya memberikan hadiah sederhana apa mungkin dia akan menerimanya. Tidak mungkin kan? Lagian pak tuan juga aneh, dia sudah tidak kecil lagi, masak ulang tahun masih di rayakan. Juga, dia kan orang kaya? Apa dia masih menerima sebuah hadiah?"


Ucap Arini bingung dan terus berfikir dengan keras.


Arini kembali terdiam, berfikir dan terus berfikir berusaha sampai ppberhasil mendapatkan ide, tapi sepertinya tidak mudah untuk Arini yang hanya memiliki otak pas-pasan.


"Apa ya? " ucapnya lagi.


Tangan terangkat, menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Arini sangat bingung.


Sedikit demi sedikit Arini merobohkan tubuhnya hingga berhasil ambruk seutuhnya di kasurnya yang tipis dan sempit.


Dipeluknya satu bantal yang dia anggap sebagai guling. Ya, di kamar Arini memang tidak ada guling lagian dia juga tidak terlalu membutuhkannya.


"Aku akan pikirkan." ucapnya.


Bukannya yang datang sebuah ide-ide tapi semua keusilan Arya yang muncul. Bagaimana Arya terus mengerjainya hari ini dan bagaimana Arya belajar wudhu juga shalat.


"Semoga saja Pak tuan bisa berubah menjadi lebih baik dan benar-benar bertaubat. Bertaubat bukan hanya karena orang bukan karena Arini atau siapapun, tapi hanya karena Allah, untuk Allah dan untuk dirinya sendiri." harapan Arini yang begitu tulus.


Mata Arini perlahan terpejam, tapi bukan karena tidur.


"Arini..! "


Arini terkesiap saat panggilan menggema di telinganya. Arini juga langsung bangun sekedar memastikan apakah ada orang atau tidak. Tapi ternyata tidak ada siapapun. Apakah mungkin teriakan itu hanya di dalam hatinya saja? Entahlah.


"Kayak suara pak tuan deh. Tapi tidak mungkin pak tuan datang kesini untuk apa coba. Hah, gara-gara membicarakan pak tuan jadi begini kan! Lebih baik aku tidur saja lagian sudah malam juga."


Arini kembali merebahkan tubuhnya berusaha untuk memejamkan mata secepatnya.


Dalam mata terpejam bibir Arini tertarik senyumnya mengembang saat mengingat setiap kekonyolan yang selalu Arya lakukan. Ternyata orang yang menakutkan seperti Arya bisa juga melakukan hal yang konyol.


/////


"Desain apa ini? " sebuah kertas yang terjatuh di ruang kerja Hendra berhasil Dimas ambil. Gambarnya begitu asing untuknya bahkan dia juga belum pernah melihat.

__ADS_1


Dimas terus mengamati desain itu, desain sebuah kalung yang terdapat berlian berwarna biru langit. Sungguh indah di lihat meski baru desain saja. Pasti akan lebih indah jika sudah berupa kalung.


"Apakah papa mendesainnya sendiri? Lalu untuk siapa? Apakah untuk mama, tapi aku belum pernah melihatnya. Ini...? " Matanya melihat tanggal pembuatan desain itu.


Tanggal sebelum adiknya lahir. Alias hampir sembilan belas tahun yang lalu.


"Apa yang kamu lakukan? " Kedatangan Hendra mengejutkan Dimas yang masih fokus memandangi kertas yang ada di tangannya.


Hendra terus melangkah maju, mendekati Dimas. Dengan cepat Dimas memberikan kertas itu kepada Hendra.


"Pa, apa ini." tanya Dimas.


Hendra mengambilnya, dia hanya bisa tersenyum pilu saat mengingatnya.


"Kita akan mengulang luka jika papa mengatakan tentang desain ini." Hendra berdiri memunggungi Dimas, tangannya terangkat melihatnya lagi dengan teliti. Desain yang khusus dia buat.


"Seharusnya ini menjadi hadiah terindah untuk mamamu di saat kelahiran adikmu," Hendra mulai berbicara.


Tak mau mengingatnya lagi Dimas mendekati Hendra dan menghentikan perkataannya. Tapi Dimas masih harus bertanya.


"Terus, dimana kalung itu. Apa papa jadi membuatnya atau hanya berhenti di gambar saja? " Dimas sangat penasaran dengan itu.


"Sudah, papa sudah membuatnya. Tapi papa membuang bersama dengan adikmu. Karena papa sangat marah saat itu." jawab Hendra.


Dimas terdiam. Seharusnya hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan untuk keluarganya, bertambahnya anggota baru dalam keluarga tapi nyatanya? Takdir mengatakan hal lain.


Semua hancur dalam semalam saja. Semua kebahagiaan yang di bangun bertahun-tahun harus hilang dalam semalam. Sungguh menyedihkan.


"Papa ingin menebus semuanya, Dim. Tapi sepertinya papa sudah tidak mempunyai kesempatan itu. Jika saja adikmu masih ada, papa akan berlutut untuk meminta maaf padanya, papa sangat menyesal."


"Pa," Dimas mendekat menyentuh bahu Hendra dengan pelan.


"Satu bulan lagi adalah hari ulang tahun adikmu. Seperti biasa papa akan datang ke tempat itu. Kali ini kamu boleh ikut kalau kamu mau" Hendra berjalan pergi dari sana meninggalkan Dimas yang termangu diam.


Dimas mengamati Hendra yang semakin jauh, gambar yang masih dia pegang di jatuhkan begitu saja selayaknya barang tak berguna. Dimas juga berjalan, tapi di hanya berniat untuk mengambil gambar itu dan menyimpannya.


//////


Bersambung....

__ADS_1


________


__ADS_2